Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: di Persimpangan Takdir
Triingg!
Dentang gelas kristal dan gelak tawa para pengusaha papan atas berkumandang menggelegar di dalam Grand Ballroom Hotel Astoria. Ruangan itu tampak begitu berkilauan di bawah pendar lampu gantung bergaya klasik.
Bagi kebanyakan orang di dalam ruangan tersebut, malam ini adalah perayaan atas kemenangan besar, penandatanganan proyek Astoria Park Residences, sebuah mega proyek senilai triliunan rupiah yang berhasil digenggam oleh perusahaan Aris.
Aris berdiri di sudut bar privat, sambil memegang gelas whisky berkilau keemasan. Pandangannya kosong menatap cairan beralkohol tinggi di tangannya, dan sesekali matanya melirik ke arah lorong luar restoran hotel, tempat di mana beberapa jam lalu ia melihat wanita bergaun pastel dengan senyum manis yang hangat.
"Selamat, Pak Aris! Keberhasilan proyek kali ini benar-benar membuktikan dominasi Anda di industri ini!" seru Pak Surya, salah satu investor utama, seraya menepuk bahu Aris dengan penuh semangat.
Aris tersenyum tipis, sebuah senyuman formalitas yang biasa ia tunjukkan pada rekan bisnis. "Terima kasih, Pak Surya. Semua ini berkat kerja keras tim dan kepercayaan dari para mitra."
"Anda terlihat sedikit lelah, Pak Aris. Atau mungkin... terganggu sesuatu?" tanya Pak Surya mengamati raut wajah Aris yang terkesan kurang fokus sejak ia kembali dari luar.
"Hanya sedikit lelah," jawab Aris singkat. Ia meneguk habis sisa whisky dalam gelasnya. Rasa panas langsung membakar tenggorokannya, hingga menyebarkan gelombang hangat yang perlahan mengaburkan ketajaman pikirannya.
Sejak momen singkat di lorong toilet tadi, pikiran Aris seolah tidak bisa lepas dari wanita itu. Seorang pria yang terkenal dingin, rasional, dan selalu memegang kendali penuh atas hidupnya, mendadak diguncang oleh bayangan seorang wanita asing yang bahkan tak sempat ia ketahui namanya.
Dan yang lebih menyakitkan bagi harga dirinya adalah, jika wanita itu sudah dimiliki pria lain. Wanita itu tampak sangat bahagia bersama suami dan anak kecilnya.
"Gelas berikutnya, Pak?" tawar seorang bartender dengan sopan.
Aris pun mengangguk tanpa ragu. "Tuang lagi."
Satu gelas berganti menjadi gelas kedua, lalu ketiga. Aris yang biasanya memiliki toleransi alkohol tinggi, malam ini sengaja melarutkan pikirannya. Ia ingin membakar habis rasa penasaran konyol yang bersarang di dadanya.
Alkohol yang mengalir dalam darahnya perlahan membuat kepalanya terasa berat, jarak pandangnya sedikit bergoyang, dan kewaspadaannya terkikis secara drastis.
"Pak Aris, sopir pribadi Anda sudah saya panggilkan di depan," bisik sekretaris Aris bernama Hendra, yang menyadari bosnya sudah meminum alkohol terlalu banyak.
Namun Aris mengibaskan tangannya dan menolak dengan tegas. "Tidak perlu, Hendra. Aku ingin menyetir sendiri. Aku butuh udara segar."
"Tapi Pak, Anda meminum cukup banyak malam ini. Sangat berbahaya jika—"
"Hendra," potong Aris dengan nada dingin dan penuh penekanan. Mata tajamnya yang sedikit memerah menatap sang sekretaris. "Aku tahu batas kemampuanku. Urus sisanya di sini, saya pulang duluan."
Tanpa menunggu balasan dari Hendra, Aris mengambil kunci mobil sports hitam miliknya dari atas meja, lalu melangkah lebar meninggalkan kemewahan pesta yang mulai terasa menyesakkan.
Sementara itu, di tempat parkir keluarga Hotel Astoria, suasana yang bertolak belakang sedang tercipta di dalam sedan putih milik Ardi. Tak ada kemewahan mahal atau alunan musik pesta yang bising, hanya ada kehangatan sederhana dari sebuah keluarga kecil yang saling mencintai.
"Cyla sudah tidur, Mas?" tanya Raya setengah berbisik. Tangannya mengusap lembut jemari Arsyila yang terkulai lemas di car seat belakang. Balita itu tertidur pulas setelah perutnya kenyang dan kelelahan bermain balon di restoran tadi.
Ardi menoleh sekilas ke kaca spion tengah, dan menatap putri kecilnya dengan binar mata penuh kebanggaan sebelum kembali menatap jalanan. "Iya, Sayang. Dia kelihatan capek banget. Tapi Mas senang banget bisa lihat dia ketawa lepas hari ini."
"Aku juga, Mas," bisik Raya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kiri Ardi saat mobil mereka mulai menyusuri jalanan malam yang tenang. "Makan malam tadi... benar-benar sempurna. Terima kasih ya, Mas. Meskipun kamu sibuk kerja minggu-minggu ini, kamu tetap usahakan buat perayaan kecil ini."
Ardi tertawa kecil, suara tawa yang begitu hangat dan selalu berhasil memberikan rasa aman bagi Raya. Tangan kiri Ardi turun dari roda kemudi, lalu menggenggam jemari Raya dan membawanya ke bibir, kemudian mendaratkan kecupan lembut di punggung tangan istrinya.
"Raya, buat Mas, kebahagiaan kamu dan Cyla itu prioritas nomor satu. Mas mungkin belum bisa kasih kamu rumah mewah atau mobil mahal seperti orang-orang kaya di luar sana, tapi Mas janji... seumur hidup Mas, Mas akan selalu kerja keras untuk membahagiakan kalian berdua."
"Mas jangan bicara begitu," potong Raya lembut. Mata indahnya menatap wajah Ardi dari samping dengan kasih sayang yang melimpah. "Aku nggak pernah butuh rumah mewah atau harta melimpah. Memiliki kamu yang selalu setia, penuh perhatian, dan menjadi ayah yang luar biasa buat Cyla... itu sudah lebih dari cukup buat aku. Aku wanita paling beruntung di dunia ini, Mas."
Ardi menghentikan mobilnya sejenak karena lampu lalu lintas berubah merah. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Raya, dan menatap dalam mata sang istri. Jalanan malam itu mulai diguyur gerimis tipis, membuat rintik-rintik air memantulkan pendar lampu kota di kaca mobil mereka.
"Janji ya, Raya? Kita akan selalu bersama-sama, melewati apa pun yang terjadi di depan nanti?" ucap Ardi tiba-tiba dengan nada yang mendadak serius namun terdengar hangat.
Raya tersenyum manis dan membalas genggaman tangan suaminya dengan lebih erat. "Tentu saja, Mas. Sampai kita tua nanti, sampai rambut kita memutih, dan sampai Cyla tumbuh jadi wanita dewasa yang cantik."
Lampu lalu lintas berganti hijau. Ardi tersenyum, seraya mengusap pipi Raya dengan lembut sebelum menginjak pedal gas perlahan untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah sederhana mereka di pinggiran kota.
"I love you, Raya..."
" I love you too..."
Bersambung...