seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 8
Perjalanan ke pantai itu benar-benar menjadi jeda yang mereka butuhkan. Jauh dari hiruk-pikuk Sudirman, Siska melepaskan alas kakinya, membiarkan pasir putih yang halus menyelinap di antara jemari kakinya. Arlan sibuk dengan ember plastiknya, berusaha membangun "gedung" yang menurutnya lebih hebat dari milik kakeknya, sementara Andi membantu menggali fondasi parit agar air laut tidak cepat meruntuhkan bangunan pasir itu.
"Lihat, Ndi. Arsitek cilikmu mulai beraksi," Siska bergumam sambil duduk di atas kain pantai, matanya tak lepas dari suami dan anaknya.
Andi menoleh dengan wajah yang sedikit terkena percikan air laut. "Dia lebih suka bagian fondasi, Sis. Sepertinya dia memang tipe orang lapangan. Persis seperti ayahnya."
Siska tersenyum, lalu berbaring menatap langit biru yang bersih. "Aku senang kita melakukan ini. Terkadang di kantor, aku merasa seperti sedang berlari di atas treadmill. Sangat cepat, tapi aku lupa ke mana arah yang sebenarnya ingin kutuju."
Andi meninggalkan Arlan sejenak yang sedang asyik dengan kerangnya, lalu duduk di samping Siska. Ia mengambil tangan istrinya, mengusap telapak tangan yang biasanya memegang pulpen mahal itu dengan jemarinya yang kasar.
"Arahnya selalu di sini, Sis. Pulang ke kita," ujar Andi lembut. "Perusahaan itu hanya kendaraan. Jangan sampai kendaraannya jadi lebih penting daripada penumpangnya."
Siska mengangguk, memejamkan mata sejenak, menikmati suara deburan ombak yang ritmis. "Ayah meneleponku tadi pagi, sebelum kita berangkat. Dia bertanya apakah kita butuh tambahan pengamanan untuk perjalanan ini. Aku bilang padanya, 'Ayah, kita hanya pergi ke pantai, bukan ke zona perang'."
Andi tertawa pendek. "Pak Gunawan sulit menghilangkan insting protektifnya. Tapi setidaknya sekarang dia sudah mulai mengerti bahwa perlindungan terbaik untuk kita bukan lagi pagar tinggi atau pengawal, tapi kepercayaan yang kita bangun satu sama lain."
"Dia juga menitipkan salam untukmu," Siska membuka matanya kembali, menatap Andi dengan penuh arti. "Dia bilang, dia sudah melihat laporan awal dari Kalimantan. Katanya, Mahesa bekerja seperti orang gila di sana. Dia turun langsung ke rawa-rawa untuk memastikan sensor AI-nya terpasang dengan benar."
Andi mengangkat alisnya, sedikit terkesan. "Benarkah? Berarti dia tidak hanya mengirim orang. Itu tanda yang bagus. Mungkin dia benar-benar sudah berubah."
"Mungkin," sahut Siska. "Tapi kita akan lihat hasilnya bulan depan. Untuk sekarang... jangan bicara soal Mahesa lagi. Jangan bicara soal sensor, logistik, atau saham."
Siska bangkit duduk, lalu menyipitkan mata menatap laut. "Bagaimana kalau kita balapan lari sampai ke air? Yang kalah harus membuatkan makan malam nanti."
Andi menyeringai, sebuah tantangan yang tak mungkin ia tolak. "Kamu menantang seorang mantan pekerja lapangan untuk lari di atas pasir? Kamu cari masalah, CEO."
"Satu... dua... tiga!"
Siska berlari lebih dulu, tawanya pecah tertiup angin laut. Andi menyusul di belakangnya, sengaja memperlambat langkah agar bisa melihat rambut Siska yang terbang tertiup angin—pemandangan yang jauh lebih indah daripada grafik pertumbuhan perusahaan mana pun. Arlan berteriak menyemangati mereka dari kejauhan, memegang pesawat kayunya tinggi-tinggi.
Di bawah terik matahari pantai, mereka bukan lagi penguasa korporat. Mereka hanyalah sebuah keluarga kecil yang sedang menikmati kemenangan paling murni dalam hidup mereka: waktu dan ketenangan.
Makan malam di kediaman utama keluarga Gunawan setelah akhir pekan itu terasa jauh lebih hangat daripada biasanya. Tidak ada lagi suasana kaku yang dulu sering menyelimuti ruang makan megah tersebut. Pak Gunawan duduk di kepala meja, namun kali ini tanpa jas formalnya—hanya kemeja batik santai yang lengannya digulung sedikit.
"Arlan sudah tidur?" tanya Pak Gunawan saat Siska dan Andi duduk di meja makan.
"Baru saja, Ayah. Dia kelelahan setelah seharian mengejar ombak dan membangun 'benteng' pasir bersama Andi," jawab Siska sambil menyendokkan sayur ke piringnya.
Pak Gunawan mengangguk kecil, matanya memancarkan kepuasan yang jarang terlihat di masa lalu. "Bagus. Anak itu butuh melihat dunia luar, bukan cuma dinding kantor atau layar gawai. Sama seperti kalian dulu di Kalimantan."
Andi tersenyum, melirik Siska sejenak sebelum menatap mertuanya. "Bicara soal Kalimantan, Siska bilang Ayah sudah melihat beberapa pergerakan dari Mahesa di sana."
Pak Gunawan meletakkan sendoknya, ekspresinya berubah menjadi sedikit lebih serius, namun tetap tenang. "Dia benar-benar turun ke lapangan. Laporan dari tim pengawas menyebutkan dia tidur di kamp pekerja selama seminggu untuk memantau integrasi sistemnya. Sebuah anomali untuk anak yang besar dengan sendok perak di mulutnya."
"Mungkin dia sadar bahwa di dunia sekarang, kredibilitas tidak bisa diwariskan, hanya bisa dibangun," sahut Siska pelan. "Aku berencana memanggilnya kembali ke Jakarta minggu depan untuk evaluasi tahap pertama."
"Berikan dia penilaian yang jujur, Siska," ujar Pak Gunawan tegas. "Jangan kasihan karena sejarah keluarga kami, tapi jangan juga terlalu keras karena masa lalu kalian. Nilailah dia sebagai profesional."
"Tentu saja, Ayah. Aku tidak akan mempertaruhkan efisiensi perusahaan hanya untuk sentimentil," jawab Siska mantap.
Andi kemudian memecah suasana yang mulai formal itu. "Tapi malam ini, sesuai kesepakatan kami di pantai, tidak ada pembicaraan serius setelah jam makan malam. Bagaimana kalau kita minum teh di teras? Aku membawa beberapa camilan khas dari daerah pesisir kemarin."
Pak Gunawan tertawa kecil, suara tawa yang kini terdengar lebih lepas. "Kamu memang tahu cara mengalihkan perhatianku, Andi. Baiklah, teh di teras kedengarannya jauh lebih baik daripada membahas margin keuntungan."
Saat mereka duduk di teras yang menghadap taman, angin malam Jakarta yang sedikit sejuk berhembus. Siska menatap ayahnya dan suaminya yang kini bisa berbincang akrab soal tanaman hias dan hobi baru Pak Gunawan dalam mengoleksi lukisan lanskap.
Dulu, meja makan ini adalah medan perang bagi Siska—tempat di mana setiap kata harus diatur dan setiap rencana harus dipertahankan dengan gigih. Namun sekarang, ia menyadari bahwa warisan yang sebenarnya bukanlah kendali atas perusahaan besar itu, melainkan keberhasilannya menyatukan kembali kepingan-kepingan keluarga yang sempat retak oleh ambisi.
"Ndi," bisik Siska saat Pak Gunawan masuk sebentar ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu.
"Ya?"
"Terima kasih sudah tidak pernah menyerah pada keluarga ini. Bahkan saat aku sendiri hampir menyerah."
Andi menggenggam tangan Siska di bawah temaram lampu taman. "Kita tidak pernah menyerah, Sis. Kita hanya sedang membangun jembatan yang sedikit lebih panjang dari biasanya. Dan lihat sekarang... kita sudah sampai di seberang."
Siska tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Andi, merasa benar-benar pulang.
Seminggu kemudian, suasana di ruang rapat lantai teratas Gunawan Group terasa jauh lebih tegang, namun dengan jenis energi yang berbeda. Mahesa berdiri di depan meja oval besar itu, bukan lagi dengan setelan jas desainer yang licin, melainkan kemeja lapangan yang warnanya sedikit memudar dan sepatu bot yang, meski sudah dibersihkan, masih menyisakan guratan tanah merah Kalimantan di sela solnya.
Siska duduk tenang, jemarinya bertaut di atas meja, sementara Andi di sampingnya sedang meneliti lembar demi lembar data teknis yang baru saja diserahkan.
"Efisiensi logistik naik 12% dalam tiga puluh hari pertama," Mahesa memulai, suaranya parau namun penuh keyakinan. "Kami sempat terhambat cuaca buruk di hulu sungai, tapi algoritma AI yang kami tanam berhasil memetakan rute alternatif melalui jalur darat yang sebelumnya dianggap tidak layak oleh tim vendor lama Anda."
Andi mendongak, matanya menyipit menatap grafik di layar. "Jalur darat itu melewati area gambut, Mahesa. Bagaimana kamu memastikan truk-truk besar itu tidak amblas dan justru menambah biaya evakuasi?"
Mahesa mengklik remote di tangannya. "Kami memasang sensor kelembapan tanah di lima titik krusial. Sistem akan menutup jalur secara otomatis jika saturasi air mencapai level tertentu dan mengalihkan muatan ke armada yang lebih kecil. Kami tidak memaksakan beban, kami menyesuaikan ritme alam."
Siska terdiam, menatap Mahesa dengan saksama. Ia tidak hanya melihat angka-angka yang memuaskan, tapi ia melihat seorang pria yang akhirnya mengerti bahwa bisnis bukan hanya soal memerintah dari menara gading.
"Tiga bulan adalah janji awal kita," Siska memecah keheningan. "Tapi melihat apa yang kamu lakukan dalam sebulan ini... kamu sudah melampaui ekspektasi teknis kami."
Mahesa menghela napas panjang, bahunya sedikit merosot seolah beban berat baru saja diangkat darinya. "Terima kasih, Siska. Tapi saya tidak melakukannya untuk pujian. Saya melakukannya karena saya berutang pada kalian—dan pada diri saya sendiri—untuk membuktikan bahwa saya bukan sekadar produk dari sebuah nama besar."
Andi berdiri, berjalan menghampiri Mahesa, lalu mengulurkan tangannya. "Selamat, Mahesa. Proyek Kalimantan itu adalah 'anak' kami. Melihatmu menjaganya dengan cara seperti ini... itu berarti banyak bagi kami."
Mahesa menjabat tangan Andi dengan erat. Ada rasa hormat yang tulus di sana, sebuah rekonsiliasi yang tidak butuh banyak kata puitis.
Setelah Mahesa pamit untuk kembali ke kantor startup-nya, Siska berdiri dan menghampiri suaminya. Ia menyandarkan tubuhnya di meja rapat yang dingin. "Siapa sangka, Ndi? Orang yang dulu hampir menghancurkan hubungan kita, sekarang justru menjadi bagian dari solusi masa depan perusahaan."
Andi merangkul pinggang Siska, menariknya mendekat. "Itulah indahnya memberikan kesempatan kedua pada orang yang tepat. Dunia ini berputar, Sis. Kadang kita di atas untuk menarik orang lain naik, bukan untuk menginjak mereka."
Siska tersenyum, menatap pemandangan kota di luar jendela. Matahari siang sedang terik-teriknya, menyinari gedung-gedung kaca yang mencerminkan ambisi dan kerja keras.
"Jadi," Andi berbisik di telinganya. "Karena laporan ini sangat bagus, apakah sang CEO punya waktu untuk merayakan keberhasilan ini dengan makan siang di warung soto favorit kita? Aku dengar mereka punya kerupuk kaleng baru yang sangat renyah."
Siska tertawa, suara yang selalu menjadi musik paling indah bagi Andi. "Warung soto? Di tengah hari kerja begini, dengan pakaian seperti ini?"
"Tentu. Agar semua orang di kantor ini tahu bahwa pemimpin mereka tetaplah manusia biasa yang suka kuah soto hangat dan es teh manis," Andi mengedipkan mata.
Siska mengambil tasnya, lalu menggandeng tangan Andi. "Ayo. Sebelum direktur keuangan datang membawa laporan anggaran yang akan merusak selera makan kita."
Mereka melangkah keluar dari ruang rapat, melewati lorong-lorong korporat yang kaku dengan langkah ringan. Di balik pintu-pintu kaca itu, mereka bukan lagi sekadar simbol kekuasaan; mereka adalah dua orang sahabat yang berhasil menaklukkan badai, dan kini sedang berjalan bersama menuju masa depan yang mereka tulis sendiri.