Hidup Sandy bisa dibilang gagal. Kehilangan pekerjaan yang berujung dengan rumah tangga yang hancur. Kini Ia sendiri meratapi nasib. Namun saat Ia terbangun dari mabuknya, Ia mendapati dirinya kembali ke tahun 2000, tahun milenium. Mampukah Ia memperbaiki masa depannya dan kembali ke masa depan lagi? Ataukah Ia akan mengulangi kesalahan yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Shanum mencari keberadaan kalung yang diberikan Black padanya. Sandy sudah tak sabar dan gelisah.
"Kenapa Shanum harus bertemu Black? Atau memang Black yang sengaja menemui Shanum? Tujuannya apa?" batin Sandy.
"Mau kasih apaan sih? Ada enggak?" tanya Sandy tak sabar.
"Ada. Gue inget kok kalau gue taruh di tas. Gue tuh udah rencana mau kasih ke lo kalau ketemu makanya gue bawa terus. Sebentar gue cari dulu." ujar Shanum sambil mengeluarkan isi dalam tasnya satu persatu.
Lagu yang terdengar dari speaker cafe seakan menyindir Sandy.
🎶Notice me
Take my hand
Why are we
Strangers when
Our love is strong?
Why carry on without me?
And every time I try to fly I fall
Without my wings
I feel so small
I guess I need you baby
And every time I see
You in my dreams
I see your face
It's haunting me
I guess I need you baby🎶
"Wah lagunya Britney Spears. Gue suka nih. Judulnya Everytime. Masuk terus nih di peringkatnya Planet Remaja." ujar Shanum yang malah asyik mendengarkan lagu sambil bersenandung dan lupa dengan apa yang Ia cari.
"Udah bubar acaranya!" celetuk Sandy.
"Kata siapa? Masih kok. Bagus malah." jawab Shanum tak mau kalah.
"Udah cepetan mana! Bikin orang penasaran aja!" gerutu Sandy.
"Oh iya! Sampai lupa he...he...he... Sabar atuh!" Shanum tersenyum cengengesan. Ia kembali memeriksa isi tasnya dan teringat dimana Ia menyimpannya. "Oh iya! Di dompet!"
"Dompet? Emang apa sih yang dijatuhin Black?" Sandy semakin penasaran.
"Kalung. Nah ketemu!" Shanum mengeluarkan kalung berwarna perak dengan bandulan bergambar bulan sabit. Ada tulisan kecil disana. "Tulisannya rope. Bukannya rope itu bahasa inggris ya? Artinya tali?"
"Coba gue lihat!" Shanum memberikan kalung tersebut pada Sandy.
Sandy mengambil kalung yang Shanum berikan. Baru saja Ia memegang kalung tersebut sudah Ia jatuhkan. "Awww! Panas banget!"
Sandy meniup tangannya yang terasa panas terbakar saat memegang kalung bulan sabit tersebut.
"Panas? Enggak kok!" Shanum memegang kalung tersebut untuk membuktikan pada Sandy kalau kalungnya baik-baik saja dan tidak panas.
"Jangan dipegang! Nanti tangan lo kepanasan kayak gue nih!" larang Sandy saat Shanum hendak menyentuh kalung tersebut.
"Enggak apa-apa kok. Kalau panas, isi tas gue bisa lumer dong!" Shanum tak mengindahkan apa yang Sandy larang dan tetap mengambil kalung tersebut. "Tuh enggak panas!"
Shanum memamerkan tangannya yang baik-baik saja saat memegang kalung tersebut. "Lo pasti lagi ngibul kan? Enggak lucu tau!"
"Siapa yang ngibul? Lo beneran enggak kepanasan?" tanya Sandy yang heran melihat Shanum biasa aja memegang kalung bulan sabit tersebut.
"Beneran lah! Nih coba pegang lagi!" Shanum menyerahkan kalung tersebut di tangan Sandy dan untuk kedua kalinya Sandy menjatuhkan kalung tersebut.
"Panas Num!" omel Sandy sambil meniup-niup tangannya yang terasa terbakar. Yang pertama saja belum hilang rasa terbakarnya, ini ditambah yang kedua. Makin panas saja tangannya.
"Apaan sih lo San! Nih gue panggil karyawan lo ya!" Shanum pun memanggil karyawan Sandy yang sejak tadi memperhatikan Sandy dan Shanum.
"Mbak tolong pegang deh kalungnya!" Shanum memberikan kalung pada pelayan yang tadi menyuguhkannya makanan dan minuman.
"Pegang Mbak?" tanya pelayan ragu.
"Iya. Pegang doang. Jangan lo ambil! Punya orang nih!" Shanum menyerahkan kalung yang ada ditangannya.
Sandy hanya memperhatikan yang Shanum lakukan. Sandy bersiap akan menertawakan Shanum kalau sampai karyawannya mengaduh kepanasan seperti dirinya.
Ternyata karyawan Sandy baik-baik saja. Tidak kepanasan seperti yang Sandy rasakan tadi. "Lihat kan? Dia baik-baik aja tuh!" Shanum tersenyum penuh kemenangan.
"Udah, Mbak?" tanya sang pelayan.
"Udah. Makasih, Mbak." Shanum mengambil kembali kalung yang tadi Ia berikan. "Sekarang ngaku deh. Dari tadi lo cuma akting aja kan?"
"Akting? Ngapain gue akting di depan lo? Memangnya lo sutradara film?" Sandy tertawa mengejek.
"Ya kalau bukan akting lalu apa dong? Jelas-jelas gue sama mbak tadi baik-baik aja. Enggak kepanasan tuh kayak lo! Pasti lo tuh punya rencana mau jahilin gue deh!"
Sandy menjitak kepala Shanum pelan. "Sadar woy! Jangan mikir jelek terus!"
"Ih apaan sih! Sakit tau!" omel Shanum.
"Ah lebay!" celetuk Sandy.
"Apalagi itu lebay? Bahasa lo kayak orang planet aja. Enggak ngerti gue lama-lama."
"Kemarin Black bilang apa?" tanya Sandy membawa Shanum ke percakapan semula.
"Enggak bilang apa-apa kok. Padahal gue udah minta maaf tapi dia pergi gitu aja." jawab Shanum dengan jujur. "Memangnya Black itu siapa sih? Kok lo kepanasan gitu sih megang kalungnya?"
Sandy melirik ke kiri dan ke kanan lalu memajukan tubuhnya hendak berbisik pada Shanum. "Black itu..."
"Siapa?" tanya Shanum yang ikut mendekat dan berbicara sambil bisik-bisik.
"Black itu seorang dukun!" tipu Sandy.
"Beneran?!" bola mata Shanum membelalak kaget. Tanpa Sandy sadari jarak antara mereka sangat dekat. Bahkan hembusan nafas Sandy terasa di wajah Shanum.
Sandy mengangguk sambil memasang wajah sangat serius. Kedua alisnya ditautkan dengan kening berkerut dan menatap Shanum dengan sungguh-sungguh.
"Dan karena gue punya penjaga, jadinya kalung itu terasa panas di tangan gue!"
"Ah beneran lo? Masa sih? Penjaga lo apaan? Monyet? Sun Go Kong?" ledek Shanum. Ia tak mudah percaya hal seperti itu.
"Yeh nih anak kalo dikasih tau enggak percayaan! Kalau enggak panas kenapa tadi tangan gue sampai merah? Gue enggak ngibul!" Sandy tersinggung dianggap tukang bohong sama Shanum, ya meskipun sebagian yang Ia katakan memang bohong sih.
Sandy tak mungkin mengungkap siapa Black pada Shanum. Apa yang mau dia bilang? Kembali ke tahun milenium setelah Shanum meninggalkannya gitu?
"Beneran?" Shanum mulai mempercayai perkataan Sandy.
Sandy mengangguk dengan yakin. "Suerr!" Sandy mengangkat jari telunjuk dan tengah kanannya membentuk huruf V, sementara tangan kirinya disembunyikan di belakang tubuhya membentuk huruf V juga. Ini adalah tanda kalau sedang bersumpah palsu.
"Huft... Serem juga ya? Ngapain sih lo pake terlibat sama dukun kayak gitu? Buat penglaris cafe lo ya?" kini Shanum sudah percaya 100 % pada ucapan Sandy.
"Bukan kayak gitu. Cafe gue kan banyak saingannya. Cuma buat penjaga kalau ada yang mau berbuat jahat aja!" lancar jaya kalau bohong Sandy ini.
"Terus gue apain dong? Balikin apa buang aja?" Shanum mulai ketakutan sendiri menyimpan kalung milik Black.
"Terserah lo aja!" Sandy memundurkan duduknya. Sejak tadi berdekatan dengan Shanum membuat debaran jantungnya berdetak tak karuan. Wajar saja, Shanum adalah istri yang Ia cintai selama ini. Meski mau merubah takdir, namun rasa cinta itu tak mudah sirna.
Sandy yg milenium kemana. Terus kalo dia mantap gamau balik lagi ke milenium misalkan, mau di 2021 aja terus yg di milenium gimana? Ngilang dong? Dan nggak akan ada di masa depan tiba tiba aja kan?