NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:415.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Pesan itu membuat Raka berubah.

Biasanya, perubahan pada wajahnya hampir tidak terlihat. Sudut mata yang mengeras, rahang yang sedikit naik, suara yang turun setengah nada. Tapi kali ini Naira melihat sesuatu yang lebih gelap. Seolah pintu yang selama ini ia kunci dari dalam tiba-tiba didobrak.

"Berikan ponselmu," kata Raka.

Naira langsung menarik ponselnya. "Tidak."

Raka menatapnya. "Nomor itu harus dilacak."

"Akan kulacak."

"Naira."

"Raka."

Hujan di luar semakin deras. Orang-orang di lobi mulai bergerak mencari payung, sopir, dan pintu keluar. Di antara suara langkah dan hujan, ketegangan mereka berdiri sendiri.

Raka mengulurkan tangan.

Naira tidak bergerak.

"Jangan memerintahku."

Raka berhenti.

Hanif yang berada dua langkah di belakang tampak menahan napas. Mungkin tidak banyak orang berbicara kepada Raka Wiratama dengan nada seperti itu dan tetap berdiri tenang setelahnya.

Raka menarik tangannya.

"Maaf."

Kata itu keluar kaku.

Seperti benda yang jarang ia gunakan.

Naira menatapnya beberapa detik. "Aku akan kirim tangkapan layar ke Hanif. Lacak lewat jalur legal. Tidak ada penculikan orang, tidak ada pemukulan, tidak ada tindakan bodoh."

Hanif langsung menjawab, "Baik, Dok."

Raka menoleh pelan.

Hanif menunduk. "Maksud saya, baik, Pak."

Naira hampir tersenyum, tetapi pesan tentang ibunya masih terlalu dingin di tangannya.

Mereka keluar lewat pintu utama. Mobil Naira menunggu di depan. Sebelum ia masuk, suara pecahan kaca terdengar dari arah parkir samping.

Lalu teriakan.

Seorang petugas keamanan berlari. "Pak Raka! Ada orang mencoba kabur!"

Hanif langsung bergerak.

Raka mengikuti.

Naira juga.

"Kamu tunggu di mobil," kata Raka.

"Tidak."

"Ini bisa berbahaya."

"Maka jangan menghalangi dokter yang bisa menghentikan pendarahan."

Raka ingin membantah, tapi tidak punya waktu.

Di parkir samping, seorang pria tergeletak di dekat mobil abu-abu. Lengannya terluka karena kaca, darah mengalir ke aspal basah. Dua petugas keamanan menahan pria lain yang mencoba kabur. Salah satu mobil Cakradinata menabrak pembatas ketika panik.

Bau darah naik bersama hujan.

Raka berhenti.

Sangat tiba-tiba.

Naira melihatnya.

Wajah Raka memucat. Matanya tidak lagi fokus pada pria yang ditahan, melainkan pada darah yang bercampur air di lantai. Tangannya mengepal, lalu membuka, lalu mengepal lagi.

Hanif langsung menoleh. "Pak?"

Raka tidak menjawab.

Naira mengenali pola itu.

Napas pendek.

Pupil melebar.

Otot leher kaku.

Bukan jijik biasa. Bukan takut biasa.

Respons trauma.

Petugas yang menahan pria Cakradinata bergerak terlalu dekat. "Pak Raka, orang ini..."

Raka menoleh cepat.

Tatapan itu membuat petugas mundur.

Raka seperti siap menyerang siapa pun yang menyentuh ruangnya.

Naira melangkah di depannya.

"Raka."

Hanif panik. "Dok, jangan terlalu dekat."

Naira mengangkat tangan tanpa menoleh. "Diam."

Anehnya, Hanif diam.

Raka menatap Naira, tetapi sepertinya tidak benar-benar melihat. Napasnya berat, seperti ada suara lain di kepalanya yang menariknya jauh dari parkiran itu.

Naira melepas scarf tipis di lehernya, menggulungnya, lalu menutup sebagian darah di lantai dari pandangan Raka.

"Lihat aku."

Raka tidak merespons.

Naira mendekat satu langkah.

"Raka Wiratama, lihat aku."

Kali ini matanya bergerak.

"Tarik napas."

Raka tertawa pendek, kasar, hampir seperti geraman. "Jangan beri perintah."

"Aku dokter. Itu pekerjaanku."

Kalimat itu menahan sesuatu di dalam dirinya.

Raka menatap wajah Naira. Napasnya masih berat, tapi tidak semakin kacau.

"Hitung," kata Naira.

"Aku bukan anak kecil."

"Bagus. Anak kecil biasanya lebih patuh."

Hanif menunduk lagi, entah karena takut atau ingin tertawa di saat yang sangat tidak tepat.

Raka memejamkan mata sebentar.

"Satu."

"Bagus. Lagi."

"Dua."

Perlahan, napasnya mengikuti hitungan. Naira tetap berdiri di depannya, cukup dekat untuk menghalangi darah, cukup jauh agar ia tidak merasa disentuh tanpa izin.

Hujan membasahi bahu mereka.

Pria terluka di dekat mobil mengerang.

Naira menoleh kepada petugas. "Tekan lukanya. Pakai kain bersih. Jangan angkat pecahan kaca kalau masih menancap."

Petugas bergerak cepat.

Raka membuka mata. Fokusnya kembali sedikit demi sedikit.

Hal pertama yang ia lihat adalah Naira.

Bukan darah.

Bukan hujan.

Naira.

"Kamu..." suaranya serak. "Kamu ingat?"

Naira tahu maksudnya.

Lima tahun lalu, di pos medis perbatasan, ia melakukan hal yang sama. Menutup luka paling parah dari pandangan seorang pria yang hampir membunuh semua orang di sekitarnya karena panik melihat darahnya sendiri.

"Aku mengingat pasien yang sulit."

"Aku bukan pasienmu."

"Saat ini kamu jelas pasien."

Raka tertawa pelan. Kali ini lebih manusiawi.

Hanif mendekat hati-hati. "Pak, orang yang kabur membawa ponsel burner. Tim sudah amankan. Satu orang luka, sudah ditangani sesuai instruksi Dokter."

Raka mengangguk.

Naira menatap Hanif. "Ponselnya?"

Hanif menyerahkan kantong bukti plastik. "Belum disentuh setelah diamankan. Polisi sedang menuju lokasi."

Naira melihat Raka.

Raka berkata lebih dulu, "Polisi. Aku ingat."

"Bagus."

"Jangan bicara seperti aku muridmu."

"Jangan bersikap seperti perlu diawasi."

Hanif memilih menatap lantai.

Beberapa menit kemudian, polisi datang. Ponsel burner dicatat sebagai barang bukti. Hanif menyerahkan rekaman CCTV parkir. Semua berjalan sesuai prosedur, meski Naira tahu jika ia tidak berada di sana, Raka mungkin memilih prosedur yang jauh lebih pendek dan berdarah.

Setelah semua terkendali, Naira masuk ke ruang medis kecil gedung yayasan untuk mengganti pakaian basah. Raka duduk di kursi luar, wajahnya sudah kembali tenang, tetapi tangannya masih sedikit gemetar.

Naira keluar membawa handuk kecil dan botol air mineral.

"Minum."

Raka menerima. "Terima kasih."

"Kapan mulai?"

"Apa?"

"Reaksi terhadap darah."

Raka menatap botol di tangannya.

Lama ia tidak bicara.

"Sejak umur tujuh tahun. Setelah orang tuaku dibunuh di rumah lama."

Naira diam.

Tidak ada kalimat kasihan yang keluar. Ia tahu beberapa luka tidak membutuhkan orang lain berkata "yang sabar".

Raka melanjutkan, "Aku belajar mengendalikan. Kadang berhasil. Kadang tidak. Lima tahun lalu, seharusnya aku mati karena panik sendiri sebelum kehilangan darah."

"Tapi kamu tidak mati."

"Karena kamu memaki."

"Karena aku menjahit."

"Dua-duanya."

Naira menatapnya. "Aku bisa lihat rekam medismu?"

Raka mengangkat wajah.

Di mata pria itu ada rasa terkejut yang cepat ia sembunyikan.

"Sebagai dokter?"

"Sebagai orang yang tidak ingin kamu membunuh orang saat kambuh."

"Romantis sekali."

"Aku serius."

"Aku tahu."

Ia mengambil ponsel, lalu mengirim sesuatu kepada Hanif.

"Semua rekam medis akan dikirim ke perangkatmu dengan akses terbatas."

Naira mengangkat alis. "Mudah sekali?"

"Kamu meminta. Aku memberi."

"Jangan jadikan itu kebiasaan kalau yang kuminta berbahaya."

Raka menatapnya lama. "Kalau kamu yang meminta, bagian berbahayanya biasanya untukku."

Sebelum Naira menjawab, Hanif muncul dengan wajah serius.

"Dok, Pak. Tim digital menemukan sesuatu dari ponsel burner. Pesan ancaman ke Dokter dikirim lewat server luar, tapi ada satu file audio yang belum sempat dihapus."

Naira berdiri.

"Putar."

Hanif menekan layar.

Suara berdesis terdengar. Banyak gangguan, banyak noise. Lalu suara perempuan muncul, lemah, hampir tenggelam.

Jangan lanjutkan uji itu. Mereka memakai pasien tanpa izin...

Naira membeku.

Suara itu.

Ia mengenalnya bahkan setelah bertahun-tahun.

"Mama," bisiknya.

Audio berlanjut satu detik lagi.

Kalau sesuatu terjadi padaku, cari Aruna Timur.

Lalu suara terputus.

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Raka berdiri perlahan.

Naira menatap ponsel Hanif, wajahnya pucat tetapi matanya hidup.

Untuk pertama kali, ancaman itu bukan hanya ancaman.

Itu arah.

Naira meminta file audio itu disalin ke tiga perangkat berbeda sebelum siapa pun meninggalkan ruangan. Hanif mengerjakan tanpa bertanya. Raka duduk kembali, masih sedikit pucat, tetapi matanya sudah tajam.

"Aruna Timur," katanya.

"Kamu tahu tempat itu?"

"Wilayah jauh. Jalur logistik sulit. Beberapa perusahaan memakai pelabuhan kecil di sana untuk barang yang tidak ingin banyak diperiksa."

Naira menatapnya. "Termasuk Cakradinata?"

"Mungkin."

"Aku tidak butuh mungkin."

"Kalau begitu beri aku enam jam."

Naira menggeleng. "Beri data itu ke Maya dan Bagas. Aku tidak mau hasil yang tidak bisa dipakai secara hukum."

Raka menatapnya lama, lalu mengangguk.

"Baik."

Naira berdiri dengan ponsel di tangan. Suara ibunya masih seperti tertinggal di udara.

Selama ini ia mencari bukti bahwa Sari tidak bersalah.

Malam itu, untuk pertama kali, ia berani mencari kemungkinan lain.

Bahwa ibunya mungkin masih sempat meninggalkan jalan pulang.

1
say't
kok nulisnya diulang ya
say't
busyet nih clara sdh tdr sm siapa ja y 🤪 kok berani skl
Sumiyatun Martoyo
iya. ini sudah dilewati
say't
kalo aq jd naira aq racun ni 3 org menjijikkn 🤪
Tuti irfan
seru cerita nya , ak suka ceritanya TDK melulu tentang romansa Ceo penuh intrik dan misteri 😍😍👍👍👍
Katherina Ajawaila
mending pakai topeng langsung aja Dimas, cabut 5 hurup
Katherina Ajawaila
makin seru aja thour, cara dan ibunya sama ja penjahat berkedok mana ada ibu mau membunuh anak nya sendiri. dasar pelakor ngk mutu
Debbie Teguh
seru banget!
Katherina Ajawaila
Clara kamu itu ibarat anak ayam yg BB aru netes jgn sombong di pites juga modar. Dimas mau di andalan, Domas aja parasit yg ngumpet di kaki rok Naira 🫣
Katherina Ajawaila
maka nya jd Suami harus bisa adil kalau sdh brani melangkah kedepan, dasar nya aja kere, mau sombong kacang lupa kulit nya, kalau smua di tarik sm Naira, jadi apa parasit
Katherina Ajawaila
kere tapi belagu, biasa parasit
Ken L
kenapa cerita diulang2 ya...supaya kelihatan isi bab ceritanya penuh?
Abie Mas
raka love naira
Heni Setiyaningsih
heran ya,pemili perusahaan kok gk mau beli rumah sendiri,gk malu apa numpang dirumah calon mantan istri 🤭
Wahyu Kasep
jalan ceritanya bagus menarik tegang tapi sepi pembaca gak ada yang komentar
Nengs
bagus cerita wlpun harus benar2 paham
yuqana
bagus banget novelnya 😍😍😍🥰🥰🥰
Dewa Nara
astagaaaaa... pengulangan lagiiiii
Dewa Nara
kok ada pengulangan lagi 🤭
Dewa Nara
ada pengulangan alinea Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!