Aiden yang telah terbiasa menikmati rasa sakit karena mencintai Agneta. Ia sudah menutup hati untuk wanita manapun. Menjadi sosok yang dingin dan begitu tak tersentuh.
Sejak Agneta memilih Davero, ia memilih pergi menjauh meninggalkan Indonesia. Dan mulai menetap di Negara A tepatnya di kota N dan mulai merintis kariernya di sana.
Tetapi takdir mempertemukan dirinya dengan masalalunya. Masalalu yang merupakan kesalahannya...
Catherin....
Akankah Catherin meluluhkan hati Aiden, dan menggantikan posisi Agneta di dalam hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indriani Sonaris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Tok tok tok
Pintu terbuka dan terlihat wajah Aiden yang baru bangun tidur.
"Hai,"
"Oh Hai Eve," seru Aiden mengacak rambutnya.
Evelyn di buat terpaku di depan pintu melihat Aiden yang hanya memakai celana boxer putihnya saja dan memperlihatkan tubuh telajangnya yang sixpack dan kekar. Rambutnya yang acak-acakan membuatnya terlihat begitu seksi.
"Evelyn," seruan itu menyadarkan Evelyn dari keterpakuannya yang sangat terpesona.
"Eh?"
"Ada apa?" tanya Aiden bersandar ke daun pintu dan terlihat sangat memukau dan begitu menggiurkan. Rasanya tangan Evelyn ingin bermain di dada bidangnya yang kekar dan pastinya begitu hangat saat berada di pelukannya.
"Aku membuatkan pancake untukmu sarapan," ucap Evelyn. "Apa aku boleh masuk?"
Aiden memberi jalan Evelyn. "Masuklah Eve."
Evelyn berjalan masuk ke dalam apartement Aiden. Ia melihat sekeliling apartement, terlihat begitu rapi. Padahal Aiden seorang pria tetapi ia merawat rumahnya dengan sangat baik.
"Duduklah, aku akan ke kamar mandi sebentar," ucap Aiden berjalan memasuki kamarnya.
Evelyn berjalan mendekati meja pantry dan membuka tas bekal yang ia bawa. Kemudian ia menyiapkannya di atas meja pantry.
Setelahnya Evelyn berjalan ke dekat sofa ruang televisi dan melihat sekelilinya. Di sana banyak sekali miniatur mobil sport yang berada di etalase kecil.
"Sepertinya Aiden menyukai miniatur mobil seperti ini," gumam Evelyn melihat miniatur milik Aiden.
"Mau kopi atau teh?" pertanyaan itu membuatnya menoleh dan melihat Aiden sudah lebih segar dan memakai kaos berwarna putih.
"Teh hangat boleh," seru Evelyn berjalan mengikuti Aiden menuju pantry yang menjadi pembatas dapur dan ruang televisi.
Evelyn duduk di pantry dan Aiden terlihat membuatkan teh untuknya dan segelas kopi untuk Aiden sendiri.
"Minumlah," seru Aiden menyimpan gelas teh di hadapan Evelyn. Kemudian ia duduk di hadapan Evelyn dan menyeduh kopi nya.
"Kamu tidak bersiap untuk bekerja?" tanya Evelyn.
"Hmm... aku sudah berhenti bekerja," jawab Aiden dengan santai.
"Eh benarkah? Tapi kenapa?" tanya Evelyn.
"Sudah waktunya pensiun," kekeh Aiden.
"Ck, enak sekali," seru Evelyn ikut terkekeh.
Evelyn meneguk teh miliknya. "Jadi apa rencana mu selanjutnya?" tanya Evelyn.
"Entahlah. Mungkin kembali ke Indonesia," seru Aiden.
"Kembali?" gumam Evelyn merasa sangat tak rela.
"Ini pancake buatanmu sendiri?" tanya Aiden.
"Iya, cobalah," seru Evelyn.
"Baiklah aku coba yah," ucap Aiden menikmati pancake buatan Evelyn.
"Enak," puji Aiden membuat Evelyn bersemu merah.
"Kalau begitu habiskanlah."
"Pasti. Kebetulan aku belum membuat sarapan apapun," ucap Aiden menikmati pancake nya.
Evelyn sangat bahagia bisa menyiapkan sarapan untuk Aiden. Ia semakin jatuh cinta pada sosok pahlawan di depannya ini.
Dulu saat keluarganya hancur karena kelakuan Ayahnya yang suka sekali dengan judi. Bahkan dengan tega menjual Evelyn ke pria tua kaya raya. Ibunya selalu di siksa dan di pukuli oleh ayahnya itu. Ayah yang merupakan Ayah tirinya. Tetapi kedatangan Aiden sungguh menjadi pahlawan untuk hidup dirinya dan Ibunya.
Bukan hanya menolong dirinya untuk tidak jadi di jual. Tetapi juga berhasil menjebloskan Ayah tirinya ke balik jeruji besi dan mendapatkan hukuman yang berat. Saat itulah Evelyn sudah menyimpan nama Aiden di dalam hatinya.
Kembalinya ia ke kota ini pun karena ingin menggapai cintanya yang dulu sempat tertunda. Semoga kali ini berjalan dengan lancar.
"Sudah habis," seru Aiden menyadarkan lamunan Evelyn yang tengah memperhatinkan Aiden.
"Wah senangnya," seru Evelyn.
"Kamu sendiri tidak kerja?" tanya Aiden.
"Emmm tidak. Oh iya nanti malam jangan lupa untuk datang yah," seru Evelyn seraya menyerahkan sebuah undangan ke hadapannya.
"Undangan apa ini?" tanya Aiden.
"Peragaan busana. Aku baru merilis beberapa pakaian musim dingin. Ini peragaan busana pertamaku, jadi aku sangat berharap kamu bisa datang," seru Evelyn.
"Baiklah."
***
Jasmine baru saja keluar dari sekolahnya dan berlari bahagia saat melihat Catherine menjemputnya.
"Mommyy...."
"Mine..."
Catherine membawa Jasmine ke dalam gendongannya, "Mommy kangen banget sama kamu."
"Mine juga sangat merindukan Mommy."
Catherine menurunkan Jasmine kembali. "Ayo kita pulang."
"Aku gak akan pulang ke rumah Aunty Marinka lagi?" tanya Jasmine.
"Tidak. Kali ini kita pulang ke rumah kita," ucap Catherine membawa Mine masuk ke dalam mobilnya.
Tak jauh dari posisi mereka, sepasang mata tajam terlihat mengawasi mereka berdua.
"Aku tidak akan melepaskan kalian berdua," gumam seseorang itu yang merupakan Robert.
Setelah kepergian mobil Catherine, Robert kembali memakai kacamata hitamnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.
***
Jasmine dan Catherine sampai di rumah. Langkah mereka berhenti saat melihat Mr. William yang merupakan Ayah Catherine duduk di sana.
"Grandpa," seru Jasmine berlari menerjang tubuh William yang sudah merentangkan kedua tangannya dan membawa Jasmine ke dalam gendongannya.
"Anak pintar. Bagaimana sekolahmu?" tanya William. William sangatlah menyayangi Jasmine, tidak perduli siapapun Ayahnya.
Sampai detik ini Catherine masih bungkam dan tidak mengatakan siapa Ayah biologis Jasmine.
"Sangat menyenangkan, Grandpa."
"Bagus, kamu harus rajin belajar yah," serunya yang di angguki oleh Jasmine.
"Baiklah. Sekarang pergilah ke kamarmu. Grandpa harus berbicara dengan Mommy."
"Siap Grandpa."
Jasmine meloncat turun dan berlari ke area dalam rumah menuju kamarnya.
"Kita bicara di ruang kerjamu," seru William berjalan lebih dulu menuju ruang kerja Catherine.
---
Saat ini William berdiri memunggungi Catherine dengan keangkuhannya.
"Katakan kenapa kamu membatalkan begitu saja pertunanganmu dengan Robert?" tanya William yang kini berbalik ke arah Catherine. "Siapa pria yang ada di foto itu?"
"Aku tidak menyukai Robert dan dia hanya ingin memanfaatkanku untuk merebut semua kekuasaan milik keluarga kita."
"Benarkah? Bukankah karena kamu berselingkuh?" tanya William. "Jaga sikapmu, Catherine. Kamu ini seorang Nona dari SR Group. Jangan mempermalukan nama baik keluarga kita!"
"Aku tidak berselingkuh. Pria itu adalah orang yang menyelamatkanku dari penganiayaan Robert," seru Catherine.
"Apa? Tapi Robert berkata kalau kamu mencampakkannya karena pria itu."
Catherine menghela nafasnya.
"Ayah, selama ini aku selalu menurutimu. Apapun yang anda katakan, selalu saya lakukan. Apa aku harus menipumu seperti ini? Untuk apa, apa aku memiliki alasan untuk memberontak?" tanya Catherine membuat William menghela nafasnya.
"Putriku, maafkan Ayah." William berjalan mendekati Catherine dan membawanya ke dalam pelukan Ayahnya. "Maafkan Ayah karena meragukanmu. Seharusnya Ayah tidak mempercayai ******** sialan itu. Apa, apa dia melecehkanmu?" tanya William melepaskan pelukannya dan menatap Catherine dengan sendu.
"Hampir, tapi itu tidak berhasil." Jawab Catherine. "Ayah, bisakah anda tidak menjualku lagi untuk bisnis?"
Pertanyaan Catherine membuat William terpaku.
"Apa yang kamu katakan. Ayah tidak pernah menjualmu, Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu."
"Ayah, kalau memang seperti itu, maka mulai sekarang biarkan aku menjalani hidupku sesuai keinginanku. Anda telah banyak menjodohkanku dengan beberapa pria dari kalangan pembisnis tetapi akhirnya gagal juga. Aku sudah mendapatkan gelar sebagai wanita yang gagal." Wiliam masih diam mendengarkan perkataan Catherine.
"Untuk saat ini aku ingin hidup tenang bersama Jasmine. Tolong jangan jual aku lagi," serunya.
"Baiklah aku akan menyetujuinya. Tetapi ingatlah, kalau kamu memiliki pria yang kamu cintai dan kamu ingin hdup dengannya. Aku yang tetap memutuskan apa pria itu layak atau tidak."
"Jangan sampai reputasi keluarga kita di permalukan."
***
Aiden baru saja sampai di gedung tempat peragaan busana yang di adakan oleh Evelyn. Ia berjalan masuk seraya menyerahkan undangan yang ia bawa.
Ia di arahkan ke tempat duduk VIP di bagian depan. Ternyata ini merupakan peragaan besar di kota N ini. Aiden mendaratkan pantatnya di atas kursi yang ada di sana. Ia duduk dengan tenang hingga tatapannya menangkap sosok yang ia kenal.
"Catherine?" gumamnya melihat Catherine duduk tak jauh darinya. Dan Catherine terlihat datang bersama Alan.
'Dia datang bersama pria itu lagi. Sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka berdua? Apa mereka sungguh memiliki hubungan? Apa secepat ini Catherine berpaling dariku? Apa memangnya cintanya tidak setulus yang aku bayangkan?' batin Aiden.
Acara pun di mulai. Seseorang sedang membawakan acara pembukaannya.
Tak lama, mereka memanggil Evelyn selaku desaignernya. Evelyn tampak memberikan sambutannya. Tetapi pandangan Aiden bukan ke Evelyn melainkan pada Catherine yang terlihat sangat akrab dengan pria bernama Alan itu.
Aiden sungguh di buat terbakar dan sangat kesal melihat semua itu. Sebenarnya ada apa dengan dirinya.
Acara pun berlanjut dengan beberapa model yang mulai memperlihatkan beberapa model pakaian musim dingin yang sangat memukau.
Aiden yang merasa sudah sangat gerah dan kesal memilih meninggalkan tempat itu dan berjalan keluar gedung. Kepergian Aiden tak luput dari pandangan Catherine yang menoleh dan melihat punggung Aiden yang menjauh.
"Ada apa?" tanya Alan.
"Emmm tidak ada." Seru Catherine kembali melihat ke arah panggung. "Aku ke toilet dulu," ucap Catherine beranjak pergi meninggalkan Alan.
Catherine tidak pergi ke kamar mandi, melainkan pergi keluar gedung itu mencari keberadaan Aiden. Entah kenapa ia terus kepikiran Aiden, apalagi mendengar kalau Aiden berhenti dari Firma hukum. Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah menjadi seorang pengacara adalah keinginannya.
Ia melihat ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Aiden tetapi tak ia temukan. Ia terus berjalan dan melihat Aiden berdiri di dekat hutan kota yang ada di samping gedung ini. Aiden terlihat bersandar ke batang pohon dengan sebelah tangannya yang di masukan ke dalam saku mantelnya. Dan sebelah tangannya lagi tampak memegang sebatang rokok yang sesekali ia hisap.
Mendengar derap langkah kaki membuatnya menoleh dan matanya langsung beradu dengan mata seseorang yang entah kenapa kali ini mampu membuatnya berdebar.
"Aku hanya sedang mencari udara segar," ucap Catherine menjadi gugup dan salah tingkah. "Baiklah aku akan kembali masuk."
"Sudah menemukanku, kenapa malah kembali masuk," ucap Aiden kini berjalan menghampiri Catherine seraya membuang rokoknya ke tanah yang sudah di penuhi salju.
Aiden kini berdiri di hadapan Catherine yang masih tidak berani melihat ke arah Aiden.
"Aku hanya ingin tau apa kamu baik-baik saja. Kenapa kamu bisa berhenti dari Firma?" tanya Catherine kini melihat ke arah Aiden yang berada di depannya.
Aiden hanya diam dan menatap Catherine dengan seksama.
"Emm ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Catherine semakin di buat gugup.
"Aku hanya sedang berpikir, apa kita akan terus seperti ini," ucap Aiden.
"Memang apa yang kau inginkan. Bukankah kamu sendiri yang yang ingin seperti ini," seru Catherine.
"Aku tidak tau apa yang aku inginkan.hatiku penuh dengan ketakutan. Mungkin sebaiknya aku kembali ke Indonesia."
"Apa maksudmu?" seru Catherine sedikit kaget.
"Aku tidak memiliki tujuan hidup, Cath. Aku merasa tersesat dan aku tidak memahami diriku sendiri. Aku lelah dengan semua rasa yang aku rasakan ini. Aku lelah dengan rasa takut ini. Aku tidak ingin hidupku semakin menyulitkanmu. Aku ingin berterima kasih karena kamu masih memperdulikanku."
"Jangan seperti itu." Seru Catherine.
Catherine menatap Aiden dengan sendu. "Kenapa kamu harus seperti ini, Aiden? Kamu selalu membuatku kebingungan dan merasa serba salah. Aku tidak paham akan dirimu yang sekarang, dan aku sendiripun tidak tau harus bagaimana menghadapimu," ucap Catherine terlihat berkaca-kaca.
Tanpa kata Aiden tiba-tiba saja memegang pipi Catherine dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Catherine. Ia mendaratkan bibirnya di bibir Catherine. Catherine tidak memberikan perlawanan ataupun membalasnya. Ia hanya diam membeku mendapatkan ciuman mendadak dari Aiden.
Mereka berciuman di bawah hujan salju.
Cukup lama berciuman, Aiden melepaskan ciumannya dan tatapan mereka kembali beradu dalam jarak yang sangat dekat. Bahkan hidung keduanya sudah memerah karena kedinginan.
Air mata Catherine jatuh membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan lagi. Kenapa harus sesakit ini rasanya.
"Maafkan aku karena aku begitu ketakutan akan cinta. Luka itu membekas sangat dalam di dalam hatiku. Aku ingin keluar dari semua ini tapi rasanya tidak bisa. Aku tidak percaya akan cinta lagi," ucap Aiden.
Aiden mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya. Ia menyimpan kalung di telapak tangan Catherine.
"Aku mohon simpanlah ini. Sebagai tanda kalau aku pernah ada dalam hidupmu." Aiden membelai pipi Catherine. "Jangan menangis lagi karena aku."
Aiden menghapus air mata Catherine. 'Andai aku bisa terlepas dari belenggu ini dan bisa mencintaimu. Aku akan sangat bahagia. Apa kamu bisa membawaku keluar dari rasa takut ini, Cath?' batin Aiden.
Aiden beranjak pergi meninggalkan Catherine sendiri dengan matanya yang memerah menahan air matanya. Catherine menatap punggung Aiden yang semakin menjauh. Tadi ia sempat melihat air mata di pelupuk mata Aiden.
Catherine menundukkan kepalanya dan melihat kalung di telapak tangannya. Air matanya kembali jatuh membasahi pipinya.
'Sebenarnya apa yang membuatmu begitu takut, Aiden?' batin Catherine.
***
TBC...
16-04-2020
maunya sih extra part nya saja thooor....
hehehe maaf yaa....