"Cinta bisa membuat sesorang menjadi lebih baik dalam hidupnya. Namun juga sebaliknya cinta dapat membuat seseorang menjadi lebih buruk dan berdampak negatif bagi dirinya juga bagi orang yang dicintainya." (Plato)
Cinta adalah anugrah dari yang kuasa, tak ada yang bisa menghindar dari kehendak-Nya. Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hamba-Nya, karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya.
"Cinta sejati itu memandang kelemahan, lalu dijadikan kelebihan untuk saling mencintai." (BJ. Habibie)
Sangat banyak kata-kata bijak tentang cinta, tapi tak satupun membuat gadis ini percaya tentang cinta. Keretakan rumah tangga orang tuanya membuatnya tak percaya dengan cinta. Perceraian orang tuanya membuatnya takut untuk jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bintun arief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Suara Adzan terdengar begitu jelas, letak masjid memang tak begitu jauh dari rumah bercat coklat tersebut. Dua anak muda turun dari mobil yang baru saja terparkir.
"Assalamu'alaikum." ucap gadis itu mencium punggung tangan laki-laki paruh baya, yang sedang bersiap-siap berangkat ke masjid.
"Wa'alaikumsalam. Kok pulang?" suara itu terdengar sangat dingin, juga dengan ekspresi wajah yang tak kalah datar.
"Ih, Papa. Juna kan cuman pergi satu minggu." Juna mencebikan mulutnya. Adzka yang melihatnya menahan senyum.
"Satu minggu ditambah 3 hari!" ketus Rudi
"Hehe ... iya, jangan marah, Pa. Cuman nambah 3 hari doang. Gak tiga tahun kok." Juna bergelayut manja.
"Jangan coba-coba. Awas saja!"
"Hm, posesif banget sih jadi papa. Kalau nanti Juna menikah gimana? gak boleh juga, Pa? bukannya papa sering jodoh-jodohin aku."
"Papa begini karena papa sangat menyayangimu. Menikah ya menikah saja. Tapi gak boleh jauh-jauh dari papa."
"Kalau saja aku dapat jodoh di sana bagaimana coba, mungkinkah aku akan kawin lari!" gerutu Juna
"Apa katamu?" Rudi mendengarnya walau samar. Juna berlari masuk kedalam rumah, takut Papanya akan mengamuk.
"Udah Adzan, Pa. Adzan!" ucapnya melarikan diri
Lagi-lagi Adzka hanya bisa tersenyum. Rudi menatapnya kemudian berjalan mendekatinya.
"Ayo kita ke masjid! jalan kaki saja, dari tadi kau sudah duduk terus dalam mobilkan!" ajaknya berjalan mendahului dokter ganteng itu.
"Aku tak ingin jauh dari anakku. Dia tidak boleh menikah dengan orang sana! tidak, aku tidak akan merestuinya." Pikiran Rudi berkecamuk.
\=\=\=\=
Ikan panggang dengan rebusan sawi botol, wortel, timun serta selada, tak ketinggalan sambal terasi dan sambal matah sudah terhidang dimeja makan.
"Kakak! ayo makan bareng sini. Mandinya lama banget!" jerit Cindy dari dapur. Kali ini dia memaklumi Juna tak membantunya di dapur, karena anak gadisnya itu baru saja sampai dari perjalanan jauh.
Sekali lagi Cindy memanggil nama itu, namun tak ada jawaban. Cindy jadi merasa sungkan untuk memanggil putrinya sekali lagi, karena Rudi dan Adzka datang menghampirinya. Rudi langsung menarik kursinya dan mempersilahkan Adzka untuk duduk juga.
"Gak ada jawaban, Bun?" tanya Rudi.
"Iya, bang. Apa masih sholat, ya. Apa jangan-jangan dia tidur." tebak Cindy
"Masak baru nyampek rumah udah tidur sih, Bun. Dari dijalan tadi dia banyak tidur kok!" Adzka ikut bicara.
"Biar bunda lihat dulu deh." Cindy meninggalkan kedua lelaki itu.
Ceklek!
Pintu kamar Juna terbuka. Mata Cindy membola, senyum merekah dibibirnya. Gelengan kepala menyusul kemudian. Dia memilih meninggalkan gadis itu dan kembali kedapur menemui suaminya dan juga Adzka.
"Mana bun, kok gak ikut?" Rudi masih belum memakan apapun.
"Biasa, Pa. Dia tidur!" Cindy tertawa mengingat tingkah anak sulungnya itu. Juna memang seperti itu, insomnianya seakan sirna dan sembuh seketika saat dia pulang dari bepergian.
"Anak ini! gak tau apa, papanya sudah lapar berat gini. Adzka sana bangunkan!" Rudi menyuruh laki-laki yang menaruh hati pada anaknya itu. Adzka tampak terkejut.
"Saya, Om?"
"Hm ... tapi jangan kau apa-apakan. Kutembak nanti kepalamu. Kalau aku yang membangunkannya pasti dia malas-malasan. Tapi kalau kau, pasti dia malu saat melihat kau ada disana, mau tak mau dia akan bangun dan segera keluar dari kamar." jelas Rudi
"Kalau tidak malu paling dia akan marah-marah. Anak itu kan paling tidak suka kamarnya dimasuki orang lain selain Bundanya." gumam Rudi dalam hatinya.
"Jelek-jelek begitu anakku tau malu loh, kalau sama orang lain." tambahnya lagi
"Hahaha ... Om ada-ada saja. Dia itu cantik, om. Adzka permisi kesana dulu!" Tanpa ragu Adzka melangkahkan kakinya menapaki anak tangga.
"Jelas cantiklah, wong Papanya tampan gini!" ucap Rudi narsis, Cindy ikut tertawa mendengarnya.
\=\=\=\=
Ceklek!
"Assalamu'alaikum! wa'alaikumsalam." Adzka mejawab salamnya sendiri. Kepalanya menggeleng pun senyum dibibirnya tak pernah berhenti.
"Jorok banget sih, Kakak ini." Laki-laki itu duduk ditepi kasur sedikit jauh dari tubuh Juna yang masih lelap di alam mimpinya masih menggunakan pakaian yang sama saat Adzka menjemputnya dibandara tadi, hanya kain putih yang ia gunakan dibagian pinggang kebawah, sepertinya dia tertidur setelah selesai shalat.
"Ya Allah, mau shalat mandi dulu kali, Kak!" Adzka memandangi wajah itu tanpa ingin memalingkannya. Kakak yang dia ucapkan sebagai penghargaan atas ke sok tua-an Juna padanya. Tapi itu hanya diucapkannya jika Juna tak menyadarinya saja.
Laki-laki itu menyentuh bahu Juna secara hati-hati. Sedikit menggoncangnya.
"Jun! bangun." Adzka mencoba menggoncang bahu Juna sedikit keras, namun hasilnya tetap sama.
"Tidur apa mati!" Adzka malah tertawa
"Hah!" Juna menghempaskan nafasnya, mendadak ia merasakan kesulitan untuk bernafas. Nafasnya pun tersengal-sengal.
"Hahaha ...." Adzka memegangi perutnya. Menutup hidung gadis itu ternyata berhasil membuatnya bangun.
"Dasar gadis jorok! kalau mau tidur itu bersih-bersih dulu napa. Ayo turun, makan. Om menunggu dibawah." ucap laki-laki berkacamata itu yang masih setia duduk bahkan saat ini ia menyandarkan tubuhnya di ranjang yang berbahan kayu jati dengan ukiran cantik tersebut.
"Kau! kenapa disini. Wah, parah loe. Seenaknya masuk kamar gadis. Papa! Papa!" Juna keluar dari kamarnya memanggil nama papanya, Adzka mengikutinya dari belakang.
\=\=\=\=
"Gak apa-apa, Bang. Membiarkan Adzka masuk kekamar Juna seperti itu. Mereka bukan muhrim lo, Bang. Adzka juga sangat menyukai Juna sepertinya. Kalau dia berbuat yang tidak-tidak bagaimana?" Cindy menuangkan air putih untuk Rudi yang mulai menyuap makanannya.
"Justru itu. Aku sedang mengujinya. Apakah dia bisa menahan nya. Kalau sayang dengan Juna dia tak mungkin merusaknya." jawab Rudi
"Sesegera mungkin aku akan menikahkan mereka. Kalau Juna tidak mau dengan Adzka, aku akan mencarikan Juna suami secepatnya!" tatapan mata Rudi terlihat kosong. Walau tetap menyuap makanannya.
"Ada apa, Bang? apa ada sesuatu yang aku tidak tau?" Cindy memegang pundak suaminya.
"Tadi waktu Adzka menjemput Juna dibandara, dia bersama laki-laki. Kata Juna itu mantan pacarnya. Tapi aku tidak percaya, kapan dia pacaran? aku takut itu bukan mantan tapi pacarnya, dia orang Makassar. Aku tidak rela!"
"Apa dia pernah cerita ke bunda, kalau dia pernah pacaran waktu kuliah dulu?" tanya Rudi.
Percakapan mereka terhenti saat suara Juna menggelegar memanggil nama sang papa dari kejauhan.
"Papa, kenapa tu adek-adek dibolehin masuk kamar Juna sih!" Juna menggertakkan kakinya kelantai. Dasar anak itu, umurnya saja yang tua tapi sifatnya seperti anak-anak saja.
"Supaya kamu bangun! tadi bunda sudah membangunkanmu. Tapi kau malah semakin lelap. Kalau pak dokter yang membangunkan kan langsung turun kebawah ni. Ini buktinya!" Rudi terus mengunyah selada.
"Makan sini. Kasian tu Adzka juga belum makan. Sudah hampir Isya loh. Makan!" sambung Rudi lagi. Adzka kembali menarik kursinya.
Adzka menyendok nasi mengambil beberapa lalapan dan segera melahapnya tanpa segan. Ia merasa Rudi dan Cindy bukan lagi orang lain, sehingga rasa sungkan tak lagi ada. Rudi dan Cindy sudah dia anggap sebagai orang tuanya, walau harapannya mereka menjadi mertuanya nanti.
"Nih kecapmu!" Adzka meletakkan satu botol kecap berukuran besar yang ada diatas meja keatas piring Juna yang sudah duduk bersiap akan ikut makan juga.
"Apaan sih, dasar adek-adek!" Juna masih kesal dengan dokter tampan disebelahnya.
.
.
.
.
Happy reading gaes, makasi yang selalu memberikan like dan komen serta Votenya kepada novel receh ini. Semoga kalian semua terhibur membacanya, cerita ini hanya fiktip belaka ya, maaf kalau ada kesamaan dalam kehidupan nyata hehehe. 😊
KNP SIH JUNA MSH GK PERCAYA CINTANYA ADZKA MA DY...
SECARA DY SNDIRI SDH TAU HNY KPD DY CINTA PERTAMA ADZKA , DN ADZKA TDK PRNH MNGISI HATINYA BUAT WANITA LAIN, KCUALI DY, JDI KNP MSH RAGU, HINGGA GK MAU DISENTUH SUAMI HINGGA NGAKU SDG HAID..
SAAT U TINGGALKN ADZKA, LO MSH BSA DKT MA MARCHELL MNTAN LO, SDGKN ADZKA TTP SETIA MNCINTAI LO, BETAPA SAKITNYA PERJUANGN ADZKA MNCINTAI LO, MAKANYA DY WAJAR POSSESIF.. KRN DY TAKUT KHILANGAN LO..
GK MIKIR KBHAGIAAN ANAK..
APALAGI MARCEL DISEBUTKN TURUNAN MANADO DN TIONG HOA, GK DIJELASKN OTHOR KYAKINANNYA APA....
DN LO SBAGAI MUSLIMAH. JGN LH BRHUBUMGN BEDA KYAKINAN DGN LO..
terimakasih untuk tulisan indah mu thor 💜💜🌹🌹🌹🌹🌹🌹