Erika yang polos dan miskin jatuh cinta pada Evans, lelaki tampan dan kaya, lelaki yang sangat diidam-idamkan banyak wanita.
Mencintai Evans sama seperti menggenggam mata pisau, semakin menggenggamnya erat semakin berdarah-darahlah yang kamu rasakan.
Rasa kecewa dan sakit hati, itulah yang dirasakan Erika sejak bersama Evans. Tapi Erika tidak mampu melepaskan lelaki itu.
Mampukah Erika meraih hati Evans sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sun Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Buta?
"Evans, apa yang terjadi? jelaskan pada Papa." Saat ini Evans berada di ruang kerja ayahnya. Sebelumnya, setelah makan malam, Tuan Ducan mengajaknya untuk berbincang di sana. Kali ini ayahnya hendak membahas tentang Anna. Ayahnya sudah tahu bahwa Evans sudah putus dengan Anna, dan tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Tetapi Evans sepertinya bertindak lebih. Secara halus dia menekan laju perusahaan keluarga Bilea, orang tua Anna.
"Aku melakukan itu hanya memberi sedikit pelajaran untuk Anna, Pa. Nanti juga akan kembali normal," jawab Evans.
"Papa tidak mengerti kenapa kamu melakukan itu. Tapi kamu perlu ingat bahwa orang tua Anna adalah orang baik. Jangan karena anaknya, kamu malah bersikap tidak adil." Tuan Ducan mengantisipasi.
"Iya, Pa. Jangan khawatir. Aku tahu batasku."
Evans sadar betul bahwa dia telah menyakiti Anna. Tetapi Evans merasa tidak sepenuhnya bersalah. Dari awal dia sudah mengatakan pada Anna bahwa dia tidak mencintainya. Dia hanya mengatakan pada Anna bahwa dia akan mencobanya, mencoba berpacaran padanya. Dan kalau memang ini tidak berhasil, bukankah sudah seharusnya ini diakhiri. Daripada berlama-lama hanya akan lebih menyakiti Anna.
Tetapi justru Anna yang sudah kelewat batas. Bagaimana bisa dia melakukan kekerasan fisik pada perempuan lemah seperti Erika? Menamparnya berulang kali, bahkan hingga membuat Erika memar terbentur tembok. Padahal Erika tidak memiliki salah apapun padanya. Kalau dia ingin marah, cukup lampiaskan pada Evans saja. Kenapa harus melampiaskannya pada Erika?
Apalagi Erika adalah gadis yang disukai Evans saat ini. Hati Evans merasa tidak adil kalau dia belum mengambil tindakan apapun atas kesalahan Anna terhadap gadisnya itu.
***
Erika terseyum di kamarnya sambil memandang ke arah cermin, hatinya benar-benar gembira sekali. Beberapa hari di kampus rasanya hanya beberapa menit karena Evans telah kembali hadir di kehidupannya.
Anna juga tidak mengganggunya lagi. Begitu pula dengan yang lainnya. Walaupun pandangan mata mereka tetap menunjukkan kebencian. Bagi Erika itu bukan suatu masalah walaupun terkadang dia merasa risih.
Asalkan ada Evans di sampingnya, rasanya semua masalah bukan masalah lagi. Sekali lagi Erika tersenyum.
"Erika?"
"Eh? Kak Danish bikin terkejut ah," ucap Erika dengan nada manja.
"Padahal suara Kakak pelan deh. Kamu sedang memikirkan apa sampai senyum-senyum begitu?" Danish tersenyum sambil masuk ke dalam kamar Erika lalu duduk di kasur.
Erika tampak ragu menjawab. Jujur dia belum menceritakan apa-apa pada keluarganya tentang hubungannya dengan Evans yang sudah membaik bahkan sudah kembali berpacaran.
"Bagaimana ini? Apa aku harus memberitahu mereka? Pasti Ibu dan Kak Danish marah."
"Eum.. Kak. Ada yang mau kubicarakan tentang... Eum.. Kak Evans," ucap Erika ragu-ragu.
"Evans? Apa dia mengganggumu?" Dahi Danish mengerut.
"Bukan Kak. Sebenarnya..." Erika menunduk. Kembali ragu untuk mengatakannya.
"Ada apa?" tanya Danish penasaran.
Beberapa hari ini Erika berubah ceria dan bersemangat makan. Danish menyadari hal ini. Pasti ada penyebabnya. Dia merasa lega tapi mendengar nama Evans membuat Danish kembali khawatir.
"Sebenarnya aku dan Kak Evans sudah berpacaran Kak," ucap Erika lambat dengan suara rendah.
"Hah?" Benar-benar membingungkan bagi Danish.
"Erika, ada apa denganmu?" tanyanya tak mengerti.
Erika menunduk diam membisu.
"Pacaran? Apa maksudmu, Erika?" Danish menghela nafas kasar.
"Aku cinta Kak Evans, Kak." Suara Erika tampak membujuk.
"Tapi dia bukan pria baik-baik. Kamu harus ingat dia pernah melecehkanmu, Erika!" Suara Danish meninggi.
Erika terkejut mendegar suara Danish yang meninggi. Biasanya Danish selalu berbicara lembut padanya.
"Kak. Itu mungkin karena Kak Evans sangat menyukaiku makanya dia lepas kendali menciumku. Bisa saja kan Kak? Dia juga sudah meminta maaf dengan tulus untuk persoalan itu. Dia menyesalinya Kak dan tak akan mengulanginya." Erika memberikan penjelasan, berupaya agar Danish memakluminya.
Danish menggelengkan kepala. Bagaimana bisa dia membiarkan adik satu-satunya yang dia sayangi berpacaran dengan pria yang jelas-jelas sudah melecehkan adiknya itu di hadapan umum? Bahkan adiknya sudah sangat menderita, sampai kurus dan jatuh sakit karena ulah pria itu.
"Aku tidak akan mengizinkanmu pacaran dengan pria tak berakal itu! Putuskan sekarang juga!" Danish terpancing emosi.
"Aku tidak mau, Kak," jawab Erika pelan.
"Erika!" Danish membentak. Erika terkejut mendengar suara Danish.
"Ada apa ini? Tidak biasanya kalian bertengkar," tanya ibu Wilma langsung, begitu dia masuk ke dalam kamar Erika.
Danish menghela nafas pelan.
"Ibu. Erika berpacaran dengan si Evans itu." Danish memberitahu ibunya.
"Apa? Apa kau sudah gila?" Ibu Wilma mulai emosi terhadap Erika.
"Ibu.. Kak Evans sudah minta maaf. Aku mohon jangan larang kami, Bu." Erika memelas. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Tidak. Ibu tidak setuju. Kamu putuskan dia segera. Ibu tidak mau kamu sakit lagi gara-gara dia," tegas Wilma pada putrinya itu.
"Justru kalau Ibu dan Kak Danish tidak setuju, aku akan sakit!" Suara Erika bergetar. Air matanya luruh.
"Erika, Kakak mohon putuskan dia. Kakak tidak mau kamu terluka. Dia tidak baik untukmu." Suara Danish melemah tampak membujuk. Danish memang tidak tahan melihat air mata adik satu-satunya itu.
"Aku nggak mau, Kak. Kumohon jangan paksa aku. Aku sangat mencintai Kak Evans," ucap Erika sambil menangis.
"Apa kau bodoh!" teriak Wilma merasa konyol akan cinta buta putrinya. "Sampai kapanpun Ibu tidak setuju. Dia sudah merendahkanmu berarti merendahkan keluargamu juga. Kita miskin tapi kita punya harga diri. Jadi Ibu perintahkan agar kalian segera putus," ucap Wilma tegas lalu meninggalkan kamar Erika.
Saat pagi hari mata Erika sembab. Wajahnya murung sambil memakan sarapannya. Danish hanya diam saja memperhatikan Erika.
"Aku harus menemui pria itu segera. Dia tidak boleh macam-macam dengan Erika atau dia harus berhadapan denganku." Danish bertekad dalam hati.
Sejak melihat langsung kejadian Evans mencium paksa Erika hingga bibirnya berdarah. Danish sudah menganggap Evans sebagai sosok pria brengsek. Seorang playboy yang harus disingkirkan dari kehidupan Erika.
Visual Danish👆
***
Erika serius mendengarkan Dosen mengajar. Lalu ponselnya berbunyi.
drrrrt drrrt
Satu pesan masuk. Erika segera melihat ponselnya diam-diam.
Evans
"Erika. Aku tidak ke kampus hari ini. Aku di kantor. Jam berapa kamu pulang? Aku jemput."
Erika pelan-pelan membalas pesan Evans.
Erika
"Jam empat sore, Kak."
Evans
"Okay. ❤"
Erika tersenyum melihat emoji hati dari Evans.
"Kenapa senyum-senyum? Ada yang lucu?" tanya dosen tiba-tiba pada Erika. Semua mata memandang pada Erika.
"Maaf Pak," ucap Erika langsung memasukkan ponselnya dalam saku.
"Fokus atau keluar saja!"
"Saya akan fokus Pak. Maafkan saya."
"Huuu!!!" Semua yang ada di dalam ruangan bersorak." Erika merasa malu sekali.
Visual Evans 👆
Bersambung.
Terima kasih buat para pembaca setia 😉 Jika belum klik Favorit diharapkan mengkliknya. Tujuannya untuk mendapat notifikasi update cerita ini. Dan jangan lupa Klik Like nya juga! Ntar kita update lagi. 😉