NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:26.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

“Ah, akhirnya ada tanggal merah.” Magenta mendesah pelan sambil menutup laptopnya. Ia menyandarkan kepala di kursi sambil memejamkan mata. Awalnya ia menikmati masa-masa tenang itu sampai akhirnya terbesit sebuah ide.

Gimana kalau besok ia mengajak Cyan jalan-jalan? Kesempatan sekali di hari libur ini ia memanfaatkan waktu untuk menyegarkan pikiran. Terlebih untuk seorang Magenta. Ia benar-benar jarang punya waktu kosong tanpa meeting, deadline, dan laporan menumpuk.

Dan satu hari ini adalah angin segar untuknya. Luar biasa, rasa syukur tak terucap, tapi jelas terlihat dari senyum tipisnya.

Pagi itu, ia merealisasikan rencananya kemarin. Tidak seperti geng gen Z yang merencanakan ini itu, tetapi berakhir wacana semata. Sampai lebaran monyet pun tak akan menjadi kenyataan juga. Nah, berbeda dengan Magenta. Untuk sang kekasih, apa yang tidak mungkin?

“Gen, apa ini?” tanya Cyan setelah keluar dari apart, mendapati Magenta tersenyum kuda duduk di atas motor koplingnya. Astaganaga!

“Hehe. Sengaja, biar bisa lebih deket,” balas Magenta. Cyan menggeleng pelan. Ingin protes, tapi mau bagaimana lagi? Sudah terjadi di depan mata. Dewi Fortuna tidaklah berpihak padanya sekarang.

Kali ini bisa dibilang penampilan Cyan lumayan sederhana. Hanya bermodal sweeter dan jeans biru panjang, juga sepatu kets putih. Belum pernah sejauh ini Magenta melihat Cyan berpakaian terlalu terbuka.

“Udah lama nunggu?” tanya Cyan sesampainya di depan Magenta.

“Barusan kok. Aman aja,” jawab Genta cepat padahal sudah hampir sepuluh menit.

“Okay, okay. Aku juga lagi males dandan hari ini. Kalau bukan hari kerja, sayang aja buang-buang make-up,” pungkas Cyan. Magenta memang tidak melihat adanya sentuhan riasan di wajah itu. Paling tidak hanya krim sunscreen dan sedikit lipstik agar tidak pucat.

Ah, Cyan malas jika dikatai perempuan tipes atau kumbang larva.

“Naik, Sayang.”

Cyan menurut, ia naik ke motor itu dan meletakkan tasnya di depan dada. Dipeluk erat seperti anak kecil yang mendapat hadiah boneka dari ayahnya. Di luar prediksi BMKG dan MBG, Genta merasa seperti ada tameng yang membatasi gerak-geriknya. Ia pun tak bisa menahan tawa.

“Syan, kenapa dipeluk gitu tasnya? Tampangku emang se-maling-able itu kah?” tanya Magenta setengah menyindir.

“Oh! Takut jatuh. Ini isinya tablet kecil sama dompet. Terus ada dokumen penting juga,” balas Cyan tak merasa janggal. Sebagai kaum hawa yang menyukai kewaspadaan daripada panik, ia memang selalu mempersiapkan segala hal dari kemungkinan paling buruk.

Tentu saja bertolak belakang dengan pemikiran Magenta yang cenderung lebih santai. Seolah bila ada gempa bumi, ia memilih ambil kamera dan post di IG story sebelum kabur menyelamatkan diri.

“Iya, tapi ‘kan kita mau liburan ini. Masa iya tetep kerja kamunya? Singkirin dulu napa dah? Heran,” ucap Magenta. Sebenarnya tidak masalah, tapi harapannya agar Cyan menempel di punggungnya itu pupus seketika.

“Hehe, maaf. Aku janji gak buka-buka deh. Cuma bawa sebagai cadangan aja,” balas Cyan.

Magenta mendengkus pelan, lalu mengarahkan tangan Cyan agar memeluknya dari belakang. Jarak badan mereka aman, tidak menempel sama sekali karena tas sialan itu. Anehnya Magenta tersenyum lagi di balik helm. Salah tingkah lebih tepatnya, ia tak memedulikan jarak yang tak seberapa.

“Gen, kamu tau nggak kalau alpaca itu kayak llama, tapi versi lebih sopan?” tanya Cyan ketika mereka melaju di pertengahan jalan.

“Hah? Emang ada hewan nggak sopan?” balas Magenta sedikit berteriak karena suara angin lebih kencang dari ocehan tetangga.

“Ada. Kambing tetangga yang suka makan celana dalem orang.”

Magenta tersedak, ngakak sampai napasnya hampir tercabut. Ia tak bisa menahan tawa sampai hampir salah ambil gigi.

“Parah banget, sih. Emang beneran ada kambing nyolong sempak tetangga?”

“Beneran. Raka pernah cerita pas awal masuk kantor. Tetangganya cewek sering ngeluh dalemannya ilang, akhirnya dipasang CCTV. Pas malem ketahuan ada kambing yang nyuri, terus dibawa ke kost sebelah,” jelas Cyan menahan tawanya.

“Anjir? Jadi maksudmu itu kambing suruhan?”

“Iya. Besar kemungkinan itu tuannya yang nyuruh si kambing nyolong daleman. Haha!” Ia melanjutkan, kali ini tawanya lepas tanpa batas.

“WONG GENDENG!”

“HAHAHA!”

Tak terasa sampailah mereka di tempat tujuan. Cyan mengambil oksigen sebanyak mungkin karena lelah tertawa sepanjang jalan. Apa saja mereka bicarakan. Perkara pengendara motor yang ugal-ugalan dengan helm gas melonnya saja membuat keduanya ngakak terpingkal.

Sesampainya di taman, mereka disambut suasana ramai dan dipenuhi pengunjung berbagai kalangan. Orang tua menemani anaknya, pasangan muda yang bahagia, juga kumpulan remaja-remaja hist yang heboh melihat kawanan alpaca.

“GEN! YANG ITU GEMES BANGET YA ALLAH BULUNYA KAYA BONEKA!” teriak Cyan sambil melompat seperti anak kecil. Genta tertawa gemas, lalu menatap Cyan dalam.

“Umur kamu beneran 28?” tanya pria itu.

“Kenapa emangnya?”

“Reaksimu lihat alpaca persis kayak anak TK baru ngerasain studi tour,” ungkap Magenta membuat bibir Cyan maju lima senti.

“Ya, salah dong kalo nggak seneng liat yang lucu. Bukan cewek namanya kalau nggak excited sama yang lucu-lucu gemes. Kami aja bisa khilaf belanja karena barang lucu, Gen,” bela Cyan dengan mata yang tetap fokus ke kawanan alpaca.

“Ah, pantesan gajinya sering habis,” gumam Magenta.

Mereka foto-foto, mengabadikan setiap momen itu sambil sesekali tertawa. Puncaknya ketika tak sengaja alpaca menyemburkan ludahnya ke arah Cyan.

“WOI DIA NGELUDAHIN GUE?!” Magenta tergugu, tapi di sisi lain merasa lucu.

“HAHA, RASAIN!” balas Cyan ngakak tak berhenti, sampai menjadi pusat perhatian pengunjung lain. Magenta pura-pura cemberut, padahal hatinya berbunya-bunga karena merasa berhasil menyenangkan hati Cyan.

“Ini alpaca kurang ajar.”

“Enggak, kamunya aja yang disangka rumput.”

“Hadeh kamu ya, Syan! Sekarang kurang ajar dua-duanya.”

“HAHAHA!” Cyan tertawa lepas lagi, perutnya sampai kram.

“Oke, udah. Jangan kebanyakan ketawa nanti nangis,” tegur Genta membersihkan bekas alpaca itu dengan tisu kering pemberian Cyan.

“Makanya jangan ngelawak terus.”

“Hidupku isinya lawakan. Sampai akhirnya ketemu kamu dan hidupku setidaknya serius sedikit, hehe.”

“Dasar gombal.”

Cyan berjalan lebih dulu, mencari spot foto lain. Magenta berlari kecil menyusul di belakang, sesekali celingukan menatap pasangan-pasangan bahagia di sana. Di sela jalan, tiba-tiba ponsel Cyan bergetar. Cyan berhenti, lalu menunduk serius mengetik sesuatu di sana.

[Lagi di mana, Cyan?] tanya sang ibu.

[Ini di luar jalan-jalan sama Genta, Bu.]

[Oh, okey. Hati-hati, jangan pulang terlalu malem.]

[Nggih, Bu.]

Ia menutup layar, lalu menoleh ke arah Magenta yang sejak tadi melindunginya dari sinar matahari dengan telapak tangan. Tidak membantu banyak memang karena selisih tinggi keduanya yang cukup terlihat, tetapi tidak jadi masalah. Sekecil apa pun perbuatan Magenta, sangat berharga bagi Cyan.

“Chat dari siapa?” tanya Magenta penasaran.

“Biasa, dari Ibu. Kalau bukan Ibu, ya Bapak. Cuma dua orang itu yang rajin chat aku kalau ada kamu di sini,” jawab Cyan tanpa menatap mata lawan bicaranya.

“Orang tua kamu perhatian banget.”

“Iya. Emang gitu ‘kan rata-rata orang tua yang punya anak cewek? Apalagi aku belum menikah. Kalau udah menikah, ya beda cerita.”

“Bagus dong, berarti sayang.”

“Iya, Gen. Meski gak munafik. Aku kadang pengen kayak cewek lain yang bebas di luar sana. Ke mana-mana tanpa repot ngabarin berulang setiap jam. Mereka emang jauh, tapi rasanya jadi deket banget. Berasa diawasin,” balas Cyan mengambil napas panjang.

“Syan, sekali lagi itu bagus banget menurutku. Di zaman yang kacau ini, susah banget jagain anak cewek. Apalagi lingkungannya bebas. Gampang masuk ke pergaulan gak bener. Lihat kan banyak cewek-cewek rusak karena terlalu dibebasin?”

Benar, Cyan seringkali bersyukur akan hal itu. Tetap saja ia merasa orang tuanya terlalu berlebihan. Lalu tanpa sadar, Magenta menatap Cyan sangat lama. Gadis ini, memang berstatus terpandang di kantor. Sebagai atasan yang galak dan kejam, suka menghukum bawahannya jika berani macam-macam.

Namun, di luar itu, ia tak lebih dari seorang gadis manja yang tidak punya sandaran. Tidak pernah menarik perhatian dengan tawa polosnya itu. Sesekali mengomel persis seperti anak kecil. Kadang merengek tak jelas jika kemauannya tak dituruti.

Hanya setelah kedekatan ini, Magenta tahu sisi lain dari seorang Cyan yang ia sembunyikan selama menjadi atasan. Justru itulah yang membuat Genta nyaman. Pikirannya seketika melayang, terbayang-bayang sosok mantan kekasihnya bernama Vira.

Mantan yang selalu tampil seksi, agresif, dan penuh gairah. Yang setiap ketemu selalu minta ini itu, selalu ingin diperhatikan, dan dipuji dari atas hingga bawah. Terlalu haus validasi hingga ke bagian terdalamnya. Ia masih ingat permainan panas mereka di ranjang sebelum berpisah. Berulang kali Vira menggumam nama Magenta.

Hampir setiap ada kesempatan bertemu, Magenta meminta hal itu. Tak jarang Vira yang merengek duluan karena nafsunya lebih besar dari rasa malu. Bukan sekadar peluk cium seperti hubungannya sekarang pada Cyan. Hubungan yang lebih intim karena mereka telah bertukar cairan cinta masing-masing.

“Aneh, ya?” gumam Magenta yang ternyata didengar Cyan. Seketika gadis itu menoleh cepat.

“Aneh kenapa?”

“Enggak, gak ada kok. Makasih, ya udah nemenin jalan hari ini. Aku seneng banget,” balas Magenta tersenyum.

“Iya, aku makasih juga. Selama hidup di sini, belum pernah ada yang inisiatif ngajakin aku jalan-jalan pas tanggal merah. Biasanya aku cuma main ke rumah Alya.”

Magenta menghela napas panjang, menatap helai anak rambut Cyan yang terjuntai terbawa angin. Seketika hatinya memanas, nyalinya menciut begitu tahu Cyan sangat diperhatikan orang tuanya. Jauh dari dirinya yang sudah berkali-kali berhubungan intim dengan mantan kekasihnya dulu.

Sepintas ia ragu, akankah Cyan menerima masa lalunya yang kelam itu? Apakah ada kata maaf? Bagaimana reaksinya kelak? Selama ini Magenta tidak membahas apa-apa mengenai Vira. Pun Cyan tidak begitu tertarik karena hanya sekadar mantan, lagipula sejak awal perjanjian mereka hubungan ini sebatas sandiwara.

“Sorry, cepat lambat ini bakalan nyakitin hati kamu, Syan. Dan aku jujur belum siap, tapi mau ditahan sampai kapan? Semakin lama pasti semakin sakit, Syan.”

Scientia Square Park, Tangerang (Dokumentasi Bukber with Alpaca)

1
Ruma Isha
perasaan mreka kokopan terus
Ruma Isha
ya bakal mau banget si keknya si genta
Ntin Mukhlish
dah lebaran aja
kpn nikahnya tuh?
Ntin Mukhlish
mantap cyan. good
Ntin Mukhlish
ayooo nikah nikah
ini dua-duanya sama-sama suka
Aleaa
seriusan nih? genta ini gapunya keluarga apa ya😭🙏
Ntin Mukhlish
sukaaa
ayo seriusinnn
Aleaa
hahaha woylaaahh😭 gentaaaa keren bangetttt
Ntin Mukhlish
dah mau lebaran aja. di sini malah belum mulai puasa
Ntin Mukhlish
jujur aja lah gen
Ntin Mukhlish
gas gen. jangan sampai ketikung orang
Ntin Mukhlish
kerjaannya ituu aja kayaknya
Ntin Mukhlish
ntar disuruh nikah deh
Ntin Mukhlish
ayo genta, kuatin hubungan sama cyan sebelum si vira ngacau lagi
Ntin Mukhlish
kasihan sih kalau tahu masalah genta ini
Ntin Mukhlish
genta masih aja denial
Jullian99
Tak kusangka Genta pernah sejauh itu ternyata, kupikir Genta cowo grenflag hijau neon. tapi semoga aja Genta udh berubah ga kaya dulu lagi yang suka HS
Jullian99
akal-akalan genta ini sih, pake acara pacaran baik segala. dimana2 pacaran itu gak baik Gen, cuma bikin dosa. mending langsung nikah aja, mesra-mesran dikit hitungya jadi pahala, kalo pacaran sentuhan tangan aja masuknya dosa
Jullian99
udah buruan nikah, belum menikah tapi berasa living together tiap hari bareng-bareng terus hampir 24jm
Jullian99
kalau ga jadi pasangan ya paling cuma jadi atasan dan bawahan aja, Gen.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!