Terlahir serupa tidak membuat kehidupan Mawar Atmaja dan Melati Atmaja memiliki kisah yang sama, karena setelah kelahiran mereka, kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai, sehingga kedua saudara kembar itu harus hidup terpisah.
Sang kakak Melati dibawa Ibunya merantau di kota besar, sementara Mawar harus tinggal bersama ayahnya yang seorang petani di desa nya.
Sampai akhirnya keduanya sudah dewasa dan dipertemukan kembali, saudara kembar itu terlibat dalam cinta segitiga, sang adik kembar yang diam-diam mencintai suami dari kakak kembarnya, berniat ingin merebut Rafael Kusuma Hadinata, segala cara telah Mawar lakukan supaya Rafael tertarik padanya, karena iri dengan kehidupan Melati yang berkecukupan, serta memiliki suami yang tampan dan kaya raya, Rafael adalah seorang CEO di sebuah perusahaan besar batu bara, membuat Mawar semakin berambisi untuk memiliki apa yang saudara kembarnya miliki, sampai pada suatu malam semuanya terjadi begitu saja, Rafael dijebak oleh Mawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi putri ang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAWAR SI RATU DRAMA (LICIK)
Sore itu Tuan Satria bersama Nyonya Silvia datang ke rumah kontrakan Mawar, mereka belum mengetahui fakta baru tentang kondisi Mawar saat itu, nampak pecahan kaca berserakan di lantai ruang tamu, darah berceceran dimana-mana, Nyonya Silvia menyipitkan matanya, berusaha menebak apa yang terjadi disana.
Karena mendengar kedatangan orang tuanya ke rumah itu, Rafael bergegas menemui mereka, Nyonya Silvia membulatkan kedua matanya, ketika melihat tangan Rafael dibalut perban.
"Rafael apa yang terjadi padamu Nak." Seru Nyonya Silvia dengan wajah cemas.
"Aku tidak apa-apa Ma, kenapa kalian datang kesini, aku kan sudah bilang, biar kami saja yang menyelesaikan permasalahan ini."
Kemudian Tuan Satria menjelaskan, jika firasatnya tidak enak, dan ternyata semua itu benar.
"Dimana Melati, Papa ingin berbicara dengannya." Ucap Tuan Satria dengan memandang ke segala arah.
Mawar mendengar suara Tuan Satria yang sedang mencari kembarannya, nampak dia mendengus kesal, ada kebencian yang semakin mendalam untuk Melati, karena Tuan Satria selalu bersikap baik padanya.
"Untuk apa Papa mencarinya, kak Melati sedang bersiap untuk meninggalkan kita semua, karena dia sadar, jika dia tidak bisa memberikan keturunan untuk mas Rafael, dan akulah yang dapat memberikannya." Ucap Mawar dengan lantang.
"Kau tidak perlu bersandiwara lagi, kami semua sudah tau kebohongan mu, Melati adalah seorang perempuan yang sangat baik, kenapa kau begitu jahat pada saudaramu sendiri." Sahut Tuan Satria.
"Oh iya, Mawar tau jika Papa dan Mama belum mendengar berita terbaru, jika sebelumnya kalian mengetahui tentang kehamilan palsuku, Mawar ingin mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, tapi Dokter pribadi keluar Hadinata mengetahui jika saat ini, aku benar-benar sedang mengandung penerus kalian, jadi tidak ada alasan bagi kalian untuk mempertahankan kak Melati sebagai menantu, karena hanya boleh ada satu menantu saja untuk kalian, dan orang itu adalah aku Pa, Ma." Jelas Mawar dengan angkuhnya.
Tuan Satria terkejut dengan memegangi dadanya, semua orang yang ada disana nampak cemas, dan bergegas memegangi tubuhnya. Rafael meminta Papanya untuk tenang dan jangan terlalu memikirkan masalah itu.
"Ma tolong berikan obat pada Papa, aku harus berbicara dengan Mawar terlebih dulu." Ucap Rafael seraya menarik paksa tangan Mawar.
Dengan amarah besar Rafael memaki Mawar, yang ucapannya begitu tajam melukai perasaan Papanya.
"Kau bisa tidak menutup mulutmu, jika sampai terjadi sesuatu pada Papa, aku tidak akan pernah memaafkan mu Mawar."
"Loh kenapa kau menyalahkan ku mas, aku hanya mengatakan fakta yang sebenarnya, aku berkata jujur pun terlihat salah ya dimatamu." Sahut Mawar dengan sinis.
"Papaku baru saja terkena serangan jantung, jika perkataan mu tadi sampai membuatnya kambuh, aku tidak akan pernah mengampuni mu." Jelas Rafael dengan membulatkan kedua matanya.
Rafael pergi meninggalkan Mawar, dia memanggil kembali menemui Papanya, nampak Melati sedang merawat Tuan Satria, dia memberikan obat-obatan yang harus diminumnya.
Tuan Satria menatap sendu menantunya, dia mengatakan jika perhatian yang Melati berikan tidak akan pernah lagi dirasakannya.
"Setelah ini kau akan meninggalkan putraku yang bodoh itu, bagaimana mungkin kau tetap perduli padaku." Tuan Satria menghela nafas panjang dengan wajah yang sendu.
"Apapun yang terjadi di antara aku dan mas Rafael, tidak akan mengubah apapun Pa, Melati akan tetap mengunjungi Papa seperti biasanya, itupun jika mas Rafael tidak keberatan."
"Tentu saja dia tidak akan keberatan, dia tidak memiliki hak atas rumahku, Papa yakin kau sudah menentukan keputusanmu, dan Papa tidak bisa ikut campur lagi, karena semua ini diluar wewenang Papa."
Nyonya Silvia menatap Melati dengan kesal, baginya Melati adalah penyebab segala hal buruk yang terjadi pada anak dan suaminya, perempuan itu mendengus kesal, membuang muka di hadapan Melati. Mawar melihat kejadian itu, dan berusaha memanfaatkan keadaan, Mawar tau jika Mama mertuanya tidak menyukai Melati, sehingga dia bisa memanfaatkan hal itu.
Mawar bersandiwara dengan berjalan sempoyongan, dia memegangi perutnya dan berteriak kesakitan, sontak saja semua orang panik, dan berlarian menghampiri nya, bahkan Ayah mereka keluar dari kamarnya, dengan mendorong kursi rodanya. Nyonya Silvia berteriak memanggil Rafael yang terdiam di sudut ruangan.
"Rafael cepat bopong Mawar ke kamarnya, dia pasti kelelahan karena kehamilan nya." Pekik Nyonya Silvia panik.
Dengan terpaksa Rafael membopong Mawar kembali ke kamarnya, nampak Mawar meminta Rafael untuk memegangi perutnya, supaya bayi yang ada didalam perutnya tenang, dan tidak membuatnya kesakitan, Lagi-lagi Rafael harus menuruti permintaan Mawar, dia mengelus perut Mawar dengan memalingkan wajahnya.
Terserah kau mas mau berpaling atau apa, yang terpenting saat ini aku bisa mengendalikan mu, supaya kau tidak mengurusi peremuan mandul itu, batin Mawar dengan tersenyum licik.
Nampak Tuan Satria tidak nyaman berada disana, apalagi setelah mengetahui kebenaran yang tidak diharapkannya, dia meminta istrinya untuk pulang bersamanya, tapi Nyonya Silvia menolak, dan ingin berada disana sampai kondisi Mawar baik-baik saja.
"Apa kau tidak melihat jika putramu yang bodoh itu sedang menjaganya, kau tidak perlu menghawatirkan nya, kita harus pulang sekarang, ada yang ingin aku kerjakan." Perintah Tuan Satria dengan tegas.
Melati berpamitan pada mereka seraya mengecup punggung tangan keduanya, tapi Nyonya Silvia menghempaskan tangan Melati begitu saja, nampak Ibunya tertunduk pilu melihat salah satu anaknya diperlakukan seperti itu, lalu Melati mendekap Ibunya dan memenangkan nya.
"Sudah Bu, Melati tidak apa-apa, Melati ke depan dulu ya, ingin mengucapkan selamat tinggal pada Papa Satria." Ucapnya seraya melangkahkan kakinya keluar rumah.
Beberapa ajudan Tuan Satria berdiri di depan rumah kontrakan yang tidak terlalu besar itu, Melati memeluk Tuan Satria seraya berpamitan.
"Beberapa hari ini Melati harus pergi Pa, Melati ingin menenangkan diri, tolong bantu Melati untuk mengurus proses perpisahan ku dengan mas Rafael, supaya proses itu berlangsung lebih cepat, Melati hanya ingin masalah ini segera selesai Pa, dan calon bayi mereka dapat memiliki status yang sah dimata hukum." Ucap Melati dengan mata berkaca-kaca.
"Kau tidak perlu hawatir Nak, Papa akan membantu mu menyelesaikan semuanya, Papa ingin kau bahagia, karena kau hanya mendapatkan penderitaan dari putraku yang bodoh itu."
"Tidak Pa, mas Rafael bukan lelaki bodoh, yang terjadi memang harus terjadi, InsyaAllah Melati ikhlas Pa, Papa jaga kesehatan ya, setelah semuanya baik-baik saja, Melati akan mengunjungi Papa." Dengan pilu Melati memohon restu Tuan Satria, dan lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya, tanpa mampu berkata lagi.
Setelah kepergian mertuanya, Melati kembali ke dalam rumah dan membereskan tas nya. "Ayo Bu, kita ke rumah Ibu sekarang, jika nanti Melati pergi dari kota ini, tolong bantu Melati mengurus butik ya Bu, setelah luka ini sembuh, InsyaAllah Melati akan kembali mengurus butik itu." Pintar Melati pada sang Ibu, dan Ibunya hanya terdiam dengan meneteskan air matanya.
...Bersambung....