Alicia Delmora adalah wanita mandiri sejak kecil, dia menjadi tulang punggung keluarga semenjak ayahnya meninggal dunia dan hanya tinggal bersama ibu dan kakak tirinya yang hanya bisa mengandalkan Alicia untuk membayar hutang-hutang mereka.
Kehidupan Alicia berbanding terbalik dengan saudara kembarnya yang bernama Alice, kembarannya itu hidup bergelimang harta bersama kedua orangtuanya dan memiliki seorang kekasih yang sangat terkenal di kota tersebut bernama Nicholas.
Alicia yang tidak tahu bila dia memiliki saudara kembar begitu juga sebaliknya, kehidupannya berubah setelah orang asing masuk dalam kehidupannya dan menjadikan dia sebagai wanita tawanan dari Pria asing tersebut yang menganggap dirinya sebagai Alice.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anggi (@ngie_an), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal di Apartemen
Keesokan harinya, Grey meminta kepada Dominic dan juga Agatha untuk membawa Alicia tinggal bersama di apartemen miliknya, dia juga meminta agar Jacob bukan lagi sebagai bodyguard sang istri karena keselamatan Alicia sudah dijamin oleh Grey sendiri sebagai suaminya.
Akan tetapi, permintaan Grey kali ini ditolak oleh Dominic karena pria tua itu memiliki alasan tersendiri untuk Jacob tetap sebagai bodyguard Alicia.
"Pah!" protes Grey pada sang ayah saat mereka hanya bertiga.
"Tidak ada penolakan! Sekarang, bawalah istrimu asal jangan pernah melukai fisik dan hatinya!" Dominic memilih untuk masuk ke dalam mobil lebih dulu yang kemudian disusul oleh Agatha, usai menemui Alicia di dalam kamar hotel untuk memastikan kondisi sang menantu.
Tempat tidur yang berantakan membuat mereka lega dan berasumsi sendiri, bahwa anaknya telah menghabiskan malam pertama dengan Alicia begitu panas dan ganas, meski bercak merah yang mereka lihat adalah noda mawar yang tertindih dan remuk atas perang hebat.
"Grey, kau benar-benar anak Papa! Papa doakan agar usaha tadi malam membuahkan hasil dengan cepat!" ejek Dominic pada sang anak.
Mobil pun langsung berjalan, meninggalkan Grey yang kesal dengan ucapan Dominic. Laki-laki itu langsung menyuruh Peter membawa Alicia ke dalam mobil dengan cepat, karena dia tidak suka dengan membuang-buang waktu yang bukan menghasilkan uang.
"Apakah sangat lama untuk sekedar memakai topeng?" tanya Grey dengan kesal saat menunggu dalam mobil begitu lama.
"Maaf," ucap Alicia.
Grey melihat ke arah Alicia dengan melemparkan tatapan mata sinisnya, kemudian membuang wajahnya melihat ke arah luar jendela untuk menetralkan rasa emosi saat mengingat tentang kejadian semalam.
Selama perjalanan hanya keheningan yang mengantar mereka sampai ke sebuah apartemen mewah. Alicia ditinggal begitu saja oleh Grey saat ingin menaiki lift, membuat dia harus berlari mengejar pintu lift agar tidak tertutup.
Grey melihat dari pantulan dinding lift yang memperlihatkan penampilan Alicia yang begitu mirip dengan wanita yang dia cari, tetapi pikirannya selalu menampik semua karena beranggapan bahwa setiap wanita yang dia temui selalu mirip dengan wanita yang dicarinya.
Pintu lift terbuka Grey melangkahkan kakinya untuk keluar dan menuju pintu apartemennya, sedangkan Alicia melihat dalam koridor tersebut hanya terdapat dua pintu apartemen.
Sorot mata Alicia pun melihat ke arah Grey yang membuka kata sandi pada pintu apartemen, begitu mudah dan gampang untuk diingat oleh dirinya meski sang suami tidak memberitahu kata kuncinya.
Pintu apartemen terbuka, sebelum Alicia melangkah masuk ke dalam mengikuti sang suami, dia melirik ke arah pintu apartemen samping yang tertutup secara perlahan ketika dia hendak masuk ke dalam.
Alicia pun tidak menanggapinya dengan serius, dia langsung menutup pintu apartemen usai masuk ke dalam. Langkahnya berhenti, tepat di kamar yang tidak terlalu besar ukurannya seperti yang ditawarkan oleh Dominic di rumah besar.
"Ini kamar kamu, kamarku sebelah sana. Jangan pernah melewati batas ini apalagi sampai masuk ke dalam kamar! Paham?" Grey menatap serius ke arah Alicia agar istrinya bisa mengerti.
"Hmmm," jawab Alicia.
"Bagus! Selain kamar semua milik bersama, kecuali saat ada aku di rumah, berati kamu tidak boleh sejengkal pun keluar dari kamar! Kecuali dapat izin dariku!" tegas Grey.
"Iya," jawab Alicia yang ingin meneteskan air mata.
Grey langsung meninggalkan Alicia di kamarnya, kemudian memilih untuk beristirahat sejenak dalam kamar. Pikiran dan jiwanya telah lelah, dia memutuskan untuk menghentikan pencarian wanita tawanannya.
Sementara di posisi Alicia, wanita itu menangis memeluk bantal meneratapi nasibnya yang sungguh malang. Menikah dengan pria yang benar-benar sadis dengan ucapannya, tidak terpikirkan oleh Alicia bila rumah tangganya hanya sebatas di atas kertas dengan waktu enam bulan saja.
Ya, dalam surat perjanjian itu sang suami memberi waktu enam bulan dalam pernikahan mereka, tidak ada kontak fisik ataupun mempunyai perasaan.
Enam bulan itu, Grey ambil dari jadwal perkiraan untuk mendapatkan lima puluh miliar sebagai ganti rugi yang dikeluarkan oleh Dominic.
Target yang akan Grey dapatkan dalam enam bulan ke depan bukan hanya lima pulu miliyar, tetapi lima triliun jika dia memenangkan target tersebut dalam bisnisnya.
"Ma, Pa, Alicia kangen! Boleh nggak, Alicia ikut?" Alicia terus mengeluarkan air mata ketika pikirannya terfokus pada pernikahan yang hanya bertahan enam bulan, begitu singkat dan cepat tetapi dia tidak bisa membantah ataupun menolak permintaan sang suami.
Tangisan Alicia mengantar mimpi yang mulai terlihat jelas di alam bawah sadarnya, sampai tidak terasa waktu pun menunjukkan pukul satu siang. Suara telepon membangunkan dia dari tidurnya.
Tertera nama Dominic yang menelpon ponselnya, tanpa ragu Alicia mengangkat panggilan tersebut, pria paruh baya itu menjelaskan kepada Alicia bahwa mulai besok dia akan segera masuk kuliah seperti dulu.
Kabar bahagia yang datang dari Dominic menghanyutkan Alicia dari cerita dongengnya yang hanya bertahan enam bulan, setelah itu semua ceritannya akan lenyap seiring dengan kontrak yang telah berakhir.
"Alicia? Halo, kamu dengar Papa kan?" tanya Dominic dari seberang telepon.
"Iya, Pah. Alicia dengar, terima kasih ya, Pah!" ucap Alicia yang masih terasa lesu.
Dominic pun menyuruh Alicia untuk pergi melihat kampusnya saat itu juga, karena dia sudah mengirim Jacob untuk menunggu di lobby apartemen.
Mendengar kata Jacob Alicia pun begitu senang, setidaknya dia bisa membagi cerita meski bodyguard-nya itu bagaikan patung berjalan.
"Ok, terima kasih, Pah!" Alicia langsung bergegas membuka tas kopernya untuk mengganti pakaian sembari menaruh barang-barangnya.
Setelah Alicia sudah selesai, baru langkahnya mendekat ke arah pintu dia pun teringat pesan dari sang suami, mengingat bahwa jangan sampai lupa bila ingin keluar dari kamar harus menggunakan topeng saat dirinya berada di dalam rumah.
Alicia langsung menggunakan topengnya dan bergegas keluar dari dalam kamar, langkahnya terhenti ketika mendengar suara Grey.
"Mau ke mana?" tanya Grey saat pria itu tengah duduk di kursi sembari menonton televisi.
"Mau, beli makanan, laper!" jawab Alicia seenaknya.
"Oh, ya udah, aku nitip!" Grey bangun dari duduknya lalu membuka dompet dan mendekat ke arah Alicia. "Ini kartu buat kamu selama enam bulan, terserah mau dipakai buat apa. Ini duit cashnya buat beli makanan yang aku pesan!
"Nggak usah, cuman enam bulan ini kan?" sindir Alicia yang menolak kartu dari Grey.
"Nggak usah nolak! Ambillah, aku tahu kamu membutuhkannya untuk keperluan kebutuhan di rumah!" Grey langsung kembali menonton film favoritnya usai memberi kartu dan uang pada sang istri.
Alicia sedikit meremas pemberian dari grey dia pun melangkahkan kakinya keluar dan melihat Jacob tengah berdiri di depan pintu apartemennya.
"J? kamu tahu apartemennya?" tanya Alicia yang begitu senang ketika melihat Jacob sudah ada di depan matanya. "Oh, iya
... aku lupa kalau kamu seorang bodyguard jadi bisa tahu aku di mana."
Alicia tahu bawa pertanyaannya sampai kapanpun tidak akan dijawab oleh bodyguard tampan itu, dia langsung berajalan menuju pintu lift bersama Jacob.
Sementara Grey memanas saat mengetahui bahwa Alicia pergi bersama bodyguard yang memiliki tubuh kekar setara dengan dirinya, dia memukul dinding saat melihat melalui layar pendeteksi luar pintu.
"Cih, tipe yang buruk! Hanya seorang pengawal kamu sudah tersenyum senang bertemu dengannya? Apalagi kalau ketemu orang penting? Cih, norak!" ucap Grey yang memandang rendah Jacob.
Tangan koko itu langsung memencet tombol pada layar ponselnya, Grey langsung menyuruh Peter mengikuti ke mana Alicia pergi bersama Jacob.
"Baik, Bo!"
to be continued...
bolak balik ke sini belum up juga
semangat thord