NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merasa kehilangan

Senja benar-benar telah pudar, menyisakan warna keunguan yang makin pekat di langit malam pantai. Valen masih duduk terpaku di sofa teras, memeluk kantong kertas berisi croissant cokelat yang mulai hangat-hangat kuku. Jemarinya meraba bagian atas kepalanya yang tadi sempat diusak pelan oleh Kevin. Bekas sentuhan itu seolah masih menyisakan sensasi hangat yang menggelitik, membuat dada Valen berdebar tak karuan setiap kali ingatan itu melintas.

"Malah melamun di luar, Len. Masuk, yuk! Udara malam pantai ndak bagus buat kaki yang lagi terluka," suara Nenek memecah keheningan, menyembul dari balik pintu sliding glass teras dengan kain selendang yang menyelimuti bahunya.

Valen tersentak kaget, cepat-cepat menarik tangannya dari kepala dan berpura-pura sibuk merapikan kantong roti di pangkuannya. "Eh... iya, Nek. Ini Valen mau masuk kok."

Dengan bantuan sepasang tongkat kayu pemberian Kevin, Valen berdiri perlahan. Bantalan busanya yang empuk benar-benar menopang tubuhnya dengan sempurna, membuat langkahnya menuju kamar terasa jauh lebih ringan. Namun, di dalam hatinya, ada gejolak aneh yang tak bisa ia jelaskan. Besok sore Dokter Kevin berjanji akan datang lagi. Sebuah kepastian kecil yang mendadak menjadi hal paling ia tunggu-tunggu dalam liburannya di rumah Nenek di Bali kali ini.

Keesokan harinya, suasana resort tempat Nenek tinggal terasa sedikit berbeda. Sejak pagi, langit pantai dipayungi awan mendung tipis yang menahan teriknya sinar matahari. Valen melintasi jam demi jam dengan tingkat kedisiplinan yang belum pernah ia miliki sebelumnya, ia meminum obat tepat waktu, rajin memoleskan salep, dan tidak pernah melangkah tanpa sepasang tongkat kayunya, persis seperti instruksi sang dokter tengil.

Semua itu ia lakukan hanya demi satu alasan: ia ingin membuktikan bahwa ia adalah "pasien yang penurut" saat Kevin datang sore nanti.

Namun, ketika jam dinding di teras sudah menunjukkan pukul lima sore lewat empat puluh menit, bayangan pria jangkung itu belum juga muncul dari balik rimbunnya pohon kamboja. Jalan setapak pasir masih sepi. Angin sore bertiup lebih kencang dari biasanya, membawa hawa dingin khas sebelum hujan turun.

Valen mulai gelisah. Ia membolak-balikkan ponselnya, menatap layar kosong yang tak kunjung menampilkan notifikasi atau pesan. Ia bahkan tidak punya nomor kontak Kevin. Yang ia miliki hanyalah lembaran kertas memo krem bertuliskan tinta gel tebal yang kini tersimpan rapi di dalam tasnya.

Pukul setengah tujuh malam, hujan gerimis mulai menetes satu per satu membasahi lantai teras. Valen akhirnya menyerah. Dengan helaan napas berat dan perasaan kecewa yang membendung di dada, ia berbalik untuk masuk ke dalam rumah Nenek.

"Valen?"

Suara panggilan dari arah koridor dalam membuat langkah Valen terhenti. Bunda berjalan mendekat dengan wajah campur aduk, antara kasihan dan ragu-ragu sambil memegang ponselnya yang masih menyala.

"Ada apa, Bun?" tanya Valen pelan, berusaha menetralkan raut wajahnya agar tidak kelihatan habis merajuk.

"Tadi... Manajer Klinik Resort telepon Bunda," ujar Bunda ragu. "Dia mau menyampaikan permohonan maaf dari Dokter Kevin."

Dada Valen berdesir hebat. "Maaf? Kenapa, Bun?"

"Dokter Kevin enggak bisa datang sore ini. Bahkan... dia sudah ndak ada di resort sejak tadi siang," sahut Bunda pelan, melangkah mendekati anak gadisnya. "Ada panggilan darurat dari Rumah Sakit Utama Medika di Jakarta. Katanya ada operasi medis darurat yang butuh penanganan langsung dari dia sebagai salah satu dokter spesialis bedah utama di sana. Dia harus terbang dengan penerbangan paling awal jam dua siang tadi."

Kata-kata Bunda bagai menyiramkan air es tepat di dada Valen. Kakinya mendadak terasa lemas, beruntung tongkat kayu di ketiaknya menahan bobot tubuhnya agar tidak limbung.

"Oh..." hanya kata itu yang sanggup keluar dari tenggorokan Valen. "Ya... ya udah, Bun. Lagian kan dia memang cuma dokter tamu di sini. Wajar kalau harus balik ke rumah sakit aslinya."

"Len..." Bunda mengusap lengan Valen lembut, mengerti betul perubahan raut wajah putrinya. "Dokter Kevin titip pesan lewat manajer klinik. Dia bilang perban kamu sudah aman untuk dibuka lusa, dan obatnya tinggal diteruskan. Dia juga minta maaf karena enggak sempat pamit langsung sama kamu."

Valen memaksakan sebuah senyuman tipis, walau terasa begitu hambar di bibirnya. "Enggak apa-apa kok, Bun. Valen paham. Tugas dokter kan memang gitu, nyawa orang lebih penting."

Malam itu, kamar teras terasa begitu dingin dan sepi. Valen berbaring menatap langit-langit kamar, mendengarkan deru hujan yang makin deras menghantam atap. Ia mengambil kertas memo krem dari dalam tasnya, memandangi tulisan tangan tegas itu di bawah temaram lampu tidur.

— Kevin (Dokter Tengil Loe)

"Ternyata loe memang pahlawan kesiangan yang sibuk, ya..." bisik Valen pada kegelapan malam, menyunggingkan senyum miris. Ada rasa kehilangan yang aneh, seolah-olah liburannya di Bali yang tadinya menyenangkan kini menjadi makin hampa tanpa keberadaan sosok yang sering membuatnya naik darah itu.

Dua minggu berlalu dengan cepat.

Masa liburan santai Valen di rumah Nenek di Bali terpaksa berakhir lebih cepat. Kaki Valen memang sudah sembuh total, jahitannya telah dilepas oleh dokter umum di Bali, dan ia sudah bisa berjalan normal tanpa bantuan tongkat kayu lagi. Valen harus segera pulang ke Jakarta karena jadwal sidang skripsinya sudah selesai dan hari wisudanya kini sudah semakin dekat. Sebagai mahasiswi tingkat akhir yang tinggal menunggu momen wisuda, ia perlu mempersiapkan berbagai berkas administrasi dan fitting toga.

Pagi itu, cuaca Jakarta diguyur hujan deras yang menyebabkan kemacetan parah di mana-mana. Valen yang terburu-buru menuju kampus terpaksa berlari menembus rintik hujan di trotoar setelah turun dari taksi daring. Namun, nasib sial seolah belum bosan menyapanya, karena jalanan yang licin, langkahnya tersandung tepian trotoar yang agak tinggi.

Klek!

"Aww!" Valen merintih kesakitan saat pergelangan kaki kanannya, kali ini kaki yang berbeda dari kejadian di pantai, terpelintir hebat. Ia jatuh terduduk di atas trotoar basah, memegangi kakinya yang langsung berdenyut nyeri.

Beberapa pejalan kaki yang melintas dengan payung sempat berhenti untuk membantunya berdiri dan memapahnya ke dalam lobi bangunan terdekat untuk berteduh. Betapa terkejutnya Valen saat mendongak dan menyadari bangunan megah bernuansa modern bertuliskan huruf-huruf emas di depannya: Rumah Sakit Utama Medika.

"Aduh, Nona, kakinya kelihatan bengkak itu. Mumpung lagi di depan rumah sakit, langsung ke UGD aja ya," saran seorang bapak-bapak ramah yang membantunya.

Valen hanya bisa mengangguk pasrah. Dengan memegangi dinding lobi dan berjalan pincang, ia dipapah oleh petugas keamanan rumah sakit menuju area Instalasi Gawat Darurat (UGD) yang tampak begitu sibuk dan lalu lalang oleh staf medis berseragam hijau dan putih.

Suasana di RS Utama Medika sangat berbeda jauh dengan klinik resort di Bali yang tenang. Di sini, segalanya bergerak cepat, profesional, dan penuh dengan aura kedaruratan kelas atas. Ini adalah rumah sakit rujukan terbaik di kota.

Valen didudukkan di atas salah satu brankar pemeriksaan UGD. Seorang perawat muda segera datang memeriksa kondisi kakinya.

"Pergelangan kaki kanan terkilir ya, Mbak. Bentar, saya panggilkan dokter jaga atau dokter spesialis yang lagi standby untuk mengecek struktur tulangnya," ujar perawat tersebut ramah seraya mencatat rekam medis singkat.

Valen menyandarkan punggungnya di kepala brankar, memejamkan mata menahan nyeri yang makin menjadi-jadi. Di tengah hiruk-pikuk suara monitor jantung, derak roda brankar yang didorong, dan instruksi para medis, sebuah suara langkah kaki yang mantap dan tegas terdengar mendekati tirai pembatas tempatnya berada.

"Bagaimana pasien terkilir di bilik tiga?" suara berat yang sangat akrab di telinga Valen mendadak terdengar dari luar tirai.

Jantung Valen seketika berhenti berdetak selama satu detik penuh. Matanya terbelalak lebar.

Tirai disibakkan. Seorang pria tinggi menjulang melangkah masuk. Ia mengenakan jas dokter putih bersih yang terpasang sempurna di atas kemeja birunya, dengan stetoskop menggantung di leher dan ID-card dokter bertuliskan dr. Kevin axelle Rayyan, Sp.B. Rambut hitamnya tersisir rapi dan klimis, memancarkan pesona penuh wibawa khas seorang dokter bedah senior di rumah sakit elit.

Sangat berbeda dengan penampilannya yang santai dengan kemeja flanel longgar di pantai Bali dua minggu lalu.

Kevin sedang membaca papan rekam medis di tangannya saat melangkah mendekat, namun begitu pandangannya terangkat dan bertatap muka langsung dengan gadis yang duduk di atas brankar, langkah kakinya mendadak terhenti total.

Kedua mata tajam di balik rahang tegas itu melebar seketika.

Valen terpaku, menahan napasnya. "K-Kevin...?" refleks ucapan itu lolos dari bibirnya.

Keheningan melingkupi bilik kecil itu selama beberapa detik, mengabaikan kebisingan UGD di luar. Raut terkejut di wajah Kevin perlahan-lahan luntur, berganti menjadi sebuah garis senyum miring yang sangat menyebalkan, senyuman khas yang sudah dua minggu ini dirindukan oleh Valen.

Kevin menghela napas pendek, menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menyandarkan papan rekam medis di ujung brankar. Ia melangkah makin mendekat, lalu membungkukkan badannya hingga wajah mereka berjarak begitu dekat.

"Loe itu hobi banget ya bikin kaki loe bermasalah?" bisik Kevin dengan nada tengilnya yang tidak berkurang sedikit pun, meski kini ia mengenakan jas dokter elit. "Baru dua minggu gue lepas, sekarang ganti kaki kanan yang kena. Loe sengaja nyari gara-gara biar bisa ketemu gue lagi sebelum wisuda, Cewek garang?"

Pipi Valen mendadak panas seketika. Rasa nyeri di kakinya seolah menguap, tergantikan oleh gemuruh hebat di dalam dadanya. Pahlawan kesiangannya telah kembali—bukan lagi di tepi pantai yang sepi, melainkan di ranahnya yang paling dominan.

1
Intan Wiwi
sangat cocok untuk pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!