Deva dan Dave mengakhiri ikatan cinta sebagai sepasang kekasih karena bakti pada orangtua. Namun, cinta tidak pernah benar-benar pergi dari hati keduanya. Ketika logika mengatakan harus berpisah, namun perasaan bersikeras menahan diri untuk tidak beranjak kemana-kemana.
"Berhenti berharap pada suami orang, Dev. Jangan merendahkan dirimu seolah kamu tidak layak mendapatkan cinta yang utuh dari orang lain. Dave jelas bukan jodohmu."
Sederat kata itu diucapkan oleh sosok pria yang mengagumi dan mencintai Deva dengan cara yang berbeda. Siapakah dia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan empat tahun
"Debora," gumam Dewa.
Perempuan tersebut semakin mendekat, sementara Dewa memilih bergeming. Meski bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman, namun tidak ada niat sedikit pun untuk memberikan keramahan yang lebih pada sosok yang dua tahun terakhir sudah tidak pernah lagi bertukar kabar dengannya.
"Apa kabar, Wa?" Debora mengulurkan tangan dan menundukkan badan untuk memberikan ciuman pipi kiri dan kanan seperti biasanya mereka bertegur sapa.
"Aku baik. Kamu?" Dewa menjawab singkat dan terkesan basa basi.
"Puji Tuhan, seperti yang kamu lihat. Mau ke Bali juga?" Debora bertanya sekaligus menebak.
Dewa menaikkan kedua alisnya untuk menjawab. Ekor matanya melirik Deva yang sudah tiba gilirannya berhadapan dengan petugas check in.
Tanpa meminta persetujuan Dewa, Debora langsung mendudukkan diri di bangku kosong sebelah pria tersebut.
"Dinas, Wa? Atau liburan?" Debora kembali bertanya, badannya agak miring agar bisa menatap lekat pada pria yang pernah mengisi hari-harinya selama empat tahun.
"Dinas sekaligus liburan." Dewa menjawab seperlunya. Saat melihat Deva sudah selesai, pria tersebut segera berdiri.
"Sendirian?" tanya Debora, mulai sedikit salah tingkah. Bertemu Dewa, membuat kilasan masa lalu muncul tanpa aba-aba. Dua tahun berlalu, tidak membuat kenangan itu terhempas begitu saja.
"Sama asisten pribadiku." Dewa menunjuk ke arah Deva yang tengah berjalan menunduk ke arahnya sembari menatap layar ponsel. Bibir perempuan itu nampak mengukir senyuman, begitu bahagia menlihat foto yang dikirimkan Ali padanya. Amar melambaikan tangan dengan senyuman yang begitu lepas.
"Papa sudah lebih baik rupanya. Sehat-sehat, Pa. Temani Deva berjuang mendapatkan impian Deva, mengembalikan apa yang kita punya, satu per satu," lirihnya dalam hati.
"Deva.... " Debora menyebutkan nama Deva dengan jelas. Membuat Dewa seketika menoleh ke arah sang mantan kekasih.
"Kamu kenal dia?" selidik Dewa.
Belum sempat menjawab, Deva sudah berada di antara mereka. "Kak Debora ...," sapanya dengan ramah.
"Hei, Dev... kebetulan sekali." Debora memberikan pelukan hangat dan ciuman pipi kanan kiri pada Deva.
"Kamu jadi asistennya Dewa rupanya? Gimana? Betah? Kalau aku sih bakalan betah. Percayalah, meski agak nyinyir, dia perhatian banget. Semua orang yang bekerja sama dia, pasti dianggap keluarga. Betah-betahin sama egoisnya," cerocos Debora sambil melirik Dewa yang nampak datar-datar saja saat mendengar ucapannya.
Deva hanya menanggapi dengan sebuah senyuman yang sedikit dipaksaakan. Tiba-tiba sesuatu terlintas dipikirannya. Kini dia mulai menghubung-hubungkan Debora, Dewa dan peristiwa jual beli kemarin.
"Astaga! Jangan-jangan yang beli barang-barangku adalah Pak Dewa. Dan Kak Debora hanya atas nama saja. Ngapain coba? Rasanya kok aneh orang mulut lemes gitu mendadak baik. Mencurigakan sekali." Deva berbicara sendiri dalam hati. Tanpa sadar matanya menelisik pandang pada Dewa.
"Apa lihat-lihat? Ganteng? Sudah dari embrio. Sudah ah, yuk kita ke lounge aja!" ajak Dewa, lalu dia menoleh pada Debora dan berkata, "Duluan ya, Deb." Tangan Dewa reflek merangkul pundak Deva, tentu saja langsung ditepis oleh perempuan tersebut.
"Jangan membuat harga diriku jatuh, Dev. Sebentar saja. Lima meter ke depan," bisik Dewa sembari tersenyum pada Debora yang menatap dirinya dan Deva dengan heran.
"Ah... Pak Dewa baik sekali. Saya belum pernah menemui atasan sebaik ini. Baiklah kalau Bapak memaksa. Saya jadi enak." Deva menurunkan tangan Dewa dengan gerakan cepat dan sedikit memaksa. Lalu meletakkan tangan sang atasan ke pegangan koper miliknya.
"Duluan ya, Kak Deb." Deva langsung melenggang bebas mendahului Dewa yang terbengong-bengong karena menuntun dua koper.
"Awas kamu, Dev. Tunggu pembalasanku," umpat Dewa.
Debora hanya mengamati interaksi antara Dewa dan Deva sembari terus menata hati. Menepis harapan yang mendadak muncul kembali tanpa aba-aba.
"Tidak! Kisahku dan Dewa sudah selesai. Sepertinya mereka cocok. Deva berhak bahagia. Dan Dewa laki-laki yang tepat untuknya, semoga saja mereka berjodoh. Aku," batin Debora. Lalu melangkahkan kaki perlahan menuju arah yang sama. Ya, dia pun akan ke Bali untuk bertemu dengan klien yang menggunakan jasa wedding organizer miliknya.
Deva langsung mengambil duduk di dekat kaca yang bisa membuat matanya bebas melihat ke arah luar. Perempuan itu, jelas terlihat sedang menahan senyuman kemenangan. Melihat apa yang disuguhkan oleh Dewa---raut kekesalan, bibir monyong, dipadu gerakan menggeret dua koper dengan kasar, sungguh bisa sedikit memberi Deva hiburan.
"Nggak sopan! Mana ada atasan bawain koper bawahan," dengus Dewa, sembari mendorong koper milik Deva dengan kasar ke arah pemiliknya.
"Saya sedang menyelamatkan harga diri Bapak. Merangkul perempuan seenaknya itu tidak baik. Kalau perempuannya tidak suka, bisa dianggap pelecehan. Lebih baik seperti tadi. Bapak kelihatan gentle sekali." Deva sedikit memberikan pujian, entah palsu atau kah jujur.
Dewa berdecih kesal. Lalu menghempaskan bokongnya di sofa sebelah Deva. Penerbangan masih empat puluh menit lagi. Lagi-lagi Debora muncul di antara mereka. Meminta diri untuk bergabung. Deva dengan senang hati mengijinkan. Dewa sendiri hanya memberikan reaksi dengan senyuman tipisnya. Debora duduk tepat di sofa yang ada di depan Deva.
"Wa... Jason apa kabar?" tanya Debora. Mengingatkan Deva pada anak kecil yang memeluk dirinya di taman beberapa waktu yang lalu.
"Baik. Jason sudah mulai sekolah. Kamu datang ke rumah saja kalau mau bertemu sama Jason dan mami." jawab Dewa, begitu santai.
Deva semakin yakin, atasannya memang Don Juan, sudah beranak istri, masih saja suka tebar pesona di luaran. Kini dia sedang mencari celah untuk memenuhi rasa penasarannya.
"Jadi Kak Debora tahu kontak saya dari Pak Dewa, ya?"
Pertanyaan bernada menuduh dari Deva, sontak membuat Debora dan Dewa saling pandang. Debora yang terlihat gugup, dan Dewa yang bingung karena memang tidak tahu apa-apa.
"Ehmmm... bu-bukan, Dev. Lupakan saja. Aku ke toilet dulu, ya." Debora bergegas berdiri, menyambar tas yang tadinya ditaruh di sofa kosong sebelahnya. Perempuan tersebut melangkahkan kaki lebar menuju arah tempat yang disebutnya tadi.
"Kok kamu bisa kenal Debora?" Dewa mulai kembali dirasuki jiwa lambe gibah.
"Lah... bukannya Bapak yang kasih kontak saya ke dia? Kak Debora yang membeli mobil dan barang-barang saya yang lainnya." Deva tidak keceplosan, dia memang sengaja langsung mengucapkan hal tersebut agar Dewa tidak ada jeda untuk berkilah.
"Hah, Aku? Bukan Dev, aku juga baru ketemu sama dia lagi hari ini. Terus kamu bilang dia yang beli barang-barang kamu? Kok bisa? Buat apa?" Dewa malah balik bertanya.
Dewa dan Deva terdiam, pikiran keduanya kali ini sepaham akan satu hal. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh Debora. Deva mencoba menatap mata Dewa dalam-dalam. Mencari signal kebohongan di sana. Namun, tidak ditemukan.
"Debora sama aku pernah menjalin hubungan dekat. Empat tahun kami bersama. Lama, kan? Cukup buat ajuin kredit motor atau mobil sampai lunas. Tapi setidaknya aku nggak jagain jodoh orang, karena sampai sekarang, sepertinya dia belum menikah." Dewa tiba-tiba bercerita tanpa diminta.
Ucapan Dewa seketika membuat tenggorokan Deva mendadak kering dan gatal. Perempuan itu reflek mengeluarkan suara batuk yang sudah tidak bisa ditahan.
Alur cerita memberikan pelajaran yg sangat berharga bagi setiap hari.
btw aku msh nungguin part selanjutnya loh kak