Binar tak menyangka ujian cintanya bersama sang suami hadir setelah menikah, masalah bertubi-tubi silih berganti menghampiri rumah tangga mereka.
Mertua dan ipar yang selalu mengganggu kenyamanannya, masalah orang ketiga pun juga ikut mendekati biduk rumah tangganya. Mereka selalu mencari celah, agar bisa merusak hubungan yang selama ini ia bangun bersama sang suami.
Saat batas kesabaran mulai di ambang batas dan tidak satupun orang percaya padanya, pantaskah Binar bertahan dengan semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MinNami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Sepupu Binar-
Albiru baru saja akan memarkirkan mobilnya ketika mendapati mobil yang tidak dia kenali sudah lebih dulu mengambil tempat yang biasa dia gunakan. Albiru pikir mobil itu milik teman Ayah Ibra atau mungkin milik teman kantor Binar.
Ketika Albiru mencapai pintu dia kembali dikagetkan dengan suara yang sangat dia kenali. Suara menyebalkan milik De Rio, sepupu tengil Binar yang dulu selalu mengekori kemanapun Binar pergi.
“Assalamu’alaikum,” Albiru mengucapkan salam seraya mengetuk pintu pelan.
Semua yang berada di ruang tamu sontak menoleh seraya menjawab salam, termasuk Binar yang begitu bertatapan mata dengannya segera mengalihkan tatapannya.
“Masuk Biru, nih ada Rio baru datang.” Bunda Ina menyambut hangat, menarik lengan Albiru untuk segera duduk disamping Binar.
“Hai bro, gimana kabar lo?” Rio menyapa dengan akrab seolah mereka adalah sahabat lama, namun kenyataannya mereka adalah rival lama.
“Baik, lo sendiri gimana kabarnya? Baru keliatan, nikahan kemarin nggak nongol juga lo.” Albiru terlihat sengaja memancing reaksi Rio, beruntung Rio menutupinya dengan baik.
“Gue lagi buka cabang di luar kota jadi lagi sibuk, dan berhubung semua sudah stabil jadi gue bali lagi ke Jakarta.” Rio menjawab dengan santai. Sikapnya pun terlihat biasa-biasa saja seolah sudah melupakan perasaannya terhadap Binar.
"Alhamdulillah usaha Rio lancar ya, terus sekarang Rio tinggal dimana?" tanya Ayah Ibra.
"Rio lagi nyari rumah disekitar sini Yah, tapi untuk sementara Rio lagi sewa apartemen. Nanti, Binar mau kan temenin Rio cari rumah disekitar sini." Binar sudah akan mengiyakan permintaan Rio namun Albiru segera menyela dengan cepat.
"Biar gue yang temenin, kasian Binar pasti capek kalau harus nemenin lo. Iyakan Bi?" Albiru menyela dengan cepat. Selama ini Binar tidak tahu perasaan Rio karena itu sebisa mungkin Albiru akan menjauhkan Binar dari sepupu tengilnya itu.
Binar hanya mengangguk tidak tahu harus berkata apa. Sebenarnya apa yang dikatakan Albiru ada benarnya jadi untuk kali ini Binar menyetujui usulan suaminya itu.
Rio diam-diam tersenyum senang, karena tujuan utama dia kembali ke Jakarta adalah untuk Binar. Tidak percuma dia menyiapkan mata-mata selama ini dan sepertinya tugas sang mata-mata berjalan baik.
...****************...
Sejak kedatang Rio kembali ke Jakarta, Albiru menjadi lebih sensitif. Pria itu bahkan selalu menelpon Binar setiap jam meski mendapat respon dingin dari Binar.
Dan sekarang Albiru kembali mengganggu aktivitas Binar. Pria itu bahkan datang ke kantor sang Binar hanya untuk membujuk untuk makan siang bersama dengan alasan sudah lama dia tidak makan ditemani sang istri.
"Please, Bi. Aku kangen banget makan bareng kamu. Sebenarnya kangen masakan kamu tapi karena nggak mungkin kamu masakin aku jadi gantinya kita makan siang bareng ya." Bujuk Albiru untuk kesekian kalinya.
Sebenarnya Binar merasa kasihan namun perasaan kecewa masih menggerogoti hatinya.
"Aku sibuk," Binar menjawab singkat.
Albiru menghela napas lelah, memang sangat sulit membujuk Binar tapi tentu dia tidak akan menyerah terlebih sejak kedatangan Rio yang mulai menguasai perhatian Binar.
"Kamu mau makan bareng Rio, tapi sama suami kamu sendiri kamu nggak mau." Albiru berucap pelan seolah benar-benar tersakiti.
Binar menghela napas, oke dia mengaku kalah kali ini. "Oke, ayo kita makan siang bareng," Binar akhirnya menyetujui.
Sungguh dia tidak tega melihat Albiru yang terlihat begitu tersakiti. Sudah sejak dulu Albiru selalu cemburu dengan Rio, padahal menurut Binar tidak ada yang perlu dicemburui karena Rio ada sepupunya dan tidak mungki Rio memiliki rasa terhadapnya kan.
...****************...
Ella merasa diikuti, setiap gerak geriknya diawasi. Sejujurnya Ella merasa takut, karena itu dia tidak pernah pisah dari Intan. Setidaknya ada seseorang didekatnya, begitu pikir Ella.
"Kenapa?" tanya Intan saat mendapati Ella beberapa kali menoleh kebelakang.
"Nggak tau, belakangan ini gue rasa ada yang ngikutin gue." Ella berbisik takut ada yang mendengar ucapannya.
Intan tampak terkejut, "lo harus lapor mas Biru atau mas Fadli."
"Mas Biru masih marah sedangkan mas Fadli jelas nggak akan peduli sama gue."
"Terus gimana?" Intan bertanya panik, bukan apa-apa dia orang terdekat Ella saat ini karena itu dia ikut merasa terancam.
"Gue nggak tau," Ella menjawab pelan, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Ella pikir selama ini dia tidak memiliki musuh, tapi mengapa ada orang mengawasinya terus menerus? Dia takut orang itu memiliki niat jahat.
"Intan, lo dicari Tya. Katanya mau pembagian tugas tuh." Ujar Remi salah satu teman Intan. Setelah mengatakan hal itu Remi segera pergi.
Intan menatap Ella sejenak sebelum beranjak. Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Ella sendirian, tapi ada tugas yang harus dia selesaikan cepat.
"Lo disini saja, nanti gue balik cepat." Ucap Intan yang dengan terpaksa diangguki Ella.
Intan pergi, Ella tinggal sendiri di cafe kampus. Walau ada beberapa mahasiswa lain, tapi Ella tetap merasa terancam. Untuk mengusir rasa takutnya, Ella memilih membuka media sosialnya berusaha tidak memedulikan keberadaan orang-orang disekitarnya.
"Hai, Gabriella." Ella menoleh kaget mendapati sosok pria yang tidak dia kenali sedang duduk disampingnya.
Pria tampan yang Ella yakini bukan berasa dari kampusnya. Dan Ella juga yakin usia pria ini beberapa tahun lebih tua darinya.
"Maaf siapa ya?" Ella bertanya sopan meski jantungnya sudah berdetak kencang.
"Lo nggak perlu tahu siapa gue, yang lo perlu tahu cuma.." pria itu menjeda sejenak berusaha menikmati ekspresi ketakutan diwajah Ella.
"Menjauh dari Binar gue, jangan menyentuh atau mengusiknya." Lanjut pria itu membuat Ella melotot kaget. Tidak menyangka pria disampingnya ini mengenal Binar.
"Gue nggak tau maksud lo apa." Jawab Ella berusaha terlihat baik-baik saja.
Pria itu tersenyum sinis, "sekali lagi gue peringati, jangan mengusik Binar. Karena jika sekali lagi lo buat Binar nangis, gue pastiin lo akan menyesal."
Ella semakin pucat, meski begitu demi terlihat tidak melakukan tindak kejahatan Ella tetap mengangkat dagunya tinggi, bersikap sombong.
"Ini peringatan pertama dari gue. Jangan sampai ada peringatan selanjutnya karena gue nggak pernah main-main sama orang yang sudah mengusik milik gue." Setelah mengucapkan kalimat bernada ancaman pria itu segera pergi meninggalkan Ella yang ketakutan sendirian.
Ella tidak percaya ada pria yang begitu melindungi Binar hingga berani mendatangi serta mengancamnya. Satu sisi Ella penasaran siapa sosok pria itu namun disisi lain dia takut mencari tahu siapa pria itu. Ancaman pria itu terlihat tidak main-main dan Ella jelas masih sayang nyawanya.
TBC
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa dukungannya biar author tambah semangat update 😊
Nih sambil menunggu novel ini update, ada rekomendasi novel menarik karya Nunuk Pujiati. Jangan lupa mampir dan dukung karyanya ya.
Judul : Mendadak Nikah
Demi kebahagiaan saudara kembarnya, Raya rela menerima permintaan Mahen untuk menikah malam itu juga dan tanpa sepengetahuan orang terdekat. Selama menjadi suami-istri, kehidupan mereka tak ada manis-manisnya, pertengkaran serta kekonyolan selalu membuat kedua orang tua mereka geleng-geleng dan khawatir hubungan kedua anaknya akan kandas di tengah jalan. "Jangan pernah kamu merubah batasan kita, Mahen! Lihat saja, jika kamu melanggar semua, maka saat itu juga aku akan minta cerai!" Apakah Raya akhirnya bisa menerima Mahen sebagai suaminya atau Raya akhirnya memilih untuk bercerai, setelah semua masalah saudara kembarnya selesai?
lagiiii...