Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.
Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liar Tapi Mematikan
Setelah selesai menghukum istrinya dengan memberikan kenikmatan, Brian mengendong tubuh Arumi kembali ke kamar. Di sudut lain ruangan, kepala pelayan hanya terdiam sambil merapikan bekas kekacauan tuan mudanya yang baru saja menggagahi nyonya muda. Baginya, meski Brian dikenal arogan, pria tampan itu terlihat sangat mencintai Arumi dengan caranya sendiri.
Brian membawa Arumi ke dalam bathtub, membasuh tubuh wanita itu dengan penuh kelembutan. Sementara itu, Arumi hanya diam lemas, kehilangan seleranya untuk bersuara. Brian tahu istrinya sedang marah, namun ia hanya menyunggingkan senyum tipis melihat reaksi tersebut.
Selesai membersihkan diri, Brian mengeringkan tubuh Arumi dengan handuk lembut. Ia membiarkan Arumi tetap polos, begitu pun dengan dirinya sendiri, saat ia membawa wanita itu kembali ke ranjang. Meski Arumi berusaha menghindar, Brian tetap memaksanya untuk berbaring di sana, di bawah balutan selimut yang menutupi kulit mereka yang bersentuhan.
"Kau sudah sarapan, hmm?" tanya Brain lembut sembari membelai wajah Arumi yang tetap terlihat cantik meski tanpa riasan.
Arumi tak menjawab. Ia memilih bungkam dan membuang muka. Brian kemudian menyapu bibir Arumi dengan ibu jarinya, mencoba menarik perhatian sang istri.
"Aku akan mengadakan konferensi pers untuk memberitahu media bahwa kita sudah menikah. Aku bahkan bersedia pensiun menjadi aktor jika kau melarang ku bekerja," bisik Brian.
Mendengar hal itu, Arumi baru bersedia menatap wajah Brian. "Terserah." jawabnya ketus.
Sifat nakal Brian kembali muncul. Tangannya mulai meraba bagian tubuh Arumi yang ia sukai. Lalu turun mengusap perut wanita itu dengan lembut.
"Selama dua tahun, kau belum juga hamil. Apa Adrian melarang mu?" tanya Brian dengan tatapan mata yang berubah serius, menusuk langsung ke bola mata hitam Arumi.
"Tidak, Justru dia sangat menginginkannya. Mungkin Tuhan memang belum memberikannya," ucap Arumi jujur.
"Tuhan menundanya hanya untukku," sahut Brian dengan nada sarkas diikuti tawa kecil. Arumi sempat terpesona melihat tawa itu pemandangan langka yang jarang ia temui pada sosok Brian. Namun, ia buru-buru menepis pikiran aneh itu.
"Milikmu pun masih terasa sangat rapat," ucap Brian tanpa filter.
Refleks, tangan Arumi mencoba membungkam bibir Brian, namun pria itu dengan cepat menahan tangannya dan mengecup jemari Arumi, membuat bulu kuduk wanita itu merinding. Tiba-tiba, Brian merangsek masuk ke dalam selimut. Ia meregangkan paha Arumi dan memposisikan kepalanya di sana. Cumbu yang intens itu seketika membuat Arumi memekik, punggungnya melengkung saat ia kembali tenggelam dalam ulah suaminya.
Setelah merasa puas membuat Arumi memekik berkali-kali di bawah kendalinya. Brian akhirnya membiarkan istrinya itu beristirahat. Ia menyelimuti Arumi dan memintanya segera tidur, sementara dirinya harus segera beranjak menuju ruang kerja. Di sana, Hendra pasti sudah menunggunya cukup lama.
...---...
Di ruang kerja yang diterangi lampu temaram, Hendra tidak sendirian. Ia ditemani oleh frans, asisten Brian, yang tampak sibuk, bergulat dengan tumpukan dokumen. Keduanya terlihat sangat serius meninjau kembali data keuangan perusahaan yang ditemukan tidak sinkron selama satu tahun terakhir. Ada selisih angka yang cukup besar. Menunjukkan adanya ketidakberesan yang terorganisir di dalam perusahaan milik Aditama Group tersebut.
Brian melangkah masuk ke ruang kerja sambil mengancingkan lengan kemejanya. Aura dominannya seketika memenuhi ruangan, menggantikan aroma percintaan yang baru saja ia tinggalkan di kamar. Hendra dan frans langsung mendongak, menghentikan aktivitas mereka di depan layar laptop yang penuh dengan angka-angka berwarna merah.
"Bagaimana?" tanya Brian singkat. Ia duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggung dengan raut wajah yang sulit ditebak.
Hendra menghela napas panjang, ia meletakkan sebuah map biru di depan Brian.
"Kacau, Tuan. Selisihnya terlalu rapi untuk disebut kesalahan input. Ini sabotase yang dilakukan secara sistematis selama satu tahun terakhir. Kami menduga pelakunya adalah orang dalam, seseorang yang punya akses penuh ke arus kas utama."
Brian menyipitkan mata. "Orang dalam? Kau yakin?"
Frans menyambung. "Benar, Tuan Brian. Dan ada hal lain yang lebih mengganjal. Kami mencoba menyinkronkan data ini dengan catatan sebelum kematian Tuan Adrian."
Mendengar nama kakaknya disebut, rahang Brian mengeras. "Apa hubungannya?"
"Catatan medis Tuan Adrian menyatakan beliau meninggal karena serangan jantung mendadak," ujar Hendra dengan nada rendah, seolah takut dinding ruangan itu ikut mendengarkan. "Tapi jika kita melihat garis keturunan keluarga Anda, tidak ada satu pun yang memiliki riwayat penyakit jantung. Semuanya sehat secara klinis. Kami merasa ada pola yang sama, keuangan yang mulai tidak stabil tepat sebelum Tuan Adrian wafat."
Brian terdiam, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme yang lambat namun menekan. "Maksudmu, Adrian tidak meninggal karena sakit, melainkan dibunuh oleh orang terdekatnya?"
"Itu kemungkinan terburuknya, Tuan," jawab Frans tegas. "Seseorang sedang mencoba menggerogoti Aditama dari dalam, dan mereka tidak ragu untuk menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalan mereka."
Sorot mata Brian berubah tajam dan penuh kilat amarah. "Cari tahu siapa saja yang memegang akses keuangan di tahun itu. Jika benar ada pengkhianat di dekat kita, aku sendiri yang akan memastikan mereka merasakan hukuman yang lebih buruk daripada kematian."
"Baik Tuan Muda."
Hendra dan frans akhirnya bersiap untuk undur diri. Namun, tepat sebelum tangan mereka menyentuh gagang pintu. Brian bangkit berdiri. Langkah kakinya yang berat menggema di ruangan yang sunyi itu saat ia menghampiri Hendra.
Brian berdiri sangat dekat, menginvasi tangan kanan kepercayaannya itu. Tatapannya sedingin es, menusuk langsung ke bola mata Hendra seolah sedang membaca isi kepalanya.
"Jika suatu saat nanti aku menemukan kalian terlibat dalam pengkhianatan ini," bisik Brian dengan nada rendah yang lebih mengerikan daripada teriakan. "Aku tidak akan segan-segan membuat kalian tidak bisa melihat dunia lagi."
Udara di sekitar mereka seolah menipis. Tak ada bantahan, hanya keheningan mencekam sebelum keduanya mengangguk singkat sebagai tanda kepatuhan. Tanpa mengucap sepatah kata pun, mereka segera pergi meninggalkan Brian yang masih berdiri dalam amarahnya yang tertahan.
Setelah memastikan Hendra dan Frans benar-benar menghilang dari balik pintu. Brian tidak segera kembali ke kamar. Ia berjalan perlahan menuju meja kerjanya, lalu duduk dengan helaan nafas berat. Matanya menatap tajam ke satu laci yang selalu terkunci rapat.
Dengan gerakan perlahan, ia mengambil kunci kecil dari balik saku kemejanya dan membuka laci tersebut. Di dalamnya tersimpan sebuah buku catatan tua dan sebuah jam tangan mewah yang sudah tidak berdetak lagi milik Adrian.
Barang-barang ini diserahkan oleh kepala pelayan kepadanya secara diam-diam, sebuah amanah rahasia yang bahkan tidak diketahui oleh Arumi, apalagi Hendra. Brian tahu, jika ada orang lain yang melihat benda-benda ini, mereka mungkin akan menyadari bahwa ia sedang menyelidiki sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar masalah keuangan.
Sambil mengusap permukaan jam tangan tersebut. Brian bersumpah dalam hati akan membalas setiap tetes penderitaan yang dialami Adrian hingga nyawanya hilang.