Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Tugas Baru Untuk Riko.
.
Laras berbaring di ranjang kecilnya, menatap langit-langit kamar yang kusam. Pikirannya melayang, kembali mengingat kejadian di toko perhiasan tadi siang. Rasa malu, marah, dan penyesalan bercampur aduk menjadi satu.
Ia mengingat dengan jelas setiap kali Aldo memberikannya perhiasan. Pria itu selalu berkata bahwa perhiasan itu adalah bukti cintanya yang tulus. Dulu, ia selalu merasa bahagia dan bangga setiap kali menerima hadiah mewah dari Aldo.
Namun, sekarang semua itu terasa hambar dan menjijikkan. Ternyata, semua perhiasan itu palsu. Aldo telah membohonginya, memanfaatkan dirinya untuk kesenangan dan keuntungan pribadi.
Laras juga teringat, semua barang palsu yang ia dapatkan dari Aldo, semua itu tidak gratis. Dulu, ia juga sering memberikan barang-barang mahal untuk Aldo. Kini dirinya baru menyadari, Aldo benar-benar cowok yang manipulatif. Yang selalu mampu membuat dirinya mengeluarkan banyak uang untuk membelikan dia sesuatu.
"Bodohnya aku!" bisik Laras lirih, air mata kembali mengalir di pipinya. "Aku telah diperalat olehnya! Aku telah memberikan apapun yang ia minta. Bahkan lebih parah, aku memberikan kehormatanku, sesuatu yang tak kubiarkan disentuh oleh Riko. Hina sekali diriku ini!" gumam Laras sambil menghapus air matanya yang tak henti mengalir.
Ia merasa sangat marah dan kesal kepada dirinya sendiri yang telah dibutakan oleh cinta dan kemewahan palsu, sehingga tidak bisa melihat kebenaran yang ada di depan matanya.
"Riko, aku bersalah. Tolong maafkan aku," gumam Laras.
*
Di sisi lain, Riko kembali tenggelam dalam rutinitasnya di SENTINEL. Banyaknya harta yang dia miliki, tak membuatnya terlena dan berpangku tangan. Pekerjaan sebagai asisten Profesor Rahmat menuntutnya untuk selalu siap siaga, mengatur jadwal, menyusun strategi keamanan, dan tak jarang, terjun langsung ke lapangan. Hatinya memang masih menyimpan bara dendam, namun ia berusaha untuk menekan emosi itu dan fokus pada tugas yang diembannya.
Hari ini, Profesor Rahmat memanggilnya ke ruang kerjanya.
“Profesor memanggil saya?" tanya Riko setelah pria tampan itu masuk ke dalam ruangan Professor Rahmat.
"Iya, Riko. Ada tugas penting yang harus kamu emban," ucap Profesor Rahmat dengan nada serius.
Riko mengangguk, siap mendengarkan instruksi. "Siap, Prof!"
"Kamu tahu kan, keluarga Tanuwijaya, salah satu klien VIP kita," tanya Profesor Rahmat yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Riko.
"Tuan Bastian Tanuwijaya termasuk seorang konglomerat yang sangat disegani, bukan hanya karena kekayaannya, tapi juga karena integritasnya. Beliau selalu menjalankan bisnisnya dengan jujur dan adil, tanpa melakukan praktik-praktik kotor."
"Saya tahu, Prof," jawab Riko. "Keluarga Tanuwijaya memiliki reputasi yang sangat baik."
"Ya. Dan integritas Tuan Bastian itulah yang membuatnya memiliki banyak musuh," lanjut Profesor Rahmat. "Ada banyak orang yang iri dengan kesuksesannya dan ingin menjatuhkannya dengan segala cara."
Riko mengerutkan keningnya. "Apakah ada ancaman terhadap keluarga Tanuwijaya, Prof?"
"Benar," jawab Profesor Rahmat. "Kami mendapatkan informasi intelijen bahwa ada pihak-pihak yang berencana untuk mencelakai putri tunggal Tuan Bastian, Anya Tanuwijaya. Tuan Bastian sangat khawatir dengan keselamatan putrinya dan meminta bantuan kita untuk memberikan perlindungan."
"Jadi, apa yang harus saya lakukan, Profesor?" tanya Riko.
"Tuan Bastian meminta diberikan seorang bodyguard untuk putrinya. Dan Kamu yang akan menjadi bodyguard Anya Tanuwijaya," jawab Profesor Rahmat. "Kamu harus bertanggung jawab penuh atas keselamatannya. Kamu harus melindunginya dari segala ancaman, apapun bentuknya.
"Saya?" Riko tertegun mendengar penuturan Profesor Rahmat. Menjadi bodyguard? Bukan itu yang ia bayangkan ketika pertama kali bergabung dengan SENTINEL. Ia memang memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni dan terlatih dalam berbagai strategi keamanan, tapi ia lebih nyaman berada di balik layar, menganalisis data dan menyusun rencana.
"Bodyguard, Prof?" tanya Riko dengan nada terkejut. "Tapi, bagaimana dengan pekerjaan saya yang lain di SENTINEL? Saya tidak mungkin meninggalkan tugas-tugas saya begitu saja."
Profesor Rahmat menghela napas pelan. "Pekerjaan mu di sini akan aku atur untuk mencari pemegang sementara sampai kamu kembali. Keluarga Tanuwijaya adalah klien yang sangat penting bagi kita, dan saya tidak bisa mempercayakan keamanan Anya pada orang lain."
"Kenapa harus saya, Prof?" tanya Riko, masih belum mengerti. "Bukankah ada agen lain juga berpengalaman dalam bidang pengawalan?"
Profesor Rahmat menatap Riko dengan tatapan tulus. "Riko, kamu adalah salah satu agen terbaik yang saya miliki. Kamu memiliki kemampuan analisis yang tajam, insting yang kuat, dan yang terpenting, integritas yang tinggi. Kamu pasti akan melakukan apapun untuk melindungi orang yang kamu jaga. Dan saya tidak menemukan orang yang lebih baik dari kamu. Karena itu saya mempercayakan tugas ini pada kamu!"
"Saya mengerti, Prof," jawab Riko, mulai merasa terharu dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
"Selain itu, saya juga memiliki alasan pribadi untuk menugaskan kamu dalam misi ini," lanjut Profesor Rahmat. "Kamu butuh kesempatan untuk membuktikan diri dan menunjukkan bahwa kamu bisa menjadi lebih dari sekadar asisten. Saya ingin kamu mengembangkan kemampuanmu dan menjadi agen yang serba bisa."
Riko terdiam sejenak, menimbang-nimbang tawaran Profesor Rahmat. Tugas ini sangat menantang dan membutuhkan pengorbanan yang besar. Tapi, ini adalah kesempatan emas untuk meningkatkan kemampuan dan mendapatkan pengalaman baru.
"Baiklah, Prof. Saya terima tugas ini," jawab Riko mantap.
Profesor Rahmat tersenyum lega. "Saya tahu kamu tidak akan mengecewakan saya. Katakan jika kamu membutuhkan bantuan dalam bentuk apapun. Saya pasti akan memberikannya. Sekarang, kamu bisa mulai mempersiapkan diri!”
*
Setelah menerima tugas dari Profesor Rahmat, Riko segera pulang ke apartemennya. Ia ingin memberitahu ibunya tentang tugas barunya dan meminta restu darinya.
Sesampainya di apartemen, Riko melihat Bu Maryam sedang duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Ia menghampiri ibunya dan duduk di sampingnya.
"Ibu sedang apa?" tanya Riko setelah mencium punggung tangan ibunya. Tangannya melingkar di belakang pundak ibunya merengkuh tubuh wanita tua itu dalam pelukan.
"Ibu sedang menonton berita, Nak," jawab Bu Maryam sambil tersenyum. "Kamu sudah pulang? Bagaimana pekerjaanmu hari ini?"
Riko menghela napas panjang. "Semuanya baik dan lancar, Bu. Berkat doa Ibu."
“Alhamdulillah… ibu senang mendengarnya,” jawab Bu Maryam. “Sana mandi, ibu akan siapkan makan untukmu!”
Riko pun mengangguk kemudian berdiri dari duduknya dan pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian Riko sudah berada di ruang makan bersama dengan ibunya.
“Ibu, ada sesuatu yang ingin Riko bicarakan,” ucap Riko sambil menikmati masakan ibunya yang tak pernah membuatnya bosan.
Bu Maryam menatap Riko dengan tatapan khawatir. "Ada apa, Nak? Apakah ada masalah?"
Riko menceritakan kepada ibunya tentang tugas barunya. Karena adanya tugas itu mungkin akan membuatnya tidak bisa pulang dalam waktu lama.
Bu Maryam menggenggam tangan Riko setelah putranya itu selesai bercerita.
"Ibu mengerti, Nak," ucap Bu Maryam dengan nada bijaksana. "Ini adalah tugas yang penting dan Ibu bangga padamu."
"Tapi, Ibu..." ucap Riko dengan nada sedih. "Riko akan meninggalkan Ibu sendirian di sini. Ibu pasti akan kesepian."
Bu Maryam tersenyum dan mengusap pipi Riko dengan lembut. "Kamu ini seperti ibu ini masih anak kecil saja. Ibu ini sudah tua, kamu tidak perlu khawatir tentang Ibu. Yang penting, kamu fokus pada tugasmu dan lakukan yang terbaik."
"Terima kasih, Ibu," ucap Riko, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. “Maaf Riko belum bisa membahagiakan Ibu."
Bu Maryam memeluk Riko erat-erat. “Kamu ini ngomong apa sih? Ibu bahagia, sangat-sangat bahagia,” ucap Bu Maryam sambil mengusap-usap punggung putranya.
“Dan ibu akan lebih bahagia jika suatu hari nanti kamu pulang dengan membawa menantu.”
Ingin rasanya Bu Maryam berkata seperti itu, tapi sayangnya itu hanya bisa ia ucapkan dalam hati. Wanita tua itu tidak ingin membebani putranya, terlebih mengingat putranya pernah terluka karena wanita. Tidak ingin kata-katanya akan membuka kembali luka lama. Wanita yang hanya bisa berdoa dalam hati, dalam setiap sujudnya, semoga putranya mendapatkan kebahagiaan.
Riko melepaskan pelukannya dan menatap ibunya dengan tatapan penuh kasih sayang. "Ibu, selama Riko bertugas nanti, Riko akan menyiapkan seseorang untuk menemani Ibu."
Bu Maryam mengerutkan keningnya. "Tidak perlu, Nak. Ibu ini bukan anak kecil. Ibu bisa menjaga diri sendiri."
"Tidak, Ibu," bantah Riko dengan tegas. “Riko akan merasa lebih tenang jika ada yang menjaga Ibu.”
"Baiklah, Nak," ucap Bu Maryam akhirnya. "Jika itu yang membuatmu tenang, Ibu akan menerimanya."
Riko tersenyum lega kemudian memeluk ibunya sekali lagi. Kini, ia bisa menjalankan tugasnya dengan tenang.
Riko kenapa bodoh sekali ya 🤦