"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Berbeda.
Pagi itu, di kediaman Larson. Suasana tampak hening manakala semua orang yang tengah duduk mengitari meja makan menikmati sarapan mereka tanpa suara. Hanya suara denting sendok dan garpu yabg beradu dengan piring saja terdengar.
Evan mengangkat pandangannya, menatap wajah sang istri yang pagi ini tidak banyak bicara. Wanita itu tetap menjalankan tugasnya, menyiapkan pakaian untuknya dan melayani dirinya ketika di meja makan. Akan tetapi sorot mata sang istri tidak lagi sama.
Drrtt....
Suara getar panjang dari ponsel Evan menarik fokus pria itu dari Rieta, segera mengeluarkan ponsel dari saku celana, dan mendapati satu pesan dengan nama 'Rihana' muncul di layar ponselnya.
"Bisakah kita bertemu siang ini? Aku merindukanmu."
Evan tersenyum membaca pesan yang baru saja ia terima. Satu pesan yang berhasil membuat semua perhatian pria itu teralihkan sepenuhnya dari sang istri, bahkan segera membalas pesan itu seolah ia lupa pada apa yang sudah terjadi.
"Aku akan ke kantormu siang ini. Kita makan siang bersama." -send-
Sesaat setelah ia selesai membalas pesan, ia kembali memandang wajah istrinya, wanita itu masih menekuni sarapan yang terhidang. Pikirannya kembali mengingat apa yang terjadi tadi malam dan tidak menemukan tanda-tanda istrinya akan mengadu pada sang ayah.
Di saat yang bersamaan, kilasan tentang hubungannya dengan Rihana melintas. Hubungan yang sudah terjalin begitu lama dan ia berencana untuk menikahi Rihana, tetapi mendapatkan pertentangan dari ayahnya yang sudah memilih Rieta sebagai menantu keluarga Larson.
Kini, ia dilema. Ia tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan Rihana, tetapi perubahan sikap Rieta tadi malam juga mulai mengusik hatinya.
"Rie," Evan memanggil istrinya lembut.
Rieta mengangkat wajah, menatap suaminya yang baru saja memberikan panggilan berbeda. Terasa lebih lembut di telinganya, tetapi kenapa hatinya tidak senang?
"Ya?"
"Kali ini, aku yang akan mengantarmu ke kantor. Jadi, kamu tidak perlu lagi berangkat bersama Paman," ucap Evan.
Rieta terdiam sejenak, melirik singkat ke arah Arlan yang pagi ini menjadi lebih pendiam dan tidak lagi mengganggu seperti hari sebelumnya. Pria itu bahkan tetap diam saat Evan menawarkan diri untuk mengantarnya ke kantor. Tapi rasa tidak senang di hatinya justru bertambah.
"Ini tidak benar... Aku tidak boleh seperti ini, apa yang aku pikirkan?" batin Rieta merutuki dirinya sendiri.
"Baiklah," jawab Rieta.
"Pa," Evan beralih pada ayahnya yang segera menatapnya.
"Aku akan mulai bekerja hari ini. Sudah cukup aku bersantai di rumah, aku ingin kembali bekerja di perusahaan."
Tuan Marlan tersenyum, menganggap sikap putranya kali ini adalah bentuk perubahan putranya yang ingin menjadi lebih baik
"Baiklah. Kamu bisa ke kantor setelah mengantar Rieta ke kantor. Papa juga membutuhkanmu di perusahaan kita," jawab Tuan Marlan.
Suasana kembali hening, bahkan setelah sarapan selesai, tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir Arlan. Pria itu pergi begitu saja tanpa berbalik lagi. Sementara Rieta, wanita itu kembali ke kamar untuk menyiapkan pakaian suaminya, membantu sang suami memakai dasi yang anehnya tidak menolak saat Rieta menyentuh pria itu.
"Kita berangkat," Evan berkata singkat sambil menoleh saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Rieta hanya mengangguk.
"Apakah kamu ingin membawa kopi lagi?" tawar Evan. "Aku bisa masuk ke dalam untuk meminta bibi menyiapkannya."
Kopi.
Satu kata itu seolah menyadarkan Rieta dari hal yang benar-benar ia lupakan.
Kemana perginya tumbler yang biasa Evan siapkan untukku?
"Tidak perlu, aku bisa terlambat," jawab Rieta beralasan sambil tersenyum tipis, tetapi pikirannya berusaha mengingat di mana terakhir kali ia meletakkan tumbler itu.
Evan hanya mengangguk, menghidupkan mobil dan mulai menjalankan mobilnya.
"Boleh aku bertanya sesuatu, Rie?" tanya Evan memecah keheningan.
"Apa?" sambut Rieta.
"Apakah kamu masih berada di tahap percobaan menjadi sekretaris? Aku tidak begitu ingat sudah berapa lama kamu berkerja pada Paman," tanya Evan.
"Paman mengatakan padaku, hari ini akan diputuskan," jawab Rieta. "Dan mereka yang tidak memenuhi kriteria akan diberi pilihan apakah bersedia menjadi karyawan biasa atau meninggalkan AVA Corp."
"Andai kamu terpilih, apakah kamu akan mengambilnya?" tanya Evan lagi.
"Ya," Rieta menjawab singkat.
Evan tidak bertanya lagi, menepis perasaan tidak nyaman yang sempat menyusup ke dalam hatinya.
Mobil yang Evan kemudikan akhirnya berhenti di depan gedung tinggi yang menjadi tempat istrinya bekerja. Evan hanya mengangguk saat istrinya mengucapkan terima kasih, membiarkan wanita itu turun dan menatap lama punggung istrinya sampai sosok wanita itu menghilang dari pandangannya.
Namun, ketika ia akan kembali menjalankan mobil meninggalkan area kantor, seseorang membuka pintu mobilnya, masuk ke dalam, dan memeluk Evan tanpa ragu.
"Rihana!" Evan mendesis kaget. "Bagaimna jika ada yang melihat." tegurnya seraya mendorong Rihana menjauh.
"Tidak ada yang melihat," sahut Rihana santai.
"Aku senang sekali tidak perlu menunggumu sampai siang, kamu malah datang kemari pagi."
"Aku mengantar Rieta," jawab Evan.
Rihana menarik diri, menatap Evan dengan kening berkerut.
"Kamu mengantarnya? Sejak kapan kamu peduli padanya?" selidik Rihana.
"Dia marah, dan aku tidak ingin dia mengadu," jawab Evan. "Kamu tahu sendiri bagaimana ayahku menyayanginya bukan? Dan selama ini Rieta tidak pernah marah, jadi aku perlu bersikap baik padanya."
Rihana mengangguk, duduk di jok penumpang tanpa memutus pandangan dari sang kekasih. Ia tidak ingin ambil pusing tentang Rieta, toh cepat atau lambat Evan akan menjadi miliknya, itulah yang Rihana pikirkan.
"Aku benci mengakui ini," Rihana mendengus singkat, menghembuskan napas cepat sebelum kembali berkata, "Istrimu cerdas, kurasa dia yang akan terpilih sebagai sekretaris. Dia juga bisa belajar hal baru dengan cepat dan memiliki pola pikir berbeda."
"Kamu harus menarik dia bekerja di perusahaaanmu. Jika dia bekerja di sana, dia akan memberi banyak keuntungan padamu, aku jamin itu. Dia bahkan bisa menangani proyek sulit dan memberi AVA Corp keuntungan besar," papar Rihana.
"Kau yakin?" dahi Evan berkerut setengah tak percaya. "Dia belum lama ini lulus, dan dia sudah bisa menangani proyek? Yang benar saja."
"Aku juga tidak percaya pada awalnya, tapi aku yang menjadi mentornya. Dan dia selalu meminta pendapatku sebelum menyerahkan hasil pekerjaannya pada bos ku. Semua yang dia kerjakan selalu selesai tepat waktu." papar Rihana.
"Jika benar begitu, mengapa ayahnya justru meminta Rieta bekerja di perusahaan pamannya? Kenapa tidak membuat Rieta bekerja di tempat yang sama dengan dirinya? Apa yang ayahnya sembunyikan sebenarnya?" batin Evan penuh tanda tanya.
"Untuk sekarang ..." ucap Evan sambil menatap Rihana. "Jangan menunjukkan sikap yang membuat siapapun curiga, termasuk asisten pamanku, kamu mengerti kan? Aku akan membujuk ayahku untuk segera memberikan kepemimpinan LR Corp padaku."
Rihana mengangguk, mencondongkan tubuhnya ke depan saat Evan menarik tengkuknya mendekat, dan memejamkan mata saat bibirnya bertemu dengan bibir sang kekasih yang segera menyesapnya lembut.
Keduanya tidak menyadari, kaca mobil yang sedikit terbuka membuat seseorang yang baru saja keluar dari gedung menghentikan langkah dan melihat apa yang sedang mereka lakukan.
. . . .
. . . .
To be continued...