Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Misterius
Kania bergegas keluar dari kamar, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Koridor di lantai dua itu tampak sepi. Karena penasaran, dia menuju kamar sebelah yang ditempati Lala. Kania langsung masuk karena pintu kamar gadis itu tidak tertutup.
“La, tadi kamu lihat ada orang lewat, nggak?” tanya Kania.
“Orang lewat? Kapan?” tanya Lala dengan bingung. Sejak masuk ke kamar, dia tidak melihat siapa pun melintas di depan kamarnya.
“Barusan. Aku lihat kayak ada yang lewat. Pas aku cari nggak ada.”
“Masa sih? Perasaan kamu aja, kali.”
“Iya, kali.” Kania segera berbalik dan kembali ke kamarnya. Dia meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda tadi.
Sementara itu, Salsa yang sudah selesai membereskan barang-barangnya, langsung berbaring di atas kasur sambil memainkan ponselnya. Karena lelah, gadis itu justru tertidur.
Baru sekitar sepuluh menit tertidur, Salsa dikejutkan oleh suara pintu yang tertutup. Gadis itu segera membuka matanya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Pintu kamarnya memang sudah tertutup sedari tadi. Namun, pintu kamar mandi dia biarkan terbuka. Perlahan, Salsa beranjak dari kasur lalu mendekati kamar mandi. Dia menempelkan telinganya ke daun pintu.
Dari dalam kamar mandi, dia mendengar suara gemericik air. Seperti suara orang yang sedang menyalakan kran wastafel. Salsa pun mengetuk pintu. “Siapa di dalam?” tanya Salsa. “Nia! Lala! Debby!”
Tidak ada sahutan dari dalam. Karena penasaran, Salsa membuka pintu kamar mandi. Keadaan di dalamnya kosong. Bahkan, wastafel pun dalam keadaan kering.
Seketika bulu di tubuh Salsa berdiri. Gadis itu segera membereskan barang-barangnya lalu keluar dari kamar itu secepatnya.
“Aku tidur di sini ya, Ni,” ujar Salsa begitu masuk ke kamar Kania. Hanya kamar gadis itu yang masih terbuka.
“Kamu kenapa?” tanya Kania yang melihat wajah Salsa sedikit pucat.
“T-Tadi aku dengar suara air dari kamar mandi. Pas kubuka pintunya, ternyata nggak ada siapa-siapa di dalamnya,” jawab Salsa dengan suara bergetar.
“Masa? Kamu mimpi kali? Bukannya kamu tidur? Tadi aku ketuk-ketuk, nggak ada jawaban dari kamar kamu.”
“Iya. Tapi aku kebangun pas dengan suara kran di kamar mandi nyala. Suaranya kayak dari kran wastafel. Pas kulihat, ternyata wastafelnya kering.”
Kania terdiam sejenak. Sebenarnya tadi dia juga yakin ada yang melintas di depan kamarnya. Namun, dia memilih tidak menceritakannya kepada Salsa. Takut temannya itu bertambah takut.
“Mending kita pergi dari sini, yuk,” ajak Salsa.
“Kamu jangan ngaco. Lagian kita mau pergi pakai apa? Kapalnya udah nggak ada. Lagian ada pegawai di sini, nggak usah takut.” Kania mencoba menenangkan temannya itu.
Di tengah perbincangan mereka, Debby muncul.
“Hei, kalian mau makan, nggak? Makanan udah disiapin di meja makan,” ujar Debby.
Kania mengajak Salsa turun. Di meja makan, aneka hidangan sudah tersedia. Lala tampak sedang menikmati makanannya. Kania, Salsa, dan Debby langsung bergabung dengan gadis itu.
“Wah, makanannya banyak banget,” ujar Kania.
“Iya. Di kulkas masih banyak stok makanan. Juru masaknya udah siapin banyak makanan. Jadi nanti tinggal dihangatkan aja.
Ada ayam ungkep, ikan yang udah dibumbuin, dan sambal. Kalau makan, tinggal goreng aja. Beras juga udah disediakan. Kalau mau makan mie instan, ada di lemari. Telurnya ada di kulkas,” terang Lala.
Tak sengaja, mata Salsa menangkap lima pegawai vila tempat itu. “Itu mereka mau ke mana?” tanya Salsa sambil menunjuk para pegawai itu.
“Mereka mau pulang. Mereka emang nggak nginep di sini. Nggak boleh sama papanya Andro.”
“Hah? Terus kita ditinggal di sini aja gitu?” tanya Salsa panik.
“Tenang aja. Besok mereka ke sini lagi, kok. Buat beres-beres,” jawab Lala menenangkan.
“Kamu kenapa, sih?” tanya Debby yang melihat temannya bersikap aneh.
Salsa pun menceritakan apa yang dialaminya di kamar tadi. Entah mengapa, gadis itu merasa bahwa vila ini ada penunggunya.
“Nggak usah ngaco, deh. Vilanya bagus, kok. Terawat lagi. Nggak kayak vila di film-film hantu.” Lala mencoba menenangkan Salsa.
“Mungkin perasaan kamu aja, Sal,” sambung Debby.
Salsa tidak mengatakan apa-apa lagi. Debby dan Lala sama sekali tidak memercayai ucapannya. Mungkin jika keduanya mengalami keganjilan, barulah mereka percaya.
“Udah, nggak usah takut. Kamu bilang, Andro mau ke sini, kan, nanti malam. Dia pasti nggak datang sendiri. Vila ini bakal lebih rame kalau mereka udah datang.”
Ucapan Lala barusan tetap tidak bisa membuat hati Salsa tenang. Gadis itu masih merasa ketakutan.
“Udah, mending makan dulu aja,” usul Kania.
Keempat gadis itu pun makan dengan tenang. Salsa memilih tidak membicarakan hal itu lagi.
Selesai makan, Lala mengajak teman-temannya berkeliling vila. Jika halaman depan dan belakang turut dihitung, luas area vila ini sekitar seribu meter persegi.
“Berenang, yuk,” ajak Lala.
“Daripada berenang, mending main ke pantai aja, nggak, sih?” usul Debby.
“Nah, iya. Mending main di pantai aja. Di Bandung, kan, nggak ada pantai.”
Keempat gadis itu berganti pakain terlebih dahulu sebelum menuju pantai.
Sesampainya di pantai, suasana Salsa sedikit membaik. Gadis itu bermain air dengan riang bersama teman-temannya.
Puas berenang, keempat gadis itu duduk-duduk di atas pasir sambil mengobrol.
Dari kejauhan, muncul seorang wanita mengenakan dress pantai. Wanita itu tersenyum kepada empat gadis yang ditemuinya.
“Kalian lagi liburan, ya?” tanyanya dengan ramah.
“Iya, Kak. Kebetulan, teman kami meminjamkan vila ayahnya buat kita tinggali,” jawab Lala.
“Teman kalian itu, Andro, bukan?” tanya wanita itu.
“Iya, kok Kakak tahu?” tanya Debby penasaran.
“Karena aku kenal Andro. Dulu waktu masih kecil, dia suka main ke sini. Tapi udah lama juga dia nggak ke sini, keluarganya juga. Sekarang, pasti Andro sudah besar.”
“Iya, seumuran kita, lah.”
Wanita itu mengangguk seraya tersenyum. Dia kemudian duduk bersama keempat gadis itu sambil memandangi matahari yang sudah mulai tergelincir ke barat.
“Nama Kakak siapa?” tanya Kania.
“Savitri,” jawabnya seraya tersenyum. “Andro mau ke sini, nggak?”
“Mau, Kak. Tapi katanya malam sampai di sini.”
Wanita itu mengangguk. Dia bangkit dari duduknya, lalu hendak pergi.
“Kalau Andro udah datang, nanti kita kasih tahu, Kak. Kakak tinggal di mana?” tanya Kania.
“Makasih. Tapi aku bakal tahu, kok, kalau dia datang. Aku pergi dulu, ya.”
Savitri segera meninggalkan keempat gadis itu.
Pada saat yang bersamaan, Lala yang sedang duduk di pasir menjerit saat sesuatu menyentuh betisnya. Dia langsung berdiri. Perhatian Kania, Debby, dan Salsa langsung tertuju kepada temannya itu.
Ternyata, ada binatang laut yang merangkak di bawah betis Lala.
“Masa sama beginian aja takut,” ujar Kania sambil mengambil binatang yang bentuknya menyerupai kecoa, lalu melemparkannya.
Pandangannya beredar ke sekeliling. Gadis itu merasa aneh karena tidak menemukan Savitri. Seharusnya wanita masih terlihat, tetapi dia sudah menghilang tanpa jejak.
“Kamu nyari siapa?” tanya Lala.
“Kak Savitri. Kok cepat amat perginya.”
“Dia kebelet kali, terus lari ke rumahnya,” jawab Debby asal. “Balik, yuk. Aku mau mandi.”
Puas bermain di pantai, keempat gadis itu kembali ke vila.
Salsa yang memutuskan tidur di kamar yang ditempati Kania terpaksa berbagi kamar mandi karena gadis itu terlalu takut kembali ke kamarnya sendiri.
Selesai mandi, mereka berkumpul di ruang tengah lantai bawah sambil menonton televisi.
Saat sedang asyik menonton, mereka dikejutkan dengan suara seperti barang jatuh. Keempatnya langsung mencari sumber suara. Ternyata, suara itu berasal dari kamar belakang. Sebuah pigura berukuran cukup besar terjatuh.
Pigura tersebut jatuh dengan posisi vertikal dan bagian depannya menghadap tembok. Debby mengambil pigura tersebut, kemudian membaliknya.
Keempat gadis itu terkejut saat melihat wajah yang terpampang di dalam pigura.
“I-Ini … Kak Savitri, kan?” tanya Lala dengan ekspresi terkejut.
***
Aku serem sendiri nulis ini, wkwkwk...
oalah....
gk nyangka ternyata Khalisa toh pelakunya 🤔🙏🏻✌🏻
Gilang jd bulan²an temen nya.... Gilang di siksa.....padahal mah demi kerjaan juga ya Gilang tanya² soal ituu🤣🤣🤣
gian bs x y trus pantau mereka🤭