Ariana merasakan bahwa dirinya tengah dalam bahaya,keluarga nya yang dibantai namun sang ayah tidak ditemukan,lalu ariana bertemu dengan 3 pria tampan Siapakah mereka? baca kisahnya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sansan ryn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Tingkah
Ariana buru-buru mundur selangkah.
Ariana sangat malu karena dirinya tertangkap basah kala memandangi wajah alveric yang tengah pulas tertidur itu.
"Aku hanya ingin membangunkanmu!"
"Dengan memandangi wajahku?"
"Aku sedang memastikan apakah kau masih bernapas!"
Alveric terdiam.
Untuk beberapa detik, kamar itu kembali sunyi.
Lalu laki-laki itu tertawa pelan.
Bukan tawa mengejek yang biasa ia keluarkan ketika berhasil membuat Ariana kesal. Kali ini, tawanya terdengar rendah dan tulus, membuat jantung Ariana justru berdegup semakin tidak karuan.
"Jadi, menurutmu aku terlihat seperti orang yang sudah meninggal?"
"Bukan begitu maksudku!"
"Lalu bagaimana?"
Ariana membuka mulut, tetapi tidak menemukan satu pun jawaban yang bisa menyelamatkan harga dirinya.
Alveric memperhatikannya dengan mata kelabu yang kini dipenuhi geli.
Pipi Ariana semakin memerah.
"Sudahlah! Bangun saja kalau sudah selesai tertawa!"
Ia berbalik dengan maksud meninggalkan kamar, tetapi baru dua langkah, suara Alveric kembali terdengar.
"Ariana."
Langkahnya terhenti.
"Apa lagi?"
"Kalau memang ingin melihatku, kau tidak perlu mencari-cari alasan."
Ariana perlahan menoleh.
Alveric kini sudah duduk di tepi ranjang. Rambut silver gelapnya jatuh sedikit menutupi dahi, sementara tatapan kelabunya tertuju lurus kepadanya.
Senyum tipis itu masih bertahan di bibirnya.
"Kau boleh melihatku sepuasnya."
Jantung Ariana seperti melompat keluar dari tempatnya.
Laki-laki itu mengatakannya dengan begitu santai, seolah baru saja menawarkan secangkir teh, bukan menghancurkan seluruh pertahanan seorang gadis yang sedang mati-matian menyembunyikan rasa malunya.
"A-aku tidak tertarik!"
"Benarkah?"
"Benar!"
"Kalau begitu, kenapa wajahmu merah?"
Ariana spontan menutupi kedua pipinya.
"Karena kamarmu panas!"
Alveric melirik jendela yang terbuka lebar, tempat angin pagi masuk dengan bebas.
"Begitu rupanya."
Ia mengangguk seolah menerima penjelasan itu dengan serius.
"Kalau begitu, mungkin aku harus meminta pelayan membuka semua jendela. Aku tidak ingin kau kepanasan lagi saat mengagumi wajahku besok pagi."
"ALVERIC!"
Tawa Alveric kembali memenuhi kamar.
Sementara itu, Ariana hanya bisa menatapnya dengan wajah merah padam, ingin sekali menemukan lubang untuk bersembunyi.
Ia sungguh menyesal telah memasuki kamar itu pagi ini.
Tidak.
Ia lebih menyesal karena telah mengakui dalam hati bahwa laki-laki itu memang sangat tampan.
Sebab sekarang,Alveric sudah mengetahuinya.
Dan dari senyum menyebalkan yang terukir di wajahnya, Ariana punya firasat buruk bahwa laki-laki berambut silver gelap itu tidak akan membiarkannya melupakan kejadian memalukan ini dalam waktu dekat.
Terlebih lagi, ketika Alveric tiba-tiba memiringkan kepalanya dan berkata dengan suara yang jauh lebih lembut.
"Ngomong-ngomong, Ariana."
Gadis itu menatapnya dengan curiga.
"Apa?"
"Kalau kau ingin melihatku lagi, datanglah besok pagi."
Senyumnya melebar.
"Aku akan berusaha bangun lebih awal agar kau bisa mengagumiku saat mataku terbuka."
Ariana mematung.
Lalu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu.
"Dasar laki-laki narsis!"
Suara tawanya Alveric kembali terdengar dari belakang.
Namun, tepat sebelum Ariana berhasil keluar, ia sempat mendengar gumaman laki-laki itu yang begitu pelan hingga nyaris tertelan suara angin.
"Padahal, aku tidak keberatan jika orang yang memandangiku adalah dirimu."
Langkah Ariana terhenti sesaat.
Jantungnya kembali berdebar.
Dan kali ini, ia tidak tahu apakah wajahnya memerah karena malu.
Atau karena diam-diam, ia mulai menyukai laki-laki itu lebih dari yang berani ia akui.