Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.
Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.
Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Tidak Pernah Dituliskan
Ingatan tidak selalu kembali sebagai cerita utuh.
Kadang ia datang sebagai suara, kadang sebagai bau, kadang sebagai rasa bersalah yang tidak tahu asalnya.
Surya terbangun dengan napas pendek.
Jantungnya berdegup kencang, telapak tangannya basah. Untuk beberapa detik, ia tidak tahu di mana dirinya. Cahaya lampu rumah sakit tampak terlalu terang, terlalu dingin.
Namun kali ini—berbeda dari hari-hari sebelumnya—kepalanya tidak sepenuhnya kosong.
Ada suara.
“Kalau kamu tandatangani ini, semua selesai.”
Surya menutup mata, berusaha menangkapnya. Suara pria. Tenang. Terlatih.
Lalu suara lain, lebih tua. Lebih lelah.
“Saya butuh waktu.”
Surya mengerang pelan. Kepalanya berdenyut hebat.
Perawat masuk dengan wajah cemas. “Anda tidak apa-apa?”
Surya menelan ludah. “Saya… saya ingat suara.”
“Suara siapa?”
Surya membuka mata. Tatapannya gelisah.
“Seseorang yang tidak ingin dicatat.”
---
Di apartemennya, Qinara duduk menatap jendela ketika pesan dari rumah sakit masuk melalui jalur yang Maya atur diam-diam.
> Pasien NN-47 menunjukkan tanda pemulihan memori parsial.
Qinara berdiri seketika.
“Dia mulai ingat,” katanya pada Adrian yang baru saja datang.
“Sebagian,” jawab Adrian hati-hati. “Itu bisa berbahaya.”
“Untuk siapa?” tanya Qinara.
“Untuk semua orang,” jawab Adrian jujur.
Qinara mengangguk. “Kita harus cepat.”
Namun sebelum ia bisa bergerak, ponselnya berdering lagi.
Nama yang membuat dadanya menegang.
Ibu.
Qinara menatap layar itu lama. Ia hampir menolak. Namun sesuatu dalam dirinya—naluri yang tidak bisa ia abaikan—membuatnya mengangkat.
“Kita bertemu,” kata suara ibunya di seberang. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada drama. Hanya kelelahan.
“Di mana?” tanya Qinara.
“Rumah lama,” jawab ibunya. “Tempat semuanya dimulai.”
---
Rumah itu masih berdiri. Lebih sepi. Lebih dingin.
Qinara melangkah masuk tanpa menunggu sambutan. Aroma kayu tua dan parfum ibunya bercampur di udara—bau masa kecil yang kini terasa asing.
Ibunya duduk di ruang tamu, punggungnya lebih bungkuk dari yang Qinara ingat. Di depannya, dua cangkir teh yang sudah dingin.
“Kamu datang,” kata ibunya.
“Bicara,” jawab Qinara singkat.
Ibunya mengangguk. Ia menatap cangkirnya, lalu Qinara.
“Ayahmu pulang malam itu,” katanya pelan. “Lebih awal dari biasanya.”
Qinara menegang. “Malam sebelum kecelakaan.”
“Ya,” jawab ibunya. “Dia tidak bicara banyak. Tapi aku tahu—dia takut.”
Ibunya tertawa kecil tanpa humor. “Aku sudah menikah dengannya terlalu lama untuk tidak mengenali wajah itu.”
Qinara mengepalkan tangannya.
“Apa yang dia katakan?” tanyanya.
Ibunya menarik napas panjang. “Dia bilang… ada dokumen yang tidak bisa lagi dia tahan. Bahwa jika dia menyerahkannya, semuanya akan meledak.”
“Dan jika tidak?” tanya Qinara.
“Dia akan disingkirkan,” jawab ibunya lirih.
Kata itu jatuh seperti palu.
“Kenapa Ayah tidak pergi?” suara Qinara bergetar meski ia berusaha menahannya.
Ibunya mengangkat kepala. Matanya merah.
“Karena dia percaya masih bisa memperbaiki dari dalam,” katanya. “Dan karena dia percaya… keluarganya akan aman.”
Qinara tertawa pendek—pahit.
“Aman?” ulangnya. “Aku diusir. Kamu mengambil alih semuanya. Kamu memilih pria lain.”
Ibunya terdiam lama.
“Aku memilih bertahan hidup,” katanya akhirnya. “Mereka datang setelah kematian ayahmu. Mereka menawarkan perlindungan. Dan harga yang harus kubayar… adalah diam.”
Qinara menatap ibunya dengan mata dingin. “Kamu menjual kebenaran.”
“Aku menjual keselamatanmu,” bantah ibunya dengan suara pecah. “Mereka bilang jika aku melawan, kamu akan hilang.”
Sunyi menyelimuti ruangan.
Qinara berdiri perlahan.
“Dan sekarang?” tanyanya.
Ibunya menggeleng. “Sekarang mereka kehilangan kendali. Dan aku… sudah terlalu lama berbohong.”
Ia meraih tasnya, mengeluarkan sebuah flashdisk tua.
“Ayahmu meninggalkan ini,” katanya. “Dia menyuruhku menyerahkannya jika suatu hari kamu cukup kuat untuk membenciku.”
Qinara menerima flashdisk itu dengan tangan gemetar.
“Apa isinya?” tanyanya.
Ibunya menatapnya dengan mata basah. “Nama.”
---
Di rumah sakit, Surya duduk di tepi ranjang. Dokter baru saja keluar.
Ia menatap tangannya sendiri, mencoba menghubungkan rasa sakit di tubuh dengan potongan ingatan yang mulai muncul.
Ia melihat ruangan rapat.
Lampu redup.
Meja panjang.
Seseorang menyodorkan dokumen.
“Kamu hanya auditor. Bukan pahlawan.”
Surya menggeleng, menekan kepalanya.
Pintu kamar terbuka.
Seorang pria masuk—bukan perawat. Bukan dokter.
“Kami dengar ingatan Anda mulai kembali,” katanya ramah.
Surya menatapnya. Kali ini, rasa takutnya berubah menjadi kewaspadaan.
“Siapa Anda?” tanya Surya.
“Teman,” jawab pria itu. “Dan kami ingin memastikan Anda tidak salah ingat.”
Surya tersenyum tipis. “Saya justru mulai ingat siapa yang ingin saya lupa.”
Pria itu mendekat selangkah. “Ingat atau tidak, hidup Anda bergantung pada apa yang Anda katakan selanjutnya.”
Surya menatapnya lurus. “Kalau begitu, seharusnya Anda khawatir.”
---
Di apartemen, Qinara menancapkan flashdisk pemberian ibunya ke laptop.
File terbuka.
Daftar nama muncul—panjang. Terstruktur. Disertai jabatan, tanggal, dan keputusan.
Bukan hanya satu perusahaan.
Bukan hanya satu tambang.
Ini pola.
Di bagian bawah, satu file terpisah.
Judulnya: Malam_Keputusan_Akhir
Qinara membukanya.
Rekaman suara.
Suara ayahnya terdengar—lelah, tapi tegas.
> “Saya tidak akan menandatangani laporan itu. Jika mereka ingin menyingkirkan saya, silakan. Tapi jangan minta saya ikut mengubur orang lain.”
Suara lain menyusul—dingin.
> “Anda membuat pilihan yang buruk.”
Rekaman berhenti.
Qinara menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir tanpa ia sadari.
Ayahnya tahu.
Ayahnya memilih.
Dan pilihan itu membunuhnya.
Ponselnya berdering.
Dari Maya.
“Qinara,” katanya cepat. “Kami mendeteksi pergerakan di rumah sakit. Mereka mencoba memindahkan Surya.”
Qinara berdiri. “Dia ingat.”
“Sebagian,” jawab Maya. “Cukup untuk menjadi ancaman.”
Qinara mengepalkan tangan.
“Ada satu masalah lagi,” lanjut Maya. “Jika kamu membuka file itu—yang berisi nama-nama—sekarang, Surya tidak akan selamat.”
Qinara terdiam.
“Dan jika aku tidak membukanya?” tanyanya pelan.
“Jaringan itu akan bertahan lebih lama,” jawab Maya jujur. “Dan mungkin akan menelan lebih banyak korban.”
Qinara menutup mata.
Inilah pilihannya.
Kebenaran—atau nyawa.
Keadilan sistemik—atau satu manusia.
Ayahnya memilih kebenaran.
Dan mati karenanya.
Apakah Qinara harus mengulang pilihan yang sama?
---
Malam turun perlahan.
Qinara duduk di lantai, laptop terbuka di depannya. Jarinya menggantung di atas tombol unggah.
Satu klik—
dan semuanya terbuka.
Ia teringat wajah Surya di foto ancaman itu.
Terbayang ibunya yang hidup dalam kebohongan.
Terdengar suara ayahnya dalam rekaman.
Ia membuka mata.
“Maaf, Ayah,” bisiknya.
Ia menutup laptop.
Mengambil ponsel.
Menghubungi Maya.
“Aku tidak akan unggah sekarang,” katanya tegas. “Kita selamatkan Surya dulu.”
Maya terdiam. “Itu berarti memberi mereka waktu.”
“Tidak,” jawab Qinara. “Itu berarti aku memilih hidup—tanpa menghentikan kebenaran.”
Ia menatap flashdisk itu lagi.
“Aku akan membuka semuanya,” lanjutnya. “Tapi dengan saksi yang hidup.”
Di rumah sakit, Surya duduk tegak ketika dua perawat masuk—diikuti Maya.
“Waktunya pindah,” kata Maya singkat.
Surya menatapnya. “Dia?”
Maya mengangguk. “Dia memilihmu.”
Surya menghembuskan napas panjang—antara lega dan takut.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “aku harus mengingat semuanya.”
Qinara menunda kebenaran demi satu nyawa.
Bukan karena takut—melainkan karena ia belajar dari ayahnya:
Bahwa kebenaran tanpa manusia hanyalah dokumen mati.
Dan di antara dendam dan cinta, Qinara akhirnya memilih jalan yang tidak diwariskan padanya—
Jalan yang ia bangun sendiri.