Hai, ini kisah pertamaku yang berkolaborasi dengan salah satu temanku Amanda. Karya ini murni hasil khayalan kami berdua. Semoga kalian suka ya? Ini cerita Kerajaan di abad 21.
Aithan Regner Cainio, adalah pangeran ketiga yang sebenarnya bukan ahli waris kerajaan. Makanya ia memilih menjauh dari istana dan akhirnya jatuh cinta pada Argani Christabel, seorang Mahasiswi asal Indonesia yang derajat sosialnya sangat berbeda jauh dari Aithan.
Setelah susah payah Aithan mendapatkan cinta Argani, ia justru dipanggil pulang ke istana untuk menjadi raja. Dan sebagai raja, Aithan hanya bisa menikah dengan putri bangsawan. Aithan hanya bisa menjadikan Argani sebagai selirnya. Sementara Argani tidak ingin cintanya dibagi.
Bagaimana Aithan dapat mempertahankan kedudukannya sebagai raja dibalik semua kelicikan di istana yang ingin menjatuhkannya? Apakah ia rela melepaskan cinta sejatinya demi tahta yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Menjauh
Sayang, aku hari ini di asrama ya?
Aku perlu banyak waktu untuk ujian selama satu Minggu ini. Aku ujian tulisan dan juga ujian praktek di rumah sakit. Jadi waktuku siang di kampus dan sore sampai malam di rumah sakit. Nggak apa-apa kan?
Aithan membaca pesan yang dikirimkan Argani untuknya. Jujur saja, ia tak rela harus pisah selama seminggu dengan Argani.
Setiap malam aku akan menjemputmu di rumah sakit. Selesai prakteknya jam 10 kan?
Oh ya, tadi kamu di restoran dengan siapa?
Aku ada di restoran yang sama denganmu. Aku bersama kakakku. Dia sekarang ada di apartemen juga. Aku ingin mengenalkan mu dengannya.
Tak lama kemudian Argani pun membalas pesannya.
Semoga aku punya waktu untuk kenalan dengannya.
"Serius sekali chat nya." Sefiya duduk di hadapan adiknya. Aithan menatap kakaknya dengan sedikit kesal. Ia heran, kenapa Sefiye harus tinggal di apartemennya bersama Naysilla. Bukankah Sefiye setiap datang ke London selalu menginap di hotel?
"Sama pacar harus serius."
"Kamu punya pacar?" Sefiye pura-pura kaget.
"Iya."
"Cantik?"
"Sangat cantik."
"Boleh aku melihat fotonya?"
Aithan mengambil ponselnya dan menunjukan wallpaper nya yang ada gambar Argani.
"Lumayan." ujar Sefiye, terkesan sedikit meremehkan.
"Di mataku dia luar biasa."
Sefiye menatap adiknya. "Aithan, bagaimana menurutmu dengan Naysilla? Bukankah dia gadis yang cantik dan berkelas?"
"Ya. Dia memang seperti yang kakak katakan. Memangnya kenapa?"
"Mama sangat senang dengan Nay. Mama ingin agar kau menjalin hubungan dengannya. Nay dari keluarga bangsawan. Latar belakang keluarganya jelas dan sangat terhormat."
"Aku mencintai kekasihku, kak."
"Kau dapat menjalin hubungan dengannya sekarang ini untuk bersenang-senang. Namun jika kau sudah serius untuk menikah, Nay adalah calon istri yang ideal."
Aithan menatap Sefiye. "Kak, hanya putra mahkota yang harus menikah dengan seorang bangsawan karena calon raja tak boleh memiliki darah campuran. Aku bukan putra mahkota. Jadi aku punya hak untuk bersama dengan siapapun yang aku sukai."
"Tapi mama begitu ingin kau menikah dengan Naysilla."
"Kak, jangan memberikan harapan apapun pada, Nay. Aku akui kalau dia cantik, terpelajar, dari keluarga bangsawan. Namun aku tak mungkin mencintainya karena aku sudah mencintai, Argani." Aithan menepuk bahu kakaknya, lalu segera keluar apartemennya. Ia menuju ke asrama Argani.
Argani yang baru saja selesai belajar, terkejut melihat Aithan yang masuk ke dalam asramanya tanpa memberitahukannya lebih dahulu. Memang, sejak Aithan merusak pintu kamar asrama Argani beberapa waktu yang lalu, Aithan mengganti kuncinya dengan kunci yang menggunakan sidik jari untuk membukanya. Dan itu sudah disetel sidik jarinya dan Argani.
"Sayang.....!" Aithan langsung memeluk Argani begitu ia masuk.
"Kenapa tak memberitahu aku kalau akan datang ke sini?" tanya Argani saat Aithan sudah melepaskan pelukannya.
"Rindu kamu."
"Baru juga tadi pagi aku keluar dari apartemen mu, masa sudah rindu?"
Aithan tersenyum. Ia memegang wajah Argani dengan kedua tangannya. "Lima.menit saja aku tak melihatmu, aku sudah kangen, sayang."
Argani mengambil tangan Aithan dan menciumnya. "Aku juga sebenarnya rindu denganmu. Hanya saja aku berusaha membuat rinduku menjadi energi positif, yaitu sebagai penyemangat buatku belajar. Supaya aku bisa selesai kuliah dan menjadi dokter."
Aithan menunduk lalu mencium bibir istrinya dengan satu kecupan lembut. "Aku tahu kamu akan berhasil, sayang. Sekarang tidurlah! Kamu harus bangun pagi untuk ujian kan?"
Kepala Argani mengangguk. Ia pun segera naik ke atas tempat tidur karena memang ia merasa sangat mengantuk.
"Ai, ayo tidur di sini!" ajak Argani sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.
"Sempit, sayang. Nanti kamu kurang nyaman tidurnya. Aku di lantai saja."
"Ayolah. Aku merasa dingin malam ini." rengek Argani membuat wajah Aithan langsung tersenyum senang. Jarang-jarang Argani mau bersikap manja padanya.
Aithan pun naik ke atas tempat tidur dan langsung memeluk Argani. Hatinya selalu merasa bahagia saat bersama dengan istrinya ini. Aithan memutuskan untuk tak menceritakan tentang Naysilla saat ini. Ia tak mau menganggu waktu ujian Argani.
*********
Hari ini Aithan menemani Naysilla untuk ke tempat kursus untuk pengembangan bakat dan talenta yang akan diikutinya selama 2 bulan. Sefiye tidak ikut karena dia ingin mengunjungi teman lamanya.
"Aithan, terima kasih karena sudah menemaniku." ujar Naysilla saat keduanya sudah dalam perjalanan pulang.
"Sama-sama, Nay."
"Kamu tak ada jadwal kuliah hari ini?"
"Nanti jam 3 sore."
"Apakah setelah itu kita bisa jalan-jalan ke pusat kota? Aku sudah lama tak datang ke London."
"Maaf. Aku harus menjemput pacarku. Kami ada janji malam ini."
"Pacar? Oh ya, kamu pernah mengatakannya waktu itu." Naysilla pura-pura tersenyum namun ia merasa kalau hatinya sangat sakit.
"Iya. Aku ada janji untuk pergi makan malam dengannya."
"Dia pasti gadis yang sangat cantik."
"Dia memang cantik."
Betapa beruntungnya gadis itu.
Sementara itu, Sefiye sudah tiba di sebuah rumah sakit. Dari anak buahnya, ia tahu kalau Argani sedang praktek di sini. Ia juga tahu kalau pengawal adiknya sedang mengawasi Argani sehingga Sefiye harus hati-hati. Jika ia salah bertindak maka Aithan pasti akan memarahinya. Ia sudah mendengar bagaimana Aithan mengamuk saat gadis itu menghilang beberapa waktu yang lalu.
Ia turun dari taxi lalu segera membayar ongkosnya. Kakinya memasuki lobby rumah sakit yang nampak ramai. Ia duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di sana. Sampai akhirnya ia mendengar dua perawat yang menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan Argani.
"Nona Argani memang sangat pintar ya. Dia masih calon dokter namun sudah mendapatkan perhatian dari semua dokter yang ada di rumah sakit ini."
"Benar. Dia juga sangat ramah dan suka menolong siapa saja. Aku dengar pacarnya salah satu anak konglomerat. Namun nona Argani tak pernah memamerkan pacarnya itu"
"Dia memang cantik dan baik hati. Jadi lantas saja jika mendapatkan pacar yang baik pula."
Sefiye menahan rasa dongkolnya. Ia tak percaya kalau Argani sebaik yang mereka katakan. Ia yakin kalau Argani adalah gadis yang akan mengambil keuntungan pada adiknya. Apalagi ia adalah seorang gadis yatim piatu.
Tak lama kemudian, Sefiye melihat seorang gadis cantik, dengan rambut yang diikat satu, keluar dari ruangan UGD bersama seorang dokter. Sefiye langsung mengenali gadis itu karena foto yang ada di kamar Aithan dan beberapa foto yang dikirimkan kepadanya.
Mata Sefiye langsung terbelalak saat melihat kalung yang dipakai oleh Argani. Gadis itu menggunakan kalung dengan liontin bunga matahari? Itu kan lambang dinasti kami? Hanya orang kerajaan yang boleh memakai itu. Pasti itu diberikan oleh Aithan. Sebegitu penting kah gadis itu bagi Aithan?
Sefiye berdiri, hendak mendekati Argani dan langsung akan memperkenalkan dirinya. Namun seseorang tiba-tiba saja menabrak Sefiye.
"Dasar tak punya sopan santun!" Sefiye yang hampir jatuh langsung memaki pria yang menabraknya itu. Sampai akhirnya Sefiye menyadari sesuatu. Tas tangannya hilang. Pasti pria itu yang menjambretnya. Makanya ia segera keluar dari rumah sakit. Mencoba mencari keberadaan dari pria itu. Namun pria itu hilang bagaikan ditelan bumi.
"Sial.....sial.....!"
Tak jauh dari sana. Dua orang pria sedang tertawa terbahak-bahak melihat wajah Sefiye yang nampak kesal.
"Tas yang mahal dan isinya juga banyak."
"Jangan kau sentuh. Tugas kita hanyalah membuat putri sombong itu tak menemui Argani. Soal uang, bos akan memberikan kita lebih."
************
Naysilla duduk di ruang tengah sambil membaca buku. Sefiye yang baru keluar dari kamarnya segera mendekati Naysilla.
"Di mana Aithan? Apakah kalian jadi untuk jalan-jalan malam ini?"
Nay menggeleng. "Aithan sedang ada janji dengan pacarnya."
Sefiye duduk di samping Naysila. "Kami jangan sedih, ya? Aithan hanya main-main saja dengan gadis itu. Hanya kamu yang masuk kriteria sebagai perempuan yang pantas untuk menikah dengan adikku. Perempuan itu jika sudah selesai sekolah pasti akan langsung kembali ke negaranya. Dan Aithan akan melupakan gadis itu dengan segera."
"Kak, aku hanya takut saja jika Aithan jatuh cinta beneran dengannya."
"Aithan tak mungkin akan membantah perintah mama ku."
Bel pintu berbunyi. Tio membukanya. Ternyata penjaga keamanan apartemen.
"Selamat malam, ada seseorang yang mengantarkan tas ini. Katanya milik penghuni apartemen ini."
Tio mengenal tas itu adalah milik putri Sefiye yang katanya hilang di rumah sakit. Ia menerimanya dan segera memberikan tas itu pada Sefiye.
Sefiye kaget. "Kenapa tas ini bisa kembali padaku lagi, ya? Isinya juga masih utuh." Sefiye jadi bingung. Namun ia bersyukur karena semuanya bisa kembali lagi padanya.
*********
Aithan dan Argani saling menatap sambil tersenyum. Mereka baru saja melewati malam panas yang indah.
Aithan bangun dari sisi istrinya, mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas mini yang ia berikan di kamar Argani beberapa waktu yang lalu. Air itu di teguk nya sampai setengah dan sisanya ia berikan pada Argani.
"Sayang, kamu nggak pulang ke apartemen?" katamu ada kakakmu di sana." tanya Argani lalu mengenakan gaun tidurnya kembali.
Aithan yang juga sementara memakai celananya menggeleng. "Aku mau tidur di sini."
"Nanti kakakmu marah."
"Di sana ada gadis lain, Ar. Gadis itu sepertinya ingin dijodohkan dengan aku."
Argani terkejut mendengarnya. Ia merasakan ada sesuatu yang menusuk hatinya namun berusaha ditahannya. "Gadis dari kalangan bangsawan?"
"Ya. Namanya Naysilla."
"Kenapa kau membiarkan mereka sendiri di apartemenku?"
"Di sana ada Tio yang siap melayani mereka. Aku sudah mengatakan kalau aku memiliki pacar. Aku tak mau memberikan harapan pada Naysilla."
Argani duduk di atas karpet sambil memeluk kakinya. Ia menatap Aithan yang duduk di hadapannya. "Apakah dia cantik?"
"Ya."
Hati Argani menjadi lebih sakit mendengarnya.
"Namun tak dapat menandingi kecantikan mu, sayang." Aithan mendekat. Ia tahu kalau Argani cemburu. Di peluknya gadis itu dengan seluruh rasa cinta yang ia miliki. "Jangan takut, Ar. Seribu bidadari pun tak akan mampu menggoyahkan kedudukan mu di hatiku."
Argani memejamkan matanya. Kata-kata Aithan begitu indah. Namun ia tahu, tantangan terbesar dalam hubungan mereka baru saja di mulai. Sepertinya ia tak mampu untuk naik tangga.
*********
Bagaimana perjuangan cinta mereka???
Love......Amanda