Shafira adalah, seorang perempuan yang berusia 25 tahun dan sudah menikah dengan seorang pria berkepribadian keras bernama Erick. Selama menikah, ia kerap kali mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Namun, perempuan itu selalu sabar menghadapi kekasaran dari pria yang dinikahinya itu.
Sikap kejam Erick tidak di situ saja, ia tega selingkuh dengan rekan kerja yang merupakan cinta pertamanya, tanpa sepengetahuan istrinya.
Namun, suatu hari hal naas terjadi saat perselingkuhan itu akhirnya terbongkar.
Akankah Shafira bisa mempertahankan pernikahan mereka setelah semua yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
“Erick! Mama mau bicara!” teriak Mirna begitu Erick sampai di hadapan mereka berdua.
Erick hanya melihat mamanya sekilas, lalu menghempaskan tubuhnya di salah satu sofa. Ia menyandarkan kepalanya sambil, melepas dasi. Menunjukkan kemalasannya menanggapi Mirna. Setelah itu ia memejamkan mata tanpa menjawab perkataan wanita yang sudah melahirkannya itu.
“Erick! Apa kamu mendengar mama?” tanya Mirna dengan nada suara keras karena kesal pada putranya.
Erick membuka matanya sebentar lalu kembali terpejam, ia tidak berminat untuk membicarakan sesuatu dengan dua wanita yang ada di hadapannya itu. Sejak di kantor tadi ia tidak konsentrasi pada apa pun yang di bahas bersama semua karyawan dalam rapat. Namun, yang terlintas dalam pikirannya, hanya pertanyaan Shafira tentang perasaannya.
Ia sudah berhasil mengecoh perusahaan Ardan dengan merekrut beberapa investor di perusahaan itu agar berpindah haluan. Namun ia tidak merasa puas sedikit juga. Dia ingin lebih dari itu dan melihat Ardan benar-benar sengsara. Dalam hati, ia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Bahkan, ia ingin segera kembali ke rumah sakit untuk melihat Shafira lagi. Namun, tubuhnya sangat lelah dan ia memutuskan untuk beristirahat sebentar di rumah. Barulah malam nanti ia akan menemani Safira sampai pagi.
“Erick!” panggil Mirna lagi.
“Apa, Ma?” akhirnya Erick menjawab.
“Apa kau sudah menampar Wulan? Apa kau lupa, dia istrimu! Apa kau tidak punya rasa kasihan, lihat pipinya bengkak, gimana perasaanmu?”
Erick melihat pada Wulan sekilas dan menarik napas dalam-dalam.
“Seharusnya kamu bilang pada Mama, kenapa sekarang saya menamparmu? Kau bersikap berlebihan, Wulan!” kata Erick membuat Wulan kembali menangis, menunjukkan seolah dirinyalah yang paling menderita.
“Aku sudah mengatakan semuanya pada Mama!” kata Wulan.
“Kalau begitu, Mama pasti tahu bahwa Shafira itu juga istriku dan aku pernah melakukan kekerasan padanya, tapi Mama tidak marah?” Erick membela dirinya sendiri.
“Apa kamu juga mau menyalahkan Mama?”
“Aku tidak menyalahkan, tapi Mama seharusnya tahu kalau Shafira juga menantu Mama dan bukan hanya Wulan, Ma!”
“Apa kamu mulai mencintai perempuan miskin itu, Erick?” tanya Mirna penuh selidik.
“Jangan coba mengalihkan pembicaraan!” sahut Erick.
“Tapi, kamu berubah, Erick! Kenapa?” ujar Wulan.
Erick tidak menjawab dan hanya mendengus kesal pada Wulan dan ibunya.
“Erick, kamu tidak adil! Aku menemani kamu lebih lama dari Shafira! Wajar kalau aku cemburu dan berbuat kasar padanya!” kata Wulan.
Terlintas dalam ingatannya saat itu juga, bagaimana ia pernah melakukan kekerasan yang sama pada Shafira. Namun, ia menepis rasa simpati yang datang secara tiba-tiba. Ia menolak rasa kemanusiaan yang ada secara naluriah itu.
Sementara itu, Erick kembali ke kamarnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia akan mengganti pakaian dan kembali ke rumah sakit. Ia merasa lebih baik berada di sana dan beristirahat di ruangan Shafira saja. Di sana bisa lebih tenang dan tidak harus bersama dengan dua wanita yang akan terus mengajaknya bicara.
Sementara Wulan kecewa pada Erick. Apalagi, usahanya untuk mengambil simpati suaminya gagal. Erick terlihat berubah di matanya sejak pulang dari rumah sakit dan menunggu Shafira. Lalu, ia memilih untuk pergi menemui temannya, setelah berpamitan pada ibu mertuanya. Ia ingin meminta saran pada temannya itu, tentang bagaimana sikap yang harus ia lakukan selanjutnya.
Erick mengendarai mobilnya sendiri ke rumah sakit, sepanjang jalan ia memikirkan apakah perasaannya benar-benar telah mencintai Shafira. Ia melakukan kilas balik dengan pikirannya, tentang masa lalunya, saat pertama kali melihat wanita itu di rumah sakit, yaitu saat pernikahan mereka.
Ia sebenarnya tertarik sebagai lelaki normal, saat melihat wajah ayu Shafira yang menenangkan. Ia memiliki hasrat yang tidak ia sadari datang begitu kuat, seolah Shafira adalah magnet yang menyedot seluruh minat kelelakiannya.
Namun, di lain sisi ia mengingat Wulan dan rasa cintanya yang sudah ada begitu lama. Hal itu membuatnya bimbang. Ia begitu terkesan saat menikmati malam pertamanya, wanita itu begitu menurut dan tidak melawan, padahal mereka sama-sama terpaksa dijodohkan.
Wanita itu begitu lembut dan memiliki aroma khas pada tubuhnya. Sungguh pengalaman pertama yang mengesankan bagi Erick saat malam itu bersama Shafira.
Erick dahulu pernah berpikir Shafira adalah, wanita bodoh yang tidak bisa melakukan segalanya. Makanya ia tidak heran kalau Shafira mau saja dijodohkan dengan pria yang sama sekali tak dikenalnya. Lalu, Erick pun memanfaatkan semaunya.
Setelah tiba di rumah sakit, Erick langsung duduk di sofa yang ada di kamar rawat inap istrinya. Kamar itu memiliki fasilitas yang cukup lengkap hingga ia bisa merasa nyaman saat beristirahat di sana. Ia melihat Shafira sedang tidur dan tak ingin mengganggunya.
Erick menyalakan ponsel dan melihat beberapa file di email-nya, di saat itu pula Shafira terbangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat suaminya sebab ia pikir Erick tidak akan datang setelah memberi kamarnya penjaga.
“Untuk apa ke sini lagi, Mas? Bukankah sudah ada penjaga? Jadi, kamu tidak perlu lagi repot-repot menjagaku!” kata Shafira begitu melihat Erick datang sementara hari sudah malam, tapi pria itu membawa makanan yang cukup banyak di atas meja kecil di sisi tempat tidurnya.
Erick menyempatkan diri untuk membeli camilan dan beberapa roti, saat di jalan tadi. Ia khawatir kalau Ardan atau pria lain datang mengunjungi Shafira dan membelikannya makanan seperti sebelumnya. Ia tak ingin hal itu terjadi lagi.
Erick mendekati Shafira dan membelai pucuk kepalanya, “Aku kira kamu tidur tadi.”
“Aku memang sudah tidur, gara-gara ada kamu aku jadi bangun lagi!”
“Ya, sudah! Tidurlah lagi, aku juga mau istirahat di sini!” kata Erick sambil kembali ke sofa dan memegang telepon genggamnya.
Shafira tidak ingin bicara, hingga ia memilih untuk tidur. Walaupun sebenarnya ia ingin protes, tapi ia urungkan karena tidak ingin membuat masalah baru lagi dengan Erick.
Sementara Wulan, malam itu menemui seorang temannya di sebuah cafe terkenal, yang terletak di salah satu jalanan di kota. Ia membuat janji bertemu dengan Essan, dia sahabat lama yang kini menjadi pengacara.
“Tumben kamu mau bertemu denganku lagi, Wulan! Aku pikir kamu sudah tidak ingat aku karena duniamu sudah dipenuhi Erick, Erick dan Erick!” kata Essan sambil mengulas senyum di bibirnya.
Mereka kini duduk saling berhadapan di meja dekat jendela cafe tersebut. Essen terlihat sangat senang karena sudah lama dia tidak bisa bertemu dengan temannya itu.
“Essan! Aku sedang tidak ingin bercanda! Sebenarnya aku punya masalah!”
“Apa masalahmu, Wulan? Kupikir hidupmu sudah sempurna, kamu memiliki segalanya, buat apa mengungkapkan masalahmu padaku?”
“Apa kamu pikir semua orang kaya yang terlihat memiliki segalanya, itu tidak punya masalah lagi dalam hidupnya? Kalu salah! Mereka tetap punya masalah!”
“Kalau soal itu aku setuju, sebab, kalau memang orang kaya itu paling bahagia, tapi mengapa hanya orang-orang yang hidup sederhana saja, yang bebas tidur nyenyak tanpa takut kekayaannya hilang!”
“Nah, itu kamu tahu! Seperti itu juga denganku!”
“Apa Erick menyakitimu atau dia tidak diberi kartu kredit lagi?”
sungguh mantap sekali ✌️ 🌹🌹🌹
terus berkarya dan sehat selalu 😘😘
syabas kak thor