Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita Bahagia
Satu bulan setelah pesta ulang tahun perusahaan, kehidupan Putri dan Devan berjalan sangat harmonis. Namun, pagi itu, kepanikan kembali melanda kediaman mereka.
Putri berlari ke kamar mandi sesaat setelah bangun tidur, memuntahkan isi perutnya. Suara 'huek' yang menyiksa itu membangunkan Devan seketika.
Devan melompat dari kasur, wajahnya pucat pasi. Trauma masa lalu langsung menghantamnya. Muntah? Apakah kankernya kembali? Apakah kemoterapinya gagal?
"Putri!" Devan menggedor pintu kamar mandi. "Buka pintunya! Kita ke dokter sekarang! Aku siapin mobil!"
Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Putri keluar dengan wajah basah dan sedikit pucat, namun anehnya, matanya berbinar-binar, tangannya menyembunyikan sesuatu di balik punggung.
"Mas... jangan panik dulu," ucap Putri pelan.
"Gimana nggak panik?! Kamu muntah lagi! Kita harus cek darah, Put. Aku takut sel kank_"
"Bukan kanker, Mas," potong Putri lembut. Ia tersenyum, senyum yang merekah indah. Perlahan, ia mengeluarkan tangan dari balik punggungnya, menunjukkan sebuah benda kecil berwarna putih.
Test pack...
Devan mematung, matanya terbelalak menatap benda itu, lalu menatap perut rata Putri, dan kembali ke wajah istrinya. Otaknya yang cerdas mendadak lambat memproses informasi.
"Ini... i-ini maksudnya..." Devan tergagap.
"Aku hamil, Mas," bisik Putri haru, "dokter bilang, pasca kemoterapi biasanya susah hamil karena rahim kering. Tapi Tuhan kasih kita kepercayaan ini, ada kehidupan di sini."
Putri mengelus perutnya.
Kaki Devan lemas saking bahagianya. Ia jatuh berlutut di depan Putri, memeluk pinggang istrinya, dan menyandarkan wajahnya di perut rata itu. Bahu Devan berguncang, ia menangis, kali ini tangisan bahagia yang meluap-luap.
"Aku bahagia banget, Put," isak Devan, "aku janji bakal jaga kalian. Nggak akan ada yang boleh nyakitin kamu dan anak kita."
***
Berita kehamilan itu menyebar cepat bagai angin musim semi yang menyejukkan.
Malam harinya, di kediaman orang tua Devan, suasana makan malam terasa sangat berbeda dari bulan-bulan sebelumnya.
Bu Ambar, yang dulu selalu sinis dan membandingkan Putri dengan Tamara, kini tampak sibuk menyendokkan sayur ke piring Putri.
"Makan yang banyak, Put. Ini Mama suruh koki masak sup ayam kampung khusus buat kamu. Bagus buat janin," ucap bu Ambar antusias.
"Terima kasih, Ma," jawab Putri sopan.
Pak Pramudita tersenyum lebar. "Papa senang sekali dengarnya. Papa kira setelah sakit kemarin, kami harus menunggu lama untuk bisa punya cucu. Ternyata Putri memang wanita hebat."
Bu Ambar meletakkan sendoknya, lalu menatap Putri dengan tatapan bersalah.
"Putri..." panggil bu Ambar pelan, "mama mau minta maaf. Selama ini mama buta. Mama pikir Tamara yang terbaik buat Devan karena dia cantik dan pintar. Tapi mama salah, Tamara cuma bawa racun buat Devan."
Bu Ambar meraih tangan Putri.
"Kamu... kamu yang terbaik. Kamu yang nemenin Devan saat susah, kamu yang bertahan meski mama hina. Terima kasih sudah mau mengandung cucu keluarga Pramudita. Mama janji, mama akan tebus kesalahan mama dengan jadi nenek yang baik."
Putri tersenyum tulus, mengangguk. "Putri sudah lupakan yang lalu, Ma. Yang penting sekarang kita sama-sama jaga calon bayi ini."
Devan merangkul bahu Putri, menatap keluarganya dengan bangga. Akhirnya, istrinya mendapatkan tempat yang layak di meja makan itu. Bukan sebagai pengganti, tapi sebagai ratu.
Sementara itu, di sebuah kafe remang-remang di pinggiran kota. Tamara membanting ponselnya ke meja dengan kasar, membuat beberapa pengunjung menoleh kaget.
Layar ponsel itu retak, masih menampilkan foto postingan Instagram Arga yang memberi selamat pada Devan dan Putri dengan caption, "Congrats Bro! Calon Bapak dan Ibu hebat!"
"Sialan!" umpat Tamara. "Hamil?! Dia hamil?! Gimana bisa orang penyakitan kayak dia hamil secepat itu?!"
Di depannya, Anggun duduk sambil memijat pelipisnya yang pening. Sejak Brahma membatasi akses keuangan mereka, Anggun harus bekerja lembur di kantor untuk menutupi gaya hidup mereka yang masih boros, sementara Tamara hanya bisa merengek.
"Sudahlah, Tamara," desah Anggun lelah, "terima kenyataan. Devan sudah bahagia, keluarga Pramudita juga sudah berbalik arah mendukung Putri. Kita sudah kalah di ronde ini."
"Aku nggak mau kalah, Ma!" desis Tamara, matanya berkilat penuh dengki. "Harusnya anak itu anakku! Harusnya aku yang hamil anak Devan, bukan si Putri!"
Tamara membayangkan Putri yang kini dimanja, disayang, dan menjadi pusat perhatian. Rasa iri membakar hatinya hingga rasa benci semakin besar. Ia tidak bisa menerima fakta bahwa adik tiri yang dulu ia anggap kerikil, kini telah menjadi gunung yang tak bisa ia daki.
"Liat aja nanti," gumam Tamara pelan, tangannya mengepal hingga kukunya menancap di telapak tangan. "Hamil itu berat, melahirkan itu taruhan nyawa. Apalagi buat mantan pasien kanker. Siapa tau... takdir buruk masih ngintai dia."
Anggun menatap putrinya dengan waspada. "Tamara, jangan nekat. Papa sudah mengancam akan mencoret kita dari Kartu Keluarga kalau kita ganggu Putri lagi."
"Aku nggak akan ganggu secara langsung, Ma," Tamara tersenyum miring, senyum yang mengerikan. "Aku cuma akan... berdoa. Berdoa supaya 'keajaiban' itu berubah jadi mimpi buruk."
Di kejauhan, kebahagiaan Putri dan Devan bersinar terang, namun di sudut gelap hati Tamara, badai kebencian masih belum reda, menunggu celah sekecil apapun untuk kembali masuk.
***
Di balik kemegahan rumah keluarga Brahma yang kini terasa dingin dan mencekam, ada satu sosok yang seringkali terlupakan. Rian.
Bocah laki-laki yang baru duduk di bangku kelas lima SD itu tumbuh menjadi anak yang pendiam sejak Putri diusir. Baginya, rumah ini bukan lagi istana, melainkan penjara yang dihuni oleh dua penyihir jahat, ibunya sendiri dan kakak kandungnya, Tamara.
Malam itu, Rian sedang berpura-pura tidur di kamarnya. Namun, telinganya terpasang tajam. Ia mendengar suara langkah kaki Tamara yang mondar-mandir di koridor, lalu masuk ke kamar Anggun.
Dengan langkah hati-hati tanpa suara, keahlian yang ia pelajari dari Putri agar tidak dimarahi Anggun, Rian turun dari kasurnya. Ia merangkak keluar kamar, mendekat ke celah pintu kamar Anggun yang sedikit terbuka.
Di dalam sana, Tamara sedang memegang sebuah botol kaca kecil berisi cairan pekat.
"Ini aman, Ma," ucap Tamara, suaranya terdengar berbisik namun penuh intrik.
Anggun menatap sang anak dengan penuh rasa curiga.
"Orang pinter yang jual bilang ini cuma bikin kontraksi hebat. Nggak sampai bikin mati, cuma... ya, biar 'gumpalan darah' itu luruh aja."
Rian membekap mulutnya sendiri dengan tangan mungilnya. Matanya membelalak lebar, ia tahu apa yang dimaksud kakaknya. Tamara ingin menyakiti bayi di perut Putri
Anggun yang duduk di meja rias terlihat ragu sejenak, namun kebenciannya pada kebahagiaan Putri menutup nuraninya.
"Pastikan jangan sampai ketahuan Devan," ujar Anggun dingin, "kamu kirim ini besok sebagai hadiah 'permintaan maaf'. Bilang ini tonik herbal dari Cina, bagus buat stamina ibu hamil. Putri itu polos, dia pasti percaya kalau kamu akting nangis-nangis minta maaf."
"Tenang aja, Ma. Besok aku bakal akting sebagus mungkin. Aku bakal sujud di kaki dia kalau perlu, biar dia minum racun ini." Tamara menyeringai, memasukkan botol itu ke dalam sebuah hampers buah-buahan mewah yang sudah disiapkan.