NovelToon NovelToon
Ternyata Jodohku Ketua Mafia:Suamiku Pria Paling Berbahaya

Ternyata Jodohku Ketua Mafia:Suamiku Pria Paling Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rey Nanda

Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.

​Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.

​Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.

​“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”

​Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Jejak Darah Dan Kejutan Pagi

Jam dinding di ruang tengah penthouse menunjukkan pukul empat pagi. Angin malam yang dingin berembus pelan menembus celah jendela.

​Sinar lampu jalanan yang remang-remang menerangi sosok Gabriel yang baru saja melangkah masuk dengan sangat perlahan melalui pintu belakang. Sepatu bot militernya sudah diikatkan di pinggang agar tidak menimbulkan suara tapak kaki sedikit pun.

​Gabriel berjalan berjinjit di atas karpet tebal, tubuh tegapnya yang berotot tampak sangat kontras dengan gaya jalannya yang mengendap-endap bak pencuri yang takut tertangkap basah.

​"Aman... Rumah sangat aman," gumam Gabriel berbisik pada dirinya sendiri dengan napas lega.

​Ia membuka pintunya pelan-pelan, melangkah masuk ke dalam kamar utama yang masih gulita. Di atas tempat tidur king-size, Aira tampak masih terlelap manis dengan selimut menutupi hingga ke dada.

​Gabriel tersenyum manis. Rasa lelah setelah memimpin pertempuran di pelabuhan dan meremukkan klan musuh seketika menguap begitu saja saat melihat wajah damai istrinya.

​Ia bergerak cepat menuju kamar mandi pribadi di dalam kamar, melepas seluruh pakaian serba hitamnya yang beraroma asap dan mesiu, lalu segera membersihkan diri. Setelah mengeringkan tubuh dan mengenakan piyama katun berwarna biru muda yang sangat lembut, Gabriel kembali ke samping tempat tidur.

​Ia naik ke atas kasur dengan gerakan sehalus mungkin, lalu menyusup ke bawah selimut di sebelah Aira. Dengan hati-hati, lengan berototnya merengkuh pinggang Aira dari belakang, menarik tubuh hangat sang istri ke dalam pelukannya.

​Aira menggeliat kecil dalam tidurnya. Merasakan kehangatan tubuh suaminya, Aira secara refleks berbalik dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Gabriel.

​"Gabriel..." gumam Aira setengah sadar dengan suara serak khas bangun tidur. "Kamu... dari mana?"

​Jantung Gabriel langsung melompat ke tenggorokan. Mati aku! Apa dia bangun?!

​"Eh? Aku... aku cuma dari kamar mandi, Sayang," bohong Gabriel dengan suara sepelan dan semanis mungkin sambil mengelus lembut rambut hitam Aira. "Tadi perutku agak mulas sedikit. Kenapa bangun? Masih subuh, lho."

​Aira menyamankan posisinya di dada Gabriel, matanya masih terpejam rapat. "Hmm... pantas badanmu dingin sekali..."

​"Iya, air kamar mandi dingin banget tadi," jawab Gabriel cepat dengan cengiran panik di dalam kegelapan. "Sudah, tidur lagi ya? Aku ada di sini kok."

​Aira tidak menjawab lagi, napasnya kembali teratur menandakan ia sudah kembali terbuai ke dalam alam mimpi. Gabriel menghela napas panjang penuh rasa syukur, lalu memeluk istrinya dengan erat hingga ia ikut tertidur pulas.

​Beberapa jam kemudian, matahari pagi menyinari ruang kamar dengan terang.

​Aira terbangun lebih dulu. Ia merasa sangat segar setelah tidur nyenyak sepanjang malam. Di sampingnya, Gabriel masih tertidur pulas dengan posisi telentang. Bibirnya sedikit terbuka, dan wajahnya tampak begitu polos tanpa beban—sangat berbeda dengan bayangan "monster mafia" yang ditakuti orang-orang.

​Aira tersenyum kecil melihat wajah polos suaminya. Ia mengulurkan tangan untuk membelai pipi Gabriel yang tegas.

​Namun, saat Aira hendak bangkit dari tempat tidur, matanya tidak sengaja menangkap sesuatu di atas lantai karpet dekat pintu kamar mandi.

​Sebuah kantong plastik hitam besar tergeletak agak tersembunyi di sudut lemari. Plastik itu tampak tidak terikat rapi, dan dari celahnya, terlihat kain kemeja hitam yang ternoda cairan pekat berwarna merah tua yang sudah mengering.

​Dahi Aira berkerut. Itu... kain apa? Kenapa ada warna merah?

​Rasa penasaran mengalahkan rasa ragunya. Aira melangkah pelan mendekati plastik tersebut. Ia berlutut, mengulurkan tangannya untuk membuka lipatan plastik hitam itu lebih lebar.

​Mata Aira melebar seketika saat menyadari apa yang ada di dalamnya: pakaian taktis serba hitam milik Gabriel dari semalam, bercak darah yang mengering di lengan baju, serta... sebutir selongsong peluru tembaga yang terselip di lipatan celana!

​Deg!

​Jantung Aira berdegup keras. Kenyataannya kembali menghantam dada Aira dengan telak. Gabriel tidak sekadar pergi ke kamar mandi semalam—pria itu baru saja pulang dari medan perang.

​Tepat saat Aira meremas selongsong peluru itu di tangannya, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah tempat tidur.

​"Aira?!"

​Aira menoleh kaget. Gabriel sudah berdiri di belakangnya. Wajah pria itu pucat pasi, matanya melotot menatap selongsong peluru dan kantong plastik di tangan Aira.

​Gabriel mendadak membeku, ketakutan luar biasa mendadak memenuhi dadanya. "A-Aira... itu... aku bisa jelaskan!"

​Aira berdiri perlahan, memegang selongsong peluru itu di depan wajah Gabriel. Suaranya terdengar bergetar namun tenang. "Kamu pergi semalam, kan? Setelah aku tidur?"

​Gabriel menelan ludah dengan susah payah. Jemarinya di samping tubuh gemetaran. Sifat konyol dan manjanya yang biasa ia gunakan sebagai benteng pertahanan mendadak runtuh tak berbekas.

​"Iya..." bisik Gabriel menunduk, tak berani menatap mata Aira. "Aku... aku pergi membereskan orang-orang yang menyerang kita kemarin."

​"Kenapa tidak bilang padaku?" tanya Aira pelan.

​"Karena aku takut!" potong Gabriel cepat, matanya mendongak menatap Aira dengan binar kepanikan yang teramat sangat. "Aku takut kalau kamu tahu aku keluar untuk bertarung dan membunuh, kamu akan memandangku seperti monster! Aku takut kamu akan jijik padaku, Aira!"

​Aira terpaku. Ia melihat bagaimana seorang pria berkuasa yang bisa menguncang dunia bawah tanah kini sedang berdiri gemetaran di depannya—hanya karena takut dibenci oleh istrinya sendiri.

​Aira melangkah mendekat. Ia mengambil tangan Gabriel yang dingin, lalu meletakkan selongsong peluru itu kembali ke telapak tangan suaminya dan menutup jemari Gabriel erat-erat.

​"Gabriel," ucap Aira lembut namun tegas, menatap langsung ke dalam mata cokelat gelap suaminya. "Aku tahu siapa kamu. Aku tahu dunia yang kamu jalani itu berbahaya. Tapi kalau kamu terus-menerus menyembunyikannya dan memikul semuanya sendirian... bagaimana bisa aku menjadi istri yang baik untukmu?"

​Gabriel tertegun kaku. "K-kamu... tidak marah?"

​Aira menghela napas panjang, lalu memukul dada bidang Gabriel pelan. "Tentu saja aku marah karena kamu membohongiku dan pura-pura mulas! Tapi aku lebih khawatir kalau kamu tidak pulang dalam keadaan selamat!"

​Mendengar kata-kata itu, benteng pertahanan Gabriel runtuh sepenuhnya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Gabriel langsung menerjang maju dan memeluk Aira dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aira.

​"Aira... Terima kasih... Maafkan aku..." rengek Gabriel dengan suara yang terdengar pusing dan manja secara berlebihan lagi. "Aku janji tidak akan bohong lagi! Tapi jangan pukuli dadaku keras-keras ya, sakit tahu..."

​Aira hampir menepuk jidatnya sendiri. Sifat konyolnya balik lagi dalam waktu tiga detik!

​"Iya, iya," balas Aira sambil membalas pelukan suaminya, meraba punggung kokoh Gabriel. "Sekarang rapihkan baju kotor berdarahmu ini sebelum aku benar-benar marah!"

​"Siap, Istri Tercinta! Felix yang akan mencucinya sampai bersih!" seru Gabriel riang, melupakan semua kepanikan dramatisnya tadi.

​[Bersambung ke Bab 9...]

​Bagaimanakah kehidupan rumah tangga mereka selanjutnya setelah Aira menerima sepenuhnya latar belakang Gabriel? Dan kejutan manis apa lagi yang menanti Aira di kantor baru milik Gabriel?

1
Chenyu Wang
mantap awal cerita sudah seru..
Chenyu Wang: sama2
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!