NovelToon NovelToon
Legenda Dewa Kesetaraan Vs Dewa Roh

Legenda Dewa Kesetaraan Vs Dewa Roh

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Barat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.4
Nama Author: MURADIF

*Jilid Satu (Tujuh Bidadari): TAMAT.
[Episode O-58].
*Jilid Dua (Nyanyian Kematian): TAMAT. [59-98].
*Jilid Tiga (Deklarasi Perang Dewa-Dewi): TAMAT. [Episode 99-143].
*Jilid Empat (Dewa Kesetaraan Vs Dewa-Dewi): Berlangsung. [Episode 144-183].

SINOPSIS: Sebagai perwujudan Dewa Kesetaraan yang ketiga belas, 'jiwa tak bernama' telah diwajibkan untuk mempublikasikan rahasia bangsa Barat. Namun ditengah perjuangannya demi membuat warga percaya perihal kebobrokan perang dunia jin ke-18 ini. Dewa Roh nyatanya telah berwujud dan mengemban pula mandat dari Langit, untuk membawa pula roh umat Manusia serta umat Jin, guna membentuk kembali galaksi Dewadewi. Hingga membuat dua Dewa itu kembali saling berperang demi menghentikan kewajiban satu sama lain.

[Sub genre: Dark Fantasy, Psychology, Political, Crime, Martial Arts, Dark Romance.]

⚠Perbuatan dalam novel tidak untuk ditiru.
⚠Novel hanya fiksi semata.
⚠Novel hanya hiburan semata.


*NOVEL INI HANYA ADA DI PLATFORM NOVELTOON/MANGATOON. BILA TERDAPAT DI PLATFORM LAIN SEGERA HUBUNGI AUTHOR.*


✅Untuk mendukung /mengapresiasi /menghargai karya Author, cukup berikan, like, vote(poin/koin) atau favorit. Terima kasih, semoga terhibur dengan kisah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MURADIF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24: Mengorbankan Tenaga Pada Waktu. (Part 2.)

Lantas 'Bruak' sang tentara tiba-tiba terlempar 9 meter dengan pedangnya yang terbuang sia-sia ke tanah.

Karu adalah penyebabnya. Tinjuan dari tangan kanannya yang dilimbur energi merah berhasil menggagalkan kematian sang ajudan.

“Bangunlah!” desak Karu seolah tengah melatih seekor anjing agar mau berdiri dengan dua kaki.

Mulanya agak nanar sang ajudan bangkit dari terbaring, hingga baru saja hendak menegakkan tubuhnya, secara bersamaan dan tak diekspektasikan sebelumnya, tentara tadi sekonyong-konyongnya telah kembali berlari dengan dua kapak yang siap dilayangkan.

Maka 'Cleb-Cleb' kejadian tak terduga dan cepat, membuat tubuh sang ajudan terpaku, menatap wajah oval Karu dalam keterkejutan, mulutnya terbuka sedikit agak kesakitan, karena dua kapak telah menghunjam punggung sang ajudan begitu telak.

Belum satu detik berlalu, tiba-tiba sebuah tebasan horizontal melayang menuju lehernya dan langsung menumbangkannya sampai tewas. Mata Karu bahkan berbuntang kaget karenanya. Dia tak memperkirakan serangan cepat itu.

Hingga jiwanya yang tersentak kenyataan tragis itu, mulai membuncahkan afektif pilu dan murka. Dengan impulsif memanifestasikan bilah pedang di tangannya. Karu tanpa sungkan menyambut serangan sang tentara dengan serangan kembali.

Maka terjadilah pertarungan antara teknik pedang sang tentara dengan teknik pedang sang ahli kitab; Karu.

'Trang' 'Klang' 'Tang'.

Dentang pedang yang beradu mengisi suasana pagi mendebarkan ini. Dari kanan, dari kiri, dari segala arah yang memiliki celah untuk membunuh, dijejali tebasan serta ritme pedang beradu yang memercikan bunga api.

Di lain sisi, dalam jarak yang cukup jauh. Dua penyihir tengah menembakkan bola-bola energi kuning lemon sihir pada sesosok tentara Mata Pingai. Tentara ini cukup cekatan dalam mengelak dari setiap serangan. Lebih-lebih sambil berlari ke sana kemari, beberapa kapak dilempar pula pada dua penyihir sekaligus.

Lama sudah gaya pertarungan mereka demikian, cukup konsisten, tapi terasa buang-buang waktu.

Hingga di suatu momen, kala sang penyihir satu berlari mendekati tentara tersebut. Seni beladiri Energi berkutat antara mereka berdua. Kendatipun sang tentara diserang dua penyihir, sikap pantang mundurnya ter-representasi begitu jelas dari perjuangannya kini.

Dia bertarung dengan penyihir yang satu, lalu menghindari serangan penyihir yang kedua, kemudian kembali bertarung pada penyihir yang satu dan lagi-lagi menghindari serangan penyihir kedua. Menjadikan pertempuran dua lawan satu itu terjadi secara kontinuitas dan terlihat seimbang.

Waktu malah bergulir bersama mereka, sampai di menit ke 31, hal tak terduga terjadi. Sang penyihir satu menembakkan bola energi sihir bertepatan dengan kewalahan serta kelengahannya sang tentara, akibatnya energi sihir sukses mengenai wajah target, 'Buaf'.

Sihir Pikir sekonyong-konyongnya membuat kepala tentara itu kesakitan. Meringis seraya memegang kepalanya erat-erat dan bertepatan dalam momen tersebut, sang penyihir kedua menebaskan sebilah pedang pada leher sang tentara, yang pada akhirnya menumbangkan tentara terlatih itu hingga tewas bersimbah darah.

Dua penyihir menang dan itu berkat kerja sama tim serta sepak terjang yang lebih mumpuni ketimbang kemiliteran tentara.

Sedangkan Karu masih meliukan pedang begitu ganas, seolah ada dendam yang besar pada lawannya itu. Kecepatan serta daya rusak dari setiap serangan Karu nyatanya lebih unggul ketimbang tentara yang berambut benderang itu.

“GYAAAAH ...!” Karu bahkan berteriak meluapkan berangnya.

'Trang' 'Tang' 'Tang' 'Tang'. Bunyi pedang yang beradu sampai-sampai ber-resonansi dan memercikkan bunga api, yang sewaktu-waktu bisa saja mengobarkan api.

Tentara itu sudah sadar bahwa dirinya kalah dalam teknik berpedang. Oleh karenanya, dirinya berniat mengubah gaya pertarungan sesegera mungkin.

Akan tetapi, niatnya luruh oleh lesatan tongkat kujang yang sukses tertancap ngeri pada samping kepalanya, 'Clap'.

Dan 'Bruk' sang tentara jatuh menanggung kematian menyakitkan nan menyedihkan. Tongkat kujang Nerta membunuhnya dan menghentikan usaha Karu secara spontan.

Dalam jarak 10 meteran pada Karu, Nerta telah berdiri dengan ke dua tangan yang terselip keren pada saku jaketnya. Bukan itu saja, dirinya telah pulih kembali berkat pil Pemulihan, sekaligus pakaiannya yang rusak sudah utuh kembali.

“Ini akan jadi perang besar, bila Anda enggan ikut dengan kami.” Nerta langsung bicara sungguh-sungguh, seolah-olah mengancam anak kecil agar tak barmain di tengah malam karena banyaknya hantu yang usil. Dan bahkan raut wajah kalem kebanggannya tetap terlukis.

Anehnya, Karu malah bermuka kuyu dan masam. Keselamatan nyawanya bagai tak membangkitkan sikapnya untuk tampil energik. Dirinya melenggang sedih menuju tempat lain.

Sedangkan Nerta melangkah mendekati tongkat kujangnya lantas mengambilnya dan menyimpan dalam tenggorokannya kembali.

Seluruh pertempuran pada hari itu berakhir. Putihnya malam telah beralih menjadi pagi yang cerah dan suasana sunyi kembali. Awan putih nan berkelompok-kelompok tetap bertengger asyik di langit yang bias dalam warna-warni bintang.

Kemungkinan besarnya kejadian ini menjadi masalah pelik dan Nerta berpeluang besar untuk jadi buronan negara, atau lebih buruknya lagi, jadi daftar tugas para penjahat demi meminta tebusan sebungkus permen kembangapi dan sebangsanya.

Nerta sempat bincang-bincang santai bersama dua penyihir yang tadi membantunya. Satu keterangan fundamental dari mereka diperasat Nerta: Kejadian ini akan dimanipulasi oleh sedikit kebohongan. Dan Nerta hanya perlu menikmati misinya berlanjut.

Sementara dua penyihir membereskan jasad para tentara bangsa mereka. Nerta menghampiri Karu yang tengah bersimpuh menangisi seorang ajudan setianya.

“Paman ... mohon maaf, bila aku agak lancang. Tapi, kita mesti cepat pergi dari sini dan simpan tangisan Anda untuk ajudan itu nanti.” Nerta melangkah bagaikan tak pernah terjadi masalah. Begitu santai. “Ada hal yang lebih utama yang mesti kita lakukan."

”Kau tidak tahumenahu, bila ajudan setia ini, adalah putra bungsuku ...,“ ungkap Karu dengan mimik wajah begitu penuh arti dan gurat renungan mendalam. Tatapannya sangat menelusup pada jemari ajudannya yang kaku, yang memiliki relevansi sebagai putranya.

Untuk itulah muka plegmatis Nerta secara drastis berganti jadi guratan serius. Tatapannya jatuh pada sosok Karu yang masih bersimpuh di samping mendiang putranya. Nerta bahkan mendadak bergeming di sana, di belakang Karu.

”Di antara tiga putraku yang hidup dalam dunia ini ... hanyalah si bungsu ini yang rela mengorbankan hidupnya dalam dedikasi pada masyarakat ...,“ tutur Karu dengan sendu serta bangga yang melebur satu jadi tetesan air mata, seraya bangkit perlahan untuk berdiri. ”Anak ketigaku ini, mati secara terhormat ....“

Pengakuannya itu seolah-olah ditujukan agar Nerta —bukan— agar dunia dapat memahami, bahwasanya semua yang mati serta berkorban untuk Karu, adalah para figur terhormat dan setidaknya layak diapresiasi dengan menurunkan topi di dada dalam berkabung.

”Paman benar ... putra paman mati terhormat, selayaknya pria yang mati dalam medan perang ...,“ sahut Nerta berempati dengan serius.

Nerta sedikitnya dapat memahami sensasi kehilangan sosok yang paling dicintai tepat di depan matanya. Sebuah sensasi yang dapat melaburkan setitik rasa sakit menjadi derita yang mendalam dan kalau sempat, dapat menjadikan rasa traumatis.

”Mereka layak bersanding bersama para malaikat ... sungguh, mereka layak bersama para malaikat.“ Karu telah berdiri memunggungi Nerta dalam dukacita dan tak lupa juga mengomentari kematian lawannya. ”Tapi sayangnya ... sangat disayangkan. Lawan kita mati dengan keji. Padahal sungguh ... aku selalu berdo'a agar semua makhluk berbahagia, dan seyogianya, mereka mati secara berbahagia.“

Nerta menghela napas berat dan karena baginya terdiam memang adalah seni terbaik dalam menyikapi situasi menyedihkan. Maka Nerta terdiam, antara berkabung dan apatis, terimplisit di sikapnya kini.

______________________________________________________________________

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup dengan hanya memberikan Like/Vote poin/koin.

(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)

1
Kinia
semangat ya (:
setiyowati b
lg mau baca nih thor... moga asyik
Harman LokeST
njuuuuuuuuuut author
Fahrur Rozi
seperti filem sinetron ajh
🍾⃝ʙͩaᷞiͧ ǫᷠiͣɴƓǫɪɴƓ 💞🇵🇸
baru mulai baca..semgat ka
arfan
up
zien
hadir 🌹🌹❤❤
zien
hadir 🌹🌹
zien
hadir 💗💗
zien
Hadir ❤❤
zien
Hadir 💗💗
zien
hadir ❤❤
Si Autor (IG: Anterta.): 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
zien
hadir 🌹🌹
zien
hadir 💗💗
Gyatsa Dzaky
bahasanu tinggi nian
Dave19
👍
Botha Hantu
ikut
zien
Semoga sukses selalu💗💗🌹🌹
zien
Hadir 💐💐
zien
hadir💗💗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!