NovelToon NovelToon
Montir Ganteng

Montir Ganteng

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:426.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dareen

Dareen yang selalu dibandingkan oleh papanya dengan kakak kandungnya yang bernama Aril. Dareen madih kuliah sedangkan Aril sudah bekerja. Dareen akhirnya membuktikan pada papanya bahwa ia bisa mandiri tanpa bantuan dari papanya. Dareen mulai ikut bekerja sebagai montir, karena dia mempunyai paras yang tampan. Akhirnya banyak yang menjuluki Montir Ganteng.

Bagaimana Dareen bisa sukses?
Ikuti ceritanya di Montir Ganteng.

Thank's.
Dareen_Naveen (Boezank Jr.)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part. 26 (Panik)

Mestinya bang Aril bahagia dengan kabar kehamilan kak Manda, yang sedari dulu mereka menantikan kehamilan kak Manda. Tapi gue malah melihat ekspersi kaget pada raut wajah bang Aril. Kek nya bang Aril mulai bingung dengan keadaan ini.

"Loh, kok diem, Ril? Peluk dong Mandanya," ujar Mama.

Bang Aril memeluk kak Manda, tapi yang gue lihat, pikiran bang Aril tidak di sini. Pikirannya melayang entah kemana? Sorot matanya kosong, kabar bahagia ini malah menjadi hal yang memusingkan buat bang Aril.

"Selamat ya, Kak Manda. Bang, jagain tuh calon dedek bayinya."

Setelah gue melihat dan mendengar kabar bahagia ini, gue memutuskan masuk kamar. Menatap langit malam dari balik jendela kamar. Udara dingin dan tidak ada aktifitas di jalan, sepi. Bagaikan kota mati.

Tok ... Tok ... Tok ....

Ada yang mengetuk pintu kamar gue.

Gue menutup jendela dan segera beranjak membukakan pintu kamar yang terdengar sangat tergesa-gesa.

"Bang Aril?"

Mata gue membulat, bang Aril mendorong pintu dan masuk kamar gue, tanpa minta ijin dari mpunya kamar seraya menutup pintu.

"Mau ngapain, lo?" ujar gue.

"Dek, tolong bantu Abang." Bujuk bang Aril.

Gue memandang mata bang Aril.

"Tolong Dek," ucap bang Aril.

"Lo pikir sendiri bang, lo udah gede juga."

Bang Aril memasang wajah melas. Sebenarnya, gue enggak tega sama bang Aril. Tapi harus bagaimana? Apa yang dia tanam ya itulah yang harus dia tuai.

Bang Aril melangkahkan kakinya keluar dari kamar gue dengan gontai. Gue harus bergegas tidur, karena besok mesti menghadiri pernikahan Ferdy.

Pagi-pagi gue tancap gas minjem mobil Papa menuju rumah Yumna.

Yumna selalu membuat gue terpukau ketika ia berdandan, selalu memberikan surprise yang bikin gue semakin mengagumi akan kecantikannya.

Dia memakai dress selutut, sentuhan make up yang tidak berlebih mencerminkan Yumna banget yang memang tidak suka dengan make up yang terlalu glamor.

"Udah siap, Na?"

Yumna menganggukan kepalanya.

Sialnya. Di perjalanan kami terjebak macet, enggak bisa nyelip-nyelip kendaraan lain. Berkali-kali gue melihat jam tangan, takut telat diacara sakral teman gue. Dengan susah payah gue melewati kemacetan bersama Yumna. Allhamdulillah, akhirnya kami sampai tepat waktu.

Ijab pun dimulai.

Suasan hening sekaligus menegangkan bagi seorang pria yang akan mengucapkan ijabnya di tengah saksi, keluarga, kerabat dan sahabat. Ferdy terlihat gelagapan. Sesekali, Ferdy melihat ke arah gue.

Satu kali, gagal.

Dua kali, masih belepotan mengucapkan ijabnya.

Pak penghulu memberikan waktu agar Ferdy lebih tenang dan konsentrasi. Ferdy menatap gue. Gue tepuk pundaknya dan mengucapkan "Buruan ijabnya, gue udah laper, nyet!" Ferdy tertawa. Ijab pun diulang.

Akhirnya Pak penghulu menanyakan kata SAH?

Para saksi dan keluarga juga menjawab kata SAH!

Allhamdulillah. Akhirnya Ferdy dan Verra telah sah menjadi pasangan suami-istri. Kini kisah cinta mereka diabadikan dalam buku nikah. Disahkan oleh agama dan negara.

"Selamat Ya, bro," gue memeluk sahabat terbaik gue.

"Thank's bro. Ya udah, makan sana katanya lapar?" Ferdy terkekeh mengingat kejadian sebelum ijab kobul. Karena candaan gue akhirnya Ferdy bisa relax.

Pesta pernikahan Ferdy berjalan hikmat, walau dalam pengucapan ijab Ferdy terlihat nervous.

Wajarlah, aktor aja banyak yang gugup ketika menghadapi ijab yang sesungguhnya dalam kehidupan nyata.

"Oppa, mau dong kek gitu," ucap Yumna.

"Ayok! Sekarang?"

"Idih, itu maunya Oppa." Wajah Yumna memerah.

Menikmati suasana pesta yang sederhana, jauh dari kata mewah membuat gue salut akan sosok Ferdy. Orang yang sederhana dan apa adanya. Pestanyapun dihadiri undangan yang mungkin hanya sanak saudaranya saja. Ayahnya entah ke mana.

***

Drett ... Drett ....

Hp gue bergetar.

'Dek, Abang tunggu di cafe tempat biasa.' Isi WA dari bang Aril.

Sengaja gue gak balas WA bang Aril. Akhirnya gue mengantarkan Yumna karena pesta juga udah selesai. Gue pamit pada Ferdy dan Verra.

Gue langsung tancap gas dengan perasaan entah. Gue bingung dengan keadaan ini.

"Na, Kakak mau jujur sama kamu." Gue menghentikan laju kendaraan.

"Tentang apa?"

"Sebenarnya, Kakak tahu Nila dari dulu termasuk kebusukannya."

Mata Yumna terbelalak. Gue pasrah kalau ia mau marah.

"Kenapa Oppa enggak ngomong dari awal?"

"Sstttt ... bukan itu yang mau kakak bahas."

"Lalu?"

"Kakak minta, kamu selidiki tante Nila, ya?"

"Kenapa?"

"Tante Nila bilang kalau ia lagi hamil. Nila mengaku dihamili oleh bang Aril."

"Tidak mungkin Oppa! Tante Nila itu pakai KB. Tante Nila sendiri yang ngomong sama Papa kalau ia belum siap mempunyai anak."

Mata gue seketika membulat, kaget. Tak percaya dengan hal yang diucapkan oleh Yumna. Tapi, enggak mungkin juga Yumna bohong.

"Oppa, aku yakin itu hanya jebakan dari tante Nila. Secara keuangan Papa sekarang semakin menurun," ucap Yumna.

Yumna bercerita tentang kebusukan Nila yang tidak adil terhadap Ibunya. 70% uang bulanan Ibunya pun diambil alih sama Nila tanpa sepengetahuan Papa Yumna, karena Nila mengancam. Nila seperti nyonya rumah di keluarga Yumna.

Padahal Nila hanya madu Ibunya. Papanya kini hanya bisa tunduk kepada Nila. Entah karena apa?

Dalam mobil, pikiran gue melayang. Sebenarnya apa dibalik semua ini?

Drettt ... Drettt ....

'Dek, kamu di mana?" Bang Aril WA lagi.

'Sebentar, gue OTW bang.'

Gue akhirnya tancap gas dan memikirkan hal ini nanti. Untunglah, Yumna enggak salah paham. Yumna malah tahu keburukan Nila dengan sendirinya tanpa gue bilang. Yang paling utama, tidak ada kesalah pahaman diantara kami.

Akhirnya, mobil sampai di samping gerbang rumah Yumna. Gue bukakan pintu mobil dan Yumna melengkahkan kaki keluar dari mobil.

"I LOVE YOU," ucap Yumna yang melenggang masuk dalam gerbang.

Ketika Yumna sudah tak terlihat dari balik pintu rumah. Gue segera meluncur ke cafe, sepertinya bang Aril sudah lumutan menunggu di sana.

Gue langsung memarkirkan mobil dan melangkahkan kaki menuju cafe yang masih sepi. Terlihat bang Aril melambaikan tangannya. Gue mendekat.

"Dek, tolong Abang. Sumpah, Abang pusing dengan keadaan ini." Bang Aril tertunduk.

"Yaelah, katanya Abang mau punya dedek bayi? Tuh, Allah sudah kasih langsung 2, dari 2 wanita lagi." Mata gue mendelik.

"Jangan bercanda, Dek," ucap bang Aril yang terlihat semakin panik.

"Gak ada yang becanda. Hal ini hanya Abang yang bisa menyelesaikannya," ucap gue.

"Abang mesti gimana?"

"Tanggung jawablah sama Nila."

"Enggak! Abang enggak yakin itu anak abang!" wajahnya memerah seperti menahan marah.

"Lah, kalau abang tahu konsekwensinya seperti itu. Kenapa abang lakuin?"

Bang Aril terdiam.

Sengaja gue memberikan jawaban yang menyakitkan, biar bang Aril membayangkan nanti kalau kak Manda mengetahui kebejatannya.

Bang Aril lagi-lagi diam, mungkin ia sadar dengan apa yang ia lakukan itu salah. Kini ia hanya terdiam tanpa ada bantahan walau jawaban dari gue itu menyakitkan.

Wajah bang Aril semakin pucat, ia memutuskan balik ke kantor. Tanpa sepengetahuannya, gue mengekor dari belakang. Terlihat langkah gontai ketika memasuki Areal kantor.

Akhirnya, dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa berwarna cream yang berada di ruangannya.

Gue terus mengintai bang Aril dari arah yang cukup jauh. Tiba-tiba, Nila masuk ke dalam ruangan bang Aril. Gue mendekatinya, ternyata Nila begitu agresif terhadap bang Aril. Ketika bang Aril tidur, Nila berani membelai bang Aril.

Bang Aril terperanjat, mungkin karena kaget ada sentuhan yang membelai tubuhnya.

"Nila? Kamu mau apa?" Suara bang Aril.

"Udahlah, Pak. Kita kan mau punya anak sebentar lagi."

"Saya enggak percaya kamu hamil olehku. Kan kamu juga punya suami."

"Tapi, ini anak kita Pak." Suara Nila meyakinkan.

"Enggak, enggak mungkin. Keluar kamu dari ruangan ini!"

Cepat-cepat gue menjauh dari balik pintu ruangan bang Aril. Gue melangkahkan kaki keluar kantor. Entah apa yang terjadi sama mereka tadi. Gue memutuskan untuk pulang karena hari juga mulai gelap.

Terlihat Kak Manda sedang mengelus perutnya yang masih rata. Dia seperti bicara dengan perutnya sendiri. Mungkin kak Manda mencoba menjalin komunilasi dengan janinnya, entahlah.

Kalau bang Aril tahu betapa baiknya kak Manda, betapa patuhnya kak Manda sebagai istri. Mungkin bang Aril akan menyesal. Gue menaiki anak tangga dan mendorong pintu kamar. Gue hempaskan tubuh dan menghela napas panjang.

Sudah jam delapan malam, bang Aril belum datang juga. Terlihat kak Manda gelisah, lagi-lagi ia mengusap perutnya dan berbicara 'Nak, Mama khawatir dengan Papamu. Jam segini belum juga pulang. Mama telpon malah enggak aktif.' Seraya terus mengelus perutnya yang datar.

Tanpa pamit pada siapa pun, akhirnya gue pergi membawa R25 melesat ke kantor Papa.

Hanya ada scurity yang berjaga di sana, karena karyawan kantor telah pulang dari tadi sore.

"Malam, Pak," ucap scurity yang sedang berjaga.

Gue tersenyum dan menganggukan kepala.

Langsung gue buka pintu ruangan bang Aril. Ternyata di situ ada botol minumam, mungkin dia mabuk. Gue mencoba menyadarkan bang Aril yang sedang tertidur pulas.

"Bangun! Bangun Bang!" Gue tepok-tepok pipi bang Aril.

"Emm." Bang Aril belum sadar, hanya mengubah posisi tidurnya.

"Ayok pulang! Kasihan Kak Manda." Ajak gue.

Bang Aril masih tertidur.

Karen bang Aril susah gue bangunin, kepaksa gue ambil air yang ada di dispenser dan menyiramkannya tepat di wajah bang Aril. Akhirnya bang Aril terperanjat kaget.

"Cepet sana cuci muka lo, gue capek dari tapi bangunin elo, Bang!"

Bang Aril terdiam. Selang 10 menit, barulah ia sadar dan membasuh wajahnya.

"Maafin gue bang, bukan gue gak sopan sama Abang. Tapi gue kasihan sama kak Manda, dari tadi ia terus mengkhawatirkan abang tanpa bisa menghubungi abang, karena hp abang mati."

Bang Aril merogoh hp yang ada dalam saku celananya. Bang Aril menggaruk kepalanya. Entah apa yang ia pikirkan.

Bang Aril memeluk gue seraya minta maaf terhadap gue. Dia bercerita telah menyesal berbuat hal seperti itu, walau dia enggak yakin telah melakukan hal itu terhadap Nila. Namun ia sekarang bingung dengan kabar Nila yang tengah hamil karena perbuatan bang Aril.

"Nasi sudah menjadi bubur, dek." Bang Aril tertunduk.

1
Sulaiman Efendy
WADUHHH,, UDH TAMAT RUPANYA...
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
MAMPUS LO RIL.. MKANYA JDI LAKI2, JGN GOBLOK,, MNTANG2 ISTRI BLM HAMIL, LLU SLINGKUH...
Sulaiman Efendy
PARAH TU NILA,,UDH JDI ISTRI BENI, MSH JUGA MAIN BLAKANG SAMA ARIL. DN ARIL MMG LKI2 BODOH..
Sulaiman Efendy
KN KALIAN BSA CEK KSUBURAN.. KNP SOLUSINYA HRS SELINGKUH. UDH ITU SELINGKUH DGN WANITA BKAS PAKAI..
Sulaiman Efendy
PSTI MANDA BLM HAMIL,, MKANYA SI ARIL SELINGKUH,, BSA JDI NI SI ARIL YG MNDUL..
Sulaiman Efendy
KLO BENGKEL UDH RAME PELANGGAN, KNP GK REKRUT PEKERJA BIAR GK KETETERAN..
Sulaiman Efendy
WAHHH SI ARIL SELINGKUH NI KYKNYA
Sulaiman Efendy
DINASEHATKN AWALNYA SJA SADAR, SKRG MLH MKIN PARAH..
Sulaiman Efendy
LBH BAGUS LO SELIDIKI, ATAU LO CHAT SI NILA..
Sulaiman Efendy
SEBESAR APA GAJI BENI DI PRUSAHAAN PAPA DAREEN, HINGGA BSA BLANJAIIN NILA BRG2 BRANDED, JGN2 KORUPSI TU SI BENI
Sulaiman Efendy
DI BLANJAIIN BENI, WAJAR BRANDED..
Sulaiman Efendy
BISA JDI MMG ANAK BENI, DN SI BENI SELINGKUH SAMA NILA..
Sulaiman Efendy
JGN2 YUMNA ANAK SI BENI...
Sulaiman Efendy
YA AMPUN NILA, UDH DI NASEHATI DAREEN. MSH AZA BRHUBUNGN DGN SI BENI..
Sulaiman Efendy
WAAHHH DARI TANTE2, MBAK2, SEBAYA, DN ABG, SUKA MA DAREEN..
Evi
thoor hubungan Aril sama nila bagai mana,. itu si nila hamil ank siapa bpk nya???
jd penasaran aq thoor
abdan syakura
Assalamu'alaikum kak Darren..
salken....
Kuy.....nyimak nih...😊🤝👍💪
Dareen: waalaikum salam, ..
terima kasih udh singgah di novel saya, Kak 🙏
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
dapet brondong nih🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Katanya Nila ini seumuran dgn Ariel iya,berarti tua Nila iya sama Darren..😅😅
Dareen: iya 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!