NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Status: tamat
Genre:Fantasi / Ibu Tiri / Ruang Ajaib / Tamat
Popularitas:364.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: hofi03

Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.

Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.

"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.

"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.

Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ALETA DAN LIAM

"Tapi ingat Jendral itu tidak gratis, sekarang aku anggap kamu yang mempunyai hutang kepada ku," ucap Aleta tersenyum miring.

"Jadi jangan lupa di bayar berserta bunga nya," lanjut Aleta.

"HAHAHAHAHA!"

Liam langsung tergelak, dan tertawa keras, mendengar penuturan Aleta.

"Kau benar-benar wanita yang tidak mau rugi Marquez," ucap Liam, masih dengan tawa nya.

"Tentu saja," jawab Aleta, mendengus.

"Katakan saja berapa hutang ku pada mu, nanti aku akan membayar nya," ucap Liam menatap Aleta.

Aleta memicingkan mata nya, mendengar penuturan Liam yang menurut nya terdengar sangat santai, untuk ukuran jendral miskin seperti Liam.

Liam yang menyadari tatapan istri nya, diam-diam menyunggingkan senyum tipis nya.

"Teruslah beranggapan kalau aku ini hanya seorang Marquez miskin Aleta, sampai nanti waktu nya tiba, kamu tahu siapa aku sebenarnya," batin Liam, tersenyum miring, entah apa yang sedang pria itu sembunyikan.

Suasana di antara mereka mendadak hening sejenak, tidak ada lagi perdebatan sengit, hanya ada suara angin sore yang berhembus pelan melewati jendela besar ruang tamu.

Liam menatap jemari Aleta yang terulur di atas meja, lalu beralih menatap tato rantai bunga matahari tipis yang melingkar di pergelangan tangan wanita itu.

Meski tato itu terlihat samar dan tersembunyi di balik lengan baju, mata tajam seorang jendral perang tidak mungkin salah tangkap.

"Sejak kapan kamu menggambar tangan mu?" tanya Liam tiba-tiba, suaranya berubah jauh lebih serius dari sebelumnya.

Aleta sontak menarik sedikit tangannya, lalu melirik Liam dengan tatapan waspada.

"Bukan urusanmu," jawab Aleta dingin.

"Segala sesuatu yang ada di dalam kediaman ini adalah urusanku, Aleta, termasuk rahasia apa pun yang sedang kamu sembunyikan," ucap Liam, menatap tajam tepat di mata elang istrinya.

Aleta mendengus pelan, lalu balas menatap Liam tanpa rasa takut sedikit pun.

"Rahasia? Jangan terlalu percaya diri, Jendral. Semua orang punya privasi sendiri-sendiri, termasuk aku, selagi aku tidak merugikan mu atau mencelakai Julian, tidak ada hak bagimu untuk ikut campur," tegas Aleta tanpa gentar.

Liam mengepalkan rahangnya perlahan, pria itu berdiri dari kursinya, lalu membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah Aleta, mempertemukan tatapan mereka dalam jarak yang cukup dekat.

"Kau menantang ku, Marchiones?" bisik Liam tepat di dekat telinga Aleta, suaranya terdengar berat dan mengintimidasi.

Aleta sama sekali tidak bergeming, dia bahkan mendongakkan dagunya lebih tinggi, membalas tatapan suaminya dengan senyuman miring penuh tantangan.

"Bukannya dari dulu kita memang hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa satu atap? Jadi, jangan harap aku akan tunduk begitu saja padamu," bisik Aleta balik, telak dan tajam.

Bukannya marah, Liam justru tertegun sesaat, tiba-tiba jantung pria itu berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya, bukan karena takut, melainkan karena pesona dan keberanian luar biasa yang dipancarkan oleh wanita di hadapannya ini.

Jatuh cinta? Entahlah. Yang jelas, pertahanan di dalam hati sang jendral perlahan-lahan mulai runtuh oleh sikap Aleta yang baru.

"Baiklah, kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan dengan caramu sendiri, Aleta," ucap Liam pelan.

"Silakan, dan perhatikan baik-baik bagaimana aku mengubah tempat kumuh ini menjadi kerajaan kecil yang paling disegani di negeri ini," jawab Aleta percaya diri.

"Ibu!"

Julian tiba-tiba datang dan langsung memeluk Aleta dengan erat, membuat percakapan sengit antara suami istri itu terhenti seketika.

Bocah berusia enam tahun tersebut membenamkan wajahnya di perut Aleta, napasnya masih sedikit terengah-engah sehabis berlari dari kamarnya.

Aleta langsung menurunkan sebelah tangannya, mengelus rambut Julian dengan lembut untuk meredakan keterkejutan anak itu.

"Kenapa lari-lari begitu, Jendral kecil? Nanti kalau jatuh gimana," tegur Aleta dengan nada lembut, beda sekali dengan cara bicaranya pada Liam sedari tadi.

Liam yang berdiri di dekat mereka hanya bisa melirik sekilas, melipat kedua tangannya di dada sambil memasang wajah datar, meski ada rasa geli melihat betapa cepatnya sikap Aleta berubah saat menghadapi anak nya.

Julian mendongak, menatap Aleta dengan mata bulatnya yang masih menyisakan sisa-sisa rasa cemas.

"Tadi... tadi aku mimpi buruk, Bu, aku bermimpi Ibu pergi," adu Julian polos dengan suara bergetar.

Mendengar ucapan polos itu, Aleta langsung terkekeh pelan, lalu mencubit gemas pipi Julian yang kini sudah jauh lebih berisi.

"Ibu nggak akan kemana-mana, apalagi ninggalin jendral kecil ibu yang paling cerewet ini," jawab Aleta santai.

"Beneran, Bu? Ibu tidak akan meninggalkan ku kan?" tanya Julian lagi, dengan mata bulat nya.

"Iya, Jendral kecil, Ibu janji tidak akan meninggalkan mu," ucap Aleta meyakinkan, tersenyum tulus ke arah anak tirinya itu.

Julian menghela napas lega, lalu menyengir lebar hingga deretan giginya terlihat jelas.

"Yey! Kalau begitu aku tenang!" seru Julian riang, sebelum akhirnya menyadari kehadiran seseorang di sebelah mereka.

Bocah itu menolehkan kepalanya pelan, mendapati Jendral Liam sedang menatap tajam ke arahnya.

Seketika senyuman di wajah Julian langsung menciut, bocah itu bergeser mundur selangkah dan bersembunyi di balik tubuh Aleta karena masih sedikit takut dengan aura dingin ayahnya.

Liam mendengus pelan melihat reaksi anak nya yang tampak lebih memilih ibu nya ketimbang mendekat ke arahnya.

"Kenapa? Kamu takut dengan Ayahmu sendiri, Julian?" tanya Liam dengan suara berat dan datar.

Glek

Julian menelan ludah kasarnya, lalu menggeleng pelan dari balik punggung Aleta.

"B-bukan takut, Ayah... cuma muka Ayah serem sekali," cicit Julian pelan, nyaris tak terdengar.

Aleta yang mendengarnya langsung menutup mulut dengan satu tangan, berusaha keras menahan tawa agar tidak terbahak-bahak mendengar kejujuran dari anak tirinya itu.

Sementara Liam langsung menyipitkan matanya, rahang tegas pria itu mengeras seketika.

"Anak ini... lama-lama kurang ajar juga kalau diajarin terus sama istriku," batin Liam mendengus kesal.

"Julian, tidak boleh ngomong begitu sama Ayah," tegur Aleta pura-pura serius, meski sudut bibirnya masih berkedut-kedut menahan tawa.

"Hehe, maaf Ayah..." ucap Julian sambil nyengir tanpa dosa, menjulurkan lidahnya sedikit ke arah Liam.

"Sudahlah, terserah kalian berdua," ucap Liam singkat, lalu berbalik memutar tubuhnya.

"Aku mau kembali ke ruang kerja, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum malam," lanjut Liam, melangkah pergi meninggalkan ruang tamu begitu saja.

Aleta menatap punggung suaminya yang berjalan menjauh, lalu mendengus pelan.

"Dasar pria dingin, menyebalkan sekali," gumam Aleta pelan.

"Ibu ngomong apa?" tanya Julian mendongak penasaran.

"Ah, tidak ada apa-apa, Jendral kecil, mending sekarang kamu temani ibu ke kebun belakang, kita cek hasil panen stroberi yang mau dikirim besok pagi," ajak Aleta mengalihkan pembicaraan.

"Mau! Mau! Aku yang bantu masukin ke keranjang ya, Bu!" seru Julian antusias, menggandeng tangan Aleta erat-erat.

"Ayo!"

Keduanya berjalan berdampingan menuju halaman belakang.

1
kookie🐰
itu msih untung jendral, krna biasanya si aleta tdur brg sma julian/Facepalm//Facepalm/
kookie🐰
ini novel lanjutan kah? baru buka udah lngsung masuk di raga ini soalnya/Doubt/
kookie🐰
padahal sma² gila nya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
mana yg komen di atas ora iling blas mneh/Applaud/
kookie🐰
untung bukan org kita yg adat² kental mesti di saurii huss saru ora ilok kalo jawa kalo lainnya tau artinya gk bisa bilangnya/Grin//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
kookie🐰
aturan di ancam "akan ku tingalkan dirimu" kalo di cekik mah blm apa² baru di deketin udah susah nafas sendiri/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
kookie🐰
wahhh ininih yg tangguh² dan badas fav bgt/Proud/
kookie🐰
mampirr ya thorr, saya masih suka yg ber bau² kuno gini/Determined/,, gasss smngt thorr/Rose/
mamayot
ijin promo kak. KU PANCING NALURI CEO TAMPAN YANG DINGIN
Osie
pasangan yg spektakuler luar biasa👍👍👍👍👍😍😍😍😍
Markinyo
dimana pasukannya? pasukan raja d biarkan masuk, jenderal d biarkan berperang sendiri..
Meike Halim
👍
Syalari sholeh
tapi td Jason sdh mati
Syalari sholeh
nah gitu
Syalari sholeh
krn gk kau penggal
Syalari sholeh
istri d bentak,d panggil jalang tp Liam gk bertindak
Syalari sholeh
lama x menggalnya td ngancam prajurit skrg gk jd menggal,gk tegas juga
Syalari sholeh
rumah gk da satpam kah?
Syalari sholeh
tapi td mangkuk strawbery sdh di bawa keluar sma aleta
Siti Solikah
wah pasangan yang sangat serasi
Siti Solikah
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!