NovelToon NovelToon
Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Cristaal

Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Undangan sudah di cetak.

Fokus Aletha pada rumus laju reaksi kimia benar-benar menguap total ketika ketukan pelan di pintu ruang belajar memecah keheningan sore itu. Seorang pelayan rumah mengetuk pintu, mengabarkan bahwa makan malam sudah siap dan mereka berdua diminta segera turun ke ruang makan utama di lantai satu.

Aletha buru-buru merapikan lembar folionya dengan gerakan kaku.

“Tugasnya... biar gue bawa pulang aja. Tinggal kesimpulan doang kok," cetus Aletha, menghindari kontak mata langsung dengan Langit. Ia masih bisa merasakan sisa kehangatan dari jarak sedekat sepuluh sentimeter tadi yang membuat pipinya merona.

Langit hanya bergumam pendek, berdiri tegak lalu memakai kembali kacamata peraknya setelah merapikan kancing kemeja seragamnya.

"Ayo turun. Jangan bikin orang tua nunggu."

Begitu mereka berdua melangkah memasuki area ruang makan mewah berlantai marmer itu, langkah kaki Aletha mendadak terkunci. Di sana, di sekeliling meja makan panjang berornamen klasik, tidak hanya ada Om Wirawan dan Tante Karina. Papa Baskara dan Mama Hanna ternyata sudah duduk manis di sana, terlibat dalam obrolan serius yang langsung terhenti begitu menyadari kehadiran anak-anak mereka.

Perasaan gue beneran nggak enak lagi, batin Aletha, insting bertahannya langsung berteriak siaga satu.

"Nah, ini dia anak-anak kita. Sini duduk, Letha, Langit. Kebetulan sekali tugas kelompok kalian sudah selesai," seru Tante Karina dengan binar mata antusias yang kelewat cerah.

Aletha mengambil tempat duduk di sebelah mamanya, sementara Langit mengambil posisi tepat di seberangnya. Suasana makan malam itu awalnya berjalan normal, didominasi oleh denting sendok porselen dan pujian ramah tentang masakan rumah. Namun, begitu hidangan penutup disajikan, Papa Baskoro berdehem berat, meletakkan sendoknya, lalu melirik ke arah Wirawan.

"Letha, Langit," panggil Baskara dengan nada suara berwibawa yang tidak menerima interupsi.

"Pertemuan malam ini sebenarnya bukan cuma sekadar makan malam biasa bersama calon besan."

Wirawan tersenyum tipis, lalu meraih sebuah kotak beludru hitam berukuran sedang dari bawah meja dan meletakkannya tepat di tengah-tengah meja makan kaca. Di atas kotak itu, terdapat selembar kertas tebal bertekstur mahal dengan ukiran tinta emas yang sangat megah.

Jantung Aletha seketika berulah maraton lagi. Mata mungilnya membelalak sempurna saat membaca barisan huruf timbul di atas kertas tersebut.

The Engagement of Arkalangit Saghara Voss & Aletha Lizyora Vall.

"Ini... apa, Pa?" bisik Aletha, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Undangan pertunangan resmi kalian," jawab Hanna, mamanya, dengan senyum penuh arti.

"Akibat kejadian kenekatan kalian di Jalan Baru minggu lalu, Papa dan Om Wirawan sepakat tidak mau mengambil risiko lagi. Undangan ini sudah selesai dicetak sore ini. Sebanyak lima ratus undangan siap disebar ke seluruh relasi keluarga besar dan... teman-teman sekolah kalian besok pagi."

"Besok pagi?!" Aletha langsung menegakkan tubuhnya, separuh berteriak karena syok berat.

"Pa! Ma! Di sekolah gosipnya aja belum reda gara-gara kami berangkat bareng! Kalau undangan ini disebar ke anak-anak kelas, satu sekolah bisa gempar total! Letha bisa mati berdiri karena malu!"

"Tidak ada bantahan, Aletha," potong Baskara tegas, tatapannya mengunci pergerakan putrinya. "Ini adalah keputusan hukum adat dan keluarga kita. Biar semua orang di sekolah, termasuk mantan pacar berandalan kamu itu, tahu batasannya secara legal. Kamu adalah calon istri dari putra tunggal keluarga Voss."

Aletha menoleh ke seberang meja, menatap Langit penuh keputusasaan. Ia berharap musuh bebuyutannya itu akan mengeluarkan argumen geniusnya untuk membatalkan kegilaan ini. Namun, harapan Aletha pupus dalam hitungan detik.

Langit meraih lembaran undangan mewah itu, memperhatikannya selama beberapa detik dengan ekspresi tripleksnya yang datar, sebelum akhirnya menaruhnya kembali dengan santai.

"Ukurannya sudah pas, Pa. Desainnya juga bagus," ucap Langit dengan nada suara baritonnya yang teramat tenang, tanpa riak penolakan sedikit pun.

Aletha hampir saja tersedak udara. Gila! Ini cowok beneran udah kehilangan akal sehatnya! Dia setuju gitu aja?! amuk batin Aletha frustrasi, ingin rasanya ia melemparkan mangkuk sup di depannya ke wajah tampan bin menyebalkan itu.

"Bagus kalau Langit setuju. Berarti minggu depan kita tinggal fokus ke dekorasi gedung," timpal Tante Karina heboh, memecah ketegangan sepihak yang dialami Aletha.

___________________

Makan malam selesai dengan keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Saat kedua orang tua masih asyik berbincang di ruang tengah, Aletha langsung menarik ujung kemeja Langit dengan kasar, setengah menyeret cowok tinggi itu menuju area teras samping rumah yang sepi di dekat kolam renang.

"Langit! Lo beneran udah sarap, ya?!" bentak Aletha tajam begitu mereka hanya berdua di bawah temaram lampu taman.

"Kenapa lo diem aja tadi?! Kenapa lo nggak bantu gue buat nolak?! Undangan itu bakal disebar di sekolah besok pagi, Langit! Lo mau reputasi kita sebagai musuh bebuyutan hancur berantakan dalam sehari?!"

Langit memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya. Ia berdiri tegap, menatap Aletha dari ketinggian tubuhnya dengan sepasang mata hazel yang kini memancarkan kilat keangkuhan yang mutlak namun sarat akan proteksi tersembunyi.

"Gue nggak punya alasan buat menolak keputusan yang menguntungkan posisi gue, Kurcaci," sahut Langit dengan nada datarnya yang menyebalkan.

"Menguntungkan gimana?! Ini namanya bunuh diri massal!"

Langit melangkah satu langkah lebih maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Aletha terpaksa mundur satu langkah menempel pada tiang pilar teras yang dingin. Langit menundukkan kepalanya sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata Aletha yang berkaca-kaca menahan emosi.

"Dengan undangan itu tersebar, nggak akan ada lagi cowok genit kayak ketua kelas lo atau berandalan kayak mantan pacar lo yang berani menyentuh atau mendekati lo di sekolah," desis Langit dengan suara rendah yang terdengar begitu dalam dan seksi di indra pendengaran Aletha.

"Status lo bakal resmi dikunci di depan semua orang sebagai milik gue. Dan itu... membuat tugas gue sebagai pelindung lo jadi jauh lebih mudah."

Wajah Aletha mendadak terasa terbakar hebat akibat serangan kalimat se-posesif itu dari mulut Langit. Jantungnya kembali berdentum maraton dengan sangat keras di dalam dada. Benci yang selama tiga tahun ini ia gunakan sebagai benteng pertahanan kini mendadak lumpuh total, digantikan oleh desir aneh yang begitu manis dan mendebarkan.

"L-lo... lo beneran mau nikah sama gue nanti?" tanya Aletha gugup setengah mati, suaranya cicitan pelan.

Langit tertegun selama setengah detik. Sorot mata hazel-nya sempat bergetar halus mendengar pertanyaan polos dari Aletha. Namun dengan cepat, cowok perfeksionis itu kembali menguasai topeng esnya. Ia mengulurkan tangan, lalu menjentikkan jarinya di depan dahi Aletha dengan pelan.

"Kerjain dulu tugas Kimia lo sampai dapet nilai A, baru lo punya hak buat nanya soal masa depan sama gue, Babu," sahut Langit dingin sebelum berbalik badan dan melangkah pergi kembali ke dalam rumah dengan gaya santainya yang angkuh.

Aletha memegangi dahinya yang baru saja dijentikkan, menatap punggung tegap Langit yang menjauh dengan bibir mengerucut sebal. Namun di bawah temaram lampu taman, tangan mungilnya meremas ujung jaket hoodie-nya dengan erat demi menahan senyuman kecil yang mendadak ingin meledak di bibirnya. Si tiang listrik yang dingin itu ternyata memiliki cara yang kelewat luar biasa untuk membuat hatinya porak-poranda. Besok pagi, lembaran undangan itu akan disebar di sekolah, dan badai terbesar dalam kehidupan remaja mereka resmi dimulai dengan debaran yang jauh lebih dahsyat.

1
Fiya
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!