Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.
Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.
Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Malam semakin larut, menyelimuti Kota Jiangcheng dengan selubung kegelapan yang pekat.
Di sebuah klub malam eksklusif yang menjadi jantung markas utama Sindikat Naga Hitam, dentuman bass dari musik elektronik terdengar bergemuruh samar dari lantai dasar. Namun, kontras dengan hingar bingar di bawah sana, lantai paling atas yang difungsikan sebagai ruangan pribadi Tuan Besar Lei justru terasa mencekam hingga sulit untuk bernapas.
Lei Zhen pria paruh baya dengan tubuh kekar binaraga yang dipenuhi tato naga dan bekas luka sayatan di lehernya duduk mematung di atas kursi kulit kebesarannya. Di sela jari tangannya, sebatang cerutu Kuba menyala separuh, asapnya mengepul pelan. Sepasang matanya yang tajam tak henti-hentinya melirik ke arah jam dinding kayu bertahtakan emas di sudut ruangan.
Tik... tok... tik... tok...
Detak jarum jam itu terdengar seperti palu godam di telinganya. Sudah dua jam berlalu sejak empat Algojo Bayangan terbaiknya diterjunkan untuk menyusup ke kawasan Dragon Bay.
Bagi mesin-mesin pembunuh level elit seperti mereka, memenggal satu target pengusaha biasanya hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit. Keterlambatan yang tidak wajar ini membuat asam lambung Lei Zhen naik. Insting hewani yang telah membuatnya sukses bertahan hidup di kerasnya dunia bawah selama tiga puluh tahun, kini mengirimkan sinyal bahaya yang sangat bising.
Kring! Kring!
Dering telepon satelit terenkripsi di atas meja kayu mahoninya memecah keheningan secara mendadak, membuat bahu Lei Zhen sedikit tersentak. Ia segera menyambar gagang telepon itu, mati-matian berharap mendengar kode sandi keberhasilan dari anak buahnya.
"Bicara," desis Lei Zhen, suaranya berat dan serak.
"T-Tuan Besar..." Suara dari seberang sana milik kepala penjaga gerbang belakang, dan suaranya bergetar parah. "Ada... ada sebuah paket kotak baja hitam yang tiba-tiba diletakkan di depan pintu masuk. Kami sama sekali tidak melihat ada yang datang mengantarnya. Rekaman kamera pengawas juga mendadak layarnya mati total selama dua detik sebelum paket ini tergeletak begitu saja."
Garis rahang Lei Zhen berkerut menegang.
"Bawa kotak itu ke ruanganku. Sekarang juga."
Lima menit berselang, pintu ganda ruangannya terbuka. Dua orang penjaga masuk dengan langkah ragu, membawa sebuah kotak baja berwarna hitam legam berukuran sedang. Keduanya meletakkan kotak tersebut perlahan di atas meja kerja Lei Zhen, lalu buru-buru menunduk dan mundur ke luar ruangan.
Lei Zhen menatap lekat kotak baja tak berlabel itu. Tidak ada kabel pemicu bom atau jebakan gas beracun, insting veterannya mengonfirmasi hal itu. Dengan tangan yang sedikit berkeringat, ia memegang pengait baja di sisi kotak dan membukanya perlahan.
Klak... srek...
Tutup kotak baja itu terbuka sepenuhnya.
Detik itu juga, aroma anyir darah segar yang sangat pekat menyerbak ke udara, menampar indera penciuman Lei Zhen.
Mata bos dunia bawah itu membelalak lebar hingga nyaris robek. Jari-jarinya seketika mati rasa. Cerutu mahal di tangannya lolos begitu saja, jatuh membakar sedikit ujung karpet persia di bawah mejanya. Namun, Lei Zhen sama sekali tidak peduli.
Di dalam kotak tersebut, tergeletak empat buah pistol Glock berperedam suara.
Namun, bentuknya sudah tidak lagi seperti senjata api. Keempat pistol baja padat itu telah dihancurkan, diremukkan, dan dipelintir paksa menjadi bola-bola besi rongsokan yang cacat persis seolah baru saja diremas hingga hancur oleh tangan raksasa tak kasat mata.
Di atas gumpalan besi rongsokan itu, tergeletak empat buah lencana perak berukir tengkorak. Itu adalah lencana identitas darah yang ditanamkan pada keempat algojo bayangannya.
Tidak ada potongan tubuh. Tidak ada secarik kertas berisi surat ancaman. Hanya senjata baja yang diremukkan layaknya kertas origami, dan lencana berlumuran darah segar.
Pesan senyap dari kotak itu menampar wajah Lei Zhen dengan sangat brutal: Orang-orangmu sudah mati. Dan senjata kebanggaan mereka hanyalah mainan plastik murahan di hadapanku.
Napas Lei Zhen mulai memburu kasar. Keringat dingin sebesar biji jagung merembes deras dari pori-pori dahinya yang botak, membasahi kerah kemejanya. Ia adalah raja dunia bawah, ia tahu betul di mana letak batas maksimal kekuatan fisik manusia.
Untuk bisa mengeksekusi mati empat algojo terlatih secara instan tanpa mengeluarkan suara desingan peluru, lalu meremukkan senjata baja mereka menggunakan tenaga tangan kosong... pelakunya sama sekali bukan manusia. Itu adalah monster predator dari kedalaman neraka!
Brak!
Lei Zhen menggebrak mejanya dengan putus asa. Ia menyambar telepon genggam pribadinya, jemarinya yang tebal dan gemetar hebat menggeser layar untuk mencari kontak Zhao Qiming.
Di saat yang sama, di kediaman mewah Keluarga Zhao.
Zhao Qiming sedang bersandar di sofa, menyesap segelas wiski murni untuk menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Ketika ponselnya berdering dan memunculkan nama 'Tuan Besar Lei' di layar, senyum lega langsung merekah lebar di wajah angkuhnya.
"Tuan Besar Lei!" sapa Qiming antusias, langsung mengangkat panggilan itu. "Bagaimana hasilnya? Apakah kepala Jiang Muchen sudah berpisah dari lehernya malam ini?"
"ZHAO QIMING! DENGARKAN AKU BAIK-BAIK, DASAR ANAK HARAM KEPARAT!!"
Raungan amarah yang meledak dari seberang telepon begitu dahsyat, membuat Qiming terlonjak kaget dan menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
"T-Tuan Besar Lei? Ada apa ini? Kenapa Anda marah-marah?" Qiming tergagap panik.
"KAU MASIH BERANI BERTANYA KENAPA AKU MARAH?!" Suara Lei Zhen bergetar oleh amarah dan teror yang bercampur aduk. "Kau mengirimku untuk membunuh seekor naga, dasar idiot! Empat algojo terbaikku lenyap tanpa jejak! Pria yang kau sebut sebagai gelandangan bangkrut itu... dia memiliki kekuatan yang membuat bulu kudukku berdiri hanya dengan melihat karyanya! Dengarkan aku baik-baik, Babi Gemuk... mulai detik ini, Sindikat Naga Hitam memutuskan semua hubungan bisnis dengan Keluarga Zhao!"
"T-tunggu! Tuan Besar! Anda tidak bisa membatalkannya sepihak!" Qiming menjerit panik, wajahnya kembali sepucat kertas putih. "Saya akan bayar dua kali lipat! Tidak... satu miliar Yuan tunai untuk Anda!"
"Simpan uang kotormu itu untuk membeli peti matimu sendiri! Jangan pernah berani menekan nomorku lagi, atau aku sendiri yang akan datang memenggal kepalamu dan menyerahkannya pada pria itu sebagai tanda permintaan maafku!"
Tut... tut... tut...
Panggilan diputus sepihak dengan kasar.
Qiming berdiri mematung. Lututnya kehilangan tenaga, membuat ponsel di tangannya merosot lolos dan jatuh berdebum ke lantai marmer.
Raja dunia bawah Jiangcheng... pria bengis yang tidak pernah tunduk atau takut pada siapa pun di kota ini... baru saja berteriak ketakutan seperti tikus kejepit hanya karena mendengar nama Jiang Muchen?!
Pilar terakhir yang menopang kesombongan dan kekerasan Keluarga Zhao kini telah runtuh sepenuhnya menjadi debu.
Tanpa Qiming sadari, di balik dinding partisi ruang keluarga yang sedikit terbuka, Lin Yueran berdiri mematung. Kedua tangannya membekap erat mulutnya sendiri untuk menahan jeritan.
Wanita itu mendengar seluruh percakapan mengerikan tersebut. Kakinya begitu lemas hingga ia harus berpegangan kuat pada kusen pintu kayu agar tubuhnya tidak merosot ke lantai.
'Zhao Qiming sudah tamat. Fondasi Keluarga Zhao sudah hancur lebur,' batin Yueran menjerit histeris. Otaknya berputar sangat cepat didorong oleh insting bertahan hidup. 'Jiang Muchen tidak akan pernah melepaskan dendamnya. Aku harus pergi sekarang juga. Aku tidak boleh ikut mati konyol bersama pria buncit bodoh ini!'
Dengan langkah yang sangat pelan dan mengendap-endap layaknya seorang pencuri amatir, Yueran memutar tubuhnya dan bergegas kembali ke kamar tidurnya.
Ia langsung menarik paksa sebuah koper kulit berukuran sedang dari kolong ranjang. Dengan tangan gemetar, ia membuka brankas dan secara membabi buta memasukkan semua perhiasan berlian, jam tangan mewah yang dibelikan Qiming, serta tumpukan uang tunai yang sempat ia kumpulkan selama menjadi simpanan di rumah ini.
Srek... srek...
Suara ritsleting koper yang ditarik paksa terdengar bergesekan pelan di udara kamar yang sunyi.
Yueran mendongak, menatap pantulan dirinya di cermin rias raksasa. Wajah cantik yang selalu ia banggakan itu kini terlihat kuyu, dipenuhi oleh garis-garis pucat kepanikan yang luar biasa. Ia harus segera mencari rute dan celah penerbangan untuk kabur ke luar negeri malam ini juga, sebelum badai balas dendam Jiang Muchen benar-benar menyapu bersih dan menghanguskan kediaman ini pada esok pagi.