Berawal dari pekerjaan sebagai 'suami bayaran' Devan akhirnya terjebak dalam sebuah kisah cinta rumit diantara kaka beradik, Bellinda Halley dan Clarissa Halley.
Pada siapa akhirnya Devan melabuhkan hatinya?
Baca juga side story dari karya ini:
"Bidadari untuk Theo" yang merupakan kisah dari Theo Rainer, sepupu sekaligus asisten dari Bellinda Halley.
"Oh, My Bee" yang merupakan kisah dari Nick Kyler, mantan calon tunangan Bellinda Halley yang mempunyai penyakit alergi pada wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAGAL
Dokter sudah selesai memeriksa kondisi Bellinda.
Devan segera mengantar dokter ramah tersebut ke pintu depan sambil mengucapkan terima kasih.
Setelah kepergian dokter, Devan langsung menuju ke kamarnya karena Theo belum juga keluar sedari tadi.
Apa pria itu pingsan di dalam?
"Theo!" Panggil Devan seraya menggedor pintu kamarnya sendiri. Devan tidak mengerti kenapa Theo harus mengunci pintu kamar itu.
"Theo!" Panggil Devan sekali lagi. Namun masih tidak ada jawaban.
Sial!
Telepon di ruang tengah berbunyi. Segera Devan mengangkatnya.
"Halo, apartemen Nona Bellinda," sambut Devan sopan.
"Jangan menggedor-gedor pintu seperti itu! Kau mengangguku," suara Theo di seberang telepon langsung membuat Devan berdecak berulangkali.
"Kenapa kau mengunci pintu kamarku?" Protes Devan dengan nada galak.
"Oh, ayolah! Aku sedang memberimu kesempatan tidur bersama Bellinda lagi malam ini. Jadi cukup ucapkan terima kasih dan jangan banyak protes!"
"Dasar!" Gumam Devan masih sebal.
"Lagipula, kau harus merawat istrimu yang sedang sakit itu, Dev. Jadi jangan coba-coba tidur di ruang tengah!" Ucap Theo mengancam.
"Aku akan tidur di ruang tengah," sahut Devan cepat.
"Aku akan menyeretmu dan membawamu masuk ke kamar Bellinda," ancam Theo tegas.
"Sudahlah! Aku malas berdebat denganmu. Buka pintunya sekarang!" Perintah Devan galak.
"Never! Selamat malam, Devan. Jangan lupa untuk memeluk Bellinda malam ini agar nona direktur itu cepat sembuh," pungkas Theo dengan tawa yang menggelegar.
Devan baru saja akan menjawab, namun sambungan telepon sudah diputus sepihak oleh Theo. Sekarang Devan hanya bisa menggeram kesal.
Devan masuk kembali ke kamar Bellinda untuk memeriksa kondisi nona direktur tersebut. Mungkin juga Bellinda butuh sesuatu dan tak bisa mengambilnya.
Kata dokter, Bellinda terkena radang tenggorokan dan tekanan darahnya juga rendah. Pantas saja wanita itu wajahnya pucat dan mengeluh pusing terus-menerus.
"Kau belum tidur?" Tanya Devan pada Bellinda yang masih duduk bersandar di headboard ranjang seraya memainkan ponselnya.
"Kau darimana?" Tanya Bellinda yang lagi-lagi nyaris tanpa suara.
Suara Bellinda yang biasanya menggema ke seluruh ruangan itu mendadak hilang setelah ia mengeluh sakit di tenggorokannya setiap kali mencoba bersuara.
"Tadi aku ingin masuk ke kamarku. Tapi Theo sialan itu malah menguncinya dari dalam," cerita Devan sedikit terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku akan tidur di ruang tengah nanti," sambung Devan lagi seraya kembali memeriksa suhu tubuh Bellinda.
Masih sedikit demam.
Devan mengambil handuk kecil di atas nakas, mencelupkannya ke dalam air yang ada di baskom lalu memerasnya dengan kuat, sebelum meletakkannya di kening Bellinda.
Tangan Bellinda terulur untuk mengambil gelas berisi air putih di atas nakas. Devan dengan cepat membantu mengambilkan lalu mengangsurkannya pada Bellinda.
"Kau masih demam. Aku akan mengompresmu malam ini," ucap Devan seraya menatap lekat wajah Bellinda seolah sedang minta persetujuan.
"Kau istirahat saja," Bellinda terbatuk-batuk. Rasa nyeri seketika merambati tenggorokannya.
"Aku sudah minum obat. Jadi demamku pasti akan segera turun," imbuh Bellinda lagi yang yang suaranya hanya terdengar lirih.
"Aku akan menemanimu sampai tidur kalau begitu," ucap Devan seraya menguap lebar. Pria itu dengan cepat menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Bellinda mengetikkan sesuatu di ponselnya, lalu menunjukkannya pada Devan.
[Kau istirahat saja! Aku masih belum mengantuk. Kau akan ketiduran disini jika memaksa untuk menemaniku]
Devan tersenyum sejenak setelah membaca ketikan Bellinda tersebut.
"Baiklah, jika kau memaksa. Aku akan tidur di ruang tengah," Devan sudah beranjak berdiri. Namun Bellinda menahan lengan pria itu.
"Ada apa lagi?" Tanya Devan bingung.
"Terima kasih karena sudah merawatku," ucap Bellinda tulus.
Devan mengangguk seraya tersenyum. Pria itu melirik sekilas ke arah gelas yang ada di atas nakas. Isinya hanya tinggal setengah.
"Akan ku ambilkan air minum sebelum aku tidur," ucap Devan seraya berlalu keluar dari kamar Bellinda.
Tak berselang lama, Devan sudah kembali dan meletakkan gelas baru yang terisi penuh ke atas nakas.
"Selamat malam, Nona Bellinda," pamit Devan sebelum benar-benar keluar dari kamar Bellinda.
Bellinda tak menjawab dan memilih untuk berbaring miring membelakangi pintu masuk. Jam di kamar Bellinda sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
****
Devan langsung terlelap sesaat setelah pria itu merebahkan dirinya di sofa ruang tengah. Lewat tengah malam, Devan merasa ada seseorang yag membentangkan selimut untuk menutupi tubuh lelahnya. Devan ingin sekali membuka mata dan melihat siapa yang sudah menyelimutinya, namun mata Devan seperti melekat erat dan tidak mau terbuka. Jadi Devan memilih untuk mengabaikannya saja dan melanjutkan tidur nyenyaknya.
Tepat pukul 07.00 Devan mengerjapkan matanya karena tirai jendela ruang tengah yang sudah disibak, membuat cahaya matahari pagi menyusup masuk dan mata Devan menjadi silau.
Devan mengerjap sekali lagi saat mendapati sebuah tubuh tegap yang tengah berdiri di depannya. Namun Devan mengabaikan pria itu dan melanjutkan tidurnya.
"Dev!"
Suara itu.
Benar-benar mengganggu!
"Devan!" Panggil Theo sekali lagi mulai kesal.
Devan membuka matanya yang masih terasa berat.
"Pagi, Theo. Jam berapa sekarang? Kenapa kau sudah rapi?" Tanya Devan dengan nada malas dan masih dengan mata yang terpejam.
"Dev!" Bentak Theo sekali lagi yang sepertinya benar-benar kesal.
"Apa?" Jawab Devan yang kini sudah membuka matanya dan menarik selimut yang membentang menutupi tubuhnya.
Tunggu,
Selimut?
Berarti semalam itu bukan mimpi?
Benar-benar ada yang memakaikan selimut untuk Devan. Tapi siapa?
"Dev! Jangan bilang kalau kau tidur di sofa ini semalaman?" Tanya Theo dengan nada geram.
Devan bangkit dan duduk di sofa yang tadi malam ia pakai tidur. Pria itu mengendikkan bahu tanpa rasa bersalah.
"Aku memang tidur di sini semalam," jawab Devan santai.
Theo menepuk dahinya sendiri.
"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidur bersama Bellinda di kamar?" Theo menunjuk ke arah pintu kamar Bellinda yang tertutup.
"Bellinda yang memintaku tidur disini. Aku bisa apa memangnya?" Jawab Devan mencari alasan.
Ck!
Theo berdecak kesal.
"Usahaku menginap disini, mengunci kamarmu, berakhir sia-sia." Theo masih tak berhenti berdecak dan mengomel.
Dan sekali lagi, Devan hanya mengendikkan bahu tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Bel pintu depan berbunyi.
Masih sambil mengomel, Theo berjalan cepat menuju pintu utama untuk membukanya.
Tak berselang lama pria itu sudah kembali membawa bungkusan yang sepertinya berisi sarapan.
Theo meletakkan bungkusan tadi di meja makan dan kembali menghampiri Devan.
"Hey, Theo! Apa kau yang memberiku selimut tengah malam tadi?" Tanya Devan dengan raut wajah bingung.
"Apa maksudmu? Jika tengah malam tadi aku melihatmu tidur disini, sudah pasti aku akan langsung menyeretmu masuk ke kamar Bellinda dan tak perlu memberikanmu selimut, " jawab Theo dengan nada berapi-api.
"Jadi bukan kamu?" Tanya Devan sekali lagi masih bingung.
"Tentu saja bukan!" Tegas Theo sekali lagi.
"Sudahlah! Aku tidak bisa berlama-lama berdebat denganmu, karena banyak pekerjaan yang menungguku di ruangan nona direktur itu," Theo mengendikkan dagunya ke arah pintu kamar Bellinda.
"Ini ada beberapa berkas. Tolong nanti kamu berikan pada Bellinda dan minta nona direktur manja itu untuk menandatanganinya. Aku sudah berbaik hati memeriksa semuanya," imbuh Theo lagi masih sambil bersungut-sungut.
Pria itu melemparkan beberapa map ke atas meja di hadapan Devan.
"Apa Bellinda belum bangun?" Tanya Devan khawatir.
"Belum! Dia itu sebelas dua belas denganmu sekarang. Suka bangun terlambat," jawab Theo blak-blakan.
Devan menahan tawanya sedikit merasa malu.
"Apa Bellinda masih demam?" Tanya Devan lagi khawatir.
"Kau periksa saja sendiri! Sekalian kau siapkan sarapan untuknya. Aku harus pergi sekarang," tegas Theo seraya mengayunkan langkahnya ke arah pintu keluar.
Namun baru beberapa langkah, pria itu kembali lagi.
"Aku pinjam motormu. Dimana kuncinya?" Tanya Theo memasang wajah serius.
"Laci meja kamarku," jawab Devan santai.
Pria itu meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.
Theo sudah keluar dari kamar Devan seraya memutar-mutar kunci motor di tangannya.
"Theo naik motor, wow!" Goda Devan seraya terkekeh.
Theo hanya mendengus.
"Perlu kubelikan bensin, tuan Theo? Atau pomnya sekalian?" Goda Devan sekali lagi yang kini mengikuti langkah Theo menuju pintu keluar.
"Berisik!" Dengkus Theo yang dengan cepat berlalu keluar dari unit apartemen Bellinda.
.
.
.
Hahahah gagal maning gagal maning.
Next kita lihat siapa selanjutnya yang akan menginap di apartemen.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini 👠