Aqira yang awalnya merupakan seorang pelayan di sebuah rumah mewah yang dihuni oleh keluarga Charles, harus terjerat dalam pernikahan yang direncakan oleh Tuan dan Nyonya Charles.
Mereka berencana menikahkan Aqira, gadis belia sembilan belas tahun dengan putra sulung mereka, Brian Charles.
Brian yang notabenenya adalah pria dingin dan sombong harus menikahi seorang gadis yang merupakan pelayan di rumahnya. Bagaimanakah sikap Brian pada gadis pelayan itu? Apakah cinta mereka akan bersemi seiring berjalannya waktu.
Baca terus novel ini jika ingin tau kelanjutannya.
FOLLOW IG AUTHOR : Lisa_gultom
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elizabetgultom191100, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Seranjang
Like dulu sebelum baca.
Ajak yang lain baca juga ya
"Siapa yang akan pulang?" Aqira tiba tiba masuk ke dalam kamar mereka.
Brian terdiam, tidak tau mau menjawab apa.
Aqira mendekati Brian yang tengah duduk di atas sofa.
"Bukan siapa siapa." Brian merubah wajahnya dingin menutupi kegugupannya. Entah menga Brian tidak ingin Aqira tau mengenai hal ini.
"Oh.." bibir Aqira membulat menanggapi jawaban Brian.
Aqira mengulurkan tangan kanannya ke arah Brian, "Ayo turun, makan malam sudah siap." menyunggingkan senyum manisnya.
Tapi sayang, Brian malah mengabaikan Aqira dan berlalu dengan begitu gagahnya dari hadapannya, membiarkan tangan gadis itu menggantung di udara.
Aqira mencebik kesal karena Brian lagi lagi mengerjainya. Kakinya menghentak kasar mengejar Brian di depannya dan melewatinya begitu saja.
Brian tersenyum puas melihat Aqira yang sedang kesal. Lelaki itu berlari kecil mengejar Aqira, lalu merangkul tubuh Aqira di sampingnya.
"Dasar tukang merajuk." kekeh Brian sambil menoyor kening Aqira dengan telunjuknya, sedangkan tangannya yang lain sedikit menyeret tubuh Aqira yang tiba tiba kaku, karena terkejut akan tindakan pria itu.
"Ya Tuhan, pria ini selalu membuatku berdebar debar." batin Aqira.
Wajah Aqira tersipu menatap Brian, hatinya sedang berbunga bunga saat ini.
•••
"Sampai kapan kau akan tidur di sana?" Brian mengejutkan Aqira yang mulai memejamkan matanya di atas sofa.
Aqira membuka kembali matanya, lalu melihat ke arah Brian, "Hah...? Apa?"
"Sepertinya kau sangat suka tidur di sana."
"Oh.. aku sudah terbiasa, tempat tidur di rumahku dulu kecil, malah sofa ini terasa lebih nyaman dari tempat tidurku." jelas Aqira sambil menepuk nepuk ujung sofa.
Brian menatap lekat Aqira, dirinya prihatin membayangkan betapa sulitnya dulu hidup gadisnya itu, bahkan setelah menikah dengannya pun dia selalu menderita.
Tiba tiba rasa penyesalan menyeruak dalam hatinya, dadanya berkedut sakit membayangkan betapa sabarnya dulu Aqira menghadapinya. Jika itu gadis lain, mungkin mereka sudah lama meninggalkannya.
"Kemari!" perintah Brian.
"Huh...?"
"Mulai malam ini kau harus tidur di ranjangku."
"Ahhaha...kurasa itu tidak perlu, aku sangat nyaman tidur di sini." Aqira tertawa hambar sembari menepuk nepuk sofa lagi.
Brian memelototkan matanya menatap Aqira tajam, membuat Aqira bergidik.
"Cepat, tidur di sini." menepuk tempat di sebelahnya tanpa bantahan.
"Tidak usah, aku lebih nyaman di sini." Aqira meringis melihat tatapan tajam Brian.
"Perlukah aku mengangkatmu kemari?"
Aqira menggelengkan kepalanya, "Kuhitung sampai tiga, satu... Aqira masih tidak bergeming.
dua... sebelum hitungan ketiga, Aqira sudah lari terseret seret menghampiri tempat tidur.
Tanpa aba aba Brian menarik tangan Aqira sampai terjatuh tepat di atasnya.
"A..apa yang kau lakukan?" Aqira terlihat gugup.
Brian tersenyum licik, "Kenapa kau terlihat gugup?"
"Dasar mesum, siapa yang tidak gugup dalam keadaan seperti ini.." rutuk hati Aqira.
"Lepaskan aku!" tubuhnya memberontak melepaskan rengkuhan Brian.
"Jika kau masih bergerak lagi, besok pagi kupastikan kau tidak akan bisa berjalan."
"Dasar mesum, lepaskan aku!"
"Tidak akan."
"Apa maumu?"
Tangannya perlahan memegang dagu Aqira, "Aku ingin dirimu." membisikkan di telinga gadis itu dengan nada sensual.
"Jangan gila, Brian."
Tiba tiba Brian membalikkan tubuhnya menindih tubuh mungil Aqira.
"Aaa Brian." Aqira memekik kaget.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Sampai kapan kau akan terus memanggil namaku hmmm? Kau sungguh gadis yang tidak sopan!" cebik Brian.
"Ya..ya sudah, aku akan memanggilmu tuan muda." memalingkan wajahnya ke sembarang arah, tetapi selalu diikuti Brian.
Brian langsung menyergap bibir Aqira dengan ciuman mautnya, "Sekali lagi kau memanggilku tuan, aku akan berbuat lebih dari ini." memandang wajah Aqira yang sudah merona dan juga bibirnya yang masih basah karena liur.
"Panggil aku suamiku! Kau mengerti?" ucapnya tak terbantah.
Tanpa sadar Aqira menganggukkan kepalanya, "Bagus. Coba panggil aku sekarang!" perintah Brian.
"Su..suamiku..." lirihnya dengan jantungnya yang sudah berdegub kencang.
"Kurang keras, kau ingin aku menciummu lagi?" Aqira menggeleng.
"Ya sudah cepat panggil aku!"
"Suamiku..."
"Bagus. Tidurlah aku tidak akan memakanmu malam ini." lalu bergerak menggeser tubuhnya ke samping Aqira.
Aqira bernapas lega, Brian tidak akan menyentuhnya malam ini, tapi hanya malam ini, bagaimana dengan malam selanjutnya.
Melihat kegelisahan Aqira membuat Brian tersenyum miring, "Jangan terlalu banyak berpikir, aku hanya bercanda. Tidak mungkin aku tertarik dengan tubuhmu yang jelek itu." tersenyum mengejek, padahal dalam hatinya dia sangat mendambakan tubuh gadis itu.
Aqira menggerutu kesal karena ucapan Brian, "Kau tidak tertarik, tapi sudah berapa kali kau menciumku, dasar munafik, bahkan ciuman pertamaku kaulah yang mencurinya."
Brian tergelak mendengar gerutuan istri kecilnya, "Dasar bodoh, aku suamimu, tidak ada yang namanya mencuri. Semua yang ada dalam dirimu ini adalah milikku, ini, ini, ini, semuanya milikku." Brian menunjuk bagian tubuh sensitif Aqira dengan senyum liciknya.
Aqira langsung menepisnya, "Tanganmu, dasar mesum!" lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, memutar tubuhnya membelakangi Brian.
"Ohh.. Ayolah sweetheart, lihat aku." Brian semakin gencar menggoda istri kecilnya.
"Tidak akan!"
"Baiklah kalau tidak mau." Brian langsung melingkarkan tangannya di perut Aqira, merapatkan tubuhnya hingga tubuh mereka menempel sempurna.
"Lepaskan!"
"Tidurlah, jangan sampai aku memakanmu, kalau kau masih memberontak.
Akhirnya Aqira menyerah, dari pada nanti dia menanggung resiko, lebih baik sekarang dia menurut saja.
Kedua insan itu tidur dengan tenang, dan tanpa sadar, Aqira bergerak melingkarkan tangannya di pinggang Brian, menyurukkan kepalanya di dada bidang lelaki itu, seperti mencari kehangatan di sana.
•••
Suara dering posel Aqira, mulai menarik kesadaran Brian dari tidurnya. Brian mengerjapkan matanya, dirinya dikejutkan dengan, keberadaan Aqira di sampingnya. Aqira terlihat memeluk pinggang Brian dengan erat, seakan enggan melepaskan. Brian tersenyum kecil, melihat keposesifan Aqira memeluknya, "Dasar rubah kecilku." Gadis itu masih tertidur pulas, membuat Brian tidak tega membangunkannya.
Brian dengan hati hati meraih ponsel Aqira yang masih berdering, terletak di atas nakas di sebelah Aqira.
Brian melihat nama yang tertera di layar, "Mau apa dia menelpon istriku sepagi ini." gerutunya dalam hati.
Brian langsung mematikan panggilan itu, lalu meletakkan kembali ponsel itu ke tempat semula.
Saat ingin merebahkan tubuhnya kembali, ponsel Aqira berdering lagi, hanya dering pesan. Brian mengambil lagi ponsel itu dengan kesal.
Pesan dari orang yang sama menghubungi Aqira baru saja.
Dengan penasaran Brian membuka pesan itu, untung saja ponselnya tidak terkunci.
Gadis manis, kau sudah bangun? kenapa mematikan telponku?
Aku merindukanmu, sudah lama kita tidak bertemu.
Serentetan pesan dari Hans terbaca oleh Brian.
Brian mengepalkan tangannya, darahnya seketika mendidih setelah membaca pesan itu. "Berani sekali kalian!!" geramnya dalam hati.
.
.
.
.
.
Capek bgt nulisnya, dibayar sama votenya ya.
Jangan lupa like sama komennya juga.
Oh iya aku mau promo nih, Aku buat novel baru loh, di cek yaa😀😀.
Aku juga mau ngucapin makasih sama pembaca setiaku, kalau bukan karena kalian aku pasti ga bisa lanjutin novel ini.
Beberapa kali, aku pernah mau berhenti buat lanjutin ni novel, tapi berkat dukungan dari kalian yang terus semangatin aku, akhirnya aku bisa lanjut smpe episod ini.
Kadang kalau baca komen yang negatif, ditambah lagi mood kurang baik, sering bgt buat semangat aku down.
Tapi kalo aku liat komen2 dari pembaca yang minta up, akhirnya aku turutin aja deh, semuanya demi para pembaca setiaku.😁😁
Sekali lagi terima kasih semuanya
.
.
.
.
.
.
.
Love you all😗😘
semangat thor👍👍👍