NovelToon NovelToon
Saga Delapan Kristal

Saga Delapan Kristal

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Action / Anime / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: AryaAulani

Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 BATU AKIK PERTAMA

Hutan kembali sunyi setelah Froz lenyap.

Aku masih berdiri di tempat yang sama, pedang menggantung lemas di tangan, sementara angin di bilahnya mereda menjadi semilir. Iyan jatuh terduduk dan tertawa sendirian, tawa lelah orang yang baru sadar masih hidup. Anna bersandar di batang Pohon Elemen sambil menutup mata, dadanya naik turun. Di bahuku, Vivi akhirnya melepaskan cengkeramannya dan menghela napas panjang.

"Ah...Aku nanti tidak mau lihat yang seperti itu lagi deh," gumamnya. Dari balik semak-semak, satu per satu penduduk Artheria muncul. Mereka tampaknya mengikuti dari kejauhan setelah kami meninggalkan basement. Seorang ibu memeluk anaknya erat, beberapa orang tua menatap jubah hitam compang-camping di tanah seolah tak percaya, dan seorang anak laki-laki menunjuk padaku dengan mulut menganga.

"Apakah entitasnya... mati?"

"ya...dia sudah mati dan lenyap, kita semua aman sekarang." jawab Anna tanpa membuka mata.

Para penduduk kembali tenang dan mulai bersorak sorak atas kemenangan dan bantuan dari para korps

Setelah napas kami tenang, aku mengeluarkan peta dari balik jubah dan membukanya di atas akar pohon. Titik merah di barat jatuh tepat di tengah lingkaran bergambar pohon. Aku mendongak. Pohon Elemen menjulang di depan kami, kulitnya berpendar lembut.

"Kalau petanya ini benar, kemungkinan batunya ada di sekitar sini," kataku.

Iyan berdiri dan menepuk celananya. "Apa mungkin di pohon itu sendiri?"

"Hei, Aku sudah tujuh bulan di Artheria," kata Anna sambil menggeleng. "Aku memeriksa pohon ini setiap hari. Tak ada yang tersembunyi di batang, akar, atau cabangnya. Yang kutahu hanya bahwa batu itu ada di dalam kota, dan penduduk menjaganya diam-diam sejak lama."

"Berarti batunya bersama penduduk dong," simpul Iyan.

"Tapi siapa yang menyimpannya ya?" Vivi terbang berputar. "Kota ini kan luas. Kita tidak mungkin harus mengetuk setiap pintu rumah."

Kami berdiri diam, memikirkan jalan keluar. Bagaimana mencari benda yang disembunyikan oleh orang yang bahkan tak tahu bahwa kami mencarinya?

"Maaf menggagu pembicaraan kalian."

Kami berempat menoleh serempak.

Seorang pria paruh baya berdiri beberapa langkah dari kami. Tubuhnya kurus dan bahunya sedikit membungkuk, rambut kelabunya berantakan, dan kedua tangannya meremas ujung kemeja lusuh. Wajahnya letih tapi matanya jernih, penuh tekad yang ia kumpulkan dengan susah payah.

"aku mendengar percakapan kalian tadi," katanya pelan. "Tentang batu akik, sebenarnya batu akik itu aku yang simpan."

Anna langsung menegakkan tubuh. "Anda nyimpan batunya?."

"Ya..oh ya perkenalkan namaku Eldan. Aku seorang tukang kayu." Ia menelan ludah. "Aku tidak tahu apakah ini ada hubungannya atau tidak, tapi... di rumahku ada sebuah batu. Sudah turun-temurun dari keluarga kami. Katanya ia membawa kekuatan aneh, dan kami tak boleh memberikannya pada siapa pun. Aku tak pernah tahu itu apa."

Dadaku berdegup keras.

"Kekuatan seperti apa?" tanyaku, berusaha menjaga suaraku tetap datar.

"Hhmm....seperti rasa hangat," jawab Eldan. "Selalu hangat, bahkan di musim dingin. Dan di malam hari ia berpendar merah samar, seperti bara yang tak pernah padam." Ia menunduk. "Ayahku dulu bilang, suatu hari akan ada orang yang datang mencarinya. Aku tak pernah percaya, sampai tadi, saat kudengar kalian bicara tentang lima batu."

Aku menatap Iyan, Iyan menatap Anna, dan Anna menatap Vivi. Tak ada yang bicara. Tak perlu.

"Pak Eldan," kataku. "Bisakah Anda mengantar kami ke rumah Anda?"

Rumah pak eldan terletak di cabang tinggi sebuah pohon tua di sisi timur kota. Kami menaiki tangga melingkar yang melilit batang, melewati jembatan gantung yang bergoyang pelan, dan akhirnya tiba di sebuah rumah mungil dengan dinding kayu halus dan jendela bulat yang menghadap hutan.

Di dalamnya sederhana dan bersih. Perabotnya dibuat tangan, lantainya berkilau karena diamplas bertahun-tahun, dan di dinding tergantung peralatan ukir yang tersusun rapi. Aroma serbuk kayu dan getah membuatku teringat pada barak latihan di selatan.

Eldan menutup pintu di belakang kami dan menyalakan lentera. Ia berlutut di sudut ruangan, mengangkat satu papan lantai dengan hati-hati, dan mengeluarkan sebuah peti kayu kecil berukir sulur-sulur halus. Warnanya gelap karena usia, kuncinya sudah berkarat.

"Aku menyimpannya di sini," bisiknya. "Sejak ayahku wafat, aku tak pernah membukanya. Kuncinya sudah rusak, tapi tutupnya masih bisa dibuka."

Ia menaruh peti itu di meja dan mundur. Tangannya gemetar.

Dari celah tutup peti itu, merembes sepercik cahaya merah. Pelan, berdenyut seperti napas. Seluruh ruangan seolah menahan diri.

"Silakan dibuka," kata Eldan. "Kalian berhak membukanya"

Aku menarik napas dalam dan mengangkat tutupnya.

Cahaya merah menyembur keluar, tidak menyilaukan tapi hangat, memenuhi ruangan dengan semburat kemerahan. Di dalam peti, di atas alas kain beludru yang sudah memudar, tergeletak sebuah batu sebesar telur burung. Bentuknya lonjong seperti tetes air, permukaannya mulus berkilau, dan di intinya, cahaya merah berputar-putar pelan seperti api yang dikurung.

"Ini dia..batu akik," bisik Anna.

"Wah...iya benar," gumam Iyan. "Sama persis dengan yang ada di peta."

Aku mengulurkan tangan. Jari-jariku gemetar sedikit sebelum menyentuhnya. Permukaannya hangat, bukan panas, hangat seperti telapak tangan seseorang yang kita kenal. Aku mengangkatnya dari peti.

Detik berikutnya, batu itu bersinar.

WHUUUUMMMM!

Cahaya merah meledak dari dalamnya, memantul di dinding dan langit-langit, begitu terang hingga aku harus menyipitkan mata. Seluruh rumah bergetar halus. Alat-alat ukir di dinding bergemerincing, lentera berayun, dan Vivi menjerit kecil lalu bersembunyi di balik rambutku. Dari batu itu, cahaya menjalar ke atas membentuk pusaran, berputar semakin cepat.

Lalu, di tengah pusaran itu, sesuatu muncul.

Sebuah bentuk lonjong meruncing, semula hanya bayangan samar, perlahan memadat dan berkilau. Kristal.

Panjangnya setinggi lenganku, ramping dan bersudut delapan, warnanya merah menyala seperti jantung yang berdetak. Di dalamnya, cahaya mengalir ke segala arah, berpendar dalam denyut yang kukenal. Aku pernah melihat kristal ini, di lembah batu hitam, sesaat sebelum direnggut dari tanah.

Kristal itu melayang tenang di atas telapak tanganku, berputar pelan. Suara dengung rendah memenuhi ruangan, selembut senandung.

"Itu..." Anna menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya berkaca-kaca. "Itu dia kristal pertamanya."

Vivi mengintip dari balik rambutku, lalu terbang mendekat dan menyentuh permukaan kristal itu dengan ujung jarinya. Cahayanya berdenyut, seolah mengenalinya. "Wah...Hangatnya menenangkan," katanya terisak. "Ini... ini nyata, kan? Bukan mimpi?"

"Akhirnya kita menadapatkan batu akik yang pertama, sekarang tinggal tujuh lagi deh" timpalku

Selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, aku hidup dengan bayangan kekalahan itu. Delapan cahaya yang kuhilangkan dari dunia. Sekarang satu di antaranya kembali, bersinar di telapak tanganku, dan dadaku terasa lebih ringan dari kapan pun.

Cahaya kristal itu perlahan meredup. Kristal itu melayang turun dan mendarat di tanganku, ringan seperti bulu. Batu akik di sisiku kehilangan cahayanya, berubah menjadi batu merah polos yang hangat, tetap utuh dan tak retak.

"Loh kok batunya tidak hancur," gumam Iyan.

"Iya, kata Kak Cecilia, kelima batu itu harus dikumpulkan," ingat Anna. "Mungkin batu ini tetap dibutuhkan nantinya."

Aku mengangguk dan membungkus kristal itu dengan kain beludru dari peti. Batu akiknya kumasukkan ke kantung kulit di sabukku, dekat dengan peta.

Eldan, yang sejak tadi berdiri membeku di sudut ruangan, jatuh berlutut dengan air mata mengalir di pipinya. "Terima kasih kalian semua," bisiknya. "Selama berabad-abad, keluargaku menjaga benda ini tanpa tahu untuk apa. Hari ini aku tahu."

"Bukan begitu pak justru kamilah yang berterima kasih kepada bapak" kataku sambil membantunya berdiri. "Tanpa Anda, kami mungkin menghabiskan berhari-hari mencarinya."

Kami berempat saling memandang di tengah rumah kayu itu. Tak ada kata-kata yang cukup. Satu kristal dari delapan telah direbut kembali dari tangan Zaranos. Untuk pertama kalinya sejak langit retak, dunia punya alasan untuk berharap.

Sementara jauh di balik retakan langit, di dalam istana tulang, Zaranos sedang fokus.

Ruangan itu berada di lantai terdalam istananya, sebuah laboratorium bundar dengan dinding obsidian yang dihiasi pembuluh-pembuluh merah berdenyut. Rak-rak kaca menjulang di sekelilingnya, penuh tabung dan gelas berisi cairan pekat berwarna merah gelap. Di meja marmer di tengah ruangan, Zaranos berdiri dengan lengan kemejanya tergulung, sarung tangannya terlepas, dan cakar-cakarnya yang panjang menekan ujung jari tangan kirinya sendiri.

Setetes darah hitam kemerahan jatuh ke dalam gelas kaca. Cairan di dalamnya bergolak, berubah warna menjadi ungu, lalu menyala samar.

"Hampir," bisiknya. Mata kucingnya berkilat penuh gairah. "Sedikit lagi."

Seribu tahun ia terkurung. Seribu tahun ia memikirkan cara membebaskan diri tanpa bergantung pada kunci milik orang lain. Darahnya adalah satu-satunya hal yang sang jenius tak bisa kurung. Jika ia bisa memurnikannya, mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih kuat dari segel itu sendiri...

Di sudut ruangan, di atas sebuah dudukan batu hitam, berdiri sebuah cawan besar dari kristal bening. Delapan kristal melayang di dalamnya, berputar pelan, memancarkan cahaya yang menari-nari di dinding. Dari kejauhan, cahaya itu tampak seperti delapan bintang yang tertawan. Tiba-tiba, lantai bergetar.

Zaranos berhenti. Tetesan darah terakhir jatuh dari jarinya dan mendarat di gelas, menimbulkan riak kecil. Tabung-tabung di rak berdenting, cairan di dalamnya beriak, dan kerangka istana berderit pelan seperti binatang tua yang terbangun.

"Hm?"

Getaran itu bukan datang dari luar. Ia datang dari cawan. Zaranos menoleh perlahan. Di dalam cawan kristal, cahaya delapan kristal berkedip tak beraturan, bergetar seolah ada tangan tak kasat mata yang menggoyangnya. Lalu, tepat di depan matanya, salah satu cahayanya padam.

Cahaya merah, kristal pertama yang pernah ia coba genggam, menghilang dari dalam cawan. Hanya tujuh kristal yang masih berputar. Satu ruang kosong menganga di antara mereka. Dunia seolah berhenti.

"...Apa?"

Suaranya nyaris tak terdengar. Ia melangkah mendekat, menempelkan telapak tangan pada permukaan cawan, mencari-cari sesuatu yang tak mungkin hilang. Tak ada. Kristal merah benar-benar lenyap, ditarik kembali oleh sesuatu yang berada jauh di dunia manusia.

"Batu akiknya...."

Zaranos memejamkan matanya. Ia ingat rantai tipis yang masih melilit lehernya, ingat peringatan sang jenius dalam gulungan tua yang ia curi seribu tahun lalu. Cadangan. Seseorang telah menemukan salah satunya. Seseorang yang berani menyentuh milik Zaranos.

Cakar di tangan kanannya perlahan menekan permukaan cawan, meninggalkan goresan panjang di kristal bening itu.

"Seseorang..." desisnya. "Berani..."

Urat-urat hitam menjalar naik di lehernya. Pupil matanya menyempit menjadi garis setipis jarum.

"BERANINYA MEREKA MENGAMBIL BAGIAN KRISTAL MILIKKU!"

Raungan itu mengguncang seluruh istana.

GRAAAAAAAAAAHHH!

Dinding obsidian retak berderak, pembuluh merah di dinding menggelembung dan pecah, dan lantai bergetar hebat seperti diterjang gempa. Rak-rak kaca roboh bersamaan. Tabung, gelas, dan botol meledak satu per satu dalam hujan pecahan kaca, melemparkan cairan merah gelap ke segala arah. Darah eksperimennya menyiprat ke dinding, ke lantai, ke wajah dan lengan Zaranos, namun ia tak peduli.

Pintu laboratorium terbuka paksa.

Galvanax berdiri di ambang pintu dengan zirah merahnya, helm tanpa wajah menunduk dalam-dalam. "Tuan..."

"Keluar!" bentak Zaranos tanpa menoleh.

"Tuan, kami merasakan..."

"AKU MENYURUH KALIAN KELUAR SEKARANG JUGA!!"

Galvanax membungkuk dan mundur, menutup pintu tanpa suara.

Sendirian di tengah puing-puing, Zaranos berdiri membeku dengan napas memburu. Cairan merah menetes dari ujung rambut dan jari-jarinya. Perlahan, ia mengangkat wajah dan menatap langit-langit, seolah bisa menembusnya sampai ke dunia manusia.

"Para ranger," bisiknya. Senyum mengerikan merekah di bibirnya, tanpa kehangatan sedikit pun. "Korps korps kecil yang bersembunyi di balik tembok-tembok kota itu."

Ia menggenggam cakarnya sampai buku-buku jarinya memutih.

"Aku bersumpah, demi seribu tahun yang kalian curi dariku, si jenius. Setiap ranger, bukan....setiap pilar, setiap anak yang pernah memegang pedang untuk melawanku... akan kubunuh....SATU PERSATU!!!!!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!