Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Pelanggan pertama
Darrel mulai mencari informasi tentang cara membuat aplikasi di internet. Dia membaca berbagai artikel, menonton video tutorial yang berbeda-beda, dan mengikuti forum-forum diskusi pemrograman.
Namun, dia merasa kesulitan dalam proses pembuatannya. Istilah-istilah teknis yang rumit membuatnya pusing dan bingung memahami langkah-langkahnya. Tiba-tiba dia langsung teringat Zeya—adik iparnya yang ahli di bidang IT.
"Apa sebaiknya aku minta bantuan sama Zeya?" pikir Darrel sambil menghela napas.
Sejenak rasa bimbang muncul di hatinya, mengingat sifat Daniel yang sangat posesif terhadap istrinya. Namun, demi mewujudkan ide aplikasi yang dianggapnya penting, akhirnya dia memutuskan untuk pergi menemui pasangan itu.
Dengan mengendarai motor maticnya, Darrel berangkat bersama kedua anaknya menuju rumah Daniel. Setelah sekitar satu jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di depan rumah tersebut.
"Ini rumah siapa, Papa?" tanya Zayn yang merasa asing melihat lingkungan sekitarnya.
"Apa ini rumah Opa dan Oma?" timpal Zoey yang juga mengamati sekeliling.
"Ini rumah Om Daniel, adiknya Papa. Nanti kalian bisa bermain dengan sepupu kalian, Zana dan Zando," jawab Darrel dengan lembut, lalu berjalan ke depan pintu dan memencet bel rumah.
Tak lama kemudian, seorang pria membukakan pintu. Wajahnya langsung menunjukkan ekspresi terkejut. "Bang Rel?"
"Assalamualaikum, Niel," sapa Darrel. "Boleh kami, masuk?" tanyanya kemudian.
"Wa'alaikumsalam," jawab Daniel. "Eh... tumben Bang Rel kemari? Ada apa, ya?" tanya Daniel masih belum bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Abang ada perlu sama Zeya..." ucap Darrel perlahan.
"Apa...! Ada perlu apa sama istriku?" suara Daniel langsung menjadi lebih tegas dan ekspresi wajahnya berubah menjadi tidak bersahabat.
"Eh, ada tamu!" seru Zeya yang muncul dari belakang bersama si kembar Zana dan Zando, yang langsung menyambut kedatangan tamunya.
"Ayo, masuk, Bang. Silakan duduk," ucap Zeya dengan ramah.
Setelah dipersilakan masuk, Darrel dan anak-anaknya pun duduk di sofa ruang keluarga. "Ini pasti Zayn dan Zoey, ya?"
Zayn dan Zoey mengangguk malu-malu, karena itu pertama kalinya mereka bertemu.
Zeya tersenyum lalu menoleh ke arah Zana dan Zando. "Sayang, Zayn dan Zoey diajak main, ya?" pintanya pada kedua anaknya.
"Siap, Ma." Zana dan Zando lalu mengajak Zayn dan Zoey ke tempat bermain mereka.
"Ada angin apa nih, tumben Bang Rel datang kemari?" tanya Zeya setelah anak-anak menjauh.
Darrel mulai menceritakan apa yang dialaminya beberapa jam lalu yaitu gerobak motor kopinya yang disita oleh Satpol PP. Lalu tercetus ide untuk membuat aplikasi kopi keliling, tetapi dia sangat kesulitan memahami kode-kode yang menurutnya sangat rumit.
"Abang datang kemari, mau minta bantuan Zeya mengajari cara membuat aplikasi untuk bisnis kopi keliling yang sedang abang rencanakan."
"Wah, ide bagus banget itu, Bang! Ze pasti akan bantu dengan senang hati," jawab Zeya dengan antusias, sangat tertarik dengan ide tersebut.
"Kamu serius mau mengajari Bang Rel, Sayang? Tapi...." kata Daniel dengan nada cemas.
"Kamu masih saja cemburu sama abang, Niel?" potong Darrel dengan cepat. "Tolong, singkirkan rasa itu dulu. Lebih baik kamu temani anak-anak bermain, biar abang bisa belajar dengan tenang dan cepat pulang."
Dengan terpaksa Daniel mengangguk, menyetujui permintaan Darrel meskipun wajahnya menunjukkan bahwa dia tidak terlalu rela melihat istrinya hanya berduaan dengan abangnya.
Namun, sebelum benar-benar menjauh, Daniel menoleh ke arah Zeya dan berkata dengan nada tegas, "Sayang, jaga jarak ya, sama Bang Rel. Duduknya jangan terlalu dekat. Ingat ya, kalian bukan muhrim!"
Darrel dan Zeya hanya bisa menatap Daniel dengan jengah. Mereka menggelengkan kepala, menganggap sikap Daniel sedikit terlalu lebay.
.
Setelah Daniel pergi, suasana di ruang keluarga terasa jauh lebih tenang dan kondusif untuk berdiskusi. Darrel segera membuka laptopnya, kemudian menghidupkannya dan menampilkan halaman tutorial pemrograman yang sudah dia buka sebelumnya.
"Lihat Ze, dari tadi abang sudah coba ikutin tutorial ini, tapi pas sampai bagian struktur database dan integrasi fitur pemesanan, abang bingung banget sama istilah-istilah yang ada," ujar Darrel sambil menunjuk ke layar laptop.
Zeya mendekat sedikit untuk melihat lebih jelas, sambil menjelaskan dengan kalimat yang mudah dipahami. "Itu semua memang terdengar rumit di awal, Bang. Tapi sebenarnya tidak sesulit yang Abang bayangkan." Kemudian Zeya menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh kakak iparnya.
Darrel mengangguk perlahan, mulai merasa sedikit lebih paham. Dia lalu menjelaskan pada Zeya seperti apa aplikasi yang ingin dibuatnya.
"Oke, ide itu sangat jelas dan praktis. Kita bisa mulai dari pemilihan platform pembuatan aplikasi yang sesuai dengan kemampuan Abang dulu."
Zeya mulai mengajari Darrel langkah demi langkah. Dia tidak langsung masuk ke bagian kompleks, melainkan memulai dari dasar pengaturan lingkungan kerja yang diperlukan. Setelah itu, dia membimbing Darrel membuat struktur aplikasi sederhana dengan tampilan yang jelas dan mudah dipahami oleh pelanggan.
"Ada tiga fitur utama yang perlu kita fokuskan dulu," jelas Zeya sambil mengetik di keyboard sambil menjelaskan setiap langkahnya, "Pemesanan online untuk pelanggan memesan, peta lokasi yang bisa diperbarui kapan saja, dan halaman informasi menu beserta harga yang jelas."
Darrel mengikuti setiap penjelasan dengan cermat, mencatat poin penting di buku catatannya. Kadang dia bertanya ketika ada hal yang kurang jelas—misalnya tentang cara menyambungkan fitur lokasi dengan ponsel atau cara mengatur sistem konfirmasi pesanan. Zeya selalu menjawabnya dengan singkat dan lugas, bahkan kadang langsung menunjukkan cara mengerjakannya agar Darrel lebih mudah paham.
Setelah beberapa waktu, mereka mulai menguji setiap fitur satu per satu. Darrel mencoba membuat akun sebagai pedagang, mengunggah foto menu kopinya, dan mencoba memperbarui lokasi dengan alamat rumahnya.
Kemudian Zeya meminta Darrel untuk mencoba menjadi pelanggan dengan menggunakan ponselnya—memesan kopi, memilih jenis pesanan, dan mengirimkan pesanan. Saat notifikasi pesanan muncul di panel admin yang mereka buat, Darrel langsung tersenyum puas.
"Sudah paham cara kerjanya semua nih, Ze," ucap Darrel dengan penuh kepercayaan, "Dari daftar pedagang, kelola menu, sampe konfirmasi pesanan abang sudah bisa sendiri."
"Bagus, Bang! Sekarang aplikasi sudah siap digunakan," jawab Zeya dengan senyum bangga. Dia juga memberikan catatan kecil tentang hal-hal yang bisa Darrel tingkatkan kelak, tetapi menekankan bahwa versi sekarang sudah bisa berjalan dengan baik.
"Terima kasih banyak, kamu sudah mau mengajari abang. Ilmunya sangat bermanfaat," ucap Darrel dengan tulus dan bersungguh-sungguh.
"Sama-sama, Bang," jawab Zeya.
Setelah itu, Daniel datang bersama anak-anak. Zana dan Zando bahkan sudah tidak mau lepas dari Zayn dan Zoey. Darrel berjanji untuk bermain lagi lain hari.
"Bye, Zana dan Zando," seru Zayn dan Zoey sambil melambaikan tangan.
Zana dan Zando membalas lambaian tangan sepupunya meski dengan berat hati.
Dengan mengendarai motor maticnya, Darrel bersama kedua anaknya meninggalkan rumah Daniel. Hatinya dipenuhi semangat—dia sudah tidak sabar untuk menguji aplikasi yang baru saja dia buat sendiri.
.
Setelah sampai di rumah, Darrel langsung membuka laptop dan ponselnya untuk mencoba aplikasi tersebut secara langsung.
Kemudian dia membagikan tautan aplikasi ke grup WhatsApp para pedagang kopi keliling dan mengunggahnya di media sosial. Tak lama kemudian, ada tiga pedagang yang langsung mendaftar dan satu pelanggan yang memesan kopinya melalui aplikasi. Dengan cepat Darrel mengkonfirmasi pesanan dan menyiapkan kopinya—ini pertama kalinya dia menggunakan aplikasi yang dia buat sendiri untuk melayani pelanggan dari rumahnya.
"Berhasil!" gumam Darrel dengan senyum lebar sambil menyusun pesanan yang akan diantar ke pelanggan. Aplikasi yang dibuatnya sudah mulai memberikan hasil yang baik.
"Sayang, siap antar kopi ke pelanggan?" tanyanya pada anak-anak.
"Siap, Papa!" seru keduanya dengan antusias.
Mereka pun langsung meluncur ke alamat pelanggan pertama mengantarkan pesanan kopi.
Sesampainya di alamat yang dituju, Darrel langsung memencet bel rumah tersebut. Tak lama kemudian pintu terbuka, muncullah seorang gadis manis dari dalam rumah.
Darrel langsung terkejut, matanya tidak bisa berpaling dari wajah manis gadis yang kini berdiri di depannya.
Sementara sang gadis juga tak kalah terkejut, wajahnya yang tadi tersenyum langsung berubah menjadi sedikit kaku.
.
Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya?