Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Di depannya duduk seorang wanita cantik dengan riasan tebal dan perhiasan berlian yang berkilau di leher dan jarinya.
Wanita itu adalah Cynthia Wijaya, putri bungsu dari keluarga konglomerat pemilik Grup Makmur.
"Sayang, Papaku sudah setuju dengan rencana pernikahan kita bulan depan," kata Cynthia tersenyum manja sambil menyesap anggur merahnya.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu, aku tidak sabar menjadikanmu istriku," jawab Rizky memaksakan tawa yang terdengar sangat palsu.
Tangannya berkeringat dingin di bawah meja menahan rasa panik yang tiba-tiba menyerang.
"Tapi ada satu syarat dari keluarga Wijaya, Rizky," potong Cynthia meletakkan gelasnya dengan raut wajah serius.
"Syarat apa sayang? Katakan saja, apapun pasti akan aku penuhi untukmu," sombong Rizky menepuk dadanya bangga.
"Keluarga kami adalah keluarga terpandang di kota ini, Papa minta uang mahar sebesar enam ratus juta rupiah tunai," ucap Cynthia santai seolah menyebutkan angka enam ribu rupiah.
Uhuk uhuk.
Rizky langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar nominal yang sangat gila itu.
Wajahnya memerah dan dia buru-buru meminum air putih di gelasnya sampai habis.
"Enam... enam ratus juta sayang? Bukankah kemarin kita sepakat di angka seratus juta saja?" tanya Rizky terbata-bata menahan syok.
Cynthia mengerutkan dahinya tidak suka mendengar protes dari calon suaminya itu.
"Kamu ini bagaimana sih? Teman-temanku maharnya ada yang sampai satu miliar lebih, masa aku cuma seratus juta?" omel Cynthia mulai kesal.
"Mau ditaruh di mana muka Papaku di depan relasi bisnisnya kalau mahar anak bungsunya sekecil itu?" tambahnya dengan nada tinggi.
Rizky menggigit bibir bawahnya kebingungan, otaknya berputar keras mencari alasan yang masuk akal.
Uang tabungannya saat ini bahkan tidak sampai lima juta rupiah hasil dari bekerja serabutan.
"Bukan begitu sayang, maksudku uang tunai sebanyak itu agak susah dicairkan dalam waktu dekat," elak Rizky mencari celah.
"Loh bukannya kamu bilang Ibumu itu ilmuwan hebat di luar negeri yang punya proyek triliunan?" desak Cynthia menatap tajam mata Rizky.
Jantung Rizky berdegup kencang karena kebohongannya selama ini mulai menjadi bumerang.
Demi bisa mendekati Cynthia yang kaya raya, Rizky mengarang cerita bahwa dia adalah anak pengusaha sukses yang sedang merintis bisnis sendiri.
Rizky bahkan malu mengakui identitas ibu kandungnya yang hanya seorang janda miskin.
"I... iya benar, Ibuku memang sedang sibuk riset di Jerman sekarang," bohong Rizky kembali dengan wajah tanpa dosa.
"Proyeknya bernilai miliaran, jadi uang enam ratus juta itu sebenarnya sangat kecil bagi keluargaku," sombong Rizky menutupi kegugupannya.
Wajah Cynthia kembali cerah dan senyum manjanya mengembang mendengar jawaban percaya diri itu.
"Nah begitu dong, berarti tidak ada masalah kan? Aku akan bilang ke Papa kalau uangnya siap minggu depan," kata Cynthia riang gembira.
"Tentu saja sayang, serahkan semuanya padaku, kamu tinggal duduk manis dan perawatan di salon saja," tawa Rizky di luar namun menangis darah di dalam hatinya.
Rizky menatap tagihan makanan di atas meja yang mencapai angka tiga juta rupiah dengan perasaan mual.
"Mati aku, dari mana aku bisa dapat uang enam ratus juta minggu depan?" batin Rizky mengusap wajahnya frustrasi.
"Apa aku harus menipu orang lagi? Atau aku pinjam rentenir dengan jaminan sertifikat rumah petak Ibu?" pikirnya jahat.
Sifat Rizky benar-benar bertolak belakang dengan Rio yang rela berkorban nyawa di masa lalu.
Rizky tumbuh menjadi pemuda yang haus akan validasi, gila harta, dan rela melakukan apa saja demi gengsi semata.
Di belahan kota yang lain, jauh dari kemewahan restoran dan gedung pencakar langit.
Suasana pasar tradisional siang itu sangat kumuh, becek, dan berbau amis.
Sreng sreng sreng.
Suara spatula besi beradu dengan wajan besar terdengar nyaring dari sebuah gerobak kayu kusam.
Asap mengepul tebal membawa aroma kaldu ayam yang gurih ke udara.
Di balik gerobak itu berdiri seorang wanita paruh baya yang wajahnya sudah dipenuhi keriput dan noda hitam.
Rambutnya yang dulu hitam kini sudah didominasi uban putih yang disanggul asal-asalan.
Dia adalah Santi yang kini berusia lebih dari lima puluh tahun.
Penyakit di kaki kirinya semakin parah hingga dia harus memakai tongkat kayu kecil untuk menyanggah tubuhnya saat berdiri.
Setelah tidak kuat lagi menjadi buruh cuci, Santi beralih profesi menjual mi ayam gerobakan di pinggir jalan.
"Ini mi ayamnya Bu Yanti, mangkoknya awas panas ya," kata Santi menyodorkan semangkok mi ke atas meja pembeli.
Uhuk uhuk uhuk.
Santi terbatuk-batuk keras sambil menutupi mulutnya dengan lap kotor di bahunya.
"Ibu Santi ini batuknya tidak sembuh-sembuh, sudah periksa ke puskesmas belum?" tanya Bu Yanti pelanggan setianya dengan nada kasihan.
"Alah batuk biasa ini Bu, minum air jahe hangat nanti juga hilang sendiri," kekeh Santi memaksakan senyum ramahnya.
Santi kembali ke balik gerobaknya dan duduk di sebuah kursi plastik merah yang sudah reot.
Dia memijat betis kirinya yang bengkak dan berdenyut nyeri setiap kali ditekan.
"Rizky kok tidak pernah kelihatan bantu ibunya jualan lagi Bu?" tanya Bu Yanti sambil menyeruput kuah mi ayamnya.
Raut wajah Santi berubah sedikit sendu namun dia segera menutupinya dengan senyum kebanggaan.
"Oh anak saya itu sekarang sedang sibuk-sibuknya kerja di perusahaan besar Bu Yanti," jawab Santi dengan mata berbinar.
"Dia bilang mau nabung yang banyak biar bisa belikan saya rumah yang bagus dan enak buat istirahat," tambahnya menirukan kebohongan yang sering diucapkan Rizky.
"Wah hebat ya Rizky, Ibu Santi beruntung punya anak yang sukses dan berbakti," puji Bu Yanti tulus.
Santi hanya mengangguk pelan mengaminkan pujian tetangganya itu.
Meskipun kenyataannya Rizky jarang pulang dan kalaupun pulang hanya untuk meminta uang hasil jualan ibunya.
Santi menengadah menatap langit Jakarta yang mendung siang itu.
Awan gelap berkumpul seolah mengingatkannya pada malam kelam lima belas tahun yang lalu.
Air mata menetes pelan dari sudut keriput mata tuanya setiap kali dia mengingat anak sulungnya.
"Rio, kamu di mana sekarang nak? Apa kamu masih hidup di dunia ini?" batin Santi dengan dada sesak.
"Adikmu sebentar lagi mau menikah Rio, Ibu kangen sekali sama kamu," isaknya pelan sambil mengusap air mata dengan lengan bajunya.
Santi tidak pernah tahu bahwa anak yang dia tangisi setiap malam kini telah menjadi salah satu orang paling berkuasa di negara ini.
Dan takdir akan segera mempertemukan mereka kembali dalam sebuah insiden yang sangat menyakitkan di hotel mewah tempat Rizky menikah nanti.