Instagram : @imeldona
SEASON 2 : Tentang Kasih Sayang dan Perjuangan Orangtua untuk mengungkap kebenaran anaknya, juga berlatar belakang kisah cinta Remaja.
SEASON 1 :Kisah Cinta pertama.
Saling mencintai namun karena pertentangan orangtua, mereka saling dipisahkan.
Hingga Kemudian Mereka dipertemukan kembali, tapi mereka sudah tidak dapat bersama karena Sefia sudah menjadi istri pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Kamar
Dedi terlihat datang dari kejauhan dan disusul oleh Sefia dibelakangnya sedang membawa dua koper besar, miliknya juga milik atasannya.
"Argh sial, berat banget. Bahkan meskipun aku hanya mendorongnya saja." gumam Sefia kesal, dan Dedi sengaja tidak membantunya bahkan tidak menyuruh satu orang pelayanpun untuk membantu.
Sementara dari kejauhan Angga kaget mendapati istrinya datang bersama dengan atasannya.
"Selamat siang." ucap Angga membungkuk memberi salam pada Dedi.
"Selamat siang juga, kakak." balasanya dengan senyum lebar.
Anggapun tercengang pasalnya hanya dirinya saja yang memanggilnya adik selama ini, tapi sekarang pria dihadapannya memanggil dengan sebutan akrab yang membuat dirinya begitu bangga.
Sedangkan Sefia yang mendengar hal itu hanya bisa menganga saja.
Dia gak bener-bener nganggep mas Angga seseorang yang akrab baginya, kan.
"Dek, kamu kok gak bilang kalo atasanmu itu pak Dedi?" bisik Angga pada istrinya.
"Jawabanku sama seperti tadi pagi mas." tentang bagaimana suaminya tak pernah peduli dan tak mau tahu tentang istrinya dahulu.
"Ah, iya. Maaf dek?" Angga salah tingkah dibuatnya.
"Mas gak perlu minta maaf kok, mas udah berubah gini, Sefi udah seneng kok." sahut Sefia tersenyum memandangi suaminya.
"Cih." sahut Dedi tanpa sadar sambil bersindakap, memberikan kecanggungan bagi keduanya.
****
Setibanya di hotel Dedi sengaja memesan kamar biasa agar bisa bersebelahan dengan Sefia, sedangkan untuk Angga sendiri, ia pesankan kamar paling jauh dan letaknya dipojok agar jauh dari kamar Sefia.
Tapi mirisnya, Angga dengan senang hati menawarkan diri untuk mengurus kamar mereka dan malah Dedi yang berakhir berada dikamar pojok.
"Sial." umpat Dedi kesal.
Dan Ketika Sefia dan Angga berada tepat didepan pintu, Dedi dengan sigap langsung menghampiri mereka berdua.
"Kak, kita kan kesini untuk urusan bisnis bukan untuk bulan madu kalian. Apa gak sebaiknya kalian saling berjauhan saja?" ucap Dedi kental dengan suara sinisnya membuat Angga tak enak hati dan ciut seketika.
"Ah, iya maaf." Angga memberikan kunci kamarnya untuk ditukar dengan miliknya. "Saya pamit ke kamar ujung kalau begitu." ucap Angga berpamitan langsung menuju kamarnya yang berjauhan.
Berbeda dengan Dedi yang sekarang menyeringai senang sambil bersindakap, Sefia malah memelototinya.
"Sayang, kenapa kamu melotot begitu padaku? Nanti cantiknya hilang loh." goda Dedi sembari menipiskan bibirnya.
"Biarin." sahut Sefia ketus lalu masuk kedalam kamarnya, membanting pintu dengan kesal.
Dedi malah tertawa menanggapinya dan malah makin tertarik untuk menggodanya.
****
Sefia pun bergegas merapikan pakaian dan kebutuhan yang ia bawa, ia tata rapi pada tempatnya.
"Duh, badanku rasanya udah lengket."
Setelah itu, ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan tanpa diduga saat ia keluar ke kamar mandi hanya mengenakan kain handuk yang ia lilitkan ditubuh. Sefia kaget menemukan Dedi duduk diatas Ranjangnya dengan badan ia sandarkan pada papan ranjang.
"Ka.. kamu ngapain disini?" tanya Sefia gugup.
"Ya ngapain, tiduran lah. Capek kan tadi sehabis perjalanan." sahutnya enteng.
"Maksudku bukan begitu, kamu kan bisa tidur dikamarmu sendiri. Pergi sana!" ucap Sefia sembari melemparkan bantal sofa tepat ke wajah Dedi.
"Aduh, gak usah galak-galak nanti nyesel loh nolak aku." godanya.
"Dih, sejak kapan tingkat percayadirimu jadi naik level dewa begini." dengus Sefia kesal, lalu mengambil set pakaiannya didalam lemari. "Keluar sana! Aku mau ganti baju."
"Ya ganti baju aja! Kenapa harus malu, lagian aku udah lihat semua sisi tubuhmu." sahutnya menggoda membuat wajah Sefia merah merona.
"Tapi..." Sefia gugup. "Duh, sana pergi deh! Lagian kenapa bisa sih kamu masuk kekamarku tiba-tiba begini?"
"Kamu lupa ya? Ini hotel kan milik keluargaku."
Sial. umpat Sefia kesal. Kenapa ia tidak menyadari sejak awal.
"Oh, ya udah sana pergi, Ded! Aku dingin nih mau ganti baju."
"Kamu ribet banget ya, Fi!
Tanpa diduga Dedi langsung menarik handuk Sefia lalu melemparkannya jauh kelantai.
Sontak Sefia menjerit. "Dedi, dasar kamu mesum."
"Ha ha, gak usah berpikiran yang aneh-aneh! Cepatan ganti baju! Suami tersayangmu sudah menunggu buat makan malam."
"Cih." Sefia buru-buru memakai pakaiannya yang ia ambil baru saja dilamari, lalu duduk di meja rias untuk mengeringkan rambutnya.
"Sini aku bantu ngeringin." Dedi menawarkan diri.
"Gak usah." sahut Sefia menolak, tapi Dedi tak menggubrisnya dan malah merebut Hairdyer lalu membantu Sefia merapikan diri.
"Terimakasih." ucap Sefia setelah ia selesai merapikan diri.
Ketika ia hendak keluar kamar, Dedi menghalanginya.
"Ada apa lagi?" tanya Sefia kesal.
"Hadiahnya buatku mana?" tanyanya dengan senyum tersirat.
"Hadiah apaan sih? Minggir sana!"
Ketiak Sefia ingin melangkah, lagi lagi Dedi menghalangi jalannya.
"Cium dulu!" godanya.
"Dedi." Sefia pun melotot dan mengetatkan rahangnya.
"Ha ha aku bercanda kali, Fi! Aku bukan orang yang pemaksa."
"Serius?" tanya Sefia luluh, berpikir bahwa Dedi memiliki sifat pengalah.
CUP
Dedi mengecup bibir Sefia tiba-tiba lalu pergi begitu saja.
"Huh, dasar."
****
Kali ini di restoran Sefia memilih duduk bersama Angga serta rekan kerjanya yang lain.
Sedangkan Dedi duduk sendiri dengan tenang, dan menatap Sefia dan Angga tajam dan sesekali memberi senyum palsu pada keduanya.
"Dek, apa gak sebaiknya kamu nemenin presdir? Dia sendirian tuh, kamu kan sekretarisnya." Angga merasa tak enak hati.
"Duh! Udah biarin deh mas, dia enak-enak aja tuh." sahut Sefia tak peduli.
"Tapi dek, beneran gak enak loh. Liat tuh presdir noleh ke kita mulu daritadi."
Sefia memutar bola matanya jengah. "Iya deh mas, iya."
Dengan kesal, Sefia pun beralih duduk di bangku kosong di meja Dedi.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Dedi.
"Nemenin kamu lah." sahut Sefia ketus lalu menyuruh waitress membawa makanan yang ia pesan tadi ke mejanya yang sekarang.
"Aku gak butuh tuh ditemenin."
"Terus, kamu ngapain daritadi noleh ke arahku sama mas Angga?" tanya Sefia bingung.
"Liat pemandangan buruk, tapi sekarang udah indah lagi."
"Kamu kalo ngomong suka gak jelas sih." Sefia menyantap makanannya.
"Aku kalo lagi sama kamu suka gak jelas, Fi! Kamu pergi deh darisini, aku lebih nyaman makan sendirian."
"Kamu lagi nguji aku lagi?" tanya Sefia memastikan, takut kejadian seperti sebelumnya.
"Gak." jawabnya singkat.
Entah kenapa, Sefia merasa kesal.
"Terserah, kamu suka atau enggak. Aku tetep disini nemenin kamu."
Kini Sefia tak peduli apapaun, suaminya yang tak mengerti pun juga pria yang didepannya yang kadang suka berbicara berlawanan dengan tindakan.
"Fi." bisik Dedi.
"Hem?" sahut Sefia masih dengan banyak makanan dimulutnya.
"Nikah yuk!"
Uhuk Uhuk
Sefia langsung tersedak, dan Dedi dengan sigap menepuk bahunya pelan serta memberinya gelas berisi air minum.
Astaga, dia makin gila.
****
aga & Yuna jg donk Thor.. lg seru2 nya..