Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Lampu rumah sakit masih terasa terlalu putih, terlalu terang untuk kepala yang sedang frustasi. Winarti mondar-mandir di depan meja administrasi IGD. Tasnya digenggam erat. Wajahnya kusut bukan karena lelah, tapi karena kesal. Setiap beberapa langkah, ia berhenti, menoleh ke arah pintu ruang observasi tempat Riyan menunggu, lalu kembali mendecak.
“Dari tadi katanya sebentar, sebentar,” omelnya keras, sengaja dibuat terdengar. Ciri khas Winarti. Tidak peduli tingkahnya menjadi sorotan pengunjung lain yang sedang antri di belakang.
“Ini rumah sakit apa warung kopi, sih? Masa nunggu doang lama banget,” imbuhnya lagi, nyinyir.
Petugas administrasi perempuan yang sejak tadi berusaha tersenyum profesional mengangguk kecil. “Mohon bersabar ya, Bu. Data pasiennya sedang kami input.”
“Data apaan lagi?” Winarti menyela. “Anak saya itu lagi sakit, luka. Bukan daftar lomba.”
Di belakangnya, Pandi duduk santai di kursi besi, kaki disilangkan, wajah kosong. Sesekali ia melirik ponsel, lalu kembali menyandar. Seolah urusan ini bukan tanggung jawabnya.
Dari dalam ruang observasi, suara Riyan terdengar mengeluh. Sangat rewel, merengek seperti bayi, meminta ini dan itu, tidak bisa diam, berisik, bikin kesal.
“Bu! Sakit! Lama banget sih! Aku haus... Laper juga, pingin makan mi yamin.”
Winarti langsung berbalik. “Iya, iya Dengar itu, Mbak?” katanya ke petugas. “Anak saya kesakitan. Nggak kasian apa?”
Petugas itu menarik napas pelan. “Kami mengerti, Bu. Tapi tetap harus mengikuti prosedur.”
“Prosedur, prosedur,” Winarti menirukan dengan nada sinis. “Kalau kenapa-kenapa, siapa yang tanggung jawab? Kalau prosesnya lelet gini, harusnya dikasih keringanan. Bayarnya nggak harus hari ini. Itu baru adil. Jangam egois.”
Petugas lain mendekat mencoba menengahi. “Begini, Bu. Untuk tindakan lanjutan memang perlu pembayaran awal. Ini ketentuannya.”
"Berapa sih?" Winarti kembali menanyakan itu meski sudah diberi tahu sebelumnya, seolah belum yakin, atau mungkin lupa.
Petugas itu menyebutkan angka. "Dua Juta Delapan Ratus Lima Puluh Ribu, Bu."
Wajah Winarti langsung berubah. Pucat, lalu mengeras. “Segitu?” suaranya meninggi. “Mas, ini anak saya, bukan orang asing. Masa saya disuruh keluarin uang segitu sekarang juga? Maksa banget.”
“Maaf, Bu,” jawab perawat itu tetap sopan. “Itu biaya standar IGD.”
Petugas masih berusaha sopan kendati kelakuan kampungan Winarti menguras kesabaran.
Winarti tertawa sumbang. Bukan karena lucu. “Saya nggak pegang uang segitu.”
Pandi akhirnya mendekat, lalu angkat suara dengan malas. “Pakai BPJS ini aja.” Ia meletakkan sebuah kartu di meja administrasi.
"'Kan---"
"Sudah dicoba dulu. Jangan ngomel-ngomel terus," potong Pandi cepat.
Hening beberapa saat kala petugas mencoba mengecek kartu itu.
"Mohon maaf Pak... Bu. BPJS pasien statusnya nonaktif. Jadi hari ini tetap pakai umum, ya," ucap petugas itu sesuai SOP.
"Loh, kok nggak bisa? Kan yang penting punya BPJS!” Winarti mengelak tanpa sungkan.
"Mohon Maaf tidak bisa, Bu."
"Ini juga lagi diurus jadi BPJS gratis. Sekarang sementara pakai yang ada dulu 'kan bisa.” Winarti tetap mengeyel.
"Kalau mau dialihkan ke BPJS PBI, prosesnya lewat Dinas Sosial dan tidak bisa dipakai hari ini. Jadi tetap harus bayar umum dulu, Bu.”
Winarti kian emosi. “Kenapa ribet banget sih? Masak orang susah disuruh bayar? Ini namanya penindasan."
Perawat itu terdiam sesaat. “Ibu bisa menghubungi pihak keluarga lain?” tanya petugas itu akhirnya, suaranya masih dijaga tetap datar.
Winarti langsung menjawab cepat, seolah sudah menunggu pertanyaan itu. Matanya menyala.
"Bisa! Anak saya punya uang!” katanya cepat. “Kakaknya Riyan. Dia yang biasanya ngurus semua beginian.”
“Kakaknya?” ulang perawat.
“Iya. Anak saya juga. Namanya Senja.” Winarti berkata lancar, tanpa ragu. “Biasanya dia yang ngurus biaya-biaya begini.”
Petugas administrasi melirik formulir. “Tapi di data pasien, yang terdaftar hanya orang tua.”
“Iya, karena dia nggak ikut ke sini,” potong Winarti cepat. “Dia lagi nggak enak badan.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Bohong, tapi terdengar meyakinkan. “Senja itu anak kandung saya,” lanjut Winarti, nada suaranya mulai melunak, dibuat-buat. “Dia punya uang. Hidupnya enak. Suami berada. Dia harus bertanggung jawab. Tolong hubungi dia.”
Petugas terlihat ragu. “Kami biasanya hanya menghubungi penanggung jawab yang tercatat, Bu.”
“Ya itu dia!” Winarti makin meninggi. “Catat saja sekarang! Saya ibunya. Saya bilang penanggung jawabnya Senja. Masalah selesai, kan?” Nada bicaranya mendesak, nyaris memerintah.
Petugas masih terlihat ragu. Winarti mendengus kesal, tapi kali ini ditahan. Ia langsung mencondongkan badan, suaranya diturunkan, tapi tekanannya justru terasa lebih berat. “Mas, Mbak… Masa karena Senja nggak ada di sini harus jadi masalah? 'Kan sudah saya kasih tahu kalau dia lagi nggak enak badan, nggak bisa ikut kemari. Saya ini ibunya. Masa minta tolong kayak gini aja nggak bisa?”
"Mungkin lebih baik Ibu coba menghubunginya sendiri."
"Harus pihak rumah sakit yang kasih tahu dong, biar lebih meyakinkan. Gimana sih?"
Pandi tetap diam. Tidak membantah, apalagi membantu.
“Kalau nggak dihubungi sekarang, nanti makin ribet,” lanjut Winarti. “Dia biasa bayarin. Saya benar-benar nggak punya uang.”
Petugas itu saling pandang. Ada keraguan. Ada tekanan. Lorong IGD tidak pernah benar-benar tenang. Antrian panjang, keluhan, suara tangis. Mereka ingin cepat beres dan akhirnya menyerah demi meredam keributan.
“Nomornya ada, Bu?” tanya petugas perempuan itu akhirnya.
Wajah Winarti sedikit mengendur. Tangannya cepat merogoh tas, mengambil ponsel. Ia menyebutkan nomor Senja tanpa jeda, seolah sudah menghafalnya di luar kepala.
“Bilang saja ke dia… Riyan di IGD. Biar cepat.”
“Baik, Bu. Tapi kami hanya menyampaikan informasi. Keputusan tetap di pihak yang dihubungi.”
Winarti mengangguk cepat, bibirnya melengkung tipis. Dalam benaknya, ia sudah yakin Senja tidak mungkin menolak.
Di tempat lain, Senja sedang berbaring di kamar. Tubuhnya masih lemah sejak pagi. Mual datang dan pergi. Tangannya refleks mengusap perutnya yang mulai membulat tipis.
Ponselnya bergetar di meja samping ranjang. Nomor tidak dikenal muncul. Senja mengernyit ragu. Dia menerima panggilan itu dengan perasaannya tidak enak.
“Selamat sore, dengan Mbak Senja?” suara perempuan terdengar di seberang.
“Iya… saya sendiri,” jawab Senja pelan.
“Kami dari IGD Rumah Sakit. Apakah benar Anda keluarga dari pasien atas nama Riyan?”
Dunia Senja terasa berhenti sejenak. “Riyan?” ulangnya. Jantungnya berdebar.
“Pasien mengalami luka dan sedang dalam penanganan. Ibu Winarti menyampaikan bahwa biasanya Anda yang mengurus administrasi.”
Tangan Senja gemetar memegang ponsel. Perutnya terasa mengencang. Bukan karena bayi, tapi karena sesuatu yang lebih menyakitkan.
“Bu…” suaranya nyaris berbisik. “Saya… saya 'kan tidak ada di rumah sakit.”
“Apakah Anda bisa membantu penyelesaian administrasi?” tanya petugas itu, terdengar hati-hati.
Senja menelan ludah. Nama keluarganya berputar di kepala. Kalimat-kalimat lama. Usiran. Bentakan. Tuduhan. Sekarang… diminta bertanggung jawab.
“Ada biaya yang perlu segera diselesaikan,” lanjut petugas itu.
Senja memejamkan mata. Nafasnya pendek. “Maaf,” katanya akhirnya, lirih tapi tegas. “Saya… tidak bisa.”
Di seberang, ada jeda. “Oh, baik. Terima kasih atas informasinya, Mbak.”
Panggilan ditutup.
Senja masih memegang ponsel itu beberapa detik lebih lama. Tangannya dingin. Dadanya sesak.
Di rumah sakit, Winarti menatap ponsel petugas dengan wajah menunggu.
“Gimana?” tanyanya cepat.
Petugas itu mengembalikan ponsel. “Maaf, Bu. Mbak Senja menyampaikan bahwa ia tidak bisa membantu.”
Wajah Winarti langsung berubah. “Apa?!” Suaranya meninggi. “Nggak bisa? Dia anak kandung saya!”
Pandi mendengus pelan. “Memang bocah keras kepala.”
Winarti mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras.
“Baik,” katanya akhirnya, dengan nada yang tiba-tiba tenang. Terlalu tenang. “Kalau begitu… saya urus sendiri.”
Bersambung~~
kayak aku bermimpi, karyaku banyak dibaca, banyak disukai, bukan karena aku merasa pantas, tapi aku mau kayak itu. ya walau faktanya sepi. seperti mengulang sepinya LL..yang sepi, rapi, presisi. tak pernah bertambah hingga ke ujung cerita..
yuk lanjut. aku pantau 😎😎😎..