Sejatinya anak adalah Mutiara di dalam sebuah pernikahan. namun tidak demikian dengan Tiara yang justru dianggap pembawa sial oleh wanita yang sudah melahirkannya.
Ia disalahkan sebagai penyebab hancurnya impian sang ibu, yang jelas jelas bukan salahnya.
Bu Nani belum bisa berdamai dengan keadaan dan melampiaskan kekecewaannya kepada Tiara.
Yuk baca kisah Tiara selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dara Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
semua siswa berhamburan menuju lapangan untuk mengikuti upacara bendera.
Tiara berdiri di barisan paling depan, Risty di samping kiri. di belakangnya Dea dan di belakang Risty adalah Rani.
Sedangkan Aldo berbaris di barisan paling depan juga mengimbangi Tiara.
semua murid sudah berbaris rapi dan tertib, upacara bendera pun di mulai.
saat pemimpin upacara memasuki lapangan, itu mampu membuat darah Tiara bergejolak apalagi pemimpin tersebut berhenti tepat di depan tiara.
jantungnya berdetak kencang. ya pemimpin upacara tersebut adalah wahyu.
petugas upacara senin ini adalah kelas delapan dua.
Ada desiran aneh menyelusup ke dalam hati Tiara, seakan perutnya ada kupu-kupu.
ia semangat sekali mengikuti upacara bendera hari ini.
begitu juga dengan Wahyu, tanpa sadar ia mengembangkan senyuman di bibir tipisnya.
"wajahnya.... membuat jatungku tidak aman! " batin Wahyu.
"eh kenapa ni orang senyum-senyum sama Tiara" batin Aldo seakan tidak rela.
"awas aja dia macam-macam sama Tiara Ku" batin Aldo.
ketiga sahabat tiara menyaksikan itu menatap Wahyu dengan tatapan tidak suka.
" bisa-bisanya dia senyam-senyum setelah PHP in Tiara, gak tau malu!" batin Risty.
"dasar buaya! ingin banget aku nonjok mukanya " batin Dea.
"kadal buntung! rasanya ingin ku potong-potong buat bikin sup kadal" batin Rani.
"tapi siapa yang mau makan hehe" batin Rani menahan senyumnya.
tak berapa lama wahyu berbalik menghadap ke depan dan membelakangi Tiara.
"Ra, pindah ke belakang aja yuk" ajak Risty berbisik.
"gak usah, disini aja"
"kamu gak pa pa"
"enggaklah" Tiara berusaha menyembunyikan perasaannya yang sedang campur aduk.
selama upacara berlangsung netra hitam Tiara tak henti-hentinya menatap lekat Wahyu tanpa ada yang menyadarinya.
45 menit sudah, kini upacara sudah selesai.
barisan siswa-siswi juga sudah bubar, ada rasa kecewa menghinggapi hati Tiara. ia seakan tidak rela upacara ini berakhir.
ia merasa ini adalah upacara bendera tersingkat.
Wahyu menatap punggung Tiara menghilang ke dalam kelasnya.
"rasanya aku gak mau upacara ini berakhir" batin Wahyu.
"kalo aja waktu bisa berhenti sebentar, aku ingin seperti tadi terus"
"bro" Bayu menepuk pundak Wahyu yang membuatnya tersadar dari lamunannya
"pagi-pagi jangan ngelamun" ujar Nino
"udah ayo masuk kelas" Bayu merangkul Wahyu dan nino menuju kelas mereka.
"dari tadi kau gak lihat Yosie kemana dia" tanya Bayu
"kenapa nanyain Yosie? "
"gak apa-apa, nanya doang" Bayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"biasanya dia ngintilin kamu terusas, udah kaya orang pacaran aja" timpal Nino.
"dia sakit" Jawab wahyu singkat.
"No ntar pulang sekolah mampir ke rumah Wahyu dulu" ajak Nino pada Bayu.
"mau ngapain?"
"jenguk Yosie lah"
"gak usah repot-repot ada ibu saya yang ngurusin" Larang Wahyu.
"pelit amat " kata Bayu.
"gak usah macam -macam sama sepupuku kalo gak mau patah gigi kalian"
"mana berani yu aku macam-macam sama si Yosie lagi pula kita sahabat kan"
"terus kalau kita sahabat kenapa? "
"boleh ya aku deketin si Yosie" Bayu memelas, ia memang menyukai Yosie sejak pertama kali Yosie pindah ke SMAPelita Nusantara.
Wahyu hanya diam, ia tak menghiraukan ucapan Bayu.
sementara di kelas Tiara anak-anak sibuk bersiap, berganti pakaian olahraga setelah itu menuju lapangan di mana pak Dimas (guru olahraga) sudah menunggu.
"selamat pagi anak-anak" sapa pak Dimas
"selamat pagi pak" jawab anak-anak serentak.
"langsung saja, sebelum kita melakukan kegiatan olahraga hari ini ada baiknya kita melakukan pemanasan dulu"
"baik pak" jawab semua serentak.
mereka mulai memposisikan diri masing-masing mengatur barisan dengan rapi, setelah itu pemanasan pun di mulai.
"kita mulai ya" ujar pak Dimas.
"satu... dua... tiga......" anak-anak ikut menghitung.
di saat yang bersamaan Wahyu lewat hendak memanggil guru mata pelajaran.
Desiran aneh kembali melanda hati Tiara walau cuma melihat dari kejauhan mampu membuat darahnya bergejolak, Wahyu melirik ke arah Tiara namun Tiara segera mengalihkan perhatiaan nya dari Wahyu.
✨💎💎✨💎💎✨
💎💎💎💎💎💎💎
💎💎💎💎💎💎💎
✨💎💎💎💎💎✨
✨✨💎💎💎✨✨
✨✨✨💎✨✨✨