NovelToon NovelToon
Diam-diam Hamil Anak Mantan

Diam-diam Hamil Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Mantan / Romansa / Cintapertama
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.

Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.

Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.

Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"Aku sangat mencintaimu."

Kalimat itu meluncur dari bibir tipis dengan polesan lipstik merah yang kini mulai berantakan, berbaur dengan napas yang memburu. Ucapan itu terdengar seperti melodi yang menenangkan, membuat lelaki di atas tubuhnya semakin kehilangan kendali.

"Ini adalah ungkapan cintaku padamu. Aku harap kamu tidak akan pernah melupakanku," lanjut suara lembut itu, kini terdengar sedikit bergetar, entah karena perasaan yang begitu dalam atau kelelahan yang mulai menyerang.

Lelaki itu, Yudha, tersenyum, matanya berbinar seolah dunia miliknya kini hanya berisi wanita itu. "Sonya, kamu begitu luar biasa. Aku janji, setelah ini, aku akan pergi ke rumah orang tuamu dan akan meminangmu. Aku ingin kita selalu bersama."

Wanita muda yang kini berada di bawah dekapannya tersenyum manis. Namun, dari sorot matanya terpancar rasa kesedihan yang begitu mendalam. Entah karena ia telah menyerahkan keperawanannya kepada lelaki yang dicintainya, atau karena ada luka di hatinya yang tak mampu diungkapkan. Hanya saja, kesedihan itu seketika lenyap saat lelaki itu terus menghujaninya dengan ciuman penuh cinta.

Setengah jam berlalu begitu saja. Keduanya telah mencapai puncak kenikmatan, lalu tertidur dalam pelukan satu sama lain.

Sonya Prawira, gadis 21 tahun yang kini sudah tidak bisa dibilang gadis lagi, melirik jam di ponselnya. Pukul 04.00 WIB. Ia memaksakan tubuhnya yang lemah untuk bangkit dan bergegas ke kamar mandi. Ia harus segera membersihkan diri dan mengakhiri kesenangan sementara ini.

"Apa kamu tidak merasa sakit? Kenapa buru-buru mandi?" tanya Yudha, yang masih terbaring di ranjang, berselimut kain putih lalu memandangi Sonya penuh cinta.

Sonya yang kini sedang menata riasannya di depan cermin, menjawab dengan nada santai, "Aku hanya risih. Bau keringatmu menempel di tubuhku."

Di depan cermin, Sonya melihat bekas-bekas ciuman Yudha di leher, pundak, dan bagian lainnya. Ia sengaja membiarkan warna keunguan itu tetap terlihat, menandakan bukti cinta Yudha yang telah melekat di tubuhnya.

"Sayang, kenapa kamu berkata begitu? Bukankah wajar kalau keringatku menempel di tubuhmu? Lagi pula, setelah ini kita akan selalu menghabiskan waktu dan berkeringat bersama," ucap Yudha malu-malu.

Bagi Yudha, kesalahan fatal ini mungkin adalah satu-satunya jalan agar ia bisa bersatu dengan Sonya. Ya, hubungan asmara yang sudah terjalin selama tiga tahun tak kunjung mendapatkan restu dari orang tua Sonya. Alasannya sederhana, Yudha dianggap tidak sepadan dengan Sonya.

"Apa kamu masih bermimpi?" Sonya mendadak bersikap ketus.

"Apa maksudmu?"

Yudha sama sekali tidak menyangka perubahan sikap Sonya yang seratus delapan puluh derajat ini. Ia masih mengingat dengan jelas ungkapan cinta Sonya beberapa waktu lalu yang membuat mereka berakhir di hotel ini.

"Orang tuaku benar. Kita itu tidak sepadan. Lihatlah dirimu, secara ekonomi apa kamu bisa menghidupiku? Bisnismu yang baru dirintis saja belum menunjukkan hasil. Aku, yang sejak lahir hidup dengan segala kemewahan, mana mungkin mau hidup susah. Jadi, bangunlah dari mimpimu."

Yudha menatap Sonya dengan perasaan penuh kebingungan. Selama tiga tahun ini, Sonya tidak pernah memandang rendah dirinya. Wanita itu bahkan rela menemaninya makan di pinggir jalan saat uangnya hanya tersisa lima puluh ribu rupiah.

Dengan langkah cepat, Yudha bangkit dan menghampiri Sonya. "Sayang, ada apa ini? Apa orang tuamu kembali memberikan tekanan? Ceritakan padaku, kita bisa menyelesaikannya bersama."

"Mereka sudah tidak memberikan tekanan. Apa yang aku katakan barusan adalah sebuah fakta yang baru aku sadari. Apa aku salah?" Sonya menyingkirkan tangan Yudha dari pundaknya, seolah menyingkirkan kotoran.

Yudha hampir frustrasi. Baru kali ini Sonya terlihat begitu berbeda. "Sayang—"

"Yudha Anggara, apa kamu tidak sadar? Kamu tidak punya apa-apa, tidak ada orang tua, tidak ada harta—"

"Sonya, cukup!" bentak Yudha, memotong ucapan Sonya.

Sonya tahu Yudha sangat sensitif jika membahas soal orang tuanya, mengingat lelaki itu selama 25 tahun hidup di panti asuhan.

"Jadi, apa kita bisa mengakhiri ini semua?" tanya Sonya, matanya yang berbentuk almond mulai berkaca-kaca.

"Akhiri apa? Aku akan tetap datang ke rumah orang tuamu dan meminangmu. Kita sudah membuat kesalahan fatal ini," tegas Yudha.

Meskipun hatinya terluka oleh kata-kata Sonya, Yudha tidak peduli. Sonya adalah wanita yang ia cintai, tidak peduli seberapa sakit perasaannya, selama Sonya tetap di sisinya, ia akan mengubur rasa sakit itu.

Sonya tertawa kecil seperti mengejeknya, sebelum berkata, "Kamu tenang saja. Justru kesalahan fatal ini membuatku sadar kalau aku harus segera mengakhiri hubungan ini. Andai aku hamil anakmu, setidaknya anak ini bisa mendapatkan kehidupan yang layak secara finansial."

"Sonya!" Yudha mencengkeram bahu Sonya dengan kuat, memaksanya berdiri sejajar dengannya. "Aku pikir kamu berbeda dari wanita kaya lainnya. Tapi ternyata kamu sama saja. Aku salah menilaimu."

"Jangan salahkan aku. Salahkan dirimu sendiri yang tidak mampu! Dan aku tidak peduli dengan penilaianmu."

Sonya menahan rasa sakit di pundaknya, tapi ia tetap bersikap dingin. "Sebagai wanita dengan kecerdasan di atas rata-rata, bukankah aku harus memilih orang tuaku daripada dirimu yang hanya seorang gembel?"

Pernyataan itu seperti tombak yang menancap dalam di hati Yudha. Dengan berat hati, ia mengendurkan cengkeramannya.

"Sayang, lihat mataku. Katakan kalau kamu tidak mencintaiku lagi," perintah Yudha dengan suara bergetar. Ia ingin mencoba sekali lagi peruntungannya karena Yudha sangat yakin jika Sonya sangat mencintainya.

Sonya menatapnya lekat-lekat, menarik napas panjang, dan dengan tatapan tegas berkata, "Aku sudah tidak menginginkanmu lagi. Kita akhiri semuanya."

Runtuh sudah harapan Yudha. Lelaki itu membeku, tubuhnya mendadak lemas.

Tak lama, Sonya berkata datar, "Aku pergi dulu. Hari sudah pagi. Setelah membersihkan diri, lebih baik kamu segera pergi. Aku membayar hotel ini hanya sampai jam tujuh pagi."

Tanpa menunggu jawaban Yudha, Sonya berbalik. Langkah kakinya cepat namun terukur, seperti melarikan diri dari sesuatu yang tak ingin ia hadapi. Pintu kamar tertutup perlahan, meninggalkan Yudha dalam kebingungan dan keheningan yang mencekam.

Namun, di balik sikap dinginnya, dunia Sonya seolah runtuh. Ia hampir tersandung saat berlari menuju toilet umum di lorong hotel. Begitu tiba, ia memutar kunci pintu, membiarkan tubuhnya bersandar pada dinding keramik dingin. Tangisnya pecah tanpa tertahan. Suara isakannya memenuhi ruang sempit itu, seperti merayakan luka yang ia sembunyikan terlalu lama.

"Kenapa..." suaranya tercekat, terhenti di antara napasnya yang terisak. "Kenapa harus sesakit ini mencintainya? Apa cinta kami harus terpisah karena kasta?"

Air matanya jatuh deras, membasahi pipi dan melunturkan riasan yang sudah ia poles dengan sempurna. Rasa perih di dadanya semakin dalam, seperti ada pisau yang perlahan menusuk, memutar, dan mencabik. Ia tahu, ia mencintai Yudha dengan seluruh hatinya, tapi dunia tempat mereka hidup tidak pernah memihak cinta semurni itu.

Di tengah isak tangisnya, bunyi nyaring ponsel yang berdering mengagetkannya. Jemarinya yang gemetar menggapai ponsel di tasnya. Layar menyala, memperlihatkan nama yang selalu membuatnya merasa kecil—Ayah.

Dengan berat hati, ia menempelkan ponsel itu ke telinganya. Suara dingin dan tegas di seberang terdengar tanpa basa-basi.

"Kamu di mana? Segera pulang. Keluarga calon suamimu sudah datang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!