Bagaimana jadinya jika seorang keponakan diam-diam mencintai tantenya sendiri? Sementara sang tante selalu membuat ulah dengan menerima semua laki-laki yang menyatakan cinta padanya.
Ini adalah kisah Dalziel Lawrance, anak yang diangkat di keluarga Tan dan adik dari ayahnya—Gloria Rusell Taneta.
Bagaimana kisah cinta mereka akan berujung? Cus kepoin ceritanya.
Jangan lupa follow Ig @nitamelia05
Salam anu 👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Berubah Rajin
Saat makan malam telah tiba, Gloria adalah orang pertama yang duduk di meja makan. Dia menunggu semua orang dengan sabar, padahal dia hanya tidak ingin melewatkan satu orang, yaitu kekasihnya.
Zoya sampai terheran-heran karena tiba-tiba putrinya jadi berubah rajin seperti ini, apa semua itu karena hukuman yang Ken berikan? Atau Gloria memang memiliki misi lain?
Bahkan kini Gloria mengabsen setiap anggota keluarganya. Membuat Ken tercenung, apalagi yang akan diperbuat oleh Gloria, pikirnya.
"Siapa lagi yang belum datang? Ah, Ziel dan William ya? Biar aku yang panggilkan," ujar gadis cantik itu, sebelum ditimpali dia sudah bangkit dari kursi dan meninggalkan meja makan dengan bersemangat.
"Ada apa dengannya?" tanya Aneeq lengkap dengan kening mengeryit, merasa heran dengan tingkah sang adik.
"Dia baru saja mendapat hukuman dari Daddy. Mungkin dia sedang berusaha untuk berubah, An," jawab Zoya menebak. Padahal misi Gloria adalah bisa bertemu dengan Ziel lebih lama.
"Haish, ada-ada saja," gumam Aneeq sambil geleng-geleng kepala.
"Dia itu kamu versi wanita!" celetuk Ken tiba-tiba, karena di usianya yang sudah senja, dia kembali dibuat sakit kepala oleh putri bungsunya. Yah, kurang lebih kelakuan Gloria memang sama dengan si sulung—Aneeq—si penyuka semangka.
"Kenapa jadi aku yang kena getahnya sih, Dad? Kan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," balas Aneeq, tak mau disalahkan begitu saja.
"Jadi kamu menyalahkan Daddy?" sentak Ken dengan mata yang melotot. Perasaannya mendadak kesal.
"Lho aku hanya bicara apa adanya, Daddy."
Ken hampir melayangkan sendok yang ada di atas meja, tetapi Zoya segera menahannya. Dia memeluk lengan suaminya erat. "Hubby, sudah cukup! Apa kamu tidak malu dilihat oleh anak dan cucumu? Lagi pula apa sih yang kalian perdebatkan?"
Andai Ken tidak malu dengan usianya mungkin dia sudah merengek pada Zoya. Detik selanjutnya Ken hanya bisa menghela nafas panjang, lalu terdiam.
Sementara di sisi lain, Gloria sedang menyambangi kamar William yang ada di ujung lantai tiga.
Tepat saat Gloria hendak mengetuk pintu, Willam sudah membuka benda persegi panjang itu. Jadi, Gloria tidak perlu bersusah payah untuk memanggil keponakannya.
"Kamu sudah ditunggu di bawah," kata Gloria sambil tersenyum.
"Lagi pula untuk apa Aunty naik ke atas?" William sontak bertanya. Mereka melangkah berbarengan menuju tangga.
"Supaya kamu cepat turun. Kamu duluan saja, soalnya aku ingin memanggil Ziel."
"Hem ...."
Tahu akan otak tantenya, William pun tidak ingin ikut campur. Dia segera turun, sedangkan Gloria masuk ke dalam kamar kekasihnya.
Karena datang tanpa aba-aba, sontak saja hal tersebut membuat Ziel terkejut. Dia yang baru saja melepas handuk, langsung mengambil kembali benda itu karena melihat Gloria datang.
"Sayang," panggil Gloria dengan manja, dia berlari ke arah Ziel, sementara pria itu hanya bisa mematung dengan mulut yang menganga.
"Kenapa kamu lama sekali sih? Orang-orang sudah menunggumu, ayo cepat pakai baju!" sambung Gloria sambil memandangi tubuh Ziel yang masih sedikit basah. Saat pandangan mata Gloria jatuh pada satu titik yang menyembul, dia tersenyum malu-malu dengan pipi yang memerah. "Biar aku yang pilihkan ya."
Gadis cantik itu langsung berinisiatif untuk mengambil pakaian Ziel. Sementara pria itu baru saja tersadar.
"Glor, untuk apa kamu naik dan datang ke kamarku? Yang ada nanti keluarga curiga," ujar Ziel, dia kembali melilitkan handuk di sepanjang pinggangnya.
"Kamu tenang saja, Ziel. Tadi aku sekalian panggil William kok," jawab Gloria enteng.
Ziel benar-benar dibuat takjub oleh tingkah kekasihnya yang sangat berani. Hingga dia pun mendekat, dan memeluk Gloria dari belakang.
"Kamu benar-benar nekat untuk menemuiku yah?"
Gloria terkekeh kecil.
"Kan seharian ini kita sudah berpisah, Ziel. Jadi aku ingin menghabiskan waktu denganmu. Habis makan malam, kamu mau apa?"
"Aku ada pekerjaan sedikit, nanti datanglah ke ruang kerjaku."
Gadis cantik itu langsung berbalik, hingga mereka berhadapan. Sebagai dua sosok yang sedang jatuh cinta, mereka saling melempar senyum.
"Baiklah, aku akan menemui di sana. Apakah kita akan berciuman lagi?" tanya Gloria dengan berbisik.
Ziel langsung menyentil dahi Gloria lalu terkekeh. "Pikiranmu itu mesyum terus!"
"Tapi kan kamu juga suka," rengek Gloria sambil mengusap-usap keningnya. Akan tetapi dengan cepat Ziel meraih pergelangan tangan itu, detik selanjutnya Gloria merasakan kecupan dalam yang membuat senyumnya melebar.