NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 — Pertemuan yang Belum Terjadi

Suara langkah kaki terdengar di sepanjang lorong rumah sakit ketika Alisha Amanda berjalan menuju kamar ibunya. Di tangannya terdapat sekantong buah yang baru dibelinya sebelum berangkat dari Sweet Morning Bakery.

Hari itu, ia sengaja menyelesaikan pekerjaannya sedikit lebih cepat agar bisa mengunjungi Ratih Amanda. Sejak menikah dengan Adrian Mahendra, jadwalnya memang sedikit berubah. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah adalah keinginannya untuk memastikan keadaan ibunya.

Alisha mengetuk pintu kamar sebelum masuk.

“Bu, Alisha datang.”

Ratih yang sedang bersandar di ranjang langsung menoleh. Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Alisha? Bukannya kamu masih bekerja?”

“Sudah selesai, Bu. Tadi ada kesempatan pulang lebih cepat.” Alisha meletakkan kantong buah di meja kecil, lalu duduk di samping ranjang. “Bagaimana keadaan Ibu hari ini? Masih terasa sakit?”

“Sudah lebih baik. Kamu tidak perlu terlalu sering datang kalau pekerjaanmu sedang banyak.”

Alisha menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa, Bu. Alisha bisa mengatur waktu.”

Ratih memperhatikan wajah putrinya. Ada sedikit kelelahan di sana, meskipun Alisha berusaha menyembunyikannya dengan senyuman.

“Kamu sendiri bagaimana? Makan teratur? Jangan sampai kamu sibuk mengurus Ibu, tetapi lupa menjaga dirimu sendiri.”

Alisha tertawa kecil.

“Ibu ini selalu saja mengkhawatirkan Alisha.”

“Memangnya siapa lagi yang akan Ibu khawatirkan?”

Kalimat sederhana itu membuat Alisha terdiam sesaat. Ia kemudian menggenggam tangan ibunya dengan lembut.

“Alisha baik-baik saja, Bu. Pekerjaan juga lancar. Ibu jangan terlalu memikirkan hal lain. Sekarang Ibu cukup fokus untuk beristirahat.”

Ratih mengangguk, tetapi pandangannya kembali tertuju pada cincin pernikahan di jari putrinya.

“Bagaimana kehidupanmu setelah menikah? Apa Adrian memperlakukanmu dengan baik?”

Alisha sempat terdiam sebelum menjawab.

“Dia baik, Bu. Kami tidak punya masalah.”

Ia tidak berbohong. Adrian memang bukan seseorang yang banyak bicara, tetapi laki-laki itu juga tidak pernah memperlakukannya dengan buruk.

Ratih terlihat lega.

“Syukurlah. Ibu hanya ingin kamu bahagia.”

Alisha tersenyum tipis.

“Alisha juga ingin Ibu cepat sembuh.”

Mereka melanjutkan percakapan tentang hal-hal sederhana. Alisha menceritakan beberapa kejadian lucu di toko roti, termasuk bagaimana Mira hampir salah memberikan pesanan kepada pelanggan. Ratih tertawa mendengarnya.

Untuk sementara, kekhawatiran tentang pekerjaan, biaya rumah sakit, dan masa depan terasa sedikit menjauh.

Namun, Alisha tahu bahwa setelah meninggalkan rumah sakit nanti, semua tanggung jawab itu masih menunggunya.

---

Di lantai atas gedung Mahendra Group, Adrian Mahendra sedang memeriksa beberapa dokumen ketika Daniel mengetuk pintu ruangannya.

“Masuk.”

Daniel melangkah masuk sambil membawa tablet.

“Pak, ada beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan Anda. Selain itu, saya ingin menyampaikan satu informasi.”

Adrian tidak langsung mengangkat wajah.

“Informasi apa?”

“Clarissa sudah kembali ke Jakarta.”

Gerakan tangan Adrian yang sedang membalik halaman dokumen berhenti sesaat.

“Sejak kapan?”

“Menurut informasi yang saya terima, beberapa hari lalu.”

Adrian kembali melihat dokumen di hadapannya.

“Baik.”

Daniel menunggu beberapa detik. Ia mengira atasannya akan memberikan pertanyaan tambahan, tetapi Adrian justru melanjutkan pekerjaannya seolah informasi tersebut tidak terlalu penting.

“Apakah ada hal lain?” tanya Adrian.

“Belum ada, Pak. Saya hanya merasa perlu memberi tahu Anda.”

Adrian akhirnya meletakkan pena.

“Daniel, saya menghargai informasi yang kamu berikan. Namun, jangan mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Selama dia tidak mengganggu perusahaan, kita tidak perlu melakukan apa pun.”

“Baik, Pak.”

“Dan jangan menyelidikinya tanpa alasan yang jelas.”

Daniel mengangguk.

“Saya mengerti.”

Setelah Daniel keluar, Adrian kembali menatap layar komputernya. Nama Clarissa sempat terlintas di pikirannya, mengingatkan dirinya pada masa lalu yang sudah lama tidak ia bicarakan.

Akan tetapi, ia tidak berniat menghabiskan waktunya untuk memikirkan hal tersebut.

Hidupnya sekarang sudah berbeda.

Ia memiliki tanggung jawab baru, termasuk pernikahannya dengan Alisha.

Meskipun pernikahan itu dimulai dari sebuah kesepakatan, Adrian tetap tidak ingin membuat masalah yang tidak perlu.

Ia kembali bekerja hingga panggilan telepon dari salah satu kepala divisi mengalihkan perhatiannya.

---

Di sebuah kafe yang tidak terlalu jauh dari pusat kota, Clarissa duduk berhadapan dengan Maya, teman lamanya.

Cangkir kopi di hadapannya hampir tidak tersentuh. Sejak tiba di Jakarta, pikirannya terus kembali kepada seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Maya memperhatikan Clarissa yang sejak tadi tampak melamun.

“Kamu benar-benar sudah kembali untuk waktu yang lama?” tanyanya.

Clarissa mengangguk.

“Sepertinya begitu. Aku belum tahu apakah akan menetap atau hanya beberapa bulan.”

“Lalu, apa rencanamu setelah kembali?”

Clarissa memainkan sendok kecil di dalam cangkirnya.

“Aku ingin bertemu Adrian.”

Maya terdiam sejenak.

“Adrian Mahendra?”

“Memangnya ada Adrian lain yang pernah kuceritakan kepadamu?”

Maya menghela napas pelan.

“Clarissa, kamu tahu dia sudah menikah, kan?”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu, apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan?”

Clarissa mengangkat wajah.

“Aku hanya ingin bertemu dengannya. Kami sudah lama tidak bertemu. Aku ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang.”

“Itu saja?”

Clarissa tidak langsung menjawab.

Ia sendiri belum sepenuhnya memahami alasan mengapa keinginan untuk menemui Adrian begitu kuat setelah melihat foto pernikahan laki-laki itu.

Ketika mereka masih bersama, Clarissa mengenal Adrian sebagai seseorang yang sulit menunjukkan perasaan. Adrian jarang mengucapkan kata-kata manis, tetapi selalu berusaha menyelesaikan masalah yang dihadapi orang-orang terdekatnya.

Hubungan mereka dahulu tidak selalu berjalan mulus. Kesibukan Adrian sering membuat mereka bertengkar, sementara Clarissa merasa laki-laki itu terlalu memprioritaskan pekerjaannya.

Pada akhirnya, hubungan tersebut berakhir.

Clarissa sempat mengira jarak dan waktu akan membuatnya benar-benar melupakan semuanya.

Namun, ketika melihat Adrian menikah dengan perempuan lain, ia justru merasa penasaran.

“Aku hanya ingin tahu apakah dia sudah benar-benar melupakan masa lalu kami,” jawab Clarissa akhirnya.

Maya menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Kalaupun dia sudah melupakan semuanya, kamu harus bisa menerima itu.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu juga harus menghormati istrinya. Jangan sampai keinginanmu untuk mengetahui kabar Adrian malah membuat perempuan itu merasa tidak nyaman.”

Clarissa mengerutkan kening.

“Aku tidak berniat mengganggu istrinya.”

“Aku harap begitu.”

Clarissa menatap keluar jendela. Orang-orang berlalu-lalang di trotoar, masing-masing sibuk dengan urusan mereka sendiri.

“Aku hanya ingin berbicara dengannya sekali saja,” gumamnya.

Maya tidak menjawab. Ia mengenal Clarissa cukup lama untuk mengetahui bahwa terkadang keingintahuan seseorang bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih rumit.

Namun, Maya juga tahu bahwa ia tidak bisa mengatur keputusan temannya.

---

Sore menjelang malam ketika Alisha kembali ke Sweet Morning Bakery untuk mengambil barang yang tertinggal di ruang belakang. Ia sebenarnya sudah selesai bekerja lebih awal, tetapi baru menyadari bahwa buku catatan pesanan miliknya tertinggal di sana.

Begitu masuk, ia melihat Mira sedang membersihkan meja, sementara Rani sibuk merapikan beberapa kotak roti.

“Lho, Alisha? Kukira kamu sudah pulang,” kata Mira.

“Aku tadi meninggalkan buku catatan. Jadi, aku kembali sebentar.”

Rani mengangkat alis.

“Kamu habis dari rumah sakit lagi?”

Alisha mengangguk sambil mengambil buku catatannya.

“Iya. Menjenguk Ibu.”

“Bagaimana keadaan ibumu?” tanya Mira.

“Lebih baik daripada kemarin. Dokter masih memintanya beristirahat dan menjalani pemeriksaan lanjutan.”

“Syukurlah.” Mira tersenyum. “Semoga ibumu cepat sembuh.”

“Amin. Terima kasih.”

Rani memperhatikan Alisha yang sedang memasukkan buku ke dalam tas.

“Kalau kamu butuh bantuan menukar jadwal kerja untuk pergi ke rumah sakit, bilang saja. Kami bisa membicarakannya dengan kepala toko.”

Alisha menoleh, sedikit terkejut dengan tawaran tersebut.

“Terima kasih, Rani. Aku akan mengingatnya.”

“Jangan sungkan. Kamu juga sering membantu kami.”

Alisha tersenyum tulus. Ia bersyukur masih memiliki rekan kerja yang mau memahami keadaannya.

Setelah berbincang sebentar, Alisha berpamitan dan meninggalkan toko roti.

Di perjalanan pulang, ia memeriksa ponselnya. Ada satu pesan dari Adrian yang dikirim beberapa menit sebelumnya.

Adrian: Bagaimana pekerjaanmu hari ini?

Alisha membalas sambil menunggu kendaraan yang akan membawanya pulang.

Alisha: Lancar. Aku tadi sempat mengunjungi Ibu di rumah sakit.

Balasan Adrian datang tidak lama kemudian.

Adrian: Bagaimana keadaannya?

Alisha: Sudah sedikit lebih baik. Terima kasih sudah bertanya.

Adrian membaca pesan itu dari ruang kerjanya. Ia sempat mengetik sesuatu, menghapusnya, lalu menulis kembali.

Adrian: Kalau jadwal pemeriksaannya berubah dan kamu perlu mengatur waktu kerja, beri tahu aku.

Alisha membaca pesan tersebut beberapa kali.

Ia tidak menyangka Adrian akan menawarkan bantuan mengenai jadwalnya. Selama ini, mereka memang berusaha menjaga hubungan tetap baik, tetapi jarang membicarakan urusan pribadi secara mendalam.

Alisha: Baik. Terima kasih, Adrian.

Setelah mengirim pesan itu, Alisha memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Baginya, perhatian Adrian merupakan bentuk tanggung jawab yang wajar dalam kehidupan mereka sekarang. Ia tidak ingin menafsirkan lebih jauh sesuatu yang belum tentu memiliki makna lain.

Ia masih memiliki banyak hal yang perlu dipikirkan, terutama mengenai kesembuhan ibunya.

---

Malam itu, rumah Adrian terasa tenang ketika Alisha tiba.

Ia baru saja mengganti pakaian dan turun ke ruang makan saat melihat Adrian sudah duduk di sana. Di atas meja terdapat dua piring makan malam yang tampaknya baru disiapkan oleh asisten rumah tangga.

“Kamu baru pulang?” tanya Adrian.

“Iya. Tadi aku mampir sebentar ke toko roti untuk mengambil buku catatan.”

Adrian mengangguk.

“Sudah makan?”

“Belum.”

“Kalau begitu, makanlah dulu.”

Alisha duduk di kursi seberangnya. Mereka mulai makan dalam keheningan yang tidak terasa terlalu canggung. Sejak menikah, mereka memang belum terbiasa berbicara panjang lebar, tetapi setidaknya keduanya mulai memahami kebiasaan masing-masing.

“Besok kamu bekerja seperti biasa?” tanya Adrian.

“Iya. Jadwalku normal.”

“Dan ibumu?”

“Besok belum ada pemeriksaan. Kalau tidak ada perubahan, aku akan mengunjunginya setelah bekerja.”

Adrian meletakkan sendoknya sebentar.

“Kalau kamu merasa terlalu lelah, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan semuanya sekaligus.”

Alisha menatapnya.

“Aku akan berusaha mengatur waktu.”

“Bagus.”

Percakapan kembali terhenti. Adrian melanjutkan makan, sementara Alisha memikirkan jadwal kerjanya untuk hari berikutnya.

Sebenarnya, ia tidak terbiasa membicarakan masalahnya kepada orang lain. Sejak ibunya sakit, ia belajar menyelesaikan banyak hal sendiri. Karena itu, tawaran bantuan dari Adrian terasa sedikit asing baginya.

Namun, ia tetap menganggapnya sebagai bentuk perhatian yang wajar antara dua orang yang tinggal dalam satu rumah.

Setelah makan malam, Alisha membantu merapikan beberapa barang di meja sebelum bersiap kembali ke kamarnya.

“Adrian,” panggilnya sebelum menaiki tangga.

Adrian menoleh.

“Terima kasih untuk tadi. Tentang jadwal kerja dan Ibu.”

Adrian memasukkan satu tangan ke saku celananya.

“Kamu tidak perlu berterima kasih untuk hal seperti itu.”

Alisha mengangguk kecil.

“Selamat malam.”

“Selamat malam.”

Mereka berpisah di ujung tangga menuju kamar masing-masing.

Tidak ada percakapan panjang, tidak ada janji khusus, dan tidak ada perubahan besar dalam hubungan mereka. Namun, malam itu setidaknya berjalan sedikit lebih nyaman daripada hari-hari sebelumnya.

---

Di tempat lain, Clarissa duduk di tepi tempat tidurnya sambil menatap layar ponsel.

Ia telah membuka ruang percakapan dengan Adrian beberapa kali sejak sore, tetapi masih belum berani mengirimkan pesan. Ia tidak tahu apakah Adrian akan membalas atau justru mengabaikannya.

Setelah berpikir cukup lama, Clarissa akhirnya mengetik sebuah pesan.

Clarissa: Adrian, aku tahu kamu sibuk. Aku hanya ingin menyapamu. Semoga kamu baik-baik saja.

Ia menatap kalimat itu selama beberapa detik sebelum menekan tombol kirim.

Pesan tersebut terkirim.

Clarissa meletakkan ponselnya di samping bantal, kemudian mencoba mengalihkan perhatian dengan membuka koper yang belum selesai ia rapikan.

Namun, beberapa menit kemudian, tangannya kembali meraih ponsel.

Belum ada balasan.

Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Adrian mungkin masih bekerja atau sedang beristirahat. Ia tidak seharusnya mengharapkan balasan secepat itu.

Sementara itu, di rumah Adrian, ponsel yang tergeletak di meja kerja menyala menampilkan pesan masuk dari Clarissa.

Adrian baru saja selesai memeriksa beberapa dokumen ketika melihat nama tersebut muncul di layar.

Ia membaca pesan itu sekilas.

Untuk beberapa saat, ia hanya diam.

Adrian tidak membenci Clarissa. Masa lalu mereka pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya, dan ia tidak merasa perlu berpura-pura bahwa hubungan itu tidak pernah ada.

Namun, ia juga tidak ingin membuka kembali sesuatu yang sudah berakhir tanpa alasan yang jelas.

Terlebih, kehidupannya sekarang sudah berbeda.

Ia mematikan layar ponsel tanpa membalas pesan tersebut, lalu kembali memeriksa dokumen yang masih harus diselesaikan.

Adrian belum memutuskan apakah ia perlu menanggapi Clarissa atau membiarkan pesan itu begitu saja.

---

Sebelum tidur, Alisha menelepon ibunya untuk memastikan bahwa Ratih sudah beristirahat.

“Bu, sudah makan malam?”

“Sudah, Nak. Kamu sendiri bagaimana?”

“Sudah makan juga.”

“Bagus. Jangan terlalu larut tidur. Besok kamu harus bekerja lagi.”

“Iya, Bu. Alisha sebentar lagi tidur.”

Ratih terdiam sesaat sebelum kembali berbicara.

“Alisha, Ibu senang kamu sekarang punya seseorang yang bisa menemanimu. Jangan selalu merasa harus menghadapi semuanya sendirian.”

Alisha memahami siapa yang dimaksud ibunya.

“Adrian baik, Bu. Kami bisa menjalani semuanya dengan baik.”

“Ibu hanya ingin kamu menjaga kesehatan dan tidak terlalu memaksakan diri.”

Alisha tersenyum kecil meskipun ibunya tidak bisa melihatnya.

“Iya, Bu. Alisha akan menjaga diri.”

Setelah menutup telepon, Alisha meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur.

Pikirannya kembali pada daftar pekerjaan yang harus diselesaikan besok, jadwal kunjungan ke rumah sakit, dan beberapa pengeluaran yang perlu ia perhitungkan.

Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa seseorang dari masa lalu Adrian telah kembali ke Jakarta dan mulai mencari jalan untuk bertemu dengannya.

Bagi Alisha, kehidupan masih berjalan seperti biasa.

Ia akan bekerja, mengunjungi ibunya, lalu kembali ke rumah yang kini ia tempati bersama Adrian.

Sementara itu, Clarissa masih menunggu kesempatan untuk berbicara dengan laki-laki yang pernah dicintainya.

Tiga orang berada di jalur kehidupan yang kini saling bersinggungan, tetapi masing-masing memiliki tujuan yang berbeda.

Alisha ingin memastikan ibunya sembuh.

Adrian ingin menjalani kehidupannya tanpa membuka kembali masalah lama.

Dan Clarissa ingin mengetahui apakah masih ada sesuatu yang tertinggal dari masa lalu mereka.

Pertemuan mereka mungkin belum terjadi secara langsung, tetapi cepat atau lambat, keadaan akan membawa mereka kembali ke satu titik yang sama.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!