Kisah seorang anak yang di buang oleh keluarganya karena memiliki sisik hitam memenuhi sekujur tubuhnya.
Ya, Kania anak itu. Anak yang membuat orang akan takut melihatnya. Akankah dia bahagia atau terpuruk di kehidupan ini. ikuti kisahnya sampai tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon akos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. DUA GADIS YANG MEMILIKI KEKUATAN YANG SAMA.
"Baiknya kita pergi dari sini, kekuatanya begitu besar, kita tidak akan sanggung untuk melawannya,".
"Betul apa yang kak bilang, ilmunya hampir sama dengan gadis itu,".
"Apa? Jadi ada dua gadis yang memiliki kekuatan sedasyat itu. Sebenar mereka itu manusia biasa atau moster yang berwujud seperti kita,".
"Mereka itu juga manusia biasa hanya saja, ada sebuah mahluk atau benda mustika bersemayam di dalam tubuh mereka. Mahluk atau benda mustika itulah yang bekerja saat sang empunya tubuh marah atau merasa terancam,".
"Kalau begitu ayo kita pergi, kita tidak akan sanggup menghadapi Gunawan jika gadis itu masih bersamanya,".
"Betul kk,".
Baron dan Arnol bergegas pergi meninggalkan ruangan itu sebelum Gunawan memerintah Alexa kembali untuk menyerang mereka.
"Bagus Alexa, ini yang kakek inginkan darimu. Kamu mulai patuh dengan apa yang kakek perintahkan, Ayo kita pulang, Nenek dan Ibumu pasti sedang menunggui kita dirumah untuk makan siang,".
Gunawan berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keluar diikuti Riko dan Alexa dari arah belakang.
Sementara itu, Abraham mengemudikan kendaraanya menuju kearah kediamanya bersama dengan Arnold.
Pertanyaan demi pertanyaan masih terus bermuncul dalam pikiran dan benak pria parubaya itu dengan kejadian tadi.
Arnold yang duduk di sampingnya juga merasakan hal yang sama. Alexa dan Kania sama-sama memiliki kekuatan melebihi kekuatan manusia biasa walau dirinya juga memiliki kekuatan itu tapi tidak sebanding dengan kekuatan yang di miliki kedua gadis itu.
"Arnold, tadi kamu bilang kalau masih ada satu lagi gadis yang memiliki kekuatan yang sama dengan gadis yang bersama Gunawan. Apa kamu tahu siapa gadis itu?," Baron yang masih fokus mengemudikan kendaraanya.
"Aku tahu orangnya kak dan kak juga kenal baik denganya,".
"Apa?, Aku juga mengenalnya?,". Baron sedikit memalingkan wajahnya kearah Arnold.
"Iya, namanya Kania?,".
Seketika Baron merem mendadak setelah mendengar nama Kania disebut.
"Kania anak Desi maksudmu?," Baron menatap lekat kearah Arnold.
"Aku tidak tahu siapa ibunya yang jelas Aku pernah membaca datanya dan ada nama kakak tercantum disana,".
"Tidak salah lagi dia Kania, lalu kenapa kamu bisa tahu kalau dia juga memiliki kekuatan sedasyat itu?,".
Arnold mulai menceritakan kejadian yang dialami bersama Kania saat berada di restoran waktu itu, tapi masih menyembunyikan rahasianya sendiri kalau dia juga memiliki mustika atau mahluk yang bersemayang dalam tubuhnya.
Baron mendengarkanya dengan seksama setiap penuturan Arnold.
"Begitulah kira-kira kejadianya kenapa sampai Aku tahu kalau gadis kecil itu juga memiliki kekuatan yang luar biasa sama halnya yang dimiliki gadis yang bersama Gunawan tadi,".
"Kalau begitu Aku akan mengajak kania untuk menghancurkan Gunawan. Kalau hanya mengandalkan otak saja mustahil sekali untuk bisa mengalah orang-orang licik itu,".
"Masalahnya, apa gadis itu mau kerja sama dengan Kakak Baron dalam menghancurkan Gunawan?, kalau Arnold lihat-lihat Kania itu gadis baik-baik dan tidak suka membalas kejahatan dengan kejahatan,".
Seketika Baron mengeryitkan dahinya.
"Sepertinya kamu tahu betul dengan Kania atau jangan-jangan kamu ada hati denganya?,".
"Kakak ini, Aku tahu soalnya dia sering di jaili oleh karyawan disana tapi dia tidak pernah membalas sedikit pun. Dia selalunya berkata kalau itu juga salahnya, makanya orang lain menjailinya,".
"Ha ..ha...kalau memang begitu, kenapa wajah kamu merah. Ingat Arnold kamu itu sudah Om-om dan umurmu sekarang sudah 32 tahun masa kamu tertarik dengan daun muda seperti Kania,".
"Om ini, sudalah ayo kita pulang. Aku masih banyak urusan di restoran,". Arnold memalingkah wajahnya keluar jendela. Pria tampan itu benar-benar merasa malu atas ucapan Baron barusan.
Kembali Baron melajukan kendaraanya menuju kearah kediamanya.
Tidak berselang lama kemudian mobil meraka pun berbelok masuk kedalam halam rumah mewah tersebut.
"Ayo masuk dulu, masih ada hal penting yang ingin kakak tanyakan padamu," ajak Baron saat sudah keluar dari dalam mobil.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama," Arnold ikut keluar dan mengikuti langkah Baron dari belakang.
Belum juga mereka menginjakkan kaki di depan pintu utama, Gina dan Rakhel sudah menjemput kedatangan mereka.
"Eh kak, Arnold," Rakhel mengelayut manja di lengan Arnold.
"Lepasin Rakhel, kamu ini sama sekali tidak malu apa, melakukan hal itu. Martabat seorang perempuan akan terjaga bila dia bisa menjaga kelakuan dan ucapanya," bentak Baron.
"Ayah ini kenapa sih, selalunya saja marah bila Aku mendekati kak Arnold,". Rakhel semakin memperkuat peganganya pada lengan Arnald.
"Rakhel tolong lepaskan tanganmu,". Arnold mencoba menurunkan tangan Rakhel tapi tetap saja gadis itu bersikukuh tak mau melepaskanya.
"Rakhel," bentak Baron sekali lagi tapi kali ini kedua matanya melotot sempurna.
"Mom.......,"
Mau tidak mau Rakhel terpaksa melepaskan tanganya dan berlari kearah Gina.
"Kenapa mas tegah bangat merengguk kebahagian anak sendiri. Rakhel melakukan itu karena dia suka pada Arnold. Sudalah nak kamu jangan bersedih seperti ini. Arnold mungkin sekarang lagi sibuk jadi tidak bisa menemanimu saat ini tapi bila dia ada waktu luang nanti dia pasti akan meluangkan waktunya untukmu," Gina mengusap pucuk kepala Rakhel.
"Gina...Gina, Aku sangat heran padamu. Anak berbuat tidak senonoh kamu malah membelanya, pantas saja Rakhel tidak punya tata krama, ternyata kamu menurunkan sifat egomu padanya. Ayo Arnodl kita masuk, Tidak usah meladeni mereka,".
Baron melangkah menuju ruang kerjanya.
"Mas, Kenapa mas selalu berkata kasar pada kami sedangkan pada Babu dan anak tidak tahu asal usulnya itu mas selalu berkata lembut seolah mereka itu yang keluarga mas bukan kami. Oh ...jangan-jangan selama ini babu itu meracuni atau memberi guna-guna pada mas sehingga mas selalu membelah mereka,"
Gina mengikuti langkah Baron dari arah belakang.
"Gina, jaga bicaramu, Desi itu bukan babu dan tuduhanmu itu sudah sangat berlebihan padanya. Sekali lagi kamu menghina mereka maka kamu akan tahu sendiri akibatnya. Camkan itu baik-baik,"
Baron yang berbalik dan menunjuk Gina, tubuh pria itu sedikit bergetar dengan beberapa butir air keluar dari dalam mulutnya. Sepertinya Baron sangat marah jika Gina menyebut Desi sebagai babu dan Kania sebagai anak tidak ber ayah dan ber ibu.
Gina sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya terpaku, kemarahan Abraham benar-benar membuat nyali perempuan parubaya itu menciut. selain diam dan memasang pendengaranya baik-baik.
Baron kembali melanjutkan langkah kakinya di ikuti Arnold dari arah belakang.
"Desi dan Kamu Kania. Aku tidak akan membiarkan Kalian hidup bahagia. Apa yang Aku rasakan ini akan kalian rasakan juga aku janji itu. Ayo Rakhel kita temui kedua perempuan tidak tahu diri itu," Gina menarik pergelangan tangan Rakhel keluar dari dalam rumah.
JANGAN LUPA UNTUK TERUS MEMBERI DUKUNGAN MELALUI LIKE, COMENT , DAN VOTE. SATU LAGI TERUS IKUTI CHANEL YOUTUBE AKU DAN DAPATKAN NOVEL TERBARU DARIKU
TERIMA KASIH.
semoga saja tuan Baron bisa dengan cepat menyelesaikan urusan nya
apakah Arnold jodoh nya Kania 🤔
dia si Dewi ular 🐍 anak mu bang🤭
tau gak ya kalau Kania itu anaknya Lidia
semangat kak
sukurin lo nyonya GINA yang sombong
wah bisa seru ini cerita nya
semoga Kania dan bi Desi selalu di lindungi oleh ular raksasa itu
aku lanjut aja ah .... semoga tambah seru
kasian bayi itu dia juga tidak mau keluar dengan kulit yang seperti itu