NovelToon NovelToon
Kebangkitan Prajurit Nomer Satu!

Kebangkitan Prajurit Nomer Satu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: kabutmalam

Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA KUBU YANG BERTEMU

Kayden tersenyum lebar, menatap keduanya dengan penuh keyakinan yang tak disembunyikan sedikit pun.

"Saudara Renzo, jangan khawatir. Sebenarnya kekuatan keseluruhan Naga Neraka tak kalah jauh dari gedung-gedung lainnya," ucapnya tegas, suaranya terdengar mantap dan meyakinkan.

Mata Ivan menyipit seketika, berubah tajam. Tangan yang baru saja dibersihkan dari noda darah tiba-tiba berubah — kukunya memanjang tajam bagai cakar binatang buas yang siap mengoyak daging. Tanpa memberi peringatan sedikit pun, ia melesat maju secepat kilat, hembusan angin yang tercipta dari gerakannya menyayat udara di sekitar mereka, dan cakarnya menyambar keras ke arah rusuk kiri Kayden.

Kayden terkejut, namun refleksnya bergerak jauh lebih cepat daripada pikirannya. Tubuhnya berputar lincah seperti belut yang licin, menghindari serangan itu sejengkal saja, dan seketika itu juga ia sudah berada tepat di belakang punggung Ivan, napasnya teratur, tak tampak panik sedikit pun.

Namun Ivan tak menoleh. Kakinya meluncur ke belakang dengan kekuatan penuh, menendang ke arah sosok yang kini berdiri di belakangnya. Kayden segera menyilangkan kedua lengannya, menahan hantaman itu agar tubuhnya tidak terpental jauh.

BUM!

Gema hantaman terdengar berat dan menggetarkan lantai tempat mereka berdiri. Ivan tetap berdiri tegak tanpa bergeser satu inci pun, sementara Kayden terdorong mundur dua langkah, kakinya menggesek lantai beton yang kasar. Wajahnya memerah menahan getaran yang menjalar ke seluruh tubuh, namun matanya justru berbinar penuh semangat. Satu serangan itu saja sudah cukup membuktikan betapa hebatnya lawan yang dihadapinya, dan ia merasa bangga bisa menahannya.

Ada kilatan kekaguman yang tak disangka-sangka di mata Ivan. Bocah ini bukan sekadar petarung jalanan biasa. Menghindari serangannya begitu cepat, lalu menahan tendangan yang mampu merobohkan dinding tebal dan hanya mundur dua langkah? Luar biasa.

Kayden menyeringai lebar, menampakkan gigi-giginya yang rapi.

"Terima kasih, Saudara Ivan, sudah memberiku kesempatan... kemampuanku lumayan juga, bukan?"

Ivan menoleh ke arah Renzo sejenak, lalu mengangguk pelan.

"Lumayan. Kau lulus."

Mata Kayden berbinar cerah, wajahnya tampak sangat bersemangat.

"Saudara Renzo, Saudara Ivan... aku tak lebih lemah dari Chalk. Dan Saudara Gavien hampir setara dengan Kaneo. Jika aku dan Gavien bekerja sama, kami bisa mengalahkan Kaneo dengan mudah. Ditambah tangan hantu.... kami bisa membunuhnya tanpa kesulitan berarti. Soal kesetiaan yang tadi Saudara Renzo sebutkan, jangan khawatir. Kami semua di sini adalah musuh bebuyutan Kaneo. Dia terlalu sombong, menganggap dirinya satu-satunya yang paling kuat di gedung ini seakan kami hanyalah debu di bawah kakinya. Kami sudah muak dengannya, kami sudah tak tahan lagi. Jika Saudara Renzo setuju, kami bisa membunuhnya kapan saja, di mana saja."

Ivan melirik ke arah Gavien, suaranya tenang namun penuh tantangan yang tak bisa diabaikan.

"Berapa banyak gerakan yang sanggup kau tahan saat berhadapan langsung dengan Kaneo?"

Gavien membusungkan dadanya, wajahnya penuh kebanggaan.

"Aku bisa bertarung enam puluh gerakan tanpa kalah sedikit pun."

"Yakin?"

"Tentu saja!"

Renzo melangkah maju, menatap mereka satu per satu, sorot matanya tajam dan tegas, suaranya menembus keheningan lorong itu tanpa gemetar sedikit pun.

"Perkumpulan Naga Neraka hanya akan memiliki lima puluh anggota. Jumlahnya sengaja dibatasi agar tidak menimbulkan kecurigaan para sipir. Tak ada tempat bagi yang lemah di sini. Kalian semua harus membuktikan bahwa kekuatan kalian benar-benar layak untuk bergabung. Rencana kabur dari sini cukup sederhana: pertama-tama, kita akan menundukkan keenam penguasa penjara ini satu per satu. Setelah itu, kita merekrut anggota sebanyak-banyaknya dari mereka yang ingin berubah dan meraih kebebasan."

Ia tersenyum tipis, senyum yang membuat siapa pun yang melihatnya merasakan dingin menjalar di sekujur tulang punggung.

"Sekarang saatnya membuat keputusan terakhir. Jika ingin bergabung dengan kami, berdiri di sebelah kiri. Jika ingin pergi dan tak ikut campur urusan kami, berdiri di sebelah kanan. Tentu saja... ada harga yang harus dibayar dari keputusan yang kalian ambil."

Tanpa keraguan sedikit pun, tanpa menoleh ke kiri maupun ke kanan, tanpa bertanya kepada siapa pun, ketujuh belas narapidana itu melangkah serentak ke sebelah kiri. Dada mereka membusung, kepala terangkat tinggi, sorot mata mereka penuh percaya diri yang membara bagai api yang tak akan padam. Mereka telah memilih jalan ini, dan tak ada yang akan menoleh ke belakang.

Ivan Dragos menyeringai lebar, menjilat sudut bibirnya yang terasa kering.

"Haha... untung saja kalian semua berdiri di sebelah kiri. Kalau ada yang berdiri di sebelah kanan... jangan harap bisa keluar dari sini hidup-hidup."

 ***

Sejak hari itu, perkumpulan Naga Neraka resmi berdiri dan menjadi kenyataan. Kesembilan belas narapidana itu tak pernah lagi meninggalkan lantai lima. Sarapan, makan siang, hingga makan malam diantar langsung ke depan pintu sel mereka oleh para sipir yang kini tampak berhati-hati saat melangkah di lorong itu. Setiap hari dihabiskan dengan latihan fisik yang sangat berat — menyempurnakan setiap gerakan, menutup kelemahan yang selama ini tak mereka sadari, mengasah kemampuan masing-masing hingga batas kemampuan tertinggi yang bisa dicapai. Semangat juang mereka meledak, bergairah seperti lahar yang mengalir panas, tak pernah padam sekalipun kelelahan menyelimuti tubuh.

Berbulan-bulan berlalu begitu saja. Banyak tahanan dari lantai-lantai di bawahnya bertanya-tanya ke mana perginya penghuni lantai lima gedung Naga Neraka yang tiba-tiba menghilang dari pandangan seakan ditelan bumi. Hingga suatu pagi yang cerah namun dingin, mereka muncul kembali.

Tepat pukul enam lewat tiga puluh menit, saat bel sarapan berbunyi nyaring menggema ke seluruh penjuru gedung, Renzo dan kelompoknya berjalan beriringan menuju kafetaria, dikawal oleh tiga puluh sipir yang mengelilingi mereka dengan senjata terpasang dan wajah-wajah penuh kewaspadaan.

Keramaian di ruangan itu perlahan mereda hingga menjadi hening total. Seluruh mata tertuju pada mereka — ada keraguan yang mendalam, kekaguman yang tak disembunyikan, kebencian yang tersamarkan, dan ketakutan yang nyata di balik tatapan-tatapan itu. Renzo dan Ivan berjalan tenang, seakan ribuan pasang mata yang mengawasi setiap langkah mereka hanyalah angin lalu yang tak berarti.

Ivan dengan sifatnya yang selalu penuh percaya diri dan arogan menatap balik satu per satu orang yang melihatnya, seakan menantang siapa pun yang berani berdiri di jalannya.

Saat mereka semua duduk di meja yang agak terpisah dari keramaian, Kayden membungkuk pelan ke arah keduanya dan berbisik lirih.

"Saudara Renzo, Saudara Ivan... lihat pria di sana. Dialah Kaneo. Baru kemarin dia kembali dari rumah sakit. Dia adalah orang yang merasa paling berkuasa di gedung Naga Neraka!"

Renzo, Ivan, dan yang lainnya menoleh perlahan ke arah yang ditunjuk Kayden. Di meja paling ujung, duduk seorang pria bertubuh sangat besar dan tegap. Wajahnya datar dan dingin tanpa ekspresi yang bisa dibaca, sejumput rambut putih menonjol di tengah rambut hitamnya yang lebat, otot-ototnya menonjol kuat di balik pakaian tahanan yang terlihat terlalu ketat untuk tubuhnya. Posturnya mirip dengan Ivan, namun tatapan mereka berbeda jauh — mata Ivan menyala bergairah dan sangat arogan sedangkan mata Kaneo penuh kesombongan mutlak, seakan semua orang di hadapannya tak lebih dari debu yang bisa diinjak sesuka hati.

Di saat kelompok Renzo memperhatikan mereka dengan tenang, Kaneo dan anak buahnya juga langsung menatap ke arah mereka. Mata Kaneo menatap tajam, melotot lebar seakan tak percaya ada orang yang berani menatapnya sejajar.

"Tuan... dua orang itulah yang kemarin kami ceritakan," ucap salah satu anak buahnya berbisik dengan suara gemetar. "Renzo dan Ivan... mereka memiliki kekuatan yang luar biasa, Tuan."

Kaneo tertawa pelan, suaranya terdengar merendahkan dan penuh penghinaan.

"Jadi merekalah yang ingin menyingkirkanku dari singgahsana Gedung Naga Neraka..." Ia menatap anak buahnya satu per satu dengan tatapan yang menuntut kesetiaan mutlak. "Kalian semua... sudah siap apabila bentrok dengan kelompok mereka?"

Tak ada yang menjawab. Mereka hanya menelan ludah dengan susah payah, mata mereka menyapu wajah-wajah di kelompok Renzo satu per satu — seorang Yakuza ahli katana dari Jepang yang matanya tenang namun tajam, perancang bom jenius yang menatap lurus ke depan tanpa takut, maling kelas internasional yang tersenyum tipis, petarung jalanan yang tak pernah kalah, dan sosok-sosok lain yang matanya menyimpan kegelapan mendalam.

Mereka bukan penjahat biasa. Mereka adalah orang-orang yang sudah terbiasa bersimbah darah, orang-orang yang tak memiliki apa-apa lagi untuk hilang, dan itulah yang membuat mereka sangat berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!