NovelToon NovelToon
La Señorita

La Señorita

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:15M
Nilai: 4.9
Nama Author: Alianna Zeena

Karena terlilit hutang, Lucia harus rela menjadi pelayan di sebuah mansion dan mengabdikan dirinya pada pria yang menjadi tuannya. Bukan hal mudah untuk Lucia bekerja di sana, tuannya adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di Madrid.

Louis nama pria yang mendapat julukan jaguar hitam. Dengan masa lalunya yang kelam, dia membunuh tanpa kasihan. Hatinya dingin tidak tersentuh, hanya ada kekejaman dalam hidupnya.

Lucia mencoba tidak terlibat apa pun dengan Louis. Sayangnya, malam yang kelam memaksa Lucia menerima semua benih dari Louis. Sampai akhirnya Lucia hamil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alianna Zeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

La Señorita 25 : El ultimo diamante

Vote sebelum membaca😘😘

.

.

Dengan pelan, Louis membaringkan tubuh putrinya di atas ranjang. Hatinya teriris melihat bagaimana dia mendapatkan luka di dahinya. Setiap cerita yang keluar dari mulutnya, tentang bagaimana Amelia membuat Louis marah. Ingin dia membunuhnya saat itu juga, tapi ada alasan kuat yang menahan. Setidaknya, kelumpuhan Amelia kali ini membuatnya tenang. Memanipulasi keadaan menjadi kecelakaan.

"Tidurlah, Little Bunny, besok akan menjadi hari yang baru untukmu," ucapnya menyelimuti putrinya dan mengecup keningnya lama.

Ketika Louis keluar dari kamar Louisa, dia berpapasan dengan Norman yang hendak turun ke lantai dasar dengan membawa buku di tangannya. "Pembeli meminta ini, aku akan melelangnya dengan harga tinggi, Señor."

"Undang Jullian Hudson, aku pikir dia ingin melihat kondisi klan kita."

Dengan ragu, pria latin itu mengangguk. "Sí."

"Dan terima kasih untuk hari ini." Tatapan kedua pria itu bertemu. "Apa yang kau inginkan?"

Norman terkekeh, dia menunduk sesaat sebelum mengangkat bahu. "Tidak ada yang aku inginkan, biarkan saja aku lebih lama di sini."

"Kakekmu menunggu kepulanganmu, aku dengar namamu sudah tercantum di surat wasiatnya."

Pria itu mengangguk. "Aku akan sibuk dengan lembaran kertas daripada berkeringat jika kembali ke Meksiko, Louis."

Kalimat yang mengakhiri pembicaraan mereka. Pria latin itu pergi menuruni tangga. Sementara Louis harus memastikan satu orang lagi. Lampu mansion sudah padam. Memang dirinya datang larut malam, dikarenakan Louisa yang ingin bermain bersama Jullian. Setidaknya, pria itu membantu trauma Louisa hilang. Perlahan hilang hingga tidak mengubur rasa percaya dirinya. 

'Señorita enggan makan sedikitpun, dia masih terjaga di pintu hingga akhirnya mual mengalahkan dan membuatnya tertidur.' Itulah kalimat Andrean yang mengingatkannya akan kondisi Lucia.

Benar saja, perempuan itu tertidur dengan kening berkerut penuh kegelisahan. Bibirnya pucat, dan yang paling Louis khawatirkan adalah kesehatannya. Pria itu mendekat, meraba kening Lucia yang memang agak hangat. 

Louis duduk di bibir ranjang. Makanan yang dibawakan pelayan masih utuh di atas meja. Oleh sebabnya, Louis mengguncang pelan tubuh mungil itu. "Lucia, bangun, kau harus makan."

Tidak butuh tenaga ekstra, manik Lucia terbuka. Kedatangan Louis membuatnya mendudukan diri. "Dimana Louisa?"

"Tenanglah, dia sudah tidur di kamarnya."

"Aku ingin melihatnya."

Kedua tangan Louis menahan bahu perempuan itu agar tetap berada di atas ranjang. "Kau akan melihatnya segera, setelah kau makan."

"Aku ingin melihat putriku, Señor."

"Dan aku ingin kau baik-baik saja." Kali ini kalimat yang dikeluarkan Louis penuh penekanan, membuat Lucia terdiam seketika. "Makan, dan kita akan melihat Louisa bersama."

"Aku harus memastikan dia baik-baik saja."

"Kau tidak percaya padakku?"

Keterdiaman Lucia membuat Louis menempelkan telapak tangan perempuan itu pada dadanya. "Rasakan itu, aku tidak berbohong sama sekali," ucapnya dengan manik hitam yang menatap tajam.

"Aku tidak ingin kau sakit, turuti perkataanku, dan kita akan melihat Louisa."

Lucia menunduk ketika Louis mengambil bagian makan malamnya. Diatas ranjang, mereka saling berhadapan, dengan angin yang masuk lewat jendela yang terbuka, tirai putih itu tertiup angin, membawa rambut indah Lucia berterbangan. Dia membuka mulutnya saat Louis menyuapi.

Wajahnya terlihat datar, tanpa ekspresi apapun. Tapi mata hitam yang menghipnotis itu menyalurkan perasaan yang membuat Lucia menghangat.

Apalagi ketika sudut bibirnya menyisakan saus kacang, Louis mengusapnya dengan ibu jari. Dan tanpa jijik, dia menjilatnya.

"Ayah Amelia merupakan orang penting di pemerintahan yang mengincarku. Dan Amelia, dia memiliki file penting tentang semua kejahatan Dioses La Asesinos, aku tidak bisa membunuhnya sekarang ini, aku harus mencari di mana file itu berada sebelum ayahnya menemukan. Dia enggan memberitahuku."

"Bagaimana bisa dia memilikinya?"

Louis menyuapi Lucia sebelum menjawab, "Kematian Penelope membuatku mengira takkan menemukan apapun lagi. Aku bekerja sama dengannya, dia memberiku bijih besi, dan aku memberinya akses pada Ricco."

"Ricco?"

"Antek-antek Dioses La Asesinos."

Wajah Lucia berpaling. "Aku sudah kenyang, aku ingin melihat Louisa."

Louis yang sudah mengangkat sendok di tangannya itu memberi tatapan tajam, hal yang tidak membuat Lucia takut. "Aku benar-benar kenyang, aku hanya ingin melihat Louisa."

"Ya, kau akan melihatnya." Louis menyimpan nampan itu di nakas, dia membuka kaos hitam yang membuat Lucia memalingkan kembali wajahnya. "Setelah kita mandi."

"Aku tidak ingin mandi, aku ingin melihat keadaan Louisa."

"Kau demam, hidungmu mengeluarkan cairan, kau bisa menulari Louisa."

Mulut Lucia terbuka, bertanya dalam pikirannya sendiri. 'Hanya Louisa yang dia pedulikan?'

Tembakan itu dihindari telak dengan lanjutan kalimat Louis, "Dan kau tidak boleh sakit," ucapnya lalu menggendong Lucia ke kamar mandi.

Dalam pelukannya pada leher Louis, Lucia bertanya, "Apa dia terluka?"

"Sorry."

"Seberapa parah lukanya?"

"Benturan di kening."

"Apa dia ketakutan?"

Tatapan mereka bertemu saat Louis menurunkan Lucia di bawah shower yang belum dinyalakan. Batas Lucia yang sedikit di atas dada membuat Louis menunduk. "Temanku memiliki terapi baik untuk menghilangkan traumanya."

"Dan Amelia?"

Menyelam sambil minum air, Louis membuka kancing pakaian Lucia sambil menjawab, "Takkan aku biarkan dia menyentuh kita lagi."

"Aku takkan tenang sampai dia benar-benar hidup di negara berbeda dengan kita."

Ucapan Lucia dengan bibirnya yang bergetar membuat Louis menatap manik birunya yang berkaca-kaca. Perempuan yang hanya memakai pakaian dalam itu dibalikan oleh Louis hingga membelakangi tubuhnya.

Dirasakannya, pria itu memeluknya dari belakang dan mencium tengkuknya. 

"Aku tidak ingin bersetubuh."

"Itu sebabnya aku membalikan tubuhmu, kita hanya akan mandi," ucap Louis menyalakan shower dengan pengaturan air hangat. Dengan aroma lavender yang ikut serta mengharumkan. Perlahan, Louis melepaskan sisa kain di tubuh Lucia.

"Tidak ada lagi yang akan menggores kulitmu, tidak akan ada lagi yang mengancam, merendahkan, siapapun itu."

Hati Lucia menghangat merasakan Louis memeluknya dari belakang. Wajahnya terangkat menatap pantulan dirinya sendiri dalam cermin, wajahnya yang basah, dengan rambut yang menghalangi sebagian wajah mengingatkan Lucia pada wajah Penelope. Dirinya benar-benar mirip dengan kekasih hati Louis. 

Pria itu mungkin memeluknya dari belakang, menenggelamkan wajah di lehernya, tapi Lucia yakin pikiran pria itu hanya pada Penelope.

Mandi bersama yang singkat, tidak ada banyak kata yang keluar. Bahkan ketika berpakaian, Lucia dan Louis sama-sama membisu. Meskipun begitu, Louis tidak jarang memberinya sentuhan-sentuhan yang membuatnya terlena, sesaat mengira dirinya adalah wanita yang dipuja Louis. Kenyataannya, masih ada foto Penelope di kamar ini.

Lucia berjalan lebih dulu menuju kamar Louisa, di sana dia melihat putrinya tidur terlelap dengan boneka di tangannya. Lucia duduk di bibir ranjang, mengusap kepala putrinya yang sangat dia sayangi.

Jika saja Louis tidak menyentuh bahunya, dia takkan menyadari keberadaan pria itu. Dengan segera, pemilik manik biru mengusap air matanya yang hampir jatuh.

"Aku akan membiarkannya tidur," ucap Lucia keluar dari kamar. Diikuti Louis dari belakang.

Sedetik setelah Louis menutup pintu, Lucia berhambur memeluknya erat. "Terima kasih telah membawanya pulang, maaf aku tidak menjaganya dengan baik."

Tanpa bicara, Louis membalas pelukannya.

"Maaf aku membuatmu marah."

"Kau wanita yang hebat."

Tanpa diduga, pintu kamar terbuka, menampilkan si kecil Louisa yang menggosok matanya sebelum tersenyum mendapati kedua orangtuanya sedang berpelukan. Dia ikut memeluk kaki keduanya. "Lee ikut berpelukan."

***

Sesuai permintaannya, ditengah malam hening beberapa pelayan terbangun untuk menyiapkan kasur di dekat perapian elektronik yang berada di lantai satu. Ruangan untuk membaca itu disulap menjadi kamar hangat dengan televisi yang menayangkan kartun. 

Louis sibuk memerintahkan pelayan untuk mengambil beberapa cemilan, berbeda dengan Lucia yang menasehati putrinya. Sesekali dia mencium tangan Louisa yang duduk di sofa, sementara dirinya bersimpuh di bawah. "Jangan lakukan itu lagi, kau mengerti ucapan Mum 'kan?"7

Mengangguk pelan. "Ya, Mum. Lee memgerti."

"Bagus, Mum sangat khawatir padamu, Mum takut kehilanganmu." 

Adegan itu diakhiri dengan saling memeluk. Dan harus berakhir dengan kalimat, "Hey, girls, kemarilah, teater malam sudah siap."

Louisa tersenyum, dia merentangkan tangan digendong Lucia dan berakhir di kasur lantai yang berdekatan dengan perapian. Pencahayaan yang minim, hanya dari api dan layar televisi. Lucia berada paling dekat perapian. Di atas kepala tiga orang yang sedang tidur itu, tersapat sofa, dimana di atasnya berjajar beraneka makanan yang biasanya disediakan di bioskop.

"Baiklah, Ms.De La Mendoza, apa yang ingin kau tonton?"

"Lee ingin nelihat donald duck," tunjuknya pada salah satu pilihan.

Selimut tipis bercorak kotak menutupi kaki ketiganya, bantal empuk menyangga kepala hingga terlihat begitu nyaman. 

"Daddy rasa ini macet, bagaimana dengan film yang lain?"

"Hem, Hello kitty saja."

"Oke." Louis menekan remote memindahkan pada yang lain. Dia berbaring saat film dimulai, tertidur miring supaya dia bisa memeluk putrinya.

Baru beberapa menit film berjalan, Lucia bangkit berdiri. "Aku ingin ke toilet sebentar," ucapnya meninggalkan ruangan itu.

Louis menelusupkan tangannya, menjadikan bantalan untuk putrinya supaya bisa lebih dekat. "Apa Lee ketakutan hari ini?"

Manik hitamnya mengadah menatap sang ayah. "Tidak lagi, Daddy sudah di sini."

"Maafkan Dady," ucapnya mencium kening yang terluka. "Maafkan aku, Sayang."

"Jullian bilang aku harus belajar dari pengalaman."

"Ya, ya, dia benar." Tidak pernah sedetikpun Louis melepaskan pelukannya. "Berjanjilah kau tidak akan jauh-jauh dari Mum."

"Iyaa." Lalu tatapannya kembali terfokus pada film. Louis yang merasa tidak sealiran dengan Louisa, memilih mengambil berondong jagung dari atas sofa. Menyimpannya di atas perut, dan memakannya. 

Melihat ayahnya yang terlihat menikmatinya, Louisa ikut makan. Sesekali dia menipu Louis dengan berbohong untuk menyuapi. Kikikan Louisa membuat Louis gemas untuk mencubit pipinya.

"Lee akan punya adik 'kan, Dad?"

"Of course, kita akan memilikinya."

"Amelia bilang dia akan menjadi ibuku."

Kunyahan terhenti, Louis mencoba menyembunyikan amarahnya. "Tidak, Sayang, Mum yang akan mengandung bayi-bayi adikmu."

"Apa kalian sudah menikah?" Kepalanya mengadah.

Louis dibuat kebingungan dengan pertanyaan putrinya, tentu saja dia tidak bisa berbohong padanya. "Kenapa kau tanyakan itu?"

"Semua teman Lee punya foto pernikahan ayah ibunya yang dipamerkan di perkemahan saat camp berakhir. Biasanya mereka membuat figura cantik lalu melelangnya pada pengunjung yang datang."

Louis yang diam membawa putrinya untuk kembali bersuara, "Apa Daddy punya?"

"Kau akan segera memilikinya, Sayangku."

"Daddy akan menikahi Mum?"

Louis terkekeh melihat raut wajah senang Louisa. "Akan aku lakukan apapun untukmu," ucapnya mencium pipi putrinya. Tanpa keduanya ketahui, Lucia berdiri diambang pintu, mendengar percakapan itu.

"Kau lama sekali," ucap Louis ketika Lucia datang.

Perempuan itu tidak banyak bicara, dia duduk bersandar pada kaki sofa dan memakan keripik kentang. Matanya fokus pada layar televisi, merasakan hangatnya api yang terhalang kaca pelindung. 

"Lee kenyang."

Segera Louis mengambil botol air. "Minumlah pelan…. Lihat, Daddy bilang pelan," ucapnya mengusap punggung putrinya yang tersedak.

Sesekali mata hitamnya menatap Lucia yang terlihat tidak peduli.

"Daddy, Lee mengantuk."

"Oke." Dia menyimpan mangkuk popcorn di sofa. "Kemarilah."

Tangan mungilnya melingkar di dada Louis, dia menjadikan bahu ayahnya bantalan sambil menatap televisi. "Daddy, berikan Lee sebuah dongeng."

"Kau sedang menonton, itu dongengmu."

"Lee ingin dua cerita."

Mata bulatnya tidak bisa Louis tolak ketika menatap penuh permohonan. Dia mengusap rambut hitam legam putrinya, menciumnya lalu merangkai kalimat, "Suatu hari, ada seorang putri yang disihir menjadi katak karena kecantikannya. Dia hidup di rawa-rawa selama bertahun-tahun. Lalu seorang ibu peri datang, menawarkan pesta dansa untuk bertemu pangeran. Tapi, wujud manusianya hanya bertahan sampai jam 10 malam. Sang putri pergi ke pesta itu, membuat pangeran terpesona. Saat waktu menunjukan pukul 10 malam, sang putri berlari dan berubau menjadi katak. Tanpa sengaja, kaki kataknya menginjak jarum yang membuatnya pingsan. Pangeran frustasi tidak menemukan sang putri, dia memakan apel beracun dari pamannya hingga akhirnya tertidur. Sang putri terbangun karena seorang nutracker mencabut pakunya. Mendengar pangeran tidak kunjung bangun, putri katak itu berlari dan mencium sang pangeran. Akhirnya pangeran terbangun, dengan wujud kataknya dan bahagia selama-lamanya. Selesai…"

Louisa dan Lucia sama-sama terdiam. Hingga akhirnya Louis mendapat cubitan dari perempuan bermanik biru yang membuatnya tertawa keras. "Ha ha ha….."

"Daddy, ceritakan dengan benar! Mana ada pangeran menjadi katak."

Tawa Louis tidak kunjung berhenti, yang mena membuat Louisa kesal dan menggigit hidung mancung ayahnya. Hal itu membuat Lucia terkejut, dia memencet hidung putrinya hingga dia kehabisan napas dan melepaskannya. Bukannya marah, tawa Louis malah semakin keras.

"Daddy!"

"Louis!"

Teriak mereka bersamaan ketika Louis menutup seluruh tubuh dengan selimut. Dan tanpa permisi, pria itu berpindah tempat ke tengah hingga bisa memeluk dan menggelitik keduanya.

"Louis, ini geli…"

"Daddy…. Ha ha ha…"

"Ini cara terbaik untuk cepat tidur."

Ketika Louis berhenti menggelitik, Lucia memberi tatapan pada putrinya untuk menyerang balik. Dan Louis kewalahan mendapat serangan dari kedua perempuan yang disayanginya.

"Ha ha ha…."

Tawa mewarnai ruangan itu, dalam balutan selimut kotak-kotak. Hangatnya api menjadi saksi bisu bagaimana keluarga itu bahagia. Melupakan masalah dunia, yang mereka pikirkan hanyalan, ingin menghentikan waktu untuk sesaat. Lucia tidak bisa berbohong, melihat putrinya tertawa, berada dalam pangkuan Louis, dicium ayahnya, membuat dia senang. Tanpa disadari, dia mengeluarkan air mata bahagia. Untuk menyembunyikannya, Lucia menenggelamkan kepalanya di leher Louis, menatap putrinya yang kelelahan dan kini tengah tidur tengkurap di dada pria bermanik hitam.

***

"Hei, wake up."

Lucia merasa tepukan di pipinya semakin keras, membuat matanya perlahan terbuka. Sadar Louisa tidak lagi di sampingnya, dia panik.

"Tenang, Louisa sedang bersama seorang psikiater."

"Bagaimana jika dia menculiknya lagi? Bagaimana kalau dia manusia jahat?"

"Tenang, Lucia, aku janji kali ini aman," ucapnya memaksa pandangan mereka beradu. "Aku takkan mengulang kesalahan yang sama."

"Aku harus memastikan dia baik-baik saja."

"Percaya padaku."

Lucia terdiam, dia menarik napas dalam dan menyingkirkan lengan Louis di pipinya. Pandangannya mengedar, merasakan tempat yang masih berantakan. Lucia merasakan pusing di kepalanya. "Jam berapa sekarang?"

"Pukul delapan, aku harus bekerja, mandi dan antar Louisa ke sekolah."

Manik biru itu memperlihatkan segudang pertanyaan. "Dia akan sekolah ke pusat kota, Lina dan Mei akan mengawalnya. Aku rasa dia harus bermain dengan sebayanya sebelum mendapatkan adik."

Lucia tidak habis pikir dengan otak Louis, pria yang berjongkok itu mengucapkannya dengan datar. "Setelah semua ini?"

"Lalu apa maumu? Diam mengurungnya di sini? Sampai kapan kita akan membuat Louisa diam di tempat yang sama?"

"Setidaknya sampai dia merasa aman."

"Dia takkan merasa aman sampai keluar dari zona nyamannya. Aku tidak ingin dia sepertimu," ucapnya tanpa ekspresi.

"Apa katamu?"

Bukannya menjawab, Louis malah mencubit hidung mungil Lucia sebelum berdiri. "Bersiaplah, antar dia sekolah."

Manik biru itu menatap malas kepergian Louis, dia menyingkirkan selimut yang menutupi kaki. Sadar dia tidak menggunakan celana dalam, Lucia terdiam. 

'Mungkinkah semalam? Bukan mimpi?'

Ingatan tentang bagaimana dia bercinta dengan Louis, dalam waktu singkat di dekat Louisa. Wajah Lucia memerah seketika. Dia pikir itu mimpi ketika dirinya terlelap. Nyatanya, pria itu memang menyentuhnya ketika kesadarannya tidak penuh. 

'Louis sialan!' umpatnya dalam hati dan segera mencari celana dalam miliknya. Lucia menemukannya di bawah sofa. Dia merogoh dan memakainya.

Ketika dirinya hendak membereskan jejak-jejak percintaannya dengan Louis, dua orang pelayan datang. Mereka menundukan wajah sebelum masuk dan membereskan.

"Biar kami saja yang membereskannya, Señorita."

"Tidak usah," ucapnya mendekap selimut kotak itu.

"Ini pekerjaan kami, Señorita." Salah satunya yang berambut pendek mengambil paksa, dengan senyuman dia berucap, "Saya tidak ingin terkena masalah dengan Señor Louis, tidak apa, anda bisa meninggalkan tempat ini."

Dengan berat hati, Lucia pergi dari sana. Rasanya cukup canggung bicara langsung dengan para pelayan itu. Biasanya, Andrean dan Durina menjadi perantara. 

Salah satu buku pada rak menarik perhatian Lucia, dia mengurungkan niat untuk keluar dari sana. Memilih mengambil buku berwarna cokelat muda tanpa tulisan di sampulnya.

Dan kedua pelayan itu berpikir Lucia telah pergi, mereka malah duduk dan memakan sisa cemilan semalam.

"Bisa kau percaya itu? Wanita tadi awalnya seorang pelayan, kini dia menjadi Nona," ucap yang berambut pendek memulai.

Yang satunya memperingati. "Diam, Señor Louis akan membunuhmu."

Mereka terhalang kursi, mustahil tahu Lucia masih ada di sana. Rambut pendek melanjutkan, "Anaknya mirip dengan Señor Louis, aku yakin dia menggoda Señor Louis dengan lihai."

"Perhatikan ucapanmu."

"Aku membencinya, wajahnya dibawah standar, dia mantan jalang. Umurnya saja baru 24 tahun, kau percaya? Dia melacur di usia muda."

Louisa meremas gaun tidurnya, menahan air matanya untuk keluar. 

"Aku juga membencinya, tapi dia milik Señor Louis, kita harus menghormatinya."

"Menghormatinya? Statusnya bahkan tidak jelas, sungguh menjijikan!"

Bersamaan dengan air mata Lucia yang jatuh, seseorang menggenggam tangannya. Dia mengadah, menatap Louis yang menodongkan senjata ke arah tatapan matanya.

Sebelum Lucia mengeluarkan suara, pelatuk lebih dulu ditarik. Menembus sofa hingga mengenai pelayan berambut pendek. Temannya refleks menjerit, dia berdiri dan menatap Louis ketakutan.

"Tidak boleh ada seorangpun yang menghina ibu dari anak-anakku," ucapnya sambil menggenggam kuat tangan Lucia, senjata Louis masih mengarah pada pelayan yang satunya. "Siapapun itu, mereka akan mati bila melakukannya."

-----

Berlian milik Louis😍

Love,

ig : @Alzena2108

1
Anonymous
kak dri 2020 nunggu karya yg kya gini lg kak
Bellz
kangen jdi baca ulang, Thor kapan comeback
Anonymous
bodoh bgt si lucia ini tolol
wikha Sandra
🤣🤣🤣
riririrururu
Aku balik lagii🫶🏼🫶🏼🫶🏼
☘️⃟🆑🍾⃝🎐⃟ͧC͠ʜᴀᷫғͧɪᷠɪ̽ɴⷡᴛᷧ͜ᴀͤ
kan nangis lagi tiap sampai di part ini 😭😭😭😭😭
Indry
2025 aq download beberapa aplikasi novel buat cari lagi novel ini, salah 1 yg terbaik menurutku, pertama x baca beberapa taon lalu 😍
Indry
Pertama kali baca pas Covid skrg 2025 download apk ini buat cari la senorita 🤩
Indry
Aku instal lagi karna kangen mau baca la senorita 😍
Nur Janah
udah baca th 2022 , baca lagi sekarang th 2025 tpi heran ya gak lupa alurnya
Meli Pahliani
wanita bodoh dan lemah
Meli Pahliani
Lucia bodoh
Tantri Syawal
i hate this novel but i love this novel/Sob/
Tantri Syawal
aaaa wanita ini terobsesi dengan luis
Tantri Syawal
kenapa ceritanya merendahkan wanita 😭
Travel Diaryska
aleman emg lucia ini lama2, ga demen sama tsundere
Travel Diaryska
menurutku lucia ini terlalu overthinking, dramatic 😩 apa salahnya ubah cara pandang
Travel Diaryska
lama2 capek juga mc nya lemah, louisnya yah gitulah gada perkembangan
Rita Sumarwati
hebbaaattt
ian
zee adakah buku abru tentang julian dan louisa?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!