Erie, seorang gadis berusia 19 tahun yang mempunyai nasib malang, secara tiba-tiba dinikahkan oleh bibi angkatnya dengan pria bernama Elden. Tidak hanya bersikap dingin, pria tampan nan kaya raya itu juga terkesan misterius seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Erie. Kira-kira bagaimana cara Erie bertahan di dalam pernikahannya? Apakah Erie bisa merebut hati sang suami ketika ia tahu ternyata ada wanita lain yang menempati posisi istimewa di dalam hidup suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hell
Di malam yang sunyi hari ini, Mario terdiam di dalam mobil. Setiap melihat raut wajah Elden, rasa bersalah langsung merasuk ke dalam hatinya. Andai malam itu ia tidak terperangkap tipu daya pelaku, pasti nyonyanya tidak akan tertimpa kemalangan.
Sebenarnya malam itu, saat acara tengah berlangsung, Mario mendapatkan laporan bahwa terjadi masalah keamanan. Melalui earpiece yang digunakannya, seorang anggota organisasi menghubunginya.
"Bos, beberapa pengawal di pintu depan tiba-tiba menghilang," ujar anggota dengan kode A20 dari sambungan telepon. Orang itu merupakan anggota terbaik ke 20 di organisasi. Karena Elden dan Erie berada di satu tempat yang sama, jadi hampir semua anggota kelas A hadir di kediaman Alvaro untuk melindungi majikan mereka.
"Berapa pengawal yang masih tersisa di sana?" tanya Mario pada A20.
"Hanya tersisa tiga orang, Bos."
"Baiklah, aku akan ke sana," kata Mario.
Sebelum ke gerbang depan, Mario melihat Erie. Ia tidak akan meninggalkan Erie saat itu, tetapi ketika ia melihat Elden tengah memperhatikan Erie dengan lekat, Mario memutuskan untuk pergi memeriksa keadaan sebentar. Menurutnya, tuannya tidak akan melepaskan perhatiannya dari Erie, meskipun Elden sedang sibuk. Di sana juga ada A15 yang bisa melindungi Elden dan Erie. Lagipula, di dalam ruangan itu, siapa yang berani menyakiti Elden dan Erie secara terang-terangan?
Mario akhirnya memutuskan untuk pergi. Ia bergegas ke gerbang depan. Di sana ia bertemu dengan beberapa pengawal yang masih ada. Mereka adalah A18, A19 dan A20.
"Bos," ucap mereka memberi hormat kepada Mario.
"Bagaimana? Sudah menemukan mereka?" tanya Mario kepada mereka.
A18 menjawab, "Belum Bos."
"Sekarang kita bagi tugas. A19 berjaga di sini sedangkan aku akan ke arah kanan, A20 ke arah kiri dan A18 memeriksa kamera pengawas."
"Baik Bos," kata mereka secara serempak. Mereka berpencar dan mengerjakan pekerjaan sesuai dengan arahan Mario.
Mario melangkah ke kanan, ke arah hutan. Meski semua orang di organisasi pernah dilatih untuk hidup di alam liar, namun hanya Mariolah yang mahir bertahan di hutan. Ia ahli dalam segala hal. Oleh sebab itu, banyak penguasa menginginkannya. Namun sayang sekali, Mario hanya setia pada satu tuan, yakni Elden.
Mario masuk ke dalam hutan. Ia menggunakan jam tangannya yang canggih sebagai senternya. Beberapa puluh langkah Mario tempuh sampai ia menemukan seseorang terkapar di atas rerumputan. Mario menghampiri orang itu. Ia memeriksa denyut nadinya. Ternyata orang itu masih hidup. Tato kecil yang ada di bahu kirinya juga petanda bahwa orang itu adalah anggota dari organisasi.
Mario menggunakan earpiecenya lagi untuk menghubungi rekannya. "Aku menemukan seorang anggota di hutan. Sepertinya dia keracunan, segera kirim ambulan ke sini," katanya kepada A18.
"Baik Bos," ucap A18 dari ujung sambungan.
Saat melanjutkan perjalannya, Mario mendengar sebuah panggilan dari alat komunikasinya. Ternyata itu adalah panggilan dari A20 yang di tugaskan untuk mencari ke arah pinggiran kota. "Bos, saya menemukan tiga orang yang pingsan di taman kota, sepertinya mereka juga keracunan gas," ujarnya.
"Baiklah, urus mereka dengan baik. Pastikan mereka selamat," ucap Mario memberikan instruksi.
"Siap, Bos."
Mario mencari lagi dan ia menemukan empat orang yang tersisa di dalam hutan. Mereka semua dalam keadaan keracunan gas bius yang menyebabkan mereka tak sadarkan diri. Ini sungguh aneh. Jika memang ini adalah ulah dari musuh Elden, bukankah akan lebih mudah membunuh mereka ketimbang susah payah memindahkan mereka semua ke beberapa tempat?
Saat Mario menyadari kejanggalan itu, tiba-tiba saja alarm darurat berbunyi keras dari jam tangannya. "V.I.P 2 tertusuk! Ada penyusup! Dia kabur lewat gerbang belakang. Semua anggota segera berkumpul di ruang utama," ujar A15 melalui earpiece.
Mario terkejut bukan main. Ia segera memutar otaknya. Walaupun dalam keadaan gelap, namun Mario bisa mengingat dengan jelas letak rumah Alvaro karena tempat itu adalah tempatnya berlatih dulu. Jika penyusup itu terus berlari di jalur itu, maka jalan keluar satu-satunya dari gerbang belakang adalah hutan. Pas sekali. Mario segera berlari menuju tepi hutan di dekat jalan keluar. Ia bersembunyi di balik pohon dan mematikan senternya. Ia meletakkan jam tangannya yang sudah dipasang alarm di atas tanah. Sambil mendengar koordinat arah para pengawal yang mengejar penyusup itu, Mario mengeluarkan pistolnya. Ia bersiap dan memberikan aba-aba berpencar kepada para pengawal.
Saat penyusup itu melewatinya, alarm jam tangan Mario berbunyi dan cahayanya menyala. Dengan cepat Mario menembak kaki penyusup itu dengan menggunakan penerangan dari jamnya. Meskipun dengan cahaya yang minim, namun Mario tidak pernah meleset dalam hal menembak. Ia adalah penembak jitu yang sangat unggul.
Ketika melihat target telah dilumpuhkan, para pengawal langsung menangkap penyusup itu. "Jangan sampai dia mati," ucap Mario kepada mereka.
Usai pengejaran itu, Mario langsung memeriksa semua sistem keamanan yang ada di kediaman Alvaro. Para anggota organisasi itu terkena gas bius saat mereka berada di ruangan keamanan. Sepertinya mereka mendapatkan sebuah surat ancaman karena salah satu dari mereka terlihat menemukan sepucuk surat di dekat gerbang depan. Lalu ia dan beberapa anggota lainya langsung berlari menuju ruang keamanan. Setelah itu, tiba-tiba ruangan dipenuhi oleh gas putih yang membuat mereka pingsan. Tak lama kemudian, seluruh kamera keamanan di rumah itu mendadak rusak.
Keesokan harinya, Elden datang ke markas organisasinya. Ia ingin memeriksa si penyusup yang telah melukai istrinya. "Siapa yang melakukannya?" kata Elden kepada Mario.
"Tahanan yang kabur waktu itu, Tuan," ucap Mario menjawab perkataan Elden.
"Apakah kau sudah menginterogasinya?"
"Saya tidak bisa melakukannya, Tuan."
Tatapan mata Elden berubah menjadi sangat tajam saat mendengar perkataan Mario. "Kenapa?"
"Lidahnya telah terpotong."
"Brengsek!" maki Elden. Ia meremas kedua kerah baju Mario dan mencekiknya hingga membuat lelaki itu kesulitan bernapas. "Dia telah melukai istriku, Mario!" kata Elden marah.
"Ma..maafkan saya, Tuan," ucap Mario terbata-bata akibat napasnya yang tersengal.
"Hukum bedebah itu dengan tanganmu hingga dia sendiri yang memohon untuk mati." Elden melepaskan tangannya dari tubuh Mario.
XXXXX
"Bagaimana dengan bedebah itu?" ujar Elden kepada Mario. Ia meletakkan ponselnya ke dalam saku jasnya untuk fokus berbicara dengan pengawalnya yang duduk di kursi depan mobil.
"Sudah saya bereskan sesuai dengan perintah Anda, Tuan."
"Bagus."
"Apakah Anda ingin melihat rekamannya, Tuan?"
Elden menggeleng. "Tidak perlu karena sebentar lagi aku akan melakukan kesenanganku sendiri."
"Baik, Tuan."
"Apakah buruanku sudah datang?"
"Orang itu sudah menunggu Anda di club milik Anda."
"Bagus sekali."
Beberapa saat kemudian mobil yang ditumpangi Elden berhenti di sebuah gedung tempat hiburan malam yang paling terkenal di kota itu. Elden turun dari mobilnya dan langsung disambut oleh pengurus tempat itu.
"Selamat Malam, Tuan," ucap orang itu.
"Bawakan aku wanita tercantik yang kau miliki," kata Elden kepada orang itu.
"Baik Tuan."
Elden masuk ke dalam ditemani oleh Mario yang membawa sebuah tas. Beberapa orang pengawal lain juga mengikuti mereka. Sebelum Elden berjalan menuju ke tempat utama, ia masuk ke dalam kamar paling mewah di sana untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah itu, ia melangkah lagi untuk masuk ke dalam ruang utama. Elden melihat-lihat tempat itu sebentar lalu duduk di sebuah bangku VIP, bangku yang hanya bisa Elden seorang yang menduduki.
"Selamat Malam, Tuan. Sebuah kehormatan bagi saya mendapat panggilan dari Anda," kata seorang wanita cantik dengan pakaian yang minim mendekati Elden.
Elden memandang wanita itu sekilas. "Lumayan. Kau boleh pergi," ucap Elden kepada pengurus tempat itu yang datang mengantarkan sang wanita untuk Elden.
"Baik Tuan. Saya permisi. Selamat Malam," kata pengurus itu sembari menjauhi tempat Elden.
Wanita itu menatap takjub atas ketampanan Elden. Ia sudah berada di tempat itu selama beberapa bulan dan baru kali ini ia bisa melihat pria dengan ketampanan sempurna seperti Elden. Belum lagi kekayaan yang dimiliki oleh Elden sudah tentu membuat para wanita berebut untuk bisa naik ke atas ranjang Elden tanpa berpikir panjang. Dan kali ini ia adalah wanita yang beruntung itu. Sepertinya dewi fortuna benar-benar memberkatinya malam ini.
Tanpa mengalihkan pandangannya, wanita itu berkata, "Nama saya---"
"Diam!" sergah Elden. "Aku tidak mengizinkanmu untuk bicara. Duduk di sini," ucap Elden seraya menunjuk sebuah tempat di sampingnya. Meskipun kaget akibat bentakkan Elden, namun wanita itu mengikuti Elden tanpa bersuara sedikitpun.
"Bawa orang itu ke mari, Mario," kata Elden lagi. Kali ini ia memerintahkan pengawal pribadinya.
"Baik, Tuan," jawab Mario. Ia memerintahkan bawahannya untuk memanggil target mereka.
Tak lama kemudian, seorang laki-laki datang menghadap Elden. "Selamat Malam Tuan. Suatu keberuntungan bagi saya bisa memenuhi panggilan Anda," ucap laki-laki itu sambil memberikan tanda penghormatan kepada Elden.
"Tidak perlu sungkan Darius. Silakan duduk," kata Elden sambil menunjuk sebuah sofa di depan mejanya.
"Terima kasih, Tuan." Darius membuka jasnya dan meletakkannya di samping bangkunya.
"Sayang, tidakkah kau ingin menyapanya?" tanya Elden kepada wanita di sampingnya. Wanita itu terlihat bingung, tapi tangan Elden yang merangkulnya membuatnya sangat tertekan. "Jawablah, sayang," kata Elden lagi.
"Ah! Iya, Tuan," tutur wanita itu. Ia melihat ke arah laki-laki yang ada di depannya. "Selamat Malam, Tuan," ujar wanita itu sambil mengulurkan tangannya kepada Darius.
Darius tersenyum nakal. Ia membalas uluran tangannya lalu mencium tangan wanita yang dibawa Elden itu. "Senang bertemu denganmu."
Elden menyeringai. "Apakah kau menyukai wanitaku, Darius?"
Darius langsung melepaskan tangannya dari tangan wanita seksi itu. "Saya tidak berani, Tuan."
"Oh, ayolah, kita sudah menjalin kerja sama sekian lama. Untuk satu wanita, aku tak masalah memberikannya," kata Elden sembari menarik tubuh wanita di sampingnya hingga kepala wanita itu jatuh di dadanya.
Darius tersenyum senang. "Sebenarnya saya tidak menginginkan wanita cantik yang ada di samping Anda ini, Tuan. Tapi..." Ia menghentikan ucapannya ragu.
"Tapi?" tanya Elden dengan raut wajah yang santai. Darius melanjutkan ucapannya. "Tapi wanita yang Anda bawa tiga hari yang lalu ke rumah Tuan Besar Alvaro."
Elden mengerutkan keningnya. "Wanita yang mana?"
Darius tersenyum. Tampaknya Elden sudah mencampakkan wanita itu. Ada rumor yang mengatakan bahwa semua wanita yang telah dipakai oleh Elden akan dibuang ketika ia sudah bosan. Ternyata rumor itu benar.
Darius memberanikan dirinya. "Wanita yang pernah muncul dengan Anda di beberapa media massa, Tuan."
"Darius, terlalu banyak wanita yang muncul bersamaku di depan media massa. Dapatkah kau menjelaskannya lebih rinci?"
"Wanita yang ada bersama Anda saat di 'kapal putih', Tuan."
"Astaga Darius! Kau terlalu bertele-tele. Kau pikir aku bisa mengingat setiap wanita yang ada di dekatku?"
Darius terkejut. Ia curiga apakah Elden benar-benar telah melupakan gadis cantik itu? Jika memang benar, itu adalah sebuah keberuntungan untuknya. "Anak angkat dari keluarga Eduard, Tuan. Saya rasa namanya Vallerie."
"Kau mengenalnya?"
"Saya tidak begitu mengenalnya, Tuan, tapi saya pernah bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu di kediaman keluarga Eduard."
Elden mengambil sebuah gelas yang ada di depannya dan mulai mengecap minuman di dalamnya. "Kau menyukainya?"
"Benar Tuan. Apakah Anda tidak bersama dengannya lagi Tuan?" tanya Darius dengan mata berbinar.
Elden meletakkan gelasnya. "Apakah kau buta Darius? Kau melihatnya bersama denganku saat ini?"
Darius tertawa. "Ah benar! Anda tidak bersama dengannya."
"Jadi apa yang kau sukai darinya?" ucap Elden sambil bermain-main dengan rambut wanita yang bergelayut manja di sampingnya.
"Saya hanya penasaran dengannya, Tuan. Dia terlihat cantik dan menggoda. Saya pernah mencium pipinya dan menyentuh kulitnya yang lembut, tapi saya gagal untuk menidurinya."
Elden menghentikan aktivitasnya. Tiba-tiba ia menjentikkan tangannya dan membuat Mario datang kepadanya sambil membawa sebuah tas yang sedari tadi ia jaga. Mario meletakkan tas itu di atas meja dan mengeluarkan sebuah senjata api laras panjang dari sana.
Elden mengambil senjata itu dari Mario. "Darius, aku sudah lama tidak berburu. Bagaimana menurutmu dengan senjata ini?"
Darius meneguk salivanya ketakutan. "Sangat mengerikan, Tuan. Seperti haus darah."
"Hahahaha!" Elden tertawa kencang. "Kau memiliki mata yang bagus. Tapi kau tidak seharusnya menatap milik orang lain."
"Maafkan saya, Tuan. Saya bersalah telah menatap senjata Anda."
"Tidak. Bukan senjata ini Darius, tapi wanitaku."
BUUGGHH!!!
Dengan menggunakan senjatanya, Elden mendaratkan satu pukulan kencang di kepala Darius hingga pria itu terjatuh dari tempat duduknya. Saat hendak melawan, beberapa orang pengawal langsung menghentikan pergerakan Darius.
"Tuan, ampuni saya. Saya bersalah Tuan. Ampuni saya!" ucap Darius yang ketakutan sambil memohon kepada Elden.
Elden menutup telinganya dengan sebelah tangan. "Berisik sekali Mario."
Mario mengambil jas milik Darius dan langsung menyumpal mulut Darius dengan jas itu.
Elden berdiri. Ia mendekati Darius yang tersungkur di depannya. "Tangan mana yang kau gunakan untuk menyentuh kulit lembutnya, Darius?" Elden bertanya, tapi laki-laki yang diajak bicara olehnya tidak bisa menjawab karena mulutnya tersumpal. "Ah, aku lupa kau tidak bisa menjawab. Hmm, biar aku saja yang menebaknya."
Elden memegang tangan Darius. "Berani sekali tangan kotormu ini menyentuhnya," ucapnya kemudian mematahkan kedua tangan Darius. Ia melirik ke arah Darius yang memekik tertahan. "Maafkan aku, aku sangat buruk menebak sesuatu."
Usai melakukan itu, Elden berdiri, lalu ia menatap Mario. "Mario, dia tidak hanya mencium pipi wanita milikku, tapi dia juga sudah berusaha untuk menidurinya. Kira-kira apa hukuman untuk orang berani sepertinya?"
Tanpa perlu berpikir, Mario menjawab, "Hukumannya adalah neraka, Tuan."
"Luar biasa! Kau memang sangat mengerti hukum, Mario. Aku bangga padamu."
Elden memberikan senjatanya kepada Mario. "Kirim dia ke neraka dan pastikan kau memberikan perhatian khusus untuk bibirnya yang sudah lancang mencium pipi wanitaku," katanya lagi. Kemudian, Elden mengambil tisu dan membersihkan kedua tangannya. Setelah itu ia melenggang pergi.
**XXXXX
Dukung novel ini dengan tinggalkan like, comment dan vote...
Danke ♥️
By: Mei Shin Manalu**
katanya bucin
apa BAWA ya...
Kl diangkat ke layar lebar pasti penonton nya kyk semut antrinya
kereeen