Kisah seorang wanita bernama Kiko, karena trauma masa lalu nya membuat Ia jijik jika di sentuh oleh seorang pria.
Lebih parahnya akan membuat Ia panik, gemetar bahkan Pingsan.
apalagi Pria itu Tampan.
kemudian Ia bertemu dengan seorang Pria Tampan dan anehnya Ia bisa bersentuhan langsung dengannya, Karena hal itu lah yang membuat Kesalah Pahaman ini Terjadi.
Kiko tidak tahu bahwa Pria tersebut adalah Pria mapan, tampan dan berhati dingin. banyak di Gilai oleh banyak kaum hawa.
Pria tersebut tak lain bernama Dion, pengusaha muda sukses yang memiliki kuasa serta segalanya.
ikutilah Kisah mereka, jangan di lewatkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengiris Bawang
Kiko duduk memaku, mendekatkan dirinya sedekat mungkin ke depan komputer pribadinya. serta menunduk, sangat menunduk jika sudah mengintip dokumen yang berada diatas mejanya.
Kiko sudah tidak memiliki muka lagi untuk berhadapan dengan atasannya, Dewi.
aku ingin cepat cepat pulang, hiiikkss.
semenjak kejadian tadi, Dewi hanya diam melotot memandanginya dari kajauhan. membuat Kiko semakin salah tingkah dan merasa bersalah.
"he he kau pasti lagi ketakutan kan sekarang?" bisik Hilda menggoda
"diam kau jangan berisik!" bisik Kiko tegas
"hei, walau kau mengumpat tetap saja Bu Dewi tahu dan menatap tajam padamu!"
"aku ingin berpikir sebentar saja, gak apa apa kan kalau aku menghindar sebentar saja?"
"ha ha kau takut sekali", Hilda terbahak hingga Kiko membungkam mulutnya dengan kedua tangan,
"husss diam! kalau dia sampai melapor yang bukan bukan pada atasan, aku pasti akan mati"
"lalu apa rencanamu?" tanya Hilda
"aku akan meminta maaf, tapi tidak sekarang! dia pasti sangat marah padaku"
"ya kau benar, tapi ku rasa sulit baginya memberi maaf karena kau mempermalukannya didepan orang yang dia suka"
"aduhh bagaimana ini?", Kiko semakin bingung, "bagaimana kalau ku batalkan saja janji dengan Riko"
"eh, tidak boleh begitu. kau harus tetap berjuang"
"dih, berjuang apanya sih? aku benar benar tidak ada perasaan apa apa terhadap Riko"
"apa kau bilang? serius?" Hilda kaget
Kiko mengangguk
"eh, Riko itu pria paling tampan disini tahu. dia itu juga anak orang kaya"
"hmm terserahlah, aku tidak bisa memikirkan hal itu sekarang"
"ih, kau memang kaku sekali. kalau saja aku, pasti sudah ku embat"
"wah, kau pasti sudah berpengalaman dalam hal cinta ya?"
Hilda mengangguk, "tentu"
sejenak pikiran Kiko beralih.
"kau tahu tidak, kenapa orang orang bisa saling suka sesama jenis?"
"hah, apa?" Hilda kaget, lalu menatap Kiko menelisik curiga
"hei hei, bukan aku. aku masih normal", dengus Kiko
"oh, he he aku pikir kau. lalu siapa?"
"dia temanku, dia tampan tapi suka sesama jenis" bisik Kiko
"itu sih aku gak bisa jawab ya, tapi menurut temanku yang seorang psikolog. hal itu bisa dari otak ataupun masa lalu kelam dengan seorang wanita"
"masalalu kelam?"
apa dia sepertiku? jika benar. dia butuh sandaran.
"ah, kenapa aku jadi sedih memikirkan nya sih", gumam Kiko
tiba tiba suara panggilan memutus pembicaraan antara Kiko dan Hilda
"Kiko" panggil Arif mendekati Kiko
"ah iya, kenapa pak?"
"kau sudah ditunggu diparkiran depan"
Kiko menoleh ke kanan dan kiri tak percaya, "saya?" menunjuk dirisendiri
"iya, kau", Arif membenarkan, "aku mendapat telfon dari atasan barusan bahwa kau disuruh cepat cepat ke parkiran, bawa juga tas mu sekalian"
eh, apa yang tadi ya? dia menyuruhku ikut sekolah mengemudi.
cepat cepat Kiko meraih tas yang dia letakkan di meja kerjanya.
"Kiko, apa kau sudah mau pulang?" tanya Riko
"iya, hari ini aku pulang lebih awal"
"baiklah, tapi kau jangan lupakan janjimu ya?!"
"iya tentu" sahut Kiko
"baiklah, sampai jumpa!"
"cie cie yang mau kencan", goda Arif
"ah kau bisa saja", Riko tersenyum malu penuh harap.
****
Kiko melangkah mendekati mobil yang sebelumnya Ia tumpangi.
"kenapa kau lama sekali sih?" tanya Dion ketus
"maaf" Kiko menebalkan bibirnya
"cepat masuk!"
Kiko pun masuk kedalam mobil di kursi depan, sementara Dion mengendalikan mobil.
"kita mau kemana Tuan?" tanya Kiko penasaran
"ke lapangan khusus untukmu yang sedang berlatih mengendalikan mobil"
"apa Tuan sendiri yang akan menjariku mengendalikan mobil?"
"lalu siapa lagi hah? aku tidak bisa membiarkan orang lain terbunuh karena kau" ejek Dion
Kiko memanyunkan bibirnya kesal, tapi Ia tak kehilangan akal untuk membalasnya
"ah, jadi Tuan sendiri rela terbunuh demi aku?" sahut Kiko menggoda, "aku jadi terharu"
Dion langsung gugup dan wajahnya memerah karena merona.
sial, kenapa dia mengatakan hal yang menggelikan seperti itu sih.
Terlihat jelas wajah Dion merona menahan malu akibat perkataannya sendiri, membuat Kiko yang melihatnya tak berhenti tertawa.
****
"cukup cukup!" pinta Dion agar Kiko menghentikan laju mobil nya
saat mobil berhenti seketika Dion langsung beranjak keluar.
Huekk Huekk
Kepala Dion seperti berputar putar, pening dan mual tak tertahan karena mengajari Kiko mengendalikan mobil bukanlah hal yang mudah, rasanya seperti sedang menaiki wahana roller coaster yang menguji adrenalin.
"Tuan, kau tak apa apa?" tanya Kiko panik sambil menepuk punggung Dion pelan.
"minum!" pinta Dion
Kiko langsung berlari kedalam mobil dan mengambil sebotol air mineral yang dibawanya tadi.
"ini Tuan", membuka tutup botol dan menyodorkannya pada Dion, "minum pelan pelan" saran Kiko
"hah hah" Dion terengah engah, "aku menyerah, kita pulang naik taksi saja"
"tapi mobilnya bagaimana Tuan?"
"gampanglah nanti aku akan menghubungi Gogo untuk mengurusnya"
kemudian mereka berdua menghentikan taksi dan naik ke dalamnya.
Dion terlihat sangat pucat dan lemas, membuat Kiko merasa sangat bersalah.
"maafkan saya", ucap Kiko menunduk sedih
"aku tidak apa apa, aku hanya tidak sanggup saja, ah, pokoknya aku baik baik saja. kau tidak perlu merasa bersalah"
"tapi, tapi kan sepertinya saya memang akan membunuh seseorang hiiksss" Kiko merengek terlihat mengusap air matanya
"ya ampun ha ha", Dion tertawa, "aku tadi kan hanya bercanda"
"tapi..."
"lihatlah, aku masih bisa tertawa? jadi kau tidak perlu khawatir"
Kiko mengangguk, "terimakasih Tuan"
"huh, sudah ku katakan jangan berbicara formal padaku!"
"he he iya baiklah"
****
setelah sesampainya dirumah, Kiko langsung membersihkan diri begitupun dengan Dion.
kemudian Kiko pergi ke dapur untuk memasak dan menyiapkan makan malam untuk mereka nikmati bersama.
"kau ingin memasak apa?" tanya Dion
"pasta dengan campuran sayuran dan irisan daging"
"wah, sepertinya kali ini sesuai seleraku" sahut Dion
"jadi selama ini yang saya masak tidak enak? bukan selera Tuan, b e g i t u?" Kiko memanyunkan bibirnya kesal
"bukan seperti itu, masakanmu enak kok buktinya aku memakannya setiap hari"
Kiko memutar otaknya "iya sih"
dia kenapa bodoh sekali sih haha
"biar ku bantu", Dion menawarkan diri, "apa yang perlu ku lakukan?"
"Tuan mengiriskan bawang saja", Kiko mengambil beberapa siung bawang lalu memberinya kepada Dion.
Kiko sibuk memotong daging dan beberapa rempah lainnya, sedangkan Dion terlihat mulai menjauh dan berseduh
"aduh perih"
mata Dion sudah mulai berair membuat Kiko panik.
"sebaiknya Tuan segera membasuhnya dengan air!"
kemudian buru buru Dion melangkah ke wastafel dan segera membasuh wajahnya dengan air mengalir,
"ah, aku sudah baikan!"
"beneran sudah tidak perih lagi?" tanya Kiko panik mendekatkan wajahnya untuk melihat jelas mata Dion
Deg
Deg
seketika jantung Dion berdegup kecang melihat wajah Kiko yang dekat sekali dengan wajahnya yang hanya berjarak beberapa centi agar wajah mereka saling bergesekan.
"aku sudah tidak apa apa", ucap Dion mundur agar dia tidak masuk lebih jauh dalam perasaanya.
"ah syukurlah, sebaiknya Tuan duduk saja. biar aku saja yang memasak"
"ah iya baiklah"
Dion menatap jelas wajah Kiko dari jauh,
masa sih jantungku berdetak kencang untuk perempuan seperti ini?
dia bukan perempuan paling cantik.
dia juga tidak pintar.
tapi...
saat Kiko menoleh dan tersenyum pada Dion
dia imut sekali.
PLAKK!!
"sadarlah sadarlah!" Dion menepuk empuk wajahnya sendiri pelan, "tidak, tidak mungkin. kenapa pikiranku rusak seperti ini sih?"
****