Fandi, seorang mahasiswa jurusan bisnis, memiliki kemampuan yang tak biasa—dia bisa melihat hantu. Sejak kecil, dia sudah terbiasa dengan penampakan makhluk-makhluk gaib: rambut acak-acakan, lidah panjang, melayang, atau bahkan melompat-lompat. Namun, meskipun terbiasa, dia memiliki ketakutan yang dalam.
BENAR! DIA TAKUT.
Karena itu, dia mulai menutup matanya dan berusaha mengabaikan keberadaan mereka.
Untungnya mereka dengan cepat mengabaikannya dan memperlakukannya seperti manusia biasa lainnya.
Namun, kehidupan Fandi berubah drastis setelah ayahnya mengumumkan bahwa keluarga mereka mengalami kegagalan panen dan berbagai masalah keuangan lainnya. Keadaan ekonomi keluarga menurun drastis, dan Fandi terpaksa pindah ke kos-kosan yang lebih murah setelah kontrak kos sebelumnya habis.
Di sinilah kehidupannya mulai berubah.
Tanpa sepengetahuan Fandi, kos yang dia pilih ternyata dihuni oleh berbagai hantu—hantu yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga sangat konyol dan aneh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DancingCorn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
Ranjani mendecak. "Mengindar, cobalah untuk terus melakukannya!" Dalam sekejap, tangannya sudah melayang, siap menghantam bahu Fandi. Untung refleksnya menyelamatkannya. Fandi langsung melompat ke samping, nyaris saja terkena pukulan itu.
Bugh!
Terdengar suara keras saat pukulan Rinjani mengenai udara di belakang Fandi. Udara di sekitarnya terasa bergetar hebat, tapi Rinjani tidak memperlihatkan keterkejutan.
Namun Fandi bergidik. Orang ini, setelah tidak bertemu selama beberapa tahun, mengapa berubah menjadi sekuat ini. "Lo benar-benar ingin bunuh gue, ya." seru Fandi, sedikit panik.
Ranjani menyeringai lebih lebar. "Ya."
Rinjani memiliki kemarahan di dalam matanya saat melihat Fandi. Dia berdiri disana, menagih sesuatu yang tidak dibawa Fandi.
"Masih ingat jepit rambut Kayu Dewandaru, yang kamu bilang menemukannya di jalan? Aku jelas usdah bilang kalau itu punya ku, tapi tidak pernah kami kembalikan sampai sekarang."
Fandi menelan ludah. Oh, benar... Dia melupakan itu.
"Kembalikan, atau jangan pikir kamu bisa kabur lagi kali ini."
"Ah, gue, gue nggak pernah kabur sih... Gue lebih kayak mundur teratur... Lagian orang waras mana yang bakal nunggu kematiannya." Fandi berusaha memberi alasan, tapi senyum Rinjani semakin melebar dengan cara yang berbahaya.
Rinjani tiba-tiba tidak memiliki ekspresi di wajahnya. Dingin dan tidak peduli. "Kalau gitu, jangan harap kamu bisa mundur teratur lagi. aku nggak akan berhenti sampai bisa ngeluarin jiwa mu!!"
Fandi menarik napas dingin. Dia tidak membawa kuas dan kertasnya. Karena dia pergi tergesa-gesa, Dia hanya membawa beberapa jimat pertahanan dan serangan. Dia sudah menggunakan untuk memanipulasi emosi pocong, mengaburkan pandangan para penjaga, mengaburkan pandangan Giwang dan merantai Parto. Sekarang, 5 jimat pertahanannya tinggal 2, dan 5 jimat serangannya tinggal 4. Jika di total, dia hanya memiliki 6 jimat ditubuhnya.
Enam....
Bagaimana dia akan berurusan dengan monster ini hanya dengan 6 jimat!
Dia secara praktis menyerahkan nyawanya!
Fandi tidak banyak berpikir, karena kurangnya jimat, dia berlari secepat yang dia bisa, melewati pilar-pilar istana yang tinggi dan koridor yang seakan tak berujung. Langkah kakinya menggema di antara dinding batu, sementara di belakangnya, suara tapak kaki yang lebih ringan tapi penuh ancaman terus mengikutinya.
Rinjani terkejut melihat Fandi masih berpikir untuk melarikan diri. "Berhenti di situ, Fandi!!" suara Rinjani menggema, dia juga segera mengejar Fandi.
"TIDAK MAU!!" Fandi menoleh sedikit ke belakang dan langsung menyesali keputusannya. Rinjani sudah begitu dekat, matanya menyala dengan semangat pemburu yang siap menangkap mangsanya.
Fandi mempercepat larinya, melompati meja, menerobos taman, bahkan hampir menabrak seorang pelayan yang membawa nampan minuman. "Maaf, maaf, saya dikejar gorila!!"
"Apa kamu bilang?!" suara Rinjani semakin mendekat.
Alya, Baswara dan beberapa orang istana hanya bisa menonton dengan ekspresi tercengang.
Baswara awalnya ingin menjodohkan mereka. Dia tidak pernah berpikir kalau putrinya akan memiliki urusan dengan Fandi. Baswara menggelengkan kepala dengan pasrah. Wajahnya menjadi hijau dan semakin buruk saat melihat pilar-pilar istananya retak dan hancur karena Rinjani. Baswara sekarang tidak memiliki pikiran untuk menarik Fandi di bawahnya. Dia tidak sanggup menerima kerusakan ini setiap hari di istananya!
Jika Fandi lolos dari Rinjani, dia akan memberi Fandi hadiah yang sepantasnya.
Sementara itu, Fandi masih berlari sambil mengingat kembali jepit rambut dari Kayu Dewandaru milik Rinjani yang sekarang ada di rumahnya, di kampung.
Pohon Dewandaru dikenal sebagai pohon sakral di kawasan KJ. Karena Fandi tidak pernah melihatnya, dia hanya sering mendengar bahwa pohon ini dianggap sakral dan memiliki kekuatan gaib.
Pertama, pohon ini tidak boleh dibawa pergi dari wilayah KJ. Konon, siapa pun yang mengambil bagian dari pohon ini (daun, ranting, atau buahnya) tanpa izin akan mengalami kesialan atau musibah.
Kedua, pohon ini peninggalan Sunan Nyamplungan. Sunan Nyamplungan diketahui sebagai putra Sunan Muria. Sunan Nyamplungan dipercaya membawa pohon Dewandaru dari Majapahit ke KJ untuk menyebarkan agama Islam dan melindungi daerah tersebut secara spiritual.
Ketiga, pohon ini memiliki Energi Gaib. Mungkin karena tempat di sekitarnya sering digunakan untuk meditasi atau berdoa. Karena itu juga, Kayunya sering digunakan untuk membuat Pusaka dan Jimat yang memberi perlindungan dan kewibawaan.
Terakhir, Buah Dewandaru merupakan Simbol Keberuntungan. Meskipun daunnya dianggap membawa kesialan jika dibawa pulang, buah Dewandaru diyakini bisa membawa keberuntungan bagi yang menemukannya jatuh secara alami.
Saat kelas dua SMP Fandi menemukan jepit rambut kayu di dekat portal dunia gaib. Fandi mengambilnya dan menyelidiki jepit itu. Hanya untuk menemukan bahwa jepit itu benar-benar mengandung aura keberuntungan dan dapat menyehatkan seseorang.
Jepit itu di ukir dari ranting pohon Dewandaru yang jatuh secara alami. Lalu di rendam dalam buah Dewandaru yang juga jatuh secara alami selama tujuh hari tujuh malam. Selain itu, ranting itu jatuh saat pergantian hari, dimana energi yang masuk ke dalamnya sangat kuat. Bagaimana bisa Fandi mengabaikan rejeki seperti itu.
Fandi akhirnya memberikan jepit itu kepada ibunya. Ibu Fandi selalu dalam kesehatan yang lemah, setelah memberikan jepit itu padanya, kesehatan ibu Fandi meningkat pesat dan dapat beraktivitas seperti orang normal.
Hanya satu bulan setelahnya, saat dia sedang berpetualang dengan Momo, dia di hentikan Rinjani yang merasakan aura jepit rambut itu dari tubuhnya.
Sejak saat itu, Fandi selalu bermain kejar-kejaran dengan Rinjani yang menginginkan jepitnya kembali.
Saat ini, setelah hampir menabrak dinding, Fandi berhasil kembali ke halaman istana. Dia melihat Momo dan langsung menuju ke tempatnya. Dia melompat dan pergi ke balik tubuh berbulu lebat monster itu, napasnya terengah-engah.
"Momo, lindungin gue. Ini darurat!"
Momo yang sedang bersantai hanya mengangkat kepalanya sedikit sebelum mendengus malas.
Namun, sebelum Fandi bisa bernapas lega, bayangan hitam ada di atasnya, menerik kerah bajunya dari atas.
Fandi: ...
Apakah sudah terlambat untuk berlutut dan minta maaf.
Dia benar-benar menyesal memprovokasi gorila betina ini! ಥ‿ಥ
"Ampun, Ampun, Gue bakal balikin, tapi nggak sekarang..." Fandi meronta dengan gemetar. Tangannya membawa jimat. Jika memang tidak ada pilihan, dia akan menggunakan jimat itu.
Namun sebelum tangan Rinjani bisa menarik Fandi, sesuatu memukul tangannya, menghentikan Rinjani menangkap Fandi.
—Braaakk!!
Sebuah tongkat kayu besar menahan serangan Rinjani, menciptakan gelombang udara yang mengguncang tanah. Rinjani melepaskan kerah Fandi dan Fandi jatuh di atas bulu lembut Momo.
"Haah" Pemilik tongkat itu menghela nafas panjang. "Aku selalu bertanya-tanya, mengapa Nuhdin memintaku menjaga mu saat kamu memiliki semua kemampuan itu," suara berat dan tenang terdengar. "Sekarang semua jelas."
Fandi mengangkat kepala dan melihat seorang pria tua berjubah hijau dengan sorban putih di kepalanya. Penampilannya luar biasa kekar, seperti prajurit yang sering berada di medan pertempuran.
"Kyai Jagakarsa?!"
"Masih muda dan ceroboh." Kyai Jagakarsa menggelengkan kepalanya, "tapi kamu sudah terlalu banyak membuat musuh."
Rinjani mundur beberapa langkah dan menyipitkan mata. "Siapa kau, orang tua?"
Kyai Jagakarsa mengayunkan tongkatnya dengan santai. "Kau boleh memanggilku Kyai. Fandi ada dibawah perlindungan ku. Kalau kamu memiliki dendam dan ingin membunuhnya, aku tidak punya pilihan selain memberi sedikit pelajaran pada anak nakal sepertimu."
Rinjani menyeringai. "Menarik."
maaf jika selama ini ada komen aku yg ga berkenan 🙏🙏🙏
cerita dr kak oThor bagus banget, cuma belom sempet buat baca kisah yg lain🙏🙏🙏 so sorry
eh mbak parti kmrn udh belom ya, sama.yg dia berubah punya sayap hitam 🤔...
Fandy dan yg lainnya msh jomblo, emang sengaja ga dibuatin jodohnya ya kak oThor?
kutunggu sll lanjutan ceritanya 😍🙏🙏
pemilik kos biasanya menyimpan rahasia yg tak terduga... apa iya Bu Asti bukan mnausia?
sosok ini berhubungan dg kehadiran dek Anis jg tayangga ...
siapakah sosok itu? apakah musuh Fandy dr dunia goib?
maaci kak oThor
normal nya liat Kunti ga sampai sedetik udh pingsan ato ga kabur duluan 😀 sereeemmm
tp Krn Arif gengnya Fandy jd beda