Malam itu Alea terbangun setelah menangis sepanjang hari karena Rey, sang kekasih yang tak datang ke acara pernikahan mereka. Alea berharap semuanya adalah mimpi buruk namun siapa sangka saat ia bangun dan membuka mata, itu lebih dari mimpi buruk
" Aku suamimu!" Begitu terkejutnya Alea dengan pria yang sedang duduk manis menampilkan senyum smirk yang menyebalkan untuk Alea, ia merasa kunang-kunang berputar dikepalanya
Bagaimana bisa presdir baru ditempatnya bekerja kini menjadi suaminya? Apa yang harus Alea lakukan dengan pria yang pernah menjadi cinta satu malamnya itu?
Ikuti kisahnya ➡️
Jangan tinggalkan jejak, like, rate dan vote
Salam hangat Author 🌞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa tujuanmu?
🍃🍃🍃🍃
" Lama-lama aku bisa punya penyakit jantung kalau terus seperti ini." Gerutu Alea dimeja kerjanya. Ciuman panas itu sudah berakhir beberapa jam lalu namun Alea masih saja mengingatnya. Alea benar-benar tak fokus bekerja, ia terus melamun dan jemarinya hanya asal ketik
Meskipun begitu Alea tak akan dapat omelan serius. Kepala divisinya terlalu takut dengan perkataan Benny. Pria itu hanya memperhatikan Alea dalam diam sampai sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang
" Rey." Panggilnya
" Kau senggang malam ini?" Tanya Rey lalu kedua matanya mengedar, tentu ia mencari Alea. Rey mendapat indormasi dari Mila bahwa mantan pacarnya itu dipindahkan ke bagian Marketing
" Aku akan makan malam dengan istriku." Jawab Tama mengikuti arah pandang Rey pada Alea
" Aku tidak mengerti denganmu?"
" Ceritanya sangat panjang."
" Gosip yang beredar, kau menghamili teman Alea." Rey tampak tak senang dengan perkataan itu, ia beralih pada Tama
" Siapa yang memindahkan Alea kemari, tanpa seizinku!"
" Bos." Jawab Tama santai
" Danish?"
" Iya, kau pikir bos kita siapa lagi?" gerutu Tama mendelik kesal lalu beralih lagi pada Alea
" Kenapa kau sangat bodoh, kau meninggalkan berlian hanya untuk bersama emas murahan." Sindir Tama, tapi untuk kali ini Rey hanya diam, ia memikirkan perkataan Tama tadi
" Kenapa menurutmu Danish memindahkan Alea kesini?" Tama menyeringai, ia menengadah pada Rey yang menjulang tinggi didepannya
" Wanita secantik Alea, imut, manis, bodynya tidak perlu ditanya lagi. Menurutmu pria mana yang tidak tertarik?" Goda Tama
" Seandainya belum memiliki istri, aku pun akan memilih Alea dan mengejarnya." Tambah Tama, ia merasa puas melihat wajah muram temannya
" Aku akan menannyakan langsung pada Danish." Ucap Rey lalu meninggalkan divisi marketing. Ia bergegas menuju lantai paling atas dimana ruangan Danish berada
" Milka, apa Danish ada?"
" Boss." Danish yang baru saja dari ruangan meeting itu menegur Rey membuat pria itu segera berbalik
" Panggil aku boss, atau kau mau kutendang dari perusahaan ini?"
" Maaf, BOS." Danish berdecih, ia melenggang melewati Rey begitu saja
" Ada yang ingin kubicarakan." Rey mengejar Danish sampai keruangannya. Danish mengangkat tangannya keatas
" Katakan!"
" Kau yang memindahkan Alea?" Danish tak menjawab, ia malah mendudukan dirinya dikursi kebesarannya, mengangkat kedua kakinya keatas meja kerja. Sangat tak sopan, gerutu Rey dalam hati
" Aku yang paling berkuasa disini, aku bisa melakukan apapun jika aku ingin." Rey tampak kesal dengan kesombongan itu
" Apa alasannya?"
" Bukankah kinerjanya sangat buruk!" Jawab Danish asal
" Tidak, dia sangat kompeten!"
" Kau bilang seperti itu karena perasaanmu!"
" Aku bukan mau membahas perasaan, tapi soal keprofesionalan anda BOS?"Danish tersenyum remeh
" Apa tujuanmu? sepertinya kau ingin mencari masalah ya denganku?"Rey menghela nafas
" Keluar!" usir Danish mengibaskan tangannya
" Aku hanya ingin tahu, kenapa kau memindahkan Alea tiba-tiba tanpa sepengetahuanku!!" Rey tampak mulai emosi
" Apa kau tuli? sudah kubilang karena kinerjanya yang buruk. Keluar sekarang atau kau ingin petugas keamanan menyeretmu dari sini!" Bentak Danish menggebrak meja, kedua matanya menyalang tajam
" Beraninya kau mengajariku!" Gerutu Danish
Rey akhirnya mengalah, bagaimanapun ia memang akan kalah, Danish punya segalanya sementara dirinya hanya menumpang dalam segala hal. Menjadi kepala divisi keuangan pun itu karena Irene yang menyuruh Pak Leo untuk mempertimbangkan sang adik bekerja diperusahaannya
Jam kerja berakhir sore ini. Alea sudah menunggu Danish didalam mobil bersama Benny. Alea terus melihat kemunculan sang suami keluar dari lift karena pria itu tak pernah telat dan selalu tepat waktu
Jantung Alea berdegup ketika tubuh tegap dan tinggi itu keluar dari lift dengan tas kerja yang didalamnya berisi laptop dan segala macam pekerjaan Danish yang biasa pria itu kerjakan dirumah
Saat Danish masuk, Alea memfokuskan dirinya kedepan. Danish melirik istrinya itu, tapi kali ini Danish tak melakukan apapun. Ia malah membuka laptop dan melanjutkan pekerjaannya
" Untuk apa pulang kalau terus bekerja!" Gerutu Alea dalam hati melirik Danish
" Demi Tuhan, kenapa dia tampan sekali." Batin Alea mereemass jemarinya sendiri. Alea memperhatikan hidung yang mancung bak perosotan tk, lalu bibir Danish yang keriting. Alea meneguk ludahnya ketika mengingat apa yang dilakukan bibir itu tadi siang padanya
Danish tersenyum, melalui sudut matanya ia tahu Alea sedang menatapnya
" Alea, kau mau makan apa malam ini?" Pertanyaan itu cukup membuat Alea terkejut dan memalingkan wajahnya dari Danish
" Aku tidak tahu." Jawab Alea jutek
" Bagaimana dengan steak, kau menyukainya?"
" Aku suka medium Rare." Danish lagi-lagi tersenyum, ia menoleh pada Alea
" Dan aku suka bibirmu!" Bisiknya menggoda Alea, wanita itu memejamkan mata akan rayuan itu
" Aku juga suka dadamu, besar." Goda Danish lagi. Ia menutup laptopnya, menyimpannya kesamping lalu mendekati Alea
" Lihat aku!" Perintah Danish
" Ada Benny." Gerutu Alea. Danish merasa gemas, ia merengkuh tubuh itu
" Hentikan, ada Benny." Gerutu Alea lagi
" Dia tidak akan melihat." Saut Danish, padahal dirinya memang tidak tahu malu
" Dia bisa melihat kita dari kaca." Bisik Alea dengan wajah kesalnya
" Aku akan mencongkel kedua bola matanya bila dia berani melihat kita."
" Kenapa sadis sekali?"
" Ya, itulah aku!"
" Lepaskan aku!" Alea meronta dalam rengkuhan itu
" Aku takut padamu!" Danish terbahak kencang membuat Benny terkejut, ini pertama kalinya ia mendengar suara Danish seperti itu
Alea jadi senyum melihat Danish, perlahan ia bergerak membelakangi pria itu mebghadap kaca hingga satu kakinya naik keatas kursi, menyembunyikan senyumannya. Danish tak gentar, ia memeluk tubuh itu dari belakang, kedua tangannya melingkari perut rata Alea dan dagunya ia tumpu dipundak Alea
Tumben sekali kedua tangan dan bibir Danish diam jadinya mobil itu hening tanpa suara. Pria itu terlihat nyaman memeluk Alea, begitupun sebaliknya, keduanya hanya memandang jalanan yang mulai macet. Sore hari ibukota memang kerap dilanda macet karena sebagian pekerja kantor memang pulang pada sore hari
Sampai mereka tiba disebuah mall dikawasan elite barulah Danish melepaskan pelukannya. Diajak Danish Alea keluar dari mobil dan menuju lift
Seperti sore lainnya, mall juga sangat ramai sore ini membuat Danish tampak tak nyaman berada satu lift dengan banyaknya orang. Pria itu segera merangkul Alea ketika lift terbuka
Danish dan Alea mengikuti dibelakang, Benny memandu keduanya karena pria itu yang merekomendasikan tempat makan steak yang menurutnya paling enak di Jakarta
Saat sampai ketiganya langsung disambut seorang pelayan muda." Selamat malam Pak, untuk berapa orang?" tanyanya pada Danish yang celingukan kesana kemari
" Apa ada private room?"
" Ada, untuk private room minimal dua orang " Saut pelayan tersebut
" Saya bersama istri saya, berdua." Benny mendengus kecil, ia sama sekali tak dianggap disana membuat Alea tersenyum lucu
Lalu pelayan itu menuntun mereka ketempat yang diinginkan Danish, sementara Benny hanya menunggu diruang tunggu. Alea dan Danish memasuki private room, keduanya duduk saling berhadapan. Alea hanya menatapi suaminya yang sedang memesan makanan untuk mereka, tampan bak dewa, apalagi jika tutur katanya sesopan sekarang, Alea rasanya jatuh cinta lagi pada pria itu
Alea tersadar ketika Danish berpindah tempat kesampingnya. Satu tangan pria itu menjalar merengkuh pinggang ramping Alea, Alea hanya menunduk menatapi jemarinya sendiri
" Alea." Panggil Danish menarik dagu runcing Alea agar menatapnya. Danish mencium pipi itu dengan begitu lembut
" Dan, kita sedang ditempat umum." Tegur Alea menahan wajah Danish dengan menangkupnya
" Tenang saja aku tidak akan menidurimu disini." Saut Danish dengan senyum nakalnya. Alea memukul pelan dada itu membuat Danish segera menangkap jemarinya, lentik dengan kuku dipoles warna merah tua
Danish mengecup pelan jari telunjuk Alea, kedua pipi Alea merona saat ini, darahnya terasa berdesir dengan sentuhan itu. Alea menahan nafasnya, jarak wajahnya dan Danish sangat dekat hingga Alea merasakan nafas hangat pria itu
" Jadilah milikku malam ini Alea." Bisik Danish
-
-
bener2 lho. nasib perempuan dibuat rendah banget di novel. hanya dijadikan istri yg tersakiti. capedeee
terinspirasi ikan terbang banget blm lagi penuh dgn pelakor. seakan masalah rumahtangga selalu peremuan terobsesi.
Aku mampir
Salam kenal 💐❤️