seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : ANGGAP SAJA INI INVESTASI
***
Lobi Rumah Sakit Medika Utama mendadak tegang saat Allandra Ryuga melangkah masuk dengan langkah lebar, menggendong tubuh Dinda yang tak sadarkan diri. Di belakangnya, Dika mengikuti dengan napas memburu dan tatapan waspada, seperti seekor serigala muda yang siap menerkam siapa saja yang mendekat.
"Panggil dokter spesialis terbaik sekarang!" seru Alan dengan suara bariton yang menggema di koridor IGD. "Siapkan ruang VVIP untuk pasien atas nama Anindita di ruang perawatan lantai tiga. Semua biaya dan tanggung jawab administrasi ada di bawah akun Ryuga Corp!"
Para perawat dan dokter jaga segera bergerak cepat. Otoritas Alan bukanlah sesuatu yang bisa dibantah. Dinda segera dilarikan ke ruang observasi, sementara tim dokter lainnya bergegas menuju bangsal tempat Dita sedang berjuang melawan maut.
Dika hanya berdiri mematung di tengah koridor yang dingin. Tangannya mengepal di samping tubuh. Ia benci harus berhutang budi pada pria asing yang tampak begitu berkuasa ini. Namun, saat ia melihat ranjang Dita didorong menuju ruang perawatan intensif yang lebih layak, egonya sedikit melunak demi keselamatan adiknya.
"Duduklah," ujar Alan pendek, menunjuk kursi tunggu di depan ruang IGD.
Dika tidak bergerak. Ia memilih bersandar di dinding, menatap lantai dengan tatapan kosong. "Aku tidak butuh belas kasihanmu, Tuan," gumamnya pelan namun tajam.
"Ini bukan belas kasihan. Anggap saja ini kompensasi karena saya menabrak kakakmu semalam," jawab Alan dingin sambil merogoh ponsel di saku jasnya.
Beberapa meter menjauh dari Dika, Alan mengangkat panggilan telepon dari Leo, asisten pribadinya yang paling tepercaya.
"Katakan, Leo," bisik Alan.
"Tuan, saya sudah menemukan data latar belakang keluarga Adinda Maheswari. Ini cukup mengejutkan," suara Leo terdengar serius di seberang telepon. "Ayahnya bernama Maher dan ibunya bernama Iswara. Mereka bukan berasal dari keluarga miskin, Tuan."
Alan mengernyitkan dahi. "Lanjutkan."
"Mereka dulu memiliki perusahaan manufaktur skala menengah, Maheswara Group. Cukup sukses untuk menghidupi ketiga anak mereka dengan sangat layak di kawasan elit. Namun, dua tahun lalu, terjadi kecelakaan tragis. Mobil mereka masuk ke jurang di pinggiran kota. Maher dan Iswara tewas di tempat. Anehnya, polisi menutup kasus itu dalam waktu singkat dengan alasan kecelakaan tunggal akibat rem blong."
Alan terdiam. Napasnya terasa sedikit berat.
"Setelah itu, perusahaan mereka kolaps secara misterius. Ada hutang bank dalam jumlah fantastis yang tiba-tiba muncul. Perusahaan itu akhirnya diakuisisi oleh pihak asing dengan harga sangat murah. Adinda yang saat itu merupakan mahasiswi berprestasi di universitas ternama, terpaksa berhenti kuliah dan menjual semua aset yang tersisa hanya untuk melunasi sebagian hutang dan menghidupi kedua adik kembarnya. Dan baru tiga bulan lalu, si bungsu Anindita didiagnosis leukemia."
Alan tertegun. Matanya menatap tanggal kecelakaan yang dikirimkan Leo lewat pesan singkat. 14 Juli 2024.
Sebuah kilatan memori samar muncul di kepala Alan. Malam itu... hujan deras. Ia ingat pernah mendengar ayahnya, mendiang CEO Ryuga senior, berbicara dengan nada tinggi di telepon tentang "pemberesan" saingan bisnis. Namun, ingatan itu terlalu kabur. Ia benar-benar tidak bisa mengingat detailnya karena saat itu ia sedang berada di luar negeri.
"Tuan? Anda masih di sana?" suara Leo membuyarkan lamunannya.
"Cari tahu siapa pihak asing yang mengakuisisi perusahaan Maher. Sekarang," perintah Alan sebelum mematikan telepon.
*
Alan kembali mendekati Dika. Remaja itu masih pada posisi yang sama, tak bergeming sedikit pun.
"Kondisi adikmu sudah stabil," ujar Alan membuka suara. "Dokter sedang memberikan obat penenang agar dia bisa beristirahat."
Dika hanya mengangguk singkat.
"Kamu sekolah di mana?" tanya Alan lagi, mencoba mencairkan suasana.
"Aku tidak sekolah hari ini," jawab Dika tanpa menoleh.
"Maksud saya, kamu kelas berapa?"
"Kelas 3 SMA," jawab Dika pendek. Dingin. Seolah-olah setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah pemborosan energi.
Alan memperhatikan struktur wajah Dika. Rahang yang tegas, sorot mata yang menantang, dan ketenangan yang tidak wajar untuk remaja seusianya. Anak ini memiliki mental baja, pikir Alan.
"Setelah ini, kamu harus kembali sekolah. Jangan bekerja di pasar lagi. Biaya pengobatan adikmu dan kebutuhan rumah kalian akan saya urus," kata Alan dengan nada memerintah.
Dika akhirnya menoleh, menatap Alan dengan mata menyala. "Kenapa? Apa maumu dari Kakakku? Orang kaya sepertimu tidak mungkin memberi cuma-cuma tanpa ada bayaran. Apa yang kamu minta sebagai gantinya? Tubuh Kakakku? Atau nyawa kami?"
Alan terkejut dengan keberanian Dika. "Saya tidak serendah itu, Andika."
"Semua orang kaya itu sama saja," desis Dika. "Kalian hanya peduli pada angka. Jika kamu ingin membantu, bantulah tanpa harus mengatur hidupku. Aku akan menjaga Dita. Kamu pergilah."
"Saya akan melihat kondisi kakakmu di UGD," ujar Alan, memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan. "Jaga Dita di lantai atas. Jika ada apa-apa, hubungi suster atau minta mereka memanggil saya."
Dika tidak menjawab. Ia hanya memutar tubuhnya dan berjalan menuju lift tanpa mengucapkan terima kasih.
**
Di ruang UGD, Dinda sudah sadar sepenuhnya. Cairan infus mengalir ke pembuluh darahnya, namun gelisah tampak jelas di wajahnya.
"Suster, saya mohon... saya harus melihat adik saya," isak Dinda, mencoba mencabut plester infus di tangannya.
"Nona Adinda, tolong tenang. Kondisi Anda masih sangat lemah. Tekanan darah Anda rendah sekali dan Anda baru saja pingsan karena syok," ujar seorang suster mencoba menahan tangan Dinda.
"Dita sedang kritis, Sus! Dia butuh saya! Saya tidak bisa hanya berbaring di sini!" Dinda mulai terisak histeris. Ia mencoba bangkit berdiri, namun kepalanya langsung berdenyut nyeri, membuatnya nyaris terjatuh kembali.
Tepat saat itu, pintu geser UGD terbuka. Alan masuk dengan langkah tenang.
"Berbaringlah, Dinda," ucap Alan tegas.
Melihat kehadiran Alan, Dinda seolah menemukan tumpuan. "Tuan Alan... tolong saya. Bawa saya ke Dita. Dika bilang Dita kritis. Saya harus ke sana..."
Alan mendekat, duduk di kursi samping ranjang, lalu memegang pundak Dinda dengan lembut namun kuat untuk menahannya tetap di tempat. "Dita sudah stabil. Dia sudah dipindahkan ke ruang VVIP. Dokter terbaik sedang menanganinya."
Dinda menatap Alan dengan mata yang sembab. "Benarkah? Tuan tidak bohong kan?"
"Saya tidak punya alasan untuk berbohong pada Anda," jawab Alan. "Dika ada di sana menjaganya. Sekarang, tugas Anda adalah memulihkan diri sendiri. Jika Anda ambruk, siapa yang akan menjaga mereka nanti?"
Dinda mulai sedikit tenang, meski napasnya masih tersengal. "Kenapa Tuan melakukan semua ini? Biaya rumah sakit ini pasti sangat mahal. Saya... saya tidak tahu bagaimana cara membayarnya."
Alan menatap wajah Dinda yang pucat. Ada jejak kecantikan yang tersembunyi di balik kelelahan yang luar biasa. Ia teringat laporan Leo tadi. Wanita di depannya ini seharusnya sedang menikmati masa-masa indahnya di universitas, bukannya menjadi buruh pabrik yang mempertaruhkan nyawa.
"Jangan pikirkan soal biaya. Anggap saja ini investasi," ujar Alan asal, mencoba menyembunyikan rasa simpati yang mulai tumbuh.
"Investasi?" Dinda mengernyit bingung.
"Ya. Anda adalah karyawan yang rajin. Saya tidak mau kehilangan aset perusahaan hanya karena masalah kesehatan keluarga," bohong Alan. Ia belum siap mengatakan bahwa ia mungkin memiliki keterkaitan dengan masa lalu keluarga Dinda yang kelam.
Dinda terdiam, air matanya perlahan jatuh lagi. "Terima kasih, Tuan Alan... terima kasih banyak."
***
Bersambung...