cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rencana
Setelah beberapa saat mencari jalan keluar dari tempat terpencil itu, mereka merasa semakin lelah dan kehausan mulai menyerang. Matahari yang terik membuat mereka berkeringat banyak dan wajah mereka tampak lesu. Devi yang biasanya ceria mulai merasa sedikit putus asa, sementara Dewi hanya diam dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Rohita tetap berusaha tetap tenang dan mencari tahu arah mana yang mungkin bisa membawa mereka keluar dari tempat itu.
“Kita harus terus berjalan saja. Mungkin di depan sana ada jalan yang bisa membawa kita ke tempat yang lebih ramai,” ujar Rohita dengan suara yang masih penuh semangat, meskipun dia sendiri merasa cukup lelah. Mereka mulai berjalan dengan langkah yang lambat dan terengah-engah, mata mereka terus mencari tanda-tanda adanya orang atau tempat tinggal di sekitar.
Tiba-tiba, suara mesin mobil yang keras terdengar dari kejauhan. Mereka berhenti sejenak dan melihat ke arah suara itu. Sebuah mobil hitam yang cukup mewah mulai muncul dari balik tikungan jalan. Ketika mobil itu semakin mendekat, wajah Devi tiba-tiba menjadi pucat dan dia mulai menarik tangan Rohita dengan kuat. “Rohita… itu Rio—mantan pacarku!” ujar Devi dengan suara gemetar dan penuh ketakutan.
Mobil itu kemudian berhenti tepat di depan mereka. Pintu mobil terbuka dan seorang pria muda dengan wajah yang tampak sombong keluar dari dalam. Dia adalah Rio, mantan pacar Devi yang pernah meninggalkannya di pantai beberapa waktu yang lalu. “Devi? Apa kamu doingan di tempat seperti ini?” tanya Rio dengan nada yang sedikit menyindir, namun ada nuansa kekhawatiran di dalamnya.
Rohita langsung mendekat dan berdiri di depan Devi dengan wajah yang penuh kemarahan. “Jangan kamu berani berkata apa-apa kepada dia! Kamu sudah cukup menyakitinya dulu!” seru Rohita dengan suara tinggi. Rio hanya mengangkat bahu dan berkata, “Aku tidak bermaksud menyakitinya. Aku hanya melihatnya kesusahan di tempat seperti ini dan ingin menolong.”
Dewi yang berdiri di belakang Rohita merasa cemas melihat situasi yang mulai menjadi tegang. Dia mendekat dan menepuk pundak Rohita dengan lembut, berusaha menenangkannya. “Tenang saja, Rohita. Mari kita dengar apa yang dia mau katakan dulu,” ujar Dewi dengan suara pelan. Rohita menghela napas dan sedikit mundur, namun tetap menjaga jarak dengan Rio untuk melindungi Devi.
Rio kemudian berkata, “Kalau kalian kesusahan dan tersesat di sini, aku bisa membawakan kalian keluar dari tempat ini. Mobil ku bisa membawa kalian ke tempat yang aman.” Devi menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata, “Tidak! Aku tidak mau naik mobil mu lagi! Kamu sudah cukup menyakitiku!” Rohita dan Dewi melihat Devi dengan pandangan penuh perhatian, mereka tahu bahwa Devi masih belum bisa melupakan rasa sakit yang diberikan oleh Rio.
Namun kondisi mereka saat ini memang tidak menguntungkan—mereka lelah, haus, dan tidak tahu kapan akan bertemu orang lain yang bisa membantu mereka. Rio melihat ekspresi wajah mereka dan berkata lagi, “Aku tahu kamu masih marah padaku, Devi. Tapi ini bukan tentang kita dua saja. Teman-teman mu juga butuh bantuan. Tolong pikirkan mereka juga.”
Kata-kata Rio membuat Devi terdiam sejenak. Dia melihat Rohita dan Dewi yang tampak sangat lelah dan wajahnya penuh kekhawatiran. Hatinya merasa bingung—dia masih sangat marah pada Rio karena apa yang telah dia lakukan, namun dia juga tidak bisa melihat teman-teman nya menderita karena kesesatan mereka.
“Devi, kita tidak punya pilihan lain. Kalau kita tidak menerima bantuan dia, kita bisa saja terjebak di sini sampai malam hari,” ujar Rohita dengan nada yang tegas namun penuh pengertian. Dia tahu bahwa Devi merasa tidak nyaman dengan kehadiran Rio, namun kondisi saat ini memang memaksa mereka untuk mengambil keputusan yang sulit.
Dewi juga mendekat dan memegang tangan Devi dengan lembut. “Kita akan selalu ada di sisimu, Devi. Kamu tidak perlu takut karena kita akan bersama-sama,” kata Dewi dengan suara yang hangat dan menenangkan. Devi melihat wajah kedua teman nya itu yang penuh perhatian, dan akhirnya dia mengangguk perlahan dengan air mata yang mulai muncul di sudut matanya.
“Baiklah… aku akan naik mobil nya. Tapi hanya karena kalian berdua butuh bantuan,” ujar Devi dengan suara yang sedikit merenggut. Rio mengangguk dan berkata, “Baiklah. Silakan masuk saja ke dalam mobil. Aku akan membawakan kalian ke tempat yang aman.”
Rohita pertama-tama membantu Dewi masuk ke dalam mobil, kemudian dia sendiri masuk dan duduk di sebelah Dewi. Devi masuk terakhir dan memilih tempat duduk yang paling jauh dari Rio. Rio kemudian masuk ke dalam mobil dan mulai mengemudikannya. Perjalanan berlangsung dalam keheningan yang agak tegang—tidak ada yang berbicara kecuali suara mesin mobil yang terus berjalan.
Devi hanya diam dengan wajah yang murung, matanya menatap keluar jendela mobil. Rohita dan Dewi selalu memberikan dukungan dengan cara mereka sendiri—Rohita menjaga agar wajahnya tetap tegas untuk menunjukkan bahwa dia akan melindungi Devi, sementara Dewi terus memegang tangan Devi dengan erat untuk memberikan rasa aman.
Rio mencoba beberapa kali untuk memulai percakapan dengan Devi, namun setiap kali dia membuka mulut, Devi hanya menoleh dan tidak menjawab apa-apa. Akhirnya, Rio juga memilih untuk diam dan fokus mengemudi. Setelah berkendara selama sekitar setengah jam, mereka melihat adanya bangunan-bangunan yang mulai muncul di kejauhan. Rohita merasa lega karena mereka akhirnya akan keluar dari tempat terpencil itu.
“Kita akan segera sampai di tempat yang aman. Aku akan mengantarkan kalian ke sebuah hotel yang cukup baik di sekitar sini,” ujar Rio dengan suara yang tenang. Rohita mengangguk dan berkata, “Terima kasih atas bantuannya. Tapi setelah sampai di sana, kita akan mengurus diri kita sendiri.” Rio hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, dia tahu bahwa hubungan nya dengan Devi dan teman-temannya tidak akan pernah sama seperti dulu lagi.
Setelah beberapa saat lagi berkendara, mobil akhirnya berhenti di depan sebuah hotel yang cukup besar dan terawat baik. Cahaya lampu luar hotel menyala terang, memberikan kesan yang aman dan nyaman setelah mereka mengalami kesesatan di tempat terpencil. Rio mematikan mesin mobil dan berkata, “Kita sudah sampai. Silakan turun saja.”
Mereka ber tiga keluar dari mobil dengan hati-hati. Rohita segera memeriksa apakah semua barang mereka aman dan tidak ada yang hilang selama perjalanan. Dewi membantu Devi yang masih tampak murung dan tidak berkata apa-apa. Rio juga keluar dari mobil dan mendekati mereka dengan langkah yang lambat.
“Hotel ini memiliki kamar yang cukup baik dan aman. Aku sudah memesan satu kamar untuk kalian tiga,” kata Rio sambil mengeluarkan sebuah amplop yang berisi kunci kamar dan bukti pemesanan. Rohita mengambil amplop itu dengan hati-hati dan berkata, “Terima kasih atas semuanya. Sekarang kita bisa mengurus diri kita sendiri. Kamu bisa pergi sekarang jika kamu mau.”
Namun Rio tidak bergerak dari tempat nya. Dia melihat Devi dengan pandangan yang penuh harapan dan berkata, “Devi, bisakah kamu bicara denganku sebentar saja? Aku punya banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku bahkan sudah memesan kamar tersendiri di hotel ini untuk bisa berbicara denganmu dengan tenang.”
Devi langsung menggelengkan kepalanya dan menarik diri ke belakang, bersembunyi di balik Rohita. “Aku tidak mau berbicara denganmu lagi, Rio! Sudah cukup apa yang kamu lakukan padaku!” ujar Devi dengan suara yang penuh emosi dan tangisan mulai muncul di matanya. Rohita segera berdiri di depan Devi dan menghadapi Rio dengan wajah yang penuh kemarahan.
“Kamu tidak mendengar apa yang dia katakan? Dia tidak mau berbicara denganmu! Jangan kamu berani memaksanya!” seru Rohita dengan suara tinggi yang menarik perhatian beberapa orang yang sedang lewat di depan hotel. Rio hanya menghela napas dan berkata, “Aku hanya ingin memperbaiki kesalahan yang aku lakukan dulu, Rohita. Aku benar-benar menyesal dengan apa yang telah aku lakukan kepada Devi.”
Dewi yang berdiri di samping mereka merasa tidak nyaman dengan situasi yang semakin memanas. Dia mendekat dan menarik lengan Rohita dengan lembut, berusaha menenangkannya. “Rohita, tenang saja. Mari kita masuk ke kamar dulu saja ya. Kita sudah sangat lelah,” ujar Dewi dengan suara pelan. Rohita mengangguk perlahan dan kemudian melihat Rio dengan pandangan yang tegas. “Kamu harus pergi sekarang, Rio. Jika kamu benar-benar peduli dengan Devi, kamu tidak akan memaksanya untuk melakukan sesuatu yang dia tidak inginkan.”
Namun Rio tetap tidak mau pergi. Dia mengambil langkah mendekat dan berkata dengan nada yang lebih keras, “Devi, kamu harus ikut denganku! Aku tidak akan pergi sampai kamu mau berbicara denganku!” Devi semakin takut dan dia memeluk tubuh Rohita dengan erat. Rohita merasa kemarahan nya mulai meluap lagi, namun sebelum dia bisa berkata apa-apa, beberapa petugas keamanan hotel mendekat dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Rio terpaksa menarik diri dan berkata, “Baiklah, aku akan tunggu di kamar ku. Tapi kamu harus datang menemukanku nanti, Devi. Aku tidak akan berhenti sampai kamu mau mendengarkan aku.” Setelah itu, dia berbalik dan masuk ke dalam hotel, menyisakan Rohita, Dewi, dan Devi yang merasa sangat lelah dan kelelahan karena semua kejadian yang terjadi hari itu.