Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia
"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: RENCANA PELARIAN SINGKAT
Pagi itu di sekolah, Alsya berjalan seperti robot. Dia turun dari mobil supir tepat di depan lobi, diawasi oleh tatapan tajam Eliza yang berjalan di sampingnya. Begitu masuk ke kelas, Alsya bahkan tidak berani menoleh ke arah Samudera yang duduk di bangku belakang.
Namun, saat pelajaran olahraga berlangsung dan semua siswa berganti baju di ruang ganti, sebuah memo kecil terselip di dalam sepatu olahraga Alsya.
Samudera: Izin sakit jam ke-5. Tunggu di gudang alat olahraga. Kita "cabut" sebentar. Gue udah atur semuanya.
Alsya menelan ludah. "Cabut" saat dia dalam pengawasan ketat? Itu gila. Tapi melihat Eliza yang sedang asyik tertawa dengan teman-temannya di lapangan, Alsya merasa ini adalah satu-satunya kesempatan untuk bernapas.
Jam ke-5 tiba. Alsya memegang perutnya dan mengadu pada guru piket bahwa dia sangat mual. Karena wajah Alsya memang terlihat pucat akibat kurang tidur, guru mengizinkannya pergi ke UKS. Tapi bukannya ke UKS, Alsya justru mengendap-endap menuju gudang alat olahraga di pojok lapangan.
Di sana, Samudera sudah menunggu dengan jaket hitam besar dan sebuah kunci motor di tangannya.
"Sam, loe gila? Supir gue ada di depan gerbang, dia bakal curiga kalau lihat gue nggak ada di UKS," bisik Alsya panik.
"Supir loe udah gue 'urus'," jawab Samudera santai. "Gue nyuruh temen gue buat pura-pura nabrak mobilnya sedikit di parkiran luar. Dia bakal sibuk urus asuransi dan debat minimal satu jam ke depan. Ayo, mumpung satpam lagi jagain gerbang depan, kita lewat gerbang belakang yang kuncinya udah gue duplikat."
Alsya tertegun. Samudera benar-benar memikirkan segalanya. Tanpa banyak bicara, Alsya mengikuti Samudera menyelinap keluar.
Mereka membelah jalanan kota. Samudera tidak membawa Alsya ke mall atau tempat ramai lainnya. Dia membawa Alsya ke sebuah bukit kecil di pinggiran kota yang menghadap ke hamparan sawah dan sungai. Tempat itu sangat sepi, hanya ada suara angin dan burung.
Samudera menghentikan motornya, lalu mengeluarkan dua botol minuman dingin dari tasnya.
"Napas, Sya," ucap Samudera sambil duduk di atas rumput. "Loe dari pagi kelihatan kayak orang yang lupa cara napas."
Alsya duduk di sampingnya, melepas ikatan rambutnya dan membiarkan angin menerpa wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, beban di pundaknya terasa sedikit terangkat.
"Makasih, Sam. Gue bener-bener ngerasa kayak mau mati di rumah itu," lirih Alsya. "Kenapa dunia nggak adil banget ya? Kenapa gue harus lahir di keluarga yang nuntut gue jadi orang lain?"
Samudera menatap langit. "Dunia emang nggak pernah adil, Sya. Tapi loe punya pilihan. Loe mau terus-terusan jadi korban, atau loe mau mulai bangun dunia loe sendiri?"
"Maksud loe?"
"Loe punya bakat melukis yang loe sembunyiin karena Papa loe bilang itu nggak berguna, kan? Gue lihat sketsa loe di belakang buku matematika kemarin."
Samudera menatap Alsya dalam. "Satu hal yang nggak bisa mereka sita dari loe adalah pikiran dan imajinasi loe. Jangan biarin mereka ambil itu juga."
Alsya terdiam. Dia tidak menyangka Samudera memperhatikan hal sekecil itu. Selama ini, bakat melukisnya dianggap sampah oleh Saga karena tidak menghasilkan medali seperti olimpiade Eliza.
Tiba-tiba, ponsel rahasia di saku Alsya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
Pesan: Gue tahu loe kabur sama Samudera. Gue udah di depan mobil supir loe. Jangan salahin gue kalau Papa dapet foto kalian di sini dalam sepuluh menit.
Alsya langsung berdiri dengan wajah pucat pasi. Dia menunjukkan pesan itu pada Samudera.
"Eliza," desis Samudera. Mata cowok itu berkilat marah. "Dia bener-bener nggak bisa lihat loe tenang dikit ya."
"Gue harus balik, Sam! Kalau foto ini sampai ke Papa, gue bener-bener bakal dikirim ke asrama!" Alsya mulai gemetar ketakutan.
Samudera berdiri, dia memegang kedua bahu Alsya agar cewek itu tenang. "Tenang. Dia nggak punya foto kita di sini. Jarak sekolah ke sini jauh, dia cuma gertak loe biar loe panik dan ketahuan supir."
Samudera mengambil ponsel itu dan mengetik balasan.
Balasan: Silakan lapor. Tapi jangan lupa, gue juga punya foto loe lagi 'akrab' sama cowok dari sekolah sebelah di kafe kemarin malam. Mau tukeran foto di depan Papa Saga?
Samudera menekan tombol kirim. Alsya melongo. "Loe... loe beneran punya foto itu?"
Samudera tersenyum miring. "Nggak. Gue cuma nebak. Cewek kayak dia pasti punya rahasia yang lebih busuk daripada loe. Dan dari reaksi mukanya tadi pagi pas gue lewat, tebakan gue kayaknya bener."
Hanya butuh waktu satu menit sampai pesan balasan masuk.
Eliza: Jangan berani-berani loe lakuin itu!
Samudera tertawa kecil. "Tuh kan. Sekarang loe aman. Dia nggak bakal berani macem-macem buat sementara."
Alsya terduduk kembali, merasa lemas karena lega. Dia menatap Samudera dengan tatapan kagum. "Loe bener-bener pelindung gue ya, Sam?"
"Bukan cuma pelindung, Sya. Gue bakal jadi alasan kenapa loe berani ngelawan dunia," sahut Samudera pelan sambil menggenggam tangan Alsya erat.
Strategi yang cerdik dari Samudera! Eliza akhirnya kena batunya.
Bersambung....