NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ditinggal Dafa, Pulang Sama Azril 26.

Lilis menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan kedua telapak tangan di depan cermin ruang pemandu sorak.

Efek dingin dari AC ruangan sama sekali tidak membantu menurunkan suhu di dadanya yang mendadak terasa gerah.

Di sudut ruangan, anak-anak pemandu sorak sibuk memasukkan pom-pom ke dalam loker besar, saling melempar candaan tentang anak basket yang tadi sempat salah oper bola.

Lilis hanya tersenyum formal. Pikirannya masih tertinggal di parkiran belakang.

Di jok motor Dafa. Di plester dinosaurus yang sudah hilang dari hidung cowok itu.

"Lis, gue balik duluan ya? Nyokap udah neror nih, minta dianter ke pasar," pamit Feli sambil menyampirkan tas ranselnya.

"Eh? Iya, Fel. Hati-hati di jalan," sahut Lilis, berusaha terdengar biasa saja.

Begitu ruangan sepi, Lilis baru menyadari satu hal: dia pulang sendirian sore ini.

Biasanya dia naik angkutan umum bersama Feli, atau kalau beruntung, nebeng motor matik Feli sampai depan kompleks.

Berjalan sendirian ke halte depan sekolah dalam kondisi hati yang agak "kempes" seperti ini rasanya malas sekali.

Lilis menghela napas, menyandang tasnya, lalu mengunci pintu ruang pemandu sorak.

Saat melintasi koridor utama menuju gerbang depan, suasana sekolah sudah sangat lengang. Matahari pukul empat sore menyiram koridor dengan warna jingga keemasan yang hangat, namun justru membuat Lilis merasa makin kesepian.

"Belum pulang?"

Suara berat dan datar itu terdengar dari arah mading sekolah.

Lilis menoleh dan mendapati sesosok cowok bertubuh tegap sedang bersandar di dekat tiang pembatas. Azril. Kapten tim futsal sekolah yang terkenal irit bicara, dingin, tapi selalu punya radar tajam jika menyangkut keberadaan Lilis.

Cowok itu masih mengenakan jersi latihan futsal hitam-hitam dengan jaket parasut yang resletingnya dibiarkan terbuka setengah.

"Eh, Ril. Belum. Ini baru mau ke depan, nyari angkot," jawab Lilis, mempercepat langkahnya agar sejajar dengan Azril.

Azril tidak langsung menjawab.

Dia memperhatikan Lilis dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menyelidik yang khas. Sebagai orang yang sejak awal tahu rahasia tentang "pacaran settingan salah target" antara Lilis dan Dafa, Azril punya hak istimewa untuk membaca ekspresi Lilis yang sedang tidak sinkron.

"Dafa mana?" tanya Azril langsung, tanpa basa-basi.

"Nganter Kinar balik. Ada urusan regulasi turnamen basket gabungan katanya" jelas Lilis seadanya. Dia berusaha menata suaranya agar terdengar seprofesional Kinar tadi, tapi gagal menyembunyikan getaran tipis di ujung kalimatnya.

Azril mendengus pendek. Langkah kakinya yang panjang melambat, menyesuaikan dengan langkah Lilis yang agak gontai. "Terus lo ditinggal? Status lo kan 'pacarnya' sekarang. Mau settingan atau bukan, seisi sekolah tahunya lo berdua pacaran. Gak lucu kalau kapten basket ninggalin ceweknya jalan kaki demi cewek lain, meskipun alasannya OSIS."

"Ih, apa sih, Ril. Kan lo tahu sendiri duduk perkaranya," Lilis menyenggol lengan Azril dengan kesal, meski dalam hati dia membenarkan ucapan cowok itu. "Target asli Dafa itu Kinar. Jadi, wajar aja kalau dia lebih mementingkan Kinar. Secara logika organisasi dan logika hati Dafa, Kinar itu prioritas. Gue? Gue cuma figuran yang masuk ke frame secara gak sengaja."

Mereka berdua tiba di area parkir depan. Hanya tersisa beberapa motor, termasuk motor sport hitam milik Azril yang terparkir gagah di bawah pohon mahoni.

Azril berhenti di samping motornya, lalu melepas jaket parasutnya dan melemparkannya begitu saja ke arah Lilis. Lilis dengan sigap menangkapnya, menatap Azril dengan dahi berkerut.

"Pakai," perintah Azril pendek. "Rok lo kependekan buat naik motor gede. Gue anter balik."

Lilis mengerjapkan mata. "Gak usah, Ril. Gue bisa naik angkot kok. Rumah lo kan berlawanan arah sama kompleks gue, jauh."

"Gue gak menerima penolakan, Lilis," potong Azril sambil memakai helm full-face hitamnya. Suaranya terdengar agak teredam dari balik kaca helm yang gelap, namun nadanya mutlak dan protektif. "Angkot jam segini jarang yang lewat dalam kompleks lo. Daripada lo jalan kaki dari gang depan sendirian sambil pasang muka kusut kayak dompet tanggal tua, mending ikut gue."

Lilis menatap jaket di tangannya, lalu menatap Azril yang sudah naik ke atas motor dan menghidupkan mesin. Suara deru mesin motor sport itu terdengar bertenaga, seolah menegaskan bahwa pemiliknya tidak suka membuang waktu untuk berdebat.

Ada rasa hangat yang perlahan menyusup ke dada Lilis. Di saat Dafa pergi membawa Kinar dengan segala alasan logisnya, Azril hadir dengan tawaran yang tidak kalah logis, namun terasa jauh lebih aman untuk hatinya yang sedang rapuh.

Lilis akhirnya memakai jaket parasut Azril—yang langsung menenggelamkan tubuh mungilnya dan menyebarkan aroma parfum maskulin khas cowok itu—lalu naik ke jok belakang.

"Pegangan. Gue gak mau lo jatuh terus gue disalahin anak pemandu sorak," kata Azril seraya menarik gas perlahan.

Lilis tidak berpegangan pada pinggang Azril, melainkan mencengkeram ujung jaket di sisi kanan dan kiri pinggang cowok itu. Motor sport hitam itu bergerak mulus membelah jalan raya di depan sekolah.

Sementara itu, beberapa kilometer di depan mereka, di sebuah perempatan jalan yang cukup padat, motor matik besar Dafa sedang berhenti karena lampu merah. Kinar di belakang masih sibuk berbicara, suaranya sedikit meninggi agar terdengar di balik deru angin jalanan.

"Jadi, Daf, kalau kita gak ambil slot latihan malam di hari Rabu, tim putri cuma dapet jatah lapangan dua kali seminggu. Itu gak adil. Fisik mereka butuh adaptasi sama lapangan utama."

Dafa mengangguk-angguk kecil, matanya menatap lurus ke depan. "Iya, gue paham. Nanti pas rapat jam empat, gue bakal bantu bicara ke pembina. Kita desak supaya pembagiannya adil."

"Bagus deh. Makasih ya, Daf. Untung lo cepet tanggap," kata Kinar lega.

Namun, fokus Dafa sebenarnya sedang terpecah. Entah kenapa, bayangan Lilis yang menunduk di tribun aula tadi terus berputar di kepalanya.

Dia ingat betul bagaimana mata bulat Lilis mendadak menghindari tatapannya saat Kinar mengajaknya pulang bareng.

Dafa meraba hidungnya lagi. Rasa perih akibat benturan bola tadi siang masih ada, tapi sensasi hangat dari plester dinosaurus yang ditempel Lilis terasa lebih membekas.

'Gue gak sempat bilang makasih soal minyak tawonnya' batin Dafa. Dia berniat mengirim pesan singkat ke Lilis begitu sampai di sekolah nanti untuk memastikan cewek itu sudah pulang. Bagaimanapun, status pura-pura ini mulai terasa agak membingungkan bagi Dafa sendiri.

Ada garis batas yang jelas antara tanggung jawabnya pada tim (dan Kinar), dengan rasa bersalah sekaligus ketertarikan aneh yang mulai tumbuh pada Lilis.

Di jok belakang motor Azril, Lilis membiarkan angin sore menerpa wajahnya.

Kecepatan motor Azril yang stabil entah bagaimana membuat hatinya ikut tenang.

Realitas memang menamparnya hari ini,

dia bukan siapa-siapa di hidup Dafa.

Namun, melihat punggung lebar Azril di depannya, Lilis sadar bahwa dia tidak benar-benar sendirian di dunia abu-abu ini.

Saat motor berbelok memasuki area kompleks rumah Lilis, Azril melirik dari kaca spion. "Udah gak sesak lagi dadanya?" tanya Azril setengah berteriak.

Lilis tersentak, lalu tersenyum di balik punggung Azril. "Udah mendingan, Ril. Thanks ya."

Persoalan Dafa, Kinar, dan drama salah target ini mungkin akan makin rumit besok di sekolah. Tapi untuk sore ini, Lilis memilih untuk menikmati tumpangan aman yang membawanya pulang ke rumah.

......................

...****************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!